
Gentala terbangun saat mendengar ayam hutan mulai berkokok. Ia bergegas mencari kayu kering untuk menghidupkan kembali perapian. Ranting-ranting kecil di sekitarnya cukup untuk menambah nyala api.
Kemudian ia berburu binatang yang bisa ia tangkap. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan membawa 2 ekor ayam hutan yang telah di bersihkan. Ayam itu ia tusuk dengan ranting yang masih basah. Gentala lalu meletakkannya di atas bara api.
Sambil menunggu matang, Gentala kemudian melakukan olah tubuh, hal rutin yang ia lakukan setiap pagi. Bedanya ia saat ini melakukannya sendiri, kalau biasanya ia bersama prajurit kademangan dibawah bimbingan Ki Lurah Seno.
Gentala membuka kakinya sejarak dua jengkal (satu jengkal kurang lebih 22 cm), dan posisi agak jongkok dengan punggung tegak lurus. Kedua tangan terkepal ditekuk diletakkan disamping pinggang. Kemudian Gentala mulai melakukan gerakan memukul kedepan, berulang kali.
Lebih dari seratus gerakan pukulan ia lakukan bergantian tangan kiri dan kanan. Kemudian Gentala mengganti gerakan pukulan dengan tendangan. Tendangan ke ke samping, kedepan dan memutar, begitu terus ia lakukan secara berurutan bergantian kaki kiri dan kanan.
Wardhani yang sedari tadi mengamati dari dalam batu bintang, bingung mau menertawakannya atau mengaguminya. Menertawakan karena dari tadi hanya gerakan sederhana itu saja yang dilakukan oleh Gentala. Namun, ia juga kagum Gentala yang sama sekali tidak bosan dengan gerakan itu.
Memang itulah gerakan dasar dalam ilmu beladiri manapun, dan Gentala telah menguasainya dengan baik. Ia menghentikan olah tubuhnya, dan menuju perapian untuk mengambil ayam hutan yang telah matang bahkan sedikit gosong.
"Nyai, keluarlah aku telah menyiapkan sarapan untuk Nyai", ucap Gentala. Ia tidak tahu kalau Nyai Wardhani saat ini hanya berbentuk sukma, sehingga tidak butuh makanan. "Dasar bocah edan, mana mungkin aku bisa makan makanan seperti itu", jawab Nyai disertai dengan omelan yang cukup panjang.
Akhirnya Gentala makan satu ayam hutan itu sendirian, sedangkan satunya ia bungkus menggunakan daun pohon jati yang ada disekitarnya. Setelah itu ia duduk bersandar di Pohon Joho untuk melonggarkan perut yang kekenyangan. Ia pun mengambil buntalan yang ia bawa dan mengeluarkan pisau kecil yang sangat tajam.
Ia kemudian mengambil ranting kering seukuran lengan orang dewasa, dan mematahkannya sepanjang satu jengkal. Ranting tersebut kemudian ia rapikan menggunakan belati dengan ukuran sedang yang selalu ia bawa saat berburu.
Setelah ranting itu ia rapikan, kemudian ia mulai menggores menggunakan pisau kecil. Tampaknya pisau dengan panjang satu jari itu, khusus digunakan untuk membuat ukiran. Goresan yang belum jelas, namun beberapa saat kemudian setelah ada bagian yang terpotong dan dibuang, nampak muncul ukiran kepala seekor burung.
__ADS_1
Meskipun masih setengah jadi, tapi sudah tampak itu adalah kepala burung dengan paruh pendek. Nampaknya ia sedang membuat ukiran kepala burung Jattayu. (Burung yang menyelamatkan Dewi Sinta saat diculik oleh Dasamuka dalam kisah Ramayana).
Setelah selesai, ia pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan, mumpung masih pagi. Berharap sore nanti sudah bisa keluar dari Alas Wonojoyo. Namun tampaknya keinginannya tidak sama dengan Nyai Wardhani.
"Mau kemana Gentala ?", tanya Wardhani sambil muncul dalam bentuk asap ungu menyerupai tubuh seorang gadis. "Mumpung masih pagi, aku harus melanjutkan perjalanan Nyai. Agar tidak kemalaman di hutan ini", jawab Gentala.
"Tidak usah terburu-buru, pelajarilah teknik Pedang Bintang Menyapa Langit. Baru setelah kau menguasainya, kau boleh keluar dari sini", ucap Wardhani. "Tapi Nyai, aku kan tidak punya pedang di dunia nyata ini, bagaimana mungkin bisa latihan", jawab Gentala tak mau kalah.
Memang pada saat berlatih sebelumnya, ia dapat menggunakan pedang namun itu hanya di alam bawah sadarnya. Bahkan Gentala juga belum menjalani latihan di dunia nyata. Karena latihan di dunia nyata bertujuan melatih fisiknya, agar dapat menampung besarnya tenaga dalam yang ia gunakan.
