Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 16 Astana Curika 3


__ADS_3

"Nak mas masih punya berapa batu mustika seperti ini ?", tanya Karta seakan mendapat tangkapan besar. Memang mencari mustika kualitas atas adalah sulit, karena harus membunuh siluman yang berusia minimal seratus tahun.


Gentala lalu menjual seluruh mustika yang dimilikinya, ada 7 buah mustika tingkat atas, 89 tingkat menengah dan 83 tingkat rendah. Ia mendapatkan 70 keping emas dari mustika tingkat atas, karena kualitasnya bagus, 89 keping emas mustika tingkat menengah dan 45 keping emas dari mustika tingkat bawah. Total picis yang ia kantongi dari penjualan ini adalah 204 keping emas.


Jumlah yang sangat besar saat itu, belum lagi Juragan Karta memberikan keris tilam upih kepada Gentala secara cuma-cuma. Karta lalu menjelaskan, bahwa keris itu dibuat oleh seorang Empu dari pesisir utara bernama Empu Kandangdewa. Ia merupakan sosok pembuat keris yang paling terkenal di Kerajaan Kahuripan.


"Aku ingin memperbaiki pedang ini, sekaligus memintanya untuk membuatkan sarung pedang, seperti warangka keris ini Paman", ucap Gentala setelah mendengarkan penjelasan Karta.


"Den Mas, untuk sarung keris itu bukan dibuat oleh Empu Kandangdewa, tapi itu pesanan khusus dari Lodoyong", jawab Karta. (Lodoyong saat ini dikenal dengan nama Tulungagung)


Karta juga menjelaskan disana ada empu yang dulu membuat pedang itu, bernama Empu Prahasta. Selain membuat pedang, Empu Prahasta juga ahli untuk membuat warangka. Kemungkinan saat ini telah digantikan oleh penerusnya, karena 20 tahun yang lalu Juragan Karta pernah bertemu dengannya dan usianya telah diatas 100 tahun.


"Satu lagi Paman, siapa nama gadis cantik yang tadi memesan batu mustika", tanya Gentala sambil senyum-senyum.


"Kalau itu lupakan saja Den Mas, tidak usah dikejar, cari perempuan lain saja", jawab Karta seakan mengerti kegundahan Gentala.


Kemudian Karta menjelaskan bahwa perempuan itu termasuk salah satu sesepuh yang paling sakti di Padepokan Bukit Bintang. Ia bernama Kirana Mahadewi, ia merupakan gadis paling cantik di padhepokan itu, sekaligus paling kejam, jika berurusan dengan laki-laki.


"Tampaknya paman tahu banyak hal", ucap Gentala.


"Ha ha ha .... pedagang sepertiku ini, harus banyak tahu perkembangan dunia persilatan, kalau tidak bagaimana aku bisa menjual senjata dan pusaka", jawab Karta dengan bangga.


Karta menceritakan, ia membuka cabang di Lodoyong, sehingga banyak tahu informasi disana.


"Den Mas bisa ke Astana Curika yang ada di Lodoyong, jika ingin mencari pengrajin kayu disana", ucap Karta.


Kemudian Karta membisikan sesuatu kepada Gentala, yang membuat wajahnya merah padam. Gentala baru menyadari kebenaran yang disampaikan oleh Wardhani.


Setelah berpamitan, Gentala langsung menaiki punggung si Bonggol dan memacunya dengan cepat menuju ke penginapan. "Apa yang dikatakan oleh orang itu bocah?," tanya Wardhani.


"Nyai benar, ada sekelompok orang yang telah mengusik keluarga besar Arya", jawab Gentala.


Lalu ia bercerita, bahwa Karta mengatakan ia harus hati-hati saat mencari pengrajin kayu di Lodoyong, karena di wilayah itu ada pembunuhan terhadap beberapa pengrajin kayu. Korban pembunuhan itu memiliki ciri yang sama, hampir semua tubuhnya menghitam dan melepuh.


"Tapak Wisa", ujar Wardhani. Ia mengenali jurus yang digunakan untuk membunuh setiap korban. Wardhani lalu menceritakan, bahwa itu adalah salah satu jurus andalan dari Padepokan Bethari Durga pada zamannya.


"Kenapa jurus itu masih ada sampai sekarang, seharusnya jurus itu ikut menghilang, bersama dengan hancurnya padepokan itu", batin Wardhani.

__ADS_1


"Nyai, apa tidak ada yang bisa melawan jurus itu ?," tanya Gentala.


"Jika saja Begawan Palarasa masih hidup, tentu ia bisa menemukan cara melawan jurus itu dengan mudah", jawab Wardhani.


Menurut Wardhani, Kamajaya juga pernah menjadi murid Begawan Palarasa, sehingga sangat mungkin ia bisa melawan jurus itu. Dan jika itu benar, pasti ia akan meninggalkan petunjuk tentang hal itu.


*****


Di Penginapan Griya Pakuwon...


Rombongan Kirana Mahadewi disambut oleh pelayan dan diberikan jamuan istimewa. Pemilik penginapan bahkan turun tangan sendiri untuk menyambutnya. Bukan karena langganan tetap, tetapi karena Padepokan Bukit Bintanglah asal mereka.


Siapa yang tidak kenal dengan padepokan itu, bahkan sekelas Adipati juga hormat kepada sesepuh perguruan itu.


"Silahkan Den Ayu..., sudah lama kami tidak menjamu rombongan dari Bukit Bintang", ucap Nyai Anjani, pemilik penginapan yang banyak membuka cabang di tanah kahuripan ini.


