Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 25 Padepokan Bukit Bintang


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Gentala, perasaan Kirana seringkali tidak menentu. Apalagi saat diatas gethek ketika menyeberangi sungai Brantas, sama sekali tidak ada percakapan diantara keduanya. Ketampanan Gentala nampaknya telah memikat hati Kirana, sehingga selama perjalanan pulang tak jarang Sasmita mendapati gurunya itu tersenyum sendiri.


Perjalanan dari pinggir sungai Brantas menuju Bukit Bintang berlangsung 2 hari lamanya. Selama itu pula perasaan Kirana campur aduk membayangkan pemuda yang menolongnya dari siluman buaya putih. Hanya saja mulutnya sekan terkunci saat berada di dekat pemuda itu.


“Guru kita hampir sampai”, ucap Sasmita menyadarkan lamunan Kirana.


Tepat didepan gerbang padepokan, rombongan itu berhenti sejenak untuk melaporkan hasil misinya kepada penjaga gerbang. Selanjutnya penjaga gerbang mencatat dan melaporkannya kepada dewan sepuh di pedepokan itu. Padepokan Bukit Bintang memiliki 5 pasanggrahan. Masing-masing pesanggrahan dipimpin oleh satu orang sesepuh.


Pesanggrahan Bintang Timur di ketuai oleh seorang sesepuh bernama Aditya. Ia merupakan sesepuh paling muda, bahkan usianya masih dibawah Kirana terpaut 2 tahun. Namun pemuda ini memiliki kecerdasan luar biasa dan dia merupakan putra dari Mahawira, ketua padepokan Bukit Bintang.


Pesanggrahan ini memiliki murid paling banyak dan kemampuannya diatas rata-rata murid secara keseluruhan. Hal ini tidak lain karena mereka memiliki keuntungan mendapatkan banyak mustika siluman dari hasil menjalankan misi. Selain itu, pimpinan tertinggi padepokan sering secara pribadi turun tangan untuk melatih murid disana.


Pesanggrahan Bintang Utara, hanya memiliki 7 orang murid, itupun sangat rendah ilmu kanuragannya. Bisa dibilang murid dari pesanggrahan ini tidak pernah menang dalam turnamen tahunan yang dilakukan di padepokan ini. Tetapi meskipun begitu, 7 orang murid disini memiliki keahlian dalam pengobatan. Mereka adalah murid yang dididik untuk mengembangkan ilmu tabib di bawah sesepuh bernama Ki Sadhana.


Pesanggrahan Bintang Barat, bisa dikatakan tidak memiliki murid sama sekali. Karena pesanggrahan ini digunakan untuk menyimpan harta milik padepokan, serta pencatatan misi baik yang akan dijalankan maupun sudah selesai. Murid-murid yang ada disini merupakan perwakilan dari beberapa murid pesanggrahan yang lain.


Pesanggrahan ini dipimpin oleh orang yang paling tinggi ilmu kanuragan dan tenaga dalamnya di padepokan ini. Namun semenjak ia menjadi sesepuh di Bintang Barat, ia sama sekali tidak pernah menerima murid. Sehingga lambat laun, hanya Ketua Padepokan dan sesepuh saja yang tahu seberapa tinggi ilmunya. Nama sesepuh tersebut adalah Jalasandha


Pesanggrahan Bintang Selatan merupakan bagian padepokan Bukit Bintang dengan jumlah murid kedua terbanyak, jika bukan karena Aditya adalah putra dari Mahawira, maka tentunya pesanggrahan Bintang Selatan yang menjadi pesanggrahan terbaik di Bukit Bintang.


Bintang Selatan sendiri memiliki ketua yang jarang muncul di Padepokan, ia lebih senang melakukan meditasi di tempat-tempat angker, bahkan tidak jarang rumor mengatakan ia bersekutu dengan siluman. Ia bernama Mahesa Sura.


