Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 6 Nyai Dyah Wardhani


__ADS_3

Dyah Wardhani sesungguhnya adalah putri dari kerajaan kecil diatas awan, tepatnya di puncak Gunung Dieng Kerajaan itu bernama Kerajaan Sembungan. Kerajaan ini memiliki harta karun berupa bahan obat yang langka dan berusia ratusan tahun.


Selain itu diwilayah kerajaan ini, terdapat tempat-tempat yang memiliki energi kehidupan berpuluh kali lipat dibanding di dataran rendah.


Inilah yang kemudian menjadi penyebab kehancuran kerajaan ini. Banyak pendekar dunia persilatan berusaha memburu harta itu, dan juga ingin menguasai sumber energi disana.


Namun dari sekian banyak pendekar sakti yang mencoba keberuntungan disana, tidak ada yang bisa menembus rajah pangurung yang melingkupi seluruh kerajaan ini.


Sampai pada akhirnya ada ahli pengguna rajah pangurung yang datang dari seberang samudra. Ia adalah Begawan Palarasa, yang sedang melakukan pengembaraan, dengan melakukan topo ngrame. (tapa ngrame adalah salah satu lelaku untuk berbuat kebajikan atau mengamalkan ilmu yang sudah dipelajarinya)


Begawan Palarasa sebenarnya tidak hanya melakukan pengembaraan semata, ia juga sedang dalam misi mencari rumput salju. Setelah sekian lama mencari tahu, akhirnya Begawan Palarasa mengetahui bahwa rumput salju hanya hidup di puncak Dieng.


Berangkatlah ia menuju puncak Dieng dengan berlari menggunakan kecepatan sedang. Meskipun ia adalah seorang tabib dengan julukan Pandhita Usada, tetapi dalam olah kanuragan ia tidak begitu tinggi.


Sampailah ia ke lereng Dieng, tempat pemukiman terakhir sebelum Kerajaan Sembungan. Ia berhenti sejenak, di depan warung dan memesan makanan untuk sekedar mengisi perut.


"Kisanak, aku pesan wedang jahe hangat, dan ubi bakar", ucap Palarasa kepada pelayan yang datang menghampirinya.


Ia duduk di dekat pintu, karena warung itu sudah penuh dengan pengunjung. Nampak dari tampangnya, mereka adalah para pendekar.


Palarasa tidak begitu peduli dengan semua itu, karena ajaran yang diyakininya, mengaharuskan dia baik kepada seluruh makhluk.


Tampak di belakang Palarasa, 6 pendekar dengan pakaian serba hitam, dan tampang seram, tertawa terbahak-bahak sambil meminum tuak yang disediakan.


Mereka membawa senjata yang diletakkan di mejanya. Ada pedang besar melengkung dengan 1 mata tajam, cambuk, clurit dan tongkat. Dua yang lainnya tidak menampakkan senjata mereka.


"Silahkan Kisanak...." ucap pelayan sambil menghidangkan pesanan Palarasa. "Pelayan, apakah kau tahu jalan menuju Kerajaan Sembungan? tanya Palarasa.


Tampaknya pertanyaan Palarasa didengar oleh kawanan pendekar di belakangnya.


Pelayan itu terlihat ketakutan, mendengar pertanyaan itu. "Kisanak, sebaiknya engkau mengurungkan niatmu untuk kesana", setelah berkata demikian, pelayan itu lalu pergi.


Salah seorang pendekar yang dibelakang Palarasa berdiri dan mendekati Palarasa. "Kisanak, apa tujuanmu kesana ?" Tanya pendekar yang memiliki wajah condet dengan suara yang mengancam.


Palarasa bukannya marah atau ketakutan, ia malah tersenyum dan berkata, "Aku akan menemui Raja Sembungan, dan memohon untuk bisa mengambil 3 buah rumput salju", jawab Palarasa.

__ADS_1


Memang semenjak dia menjadi seorang Begawan (gelar seorang pertapa/pandhita), dia tidak pernah berkata bohong, meskipun nyawa adalah taruhannya.


"Hahahaha....," tawa si condet yang bernama Dursana. "Kita memiliki tujuan yang sama Kisanak, siapa namamu dan darimana asalmu"? tanya Dursana dengan mimik wajah yang dibuat seramah mungkin.


"Namaku Palarasa, asalku dari seberang samudra, orang menyebutnya sebagai Puncak Sagarmatha. (nama lain gunung Himalaya)" jawab Palarasa sambil meneguk wedang jahe.


Dursana hanya mengangguk-angguk seakan paham apa yang dikatakan Palarasa. "Ikutlah denganku, akan aku tunjukkan tempatnya" ucap Dursana.


"Kisanak, jangan tertipu.... ", teriak seorang gadis muda, yang sejak tadi mengamati pecakapan keduanya.


"Hai, nona manis, siapa kau, berani-beraninya kau menghalangi kami", ucap teman Dursana yang bernama Supala.


Supala berdiri, mengambil cambuk yang menjadi senjata andalannya, dan mendekati gadis itu.


"Jangan ikut campur urusan Lowo Ireng", ucap Supala. Orang-orang yang mendengar nama Lowo Ireng langsung buru-buru meletakkan beberapa picis uang gobog di meja dan meninggalkan warung itu.


"Hahaaha..., lihatlah nona manis, orang-orang ketakutan mendengar nama kami, apa kau tidak takut, atau kau bukan orang sini", ujar Supala.


Lowo Ireng adalah kelompok pendekar aliran hitam, yang menjadi kaki tangan Padhepokan Bethari Durga. Kelompok ini terkenal sadis saat berurusan dengan lawannya. Tidak pandang bulu, perempuan dan anak-anak pun dibabat habis.