"Kau butuh teknik ini untuk melawan siluman di hutan ini. Apa kau pikir siluman disini hanya muncul di malam hari ?", omelan Nyai Wardhani meluncur begitu derasnya.
"Baiklah Nyai, aku akan berlatih dulu", gerutu Gentala.
Gentala memang tidak memiliki teknik bertarung sama sekali, selain pukulan dan tendangan. Tetapi bukan berarti ia gampang mengeluh saat latihan. Ini terbukti dari latihan yang di berikan oleh Wardhani, hanya dengan mengulang-ulang gerakan yang sama, ia tidak berkomentar.
Kegigihan inilah yang membuat Wardhani bangga, bagaimana tidak jika ia menjadi Gentala, pasti akan jenuh jika hanya mengulang satu teknik dari pagi, sampai matahari hampir di puncak peraduannya.
"Istirahatlah Gentala, nanti kita lanjutkan lagi dengan latihan yang lain", perintah Nyai Wardhani. "Baik Nyai", Gentala pun mengakhiri latihannya, dan mengambil kantong air yang terbuat dari kulit kerbau.
"Nyai, aku harus mencari sumber air, persediaan airku habis dan aku juga butuh mandi", ucap Gentala. "Jangan terlalu jauh, jika kau pergi menjauhi pohon Joho ini, kau akan dikejar oleh siluman", Wardhani memperingatkan Gentala.
__ADS_1
Kemudian Wardhani menceritakan, bahwa para siluman tidak ada yang berani mendekati Pohon Joho ini, karen auranya terasa panas bagi para siluman. Sehingga tempat paling aman di dalam hutan ini adalah Pohon Joho ini. Gentala terdiam mendengar cerita itu, lalu ia duduk dan menghabiskan ayam hutan yang tadi ia bakar.
Sementara itu si Bonggol yang sedari tadi menunggui majikannya berlatih, menghabiskan sisa-sisa rumput yang tinggal sedikit. Gentala pun dengan cekatan memotong rumput di sekitarnya untuk pakan si Bonggol. Memang hutan ini jarang terjamah manusia, sehingga rerumputan pun masih banyak disana.
Tidak terasa, tiga hari telah berlalu, dan Gentala masih melakukan hal yang sama. Pada hari ke empat ini, Wardhani mengajarkan kepada Gentala cara untuk menguatkan pergelangan tangannya. Gentala diminta untuk mencari batu seukuran kepala orang dewasa.
Wardhani kemudian menyuruh Gentala, memegang batu itu dengan tangan kanannya, lalu menirukan gerakan menebas. Awalnya Gentala kesulitan, karena batu itu lumayan berat. Apalagi dengan ukurannya itu menyulitkan Gentala untuk memegang.
Perlahan ia mulai mengayun batu ditangannya, sesekali batu itu terlepas dari tangannya. Namun semakin lama, ayunan yang dilakukan Gentala semakin berirama. Lantas Wardhani menyuruhnya menirukan teknik pedang yang ia latih dengan membawa batu itu.
Beruntung selama latihan, Gentala menemukan ***mbelik** (sumber air*) yang cukup besar, sehingga ia bisa minum dan mandi disana. Untuk kebutuhan makan, ia biasa berburu, kadang ayam hutan, kelinci ataupun kancil.
Disela-sela latihannya ia tidak lupa melakukan semedi dan menghimpun energi kehidupan. Semenjak nadi sumshumanya terbuka lebar, ia tidak pernah merasakan kesakitan saat energi itu masuk ketubuhnya. Sayangnya ia baru bisa membuka Cakra Manipura saja.
Tidak terasa satu purnama berlalu, Wardhani melihat Gentala sudah siap menghadapi siluman yang ia temui nanti. Sebelum berangkat, Wardhani menyuruh Gentala melakukan pukulan tenaga dalam.
Gentala kemudian mengambil sikap kuda-kuda dan mengambil nafas panjang. "Alirkan tenaga dalam ke tanganmu, arahkan pukulanmu kepada pohon mahoni disana", ucap Wardhani.
"Hhhhaaa.... ", teriak Gentala saat melepaskan pukulannya. Bersamaan dengan itu seberkas sinar keemasan menerjang pohon mahoni menimbulkan suara ledakan yang cukup keras.
Dhuuarrr.... krakkk.... buummm, pohon mahoni sebesar tubuh orang dewasa tumbang dengan sekali pukul. "Benar-benar anak yang mengerikan", batin Wardhani.
__ADS_1
Gentala akhirnya melanjutkan perjalanannya, Wardhani menyarankan agar Gentala menaiki kudanya pelan-pelan. Tujuannya untuk memancing siluman agar mau menyerang. Ini merupakan cara yang tepat untuk Gentala berlatih tanding.
Update setiap hari pukul 20.00 WIB.