
Tiba-tiba seokor ular dengan ukuran sebesar pohon kelapa muncul dihadapannya. Sisiknya berwarna emas, tubuhnya melingkat dan kepalanya berdiri memandang Gentala.
"Bocah, kau telah membunuh banyak anak buahku, aku akan balas dendam", ucap ular itu.
Rupanya ia adalah siluman ular yang berusia ratusan tahun, sehingga dengan kemampuannya ia bisa berbicara layaknya manusia. Setelah cukup kekuatan, ia akan memiliki wujud manusia. Ratu Ular itu bernama Nyai Rondho Kuning
Dalam dunia siluman, akan ada satu siluman yang menjadi sosok raja atau ratu. Kemampuannya adalah paling tinggi, dan usianya lebih tua dibanding dengan yang lain. Umumnya siluman bisa bicara jika telah berumur diatas lima ratus tahun.
Gentala kaget mengetahui ular itu bisa bicara, dan kemudian bersiap memasang kuda-kuda. Ia tahu, apapun jawabannya, hasilnya adalah tetap. Siluman itu akan tetap menyerangnya. Daging manusia bagi siluman akan memberikan kekuatan untuk berubah menjadi kamanungsan (berubah wujud menjadi manusia).
"Aku tidak akan membunuh mereka jika mereka tidak menyerangku lebih dulu", jawab Gentala.
Gentala kemudian bersiap memasang kuda-kuda Teknik Pedang Menyapa Langit. Wardhani juga memperingatkannya untuk menggunakan tenaga dalam di setiap serangan. Karena yang dihadapi saat ini adalah ratu siluman.
"Kau mungkin bisa membunuh anak buahku, tapi tidak denganku, karena aku adalah Ratu Siluman, Nyai Rondho Kuning", ucapnya sambil melesat menyerang Gentala.
Siluman ular itu dengan mulut membuka lebar menerkam ke arah Gentala. Ia ingin melahap bulat-bulat tubuh pemuda itu. Terjangan demi terjangan dilakukan, namun belum dapat mengenai tubuh lawannya. Hingga siluman itu menyerang menggunakan ekornya.
Gentala menghentakkan kaki dan melompat menghindari sabetan ekor ular itu. Saat turun ia gunakan kaki kiri sebagai pijakan serta bergerak memutar dengan tendangan kaki kanannya. Tendangan itu mengenai badan ular secara telak, tetapi ular itu tidak bergerak sama sekali.
"Hhii hii hii, hanya begitu kekuatanmu", ejek Siluman ular.
Gentala kembali memasang kuda-kuda, kali ini ia menggunakan belati untuk menyerang siluman itu. Tebasan yang ia lakukan di lambari dengan tenaga dalamnya. Sinar kuning melesat dari tebasan itu, membentuk pisau angin yang cukup banyak.
Dahan dan ranting pepohonan berjatuhan terkena serangan itu. Sedangkan Ratu siluman berkomat-kamit membaca mantra,
Niat ingsun amatek Aji Tameng Waja
Klambiku wesi kuning
__ADS_1
Ototku kawat balungkubwesi
Kulitku tembaga dagingku waja
Kep kep karekep
Kinemmulan waja
Bersamaan dengan selesainya siluman ular itu merapal mantra, lalu muncullah dinding tipis melindungi siluman ular itu. Dinding itu dapat menahan serangan Gentala.
"Ha haa ha..., tebasanmu tidak mampu menghancurkan dinding ini bocah", ucap
Gentala lagi-lagi meyerang dengan tebasan, namun kali ini dengan kekuatan dua kali lipat. Rupanya dinding itu masih dapat menahan serangan yang dilakukannya. Ilmu yang digunakan oleh siluman itu bernama Ajian Tameng Wojo. Ajian ini dapat menangkal kekuatan tenaga dalam yang diluncurkan dari jarak jauh.
"Gunakan serangan langsung kearah tubuhnya", bisik Wardhani.
Ia menyadari ajian yang dipakai siluman itu tidak bisa di tembus dengan kekuatan tenaga dalam dari jarak jauh. Harus menggunakan kontak fisik untuk menembusnya.
Sedangkan siluman itu juga tidak mau kalah, ia berkelit, sambil sesekali mengibaskan ekornya memukul lawan. Gentala pun menerima sabetan dari ekor ular dalam jumlah yang tidak sedikit.
Ratusan tendangan dan pukulan silih berganti, tampak Gentala sudah kelelahan, tubuhnya pun banyak mengalami memar-memar akibat terkena sabetan ekor ular. Nafasnya sudah tidak beraturan, darah segar juga terlihat di sudut bibirnya.
Nyai Rondo Kuning pun tampak serupa, meskipun tidak ada luka luar, karena terlindung sisiknya yang keras, namun ia mengalami luka dalam yang tidak ringan.