Pesanggrahan terakhir yang menjadi pusat perhatian seluruh murid padepokan adalah Pesanggrahan Bintang Langit. Pesanggrahan ini menjadi tempat yang dihuni oleh Kirana Mahadewi. Sebagai sesepuh disana ia memiliki belasan murid perempuan. Memang pesanggrahan ini khusus menerima murid perempuan saja.


*****


Semenjak kedatangan Kirana ke Padepokan, ia seringkali terlihat termenung sendiri. Sasmita dan Jingga yang mengetahui hal itu, seringkali mengolok-olok Kirana. Memang pada awalnya mereka adalah murid satu angkatan, akan tetapi karena kecerdasan Kirana dalam mempelajari jurus dan ajian di padepokan itu, akhirnya ia dipilih menjadi seorang sesepuh.


Namun, sesungguhnya tidak hanya hal itu saja yang menjadikannya sebagai sesepuh. Pada kenyataannya, atas rengekan Aditya kepada ayahnya lah, Kirana dapat menduduki posisi saat ini. Rumor ini terus berkembang seiring dengan kenyataan, Aditya seringkali memberikan jatah mustika siluman kepada pesanggrahan Bintang Langit.


“Kakang, tidak perlu kau memberiku seperti ini”, ucap Kirana dingin, saat Aditya memberikannya mustika siluman tingkat tinggi.


Perubahan sikap ini bukan tidak disadari oleh Aditya. Bahkan ia semakin gencar mendekati Kirana.

__ADS_1


“Nimas, apa yang kau inginkan, akan aku kabulkan. Katakanlah...”, Aditya terus merayu pada Kirana.


Semakin lama, pendekatan yang dilakukan oleh Aditya, terkesan kurang sopan. Setiap pagi ia menyatroni pesanggrahan Bintang Langit dan membawakan hadiah untuk Kirana. Murid-murid disana sebenarnya jengah juga atas kelakuan Aditya yang tak tahu malu. Bukannya Kirana semakin senang dengan tindakan Aditya, malah sebaliknya.


“Aditya, aku sebenarnya malu dengan tingkahmu. Kalau bukan karena ibumu melarangku untuk memarahimu, aku sudah menghajarmu”, ucap Mahawira di satu kesempatan dengan nada tinggi.


Sebagai ketua padepokan, ia merasa malu karena anaknya telah banyak menghabiskan banyak sumberdaya padepokan. Tidak terhitung berapa banyak yang telah diberikan kepada pesanggrahan Bintang Langit, kepada Kirana khususya. Tetapi tanpa sepengetahuan Aditya, sumberdaya yang ia berikan tidak ada satupun yang dinikmati oleh Kirana.


Dampak positifnya adalah pesanggrahan Bintang Langit menjadi peningkatan yang cukup cepat. Bisa dibilang dua kali lebih cepat dibanding dengan pesanggrahan yang lain. Hal ini memicu ketegangan antara murid Aditya dan Mahesa.


Andika, salah satu murid pilihan di pesanggrahan Bintang Selatan menjadi satu-satunya pendekar dengan pencapaian tenaga dalam tingkat bumi di pesanggrahan ini. Saat ini ia sedang mengantri di Bintang Barat, untuk mendapatkan sejumlah sumberdaya. Hari ini adalah jadwal Bintang Selatan untuk mengambil sumberdaya.


Begitu giliran Andika tiba-tiba ia diserobot oleh Nandaka, murid kesayangan sekaligus tangan kanan Aditya. Meskipun tenaga dalamnya masih tingkat fana, namun karena orang yang dibelakangnya, seringkali ia berlaku sewenang-wenang dengan murid yang lain. Apalagi bagi murid baru atau yang pencapaian tenaga dalamnya masih dibawahnya.


“Kurang ajar kau Nandaka, hari ini bukan giliranmu dan kau menyerobot seenak perutmu saja”, teriak Andika dengan marah.