"Cuih.... Lowo Ireng, jongos yang berlagak jadi majikan", tutur perempuan itu.


Merah padam muka Supala dan dengan cepat ia melentingkan cambuk ditangannya ke arah gadis itu.


Dengan sekali sentakan, gadis itu membalik meja di depannya menjadi tameng campuk Supala. "Dhuuaarr..., suara ledakan terdengar nyaring, saat pucuk cambuk mengenai meja dan hancurlah meja itu.


"Lumayan juga tenaga dalam gadis ini," kata Supala dalam hati. Berikutnya keempat teman Supala ikut maju, menghadan di depan gadis itu.


Trangg... gadis itu tiba-tiba mengibaskan selendang ungu yang sedari tadi mengalung di lehernya. Tampak tiga buah jarum hitam jatuh didepan sang gadis.


"Rupanya benar, desas-desus selama ini, Lowo Ireng sekumpulan pendekar pengecut", ucap gadis itu membuat panas Dursana.


Dursana segera melompat dan mengayunkan pedang besarnya kearah gadis itu, dengan cekatan sang gadis hanya meliuk ke kiri, sehingga pedang besar itu hanya mengenai udara kosong.


Sang gadis kemudian melompat seperti terbang di udara menggunakan meja dan kursi di sebelahnya, menuju keluar warung. Ia sengaja keluar untuk mencari tempat yang lebih luas.

__ADS_1


Komplotan Lowo Ireng berlarian menyusul, dan langsung menyerang. Si kembar, Wikala dan Wikata, menyerang dari jarak jauh.


Wikala melemparkan jarum beracun yang berwarna hitam, sedangkan Wikata melemparkan pisau kecil seukuran jari kearah gadis itu.


Namun dengan cekatan, gadis itu menggerakkan selendang ungu ditangannya sebagai tameng. Traraanggg.... kembali suara nyaring terdengar, selendang kain itu seakan berubah menjadi besi, saat menangkis senjata rahasia musuhnya.


Sudarta yang sedari tadi diam, menyerang dengan tongkat panjangnya. Tongkat itu ia sabetkan kearah kaki lawannya. Sedangkan Supala melentingkan cambuk sedikit kearah atas, karena ia tahu, gadis itu pasti akan melompat saat menghindari sabetan tongkat.


Perkiraan Supala tidak meleset, gadis itu memang melompat keatas, namun hal yang tidak disadari Supala adalah, gadis iti melompat sambil melemparkan selendangnya, menangkis ujung cambuk Supala. Dhuaarr... suara ledakan kembali terdengar, tangan Supala bergetar hebat sampai kesemutan.


Gadis itu kemudian menyerang si kembar dengan selendang yang dialiri tenaga dalam. Gerakan selendang yang meliuk-liuk membuat kerepotan keduanya, dan akhirnya Wikala terhuyung-huyung setelah terkena pukulan selendang.


Wikata yang terkaget saudaranya muntah darah, kehilangan konsentrasi tidak bisa menghindari dua kali tendangan yang diarahkan gadis itu kedadanya. Ia pun terjatuh tak sadarkan diri.


Melihat dua anak buahnya terjatuh, Dursana naik pitam, dan menyerang membabi buta bersama ketiga kawanannya. Sabetan demi sabetan ia layangkan kepada gadis itu, namun dengan lemah gemulai gadis itu bisa menghindarinya.


"Penari Mendaki Langit", ucap gadis itu menyebut nama jurusnya. Gerakan yang gemulai sesekali melompat keatas, menghindari pedang dan tongkat yang terus menyerangnya dari depan.


Dari belakang, Jalasandha mengayunkan clurit yang ia pegang kearah punggung gadis itu. Ayunan clurit itu hampir saja mengenai tubuhnya, beruntung Palasara yang sedari tadi berdiri, menangkis tangan Jalasandha. Tangkisan yang begitu keras dan tiba-tiba membuat clurit itu jatuh ketanah.


Tidak hanya itu, satu pukulan diarahkan telat kearah ulu hati Jalasandha. Tak ayal Jalasandha mundur kebelakang dan kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Maafkan aku ....", ucap Palarasa kepada Jalasandha, "tidak baik menyerang musuh dari belakang", lanjutnya.


Gadis itu tersenyum, dan mengangguk seolah mengucapkan terimakasih kepada Palasara. Kemudian ia kembali menyerang Dursana dengan mengarahkan tendangan, bersamaan dengan itu ujung selendang ungu, menyerang kearah Sudarta.


Dursana menunduk menghindari tendangan dan berbalik menebas kearah kaki lawannya. Selendang yang menyerang Sudarta, membelit tongkat yang dipegang, dan ditarik hingga terlepas.


Tongkat yang terbelit selendang itu, ditarik untuk menangkis sabetan pedang yang dilambari tenaga dalam. "Dhuuaarr...." tidak hanya bunyi ledakan, tetapi tongkat itu patah menjadi dua.


Bersamaan dengan ledakan itu, ujung cambuk Supala, menggores betis gadis itu, sehingga ia hilang keseimbangan saat mendarat. Rupanya kerjasama ketiganya berhasil mengecoh gadis itu.


Jalasandha hanya terdiam, dan berdiri disamping Palasara. Tampaknya pukulan telak yang dilakukan Palasara, tepat mengenai Cakra Manipura. Tentu saja hal ini mengakibatkan, aliran tenaga dalamnya kacau.


Ia tidak bisa membantu kawannya, karena bisa berakibat fatal, jika ia menggunakan tenaga dalamnya saat ini. Nadinya bisa pecah dan mengakibatkan dia lumpuh.

__ADS_1


__ADS_2