Melalui pertarungan jarak dekat itu, Gentala akhirnya mengetahui ada bagian terlemah siluman ular. Bagian itu terletak dibagian bawah mulut ular, tepat diantara kedua rahang bawah. Itu terlihat dari beberapa pukulan di tempat itu membuat Nyai Rondo Kuning selalu sempoyongan.
Saat ini Gentala sedang memikirkan cara untuk dapat membunuh atau setidaknya melukai dengan serius. Ia berfikir untuk menancapkan belatinya di sana. Serangan kali ini ia harus berhasil mengincar bagian itu.
Di saat Gentala masih berfikir, ia menjadi kaget saat ular itu menerjang kembali dan berusaha menggigit tubuh lawannya. Dengan segera Gentala melompat ke kiri menghindari terjangan itu. Setelah itu, ia ganti menyerang dengan tusukan yang diarahkan ke rahan bawah ular itu.
__ADS_1
Namun ternyata serangan siluman itu hanya jebakan belaka. Belum sempat belati itu mengenai sisik ular, Gentala dikejutkan oleh serangan ekornya.
Ekor ular siluman menyambut tubuh Gentala dan membelitnya dengan sempurna mulai paha hingga dadanya. Kemudian menariknya tepat dibawah kepala ular.
"Ha ha ha..., rupanya cuma seperti ini kemampuanmu", ucap siluman itu dengan bangga.
Ia merasa telah memenangkan pertarungan. Tinggal selangkah lagi ia bisa menelan bulat-bulat tubuh Gentala. Sedangkan Gentala merasakan dadanya remuk akibat belitan ular.
Kretuk... kretuk.... suara tulang rusuknya sampai beberapa kali terdengar, menandakan kuatnya himpitan tubuh ular pada dadanya. Entah berapa tulang di tubuhnya yang patah saat ini.
Namun Nyai Rondho Kuning tidak menyadari, bahwa pemuda yang sedang di belitnya itu kini tengah menyiapkan serangan pamungkasnya. Gentala menahan sesak di dadanya akibat belitan ular itu, sambil menghunus belatinya.
Kekuatan penuh ia kerahkan dalam serangannya itu. Belati di tangannya bersinar kekuningan, menandakan aliran energi yang besar.
Jleeb.... jlebb... berulang kali ia menusuk rahang bawah ular itu. Darah segar keluar dari bekas tusukannya. Perlahan belitan ular itu semakin mengendur dan akhirnya terlepas bersamaan dengan matinya siluman itu.
Gentala yang masih merasakan remuknya tulang rusuk, merangkak mencari tempat untuk berbaring. Ia melihat pada belatinya terdapat retakan akibat pertarungan itu.
Wardhani menjelaskan, bahan baku belatinya sebenarnya sudah cukup bagus. Akan tetapi, karena tekanan tenaga dalam yang disalurkan, hingga menimbulkan retakan. Belum lagi dalam pertarungan dengan ratu siluman, belati itu seperti menghantam batu yang keras.
Setelah cukup lama Gentala berbaring dan nafasnya teratur ia kembali menuju mayat siluman ular, untuk mengambil mustika siluman. Mustika itu terletak di kepala, tepatnya diantara kedua mata ular.
Ukuran mustika itu cukup besar, sebesar kepalan tangan. Warna mustika itu merah bening seperti batu syafir. Menurut Wardhani, energi dalam mustika itu, cukup untuk membuka satu cakra secara penuh.
Sehingga, Gentala disarankan untuk membiarkan terlebih dulu cakra jantung yang telah aktif, meskipun belum sempurna. Cakra dasar, itulah yang akan dibuka oleh Gentala setelah mendapatkan penjelasan dari Wardhani.
Cakra dasar atau dikenal dengan Muladhara Cakra, istilah lainnya adalah Cakra Bumi. Cakra ini terletak di bagian paling bawah, saat seseorang melakukan meditasi. Letaknya yaitu diantara alat kelamin dan anus.
Gentala mulai melakukan meditasinya, kali ini ia memusatkan pikirannya pada posisi cakra bumi berada. Mustika ratu siluman yang ia pegang mengeluarkan cahaya berpendar berwarna merah jingga.
__ADS_1
Energi mustika perlahan masuk melalui nadi di tangannya menuju nadi sumshuma. Setelah itu langsung dialirkan menuju lokasi cakra bumi. Dalam alam bawah sadarnya Gentala melihat empat buah kelopak teratai mulai terbentuk disana.
Kelopak teratai itu awalnya hanya samar-samar namun kemudian seiring habisnya energi yang terdapat dalam mustika siluman, semakin jelas bentuk dan warnanya. Muladhara Cakra memiliki warna merah pada keempat kelopak daun teratainya.