Nandaka tidak terima dengan ucapan Andika dan mencabut pedang di pinggangnya. Ia lalu menghunuskan pedang kepada Andika seraya berkata, “Ha ha ha, jangan macam-macam kau Andika, ini adalah perintah langsung dari Sesepuh Aditya,”


Para murid yang mengetahui hal itu, diam-diam memihak kepada Andika, karena sebenarnya mereka juga sebal atas kelakuan Nandaka. Beberapa orang terlihat menepi untuk melihat jalannya pertarungan.


Pertarungan tidak dapat di elakkan, Nandaka menyerang Andika dengan kekuatan penuh. Tebasan pedangnya ia arahkan ke leher Andika, namun dengan gerakan menekuk kepala dan berputar ke kiri, ia bisa menghindarinya.


Whus... whush...


Bisik-bisik mulai terdengar mengejek ulah Nandaka. Ia semakin marah, ditambah lagi tebasan pedangnya hanya mengenai angin saja. Nafasnya kini tidak beraturan, memperlihatkan kemampuannya masih dibawah Andika.


Lalu dengan tiba-tiba kaki kanan melakukan tendangan berputar dan bersarang di rusuk Nandaka.


Bhugh.... crak....


Suara tendangan diikuti patahnya dua tulang rusuk Nandaka sebelah kanan. Ia terjatuh dan tampak meringis kesakitan, tangan kirinya memegangi rusuk sebelah kanan dan tangan kanannya ia gunakan sebagai tumpuan dengan pedangnya.


Melihat lawannya tidak berdaya, Andika bersiap melakukan tendangan sekali lagi. Nandaka hanya menahan nafas dan memejamkan mata, menantikan tendangan Andika. Murid-murid yang lain banyak yang tersenyum, sebentar lagi salah satu pengganggu di padepokan akan binasa.

__ADS_1


Hyaaatt.... Dhum.....


Hal tidak terduga  terjadi, Mahawira menangkis tendangan yang dilakukan Andika hanya dengan tangan kirinya saja. Sedangkan Andika merasakan kakinya menabrak sebuah batu besar. Tidak hanya kesemutan yang ia rasakan, bahkan tulang keringnya ia rasakan retak. Kekecewaan tidak hanya ia rasakan, tetapi juga oleh murid padepokan yang telah berharap saat itu.


Nandaka tidak kalah terkejut dengan kedatangan Mahawira, lalu buru-buru memberikan penghormatan kepada Ketua Padepokan. Murid yang lain pun tidak ketinggalan untuk memberikan penghormatan.


“Semuanya bubar....”, ucap Mahawira pelan, namun cukup keras terdengar ditelinga murid-murid yang ada disana.


Lalu ia mendekati Nandaka, alih-alih menolongnya tetapi malah memberikan tamparan keras. Nandaka tidak berani melihat kepada Mahawira hanya menundukkan kepala. Murid-murid yang masih ada disana tertawa kecil, mereka merasa puas dengan tindakan Mahawira.


Kemudian Mahawira menghampiri Andika dan meminta maaf kepadanya. Inilah jiwa besar seorang pemimpin yang dikagumi oleh banyak orang, namun sayangnya tidak menitis di anaknya.


Setelah meminta maaf, ia lalu memerintahkan kepada sesepuh Bintang Barat untuk memberikan kebutuhan Andika dan memberikan kompensasi yang pantas.


Note ;


Tingkatan tenaga dalam dari yang terendah :


1. Tingkat Dasar


2. Tingkat Fana


3. Tingkat Bumi


4. Tingkat Inti


5. Tingkat Nirwana


Mustika Siluman


1. Tingkat Rendah seharga 50 Gobog


2. Tingkat Menengah seharga 1 keping Emas

__ADS_1


3. Tingkat Atas/Tinggi seharga 5 keping Emas


1 Keping Emas = 50 Gobog


__ADS_2