"Nyai tidak perlu repot-repot menyambut kami", jawab Kirana.


Anjani mempersilahkan Kirana dan rombongan untuk duduk menunggu hidangan kesukaannya. Wedang jahe dan jajanan wajik menjadi menu wajib yang ia santap saat singgah di penginapan ini.


Tak lama kemudian, seluruh hidangan telah terhidang dimeja, Anjani pun mempersilahkan mereka untuk menikmatinya. Kelima gadis itu makan dengan lahap, tanpa memperdulikan sekitar.


Jantung Gentala kembali berdetak sangat cepat, matanya tak beralih dari memandang wajah Kirana dari jauh. Sedangkan yang di pandang sama sekali tak melihat ke arah Gentala, karena sedang menikmati hidangan di depannya.


"Sesepuh, pemuda disana, dari tadi memandang ke arah sini", ucap Jingga salah satu gadis di meja itu.


"Iya benar mbak yu, bukankah pemuda itu yang kita temui tadi di tempat paman Karta?" Sasmita ikut menyahut setelah melirik kearah Gentala.


"Tampan juga wajahnya, hihihi....", bisik-bisik para gadis memperhatikan Gentala.


"Hush... diam... bisa diam tidak kalian", Kirana berkata sambil tetap menikmati hangatnya wedang jahe.


Mendengar omelan sesepuh Kirana, para gadis itu langsung terdiam dan melanjutkan makan mereka. Tidak ada yang berani membantah ucapan Kirana, mereka paham benar apa hukuman apa yang akan diterima jika membantah.


Kirana melirik ke arah Gentala, diam-diam ia membenarkan ucapan murid-muridnya. Kirana sesekali beradu pandang dengan pemuda itu, ia pun merasakan getaran dalam hatinya.


Namun untuk menutupinya ia segera menyeruput wedang jahe dengan kedua tangannya, wajahnya yang putih tampak kemerahan di pipinya.

__ADS_1


Gentala tidak jauh berbeda, saat beradu pandang dengan Kirana, dunia seolah berhenti berputar. Degup jantungnya semakin tidak beraturan, namun ia tak mengalihkan pandangan. Jangankan menoleh, berkedip pun tidak.


"Hati-hati dengan wanita, semakin cantik semakin berbahaya", ucap Wardhani yang sedari tadi mengamati.


"Tidak apa-apa Nyai, bahaya apapun akan aku lewati demi dirinya", ucap Gentala.


Pandangan Gentala terpaksa teralihkan, saat Narsih datang membawakan wedang jahe dan ubi bakar dihadapannya. Sambil menikmati hidangan didepannya, ia kembali melirik kepada Kirana.


Lama kelamaan, Kirana merasa jengah dengan kelakuan Gentala, meskipun satu sisi ia merasa senang saat dipandangi. Hanya untuk menjaga wibawanya saja kemudian secara tiba-tiba, ia melemparkan wadah wedang jahe yang ia pegang kearah Gentala.


Brakkkk.... !!!


Wadah yang terbuat dari bambu itu, mendarat telak di pelipis Gentala, sangat keras sampai membuat pelipisnya berdarah.


Gentala bukan tidak bisa menghindari lemparan itu, namun ia dengan sengaja tidak menghindar.


"Huh... rasakan itu, makanya kalau punya mata itu dijaga", teriak Kirana. Ia berharap Gentala kesakitan terkena lemparan itu. Tapi yang ia harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Gentala malah tersenyum tulus, nampak kebahagiaan memenuhi raut wajahnya.


Oh... Dewi Kamaratih, sang Dewi Cinta


Lihatlah .... saat ini belahan jiwaku mengirimkan wadah bambu sebagai hadiah


Dia juga berbicara kepadaku...


"Hei bocah... siang-siang begini jangan mengigau, sebentar lagi pujaan hatimu akan membunuhmu, ha ha ha", ucap Wardhani sambil menertawakan kegilaan Gentala.


Benar saja, tak lama kemudian Kirana yang mendengar racauan Gentala, langsung melompat dan menghunus pedangnya. Ia berencana menakuti Gentala dengan menusukkan pedang di dada Gentala.


Kirana melompat di udara, pedang yang ia hunus diarahkan kedada Gentala. Melihat hal itu, Gentala bukan menghindar, ia mengalirkan tenaga dalamnya ke tangan kiri.


Lagi-lagi tak harapan Kirana tidak sesuai kenyataan, Gentala justru menangkap pedang itu dengan tangan kirinya. Setelah menangkap pedang itu, ia sengaja menariknya.


Kirana yang tidak menyangka pedangnya ditangkap, kaget dan mengikuti tarikan itu. Tak ayal wajahnya kini hanya berjarak kurang dari setengah jengkal. Bahkan ia dapat merasakan hembusan nafas Gentala.


"Kirana Mahadewi tunggu aku di Bukit Bintang" bisik Gentala.


Mendengar ucapan Gentala, seolah Kirana tersadar dan menarik kuat pedangnya. Tak sampai disitu, dengan sedikit melompat, ia menendang dada Gentala dengan keras.

__ADS_1


"Dhuug.... braakk ... !!!


Gentala terdorong kebelakang dan membentur dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Dinding bambu itu hancur tertimpa tubuh Gentala, ia terjatuh dan pingsan. Tangan kirinya tampak mengeluarkan darah akibat sayatan pedang Kirana.


__ADS_2