
Gentala baru saja meninggalkan Pohon Joho kurang lebih 500 tombak, benar saja apa yang dikatakan Wardhani. Siluman srigala telah mengintai pemuda itu dari kejauhan, matanya merah dan giginya tajam menyeringai. Air liurnya menetes semenjak mencium bau manusia.
Siluman srigala itu tidak sendirian, ada dua ekor lagi dibelakangnya. Wardhani sebenarnya sudah menyadari kehadiran siluman itu, tetapi ia diam saja, sambil menunggu reaksi dari Gentala. Sekaligus ini merupakan uji coba kekuatan Gentala.
Si Bonggol mulai gelisah, nampaknya nalurinya sebagai hewan lebih tajam ketimbang majikannya. Langkah kaki Bonggol menjadi tidak beraturan, membuat Gentala waspada. "Ada apa Bonggol, kau juga merasakannya ?", tanya Gentala pada kudanya.
Tentu saja pertanyaan ini tidak bisa dijawab oleh Bonggol. Nyai Wardhani yang mendengar itu hanya tertawa lirih, sambil berkata dalam hati "Dasar bocah edan, kuda pun diajak bicara", batinnya.
Rupanya Gentala sejak tadi juga merasakan kehadiran makhluk lain. Bulu kuduknya berdiri semua, namun ia belum tahu sosok apa yang akan datang. Sampai akhirnya salah satu siluman srigala tiba-tiba muncul dari dalam semak dan langsung menerkam ke arah Gentala.
Menyadari bahaya mengincar dirinya dan juga Bonggol, ia memacu kudanya dengan cepat. Nyaris saja terkaman itu mengenai dirinya. Baru saja lolos dari terkaman, tiba-tiba muncul di depannya, dua ekor srigala siluman berbulu hitam.
Dua ekor siluman berada didepan dan satunya dibelakang. Gentala merasa ketakutan, karena selama ini belum pernah menghadapi siluman. Wardhani yang menyadari Gentala ketakutan, meyakinkan bahwa Gentala dapat dengan mudah membunuh ketiga siluman itu.
Kemudian ia turun dari punggung si Bonggol dan bersiap menyerang siluman itu. "Jangan terburu-buru, ambillah posisi bertahan saja", ucap Wardhani memberi petunjuk. Memang saat ini yang paling bagus adalah bertahan, sambil mengamati pola serangan siluman srigala.
Dua siluman yang ada di depan melompat secara bersamaan dan menyerang Gentala. Serangan itu dihindari Gentala, namun sayang salah satu kaki siluman itu sempat menyentuh perutnya. Bajunya robek dan perutnya tergores, meninggalkan tiga bekas luka goresan.
Meskipun luka itu tidak dalam, tapi cukup menyakitkan bagi Gentala, seumur-umur baru sekarang ia terluka seperti itu. Karena memang selama hidupnya hanya bergelut dengan ukiran.
Gentala lalu berdiri tegak, menghunus belatinya. Ia bersiap menggunakan teknik pedang yang ia pelajari. Terjangan kedua kali dari siluman srigala berhasil ia hindari dengan melompat kesamping kiri dan sedikit merunduk.
Belati di tangan kanannya ia sabetkan tepat di perut salah satu siluman itu. Ssrreett.... percikan darah dari siluman itu mengenai baju Gentala. Setelah membabat perut siluman, ia melompat kebelakang dan disambut terkaman srigala lain.
__ADS_1
Gentala memutar tubuhnya dan mendaratkan tendangan tepat di moncong srigala. Bhug... tubuh srigala terjengkang jatuh. Kesempatan itu digunakan Gentala untuk memburunya dan menancapkan belatinya tepat di antara kedua mata siluman itu dan seketika mati.
Wardhani tertegun melihat wajah Gentala yang membunuh tanpa ekspresi sama sekali. "Pembunuh berdarah dingin, tidak seperti Kamajaya yang welas asih", ucap Wardhani dalam hati.
Srigala yang terluka perutnya kembali menyerang, kini dibantu oleh srigala yang tadi menyerang dari belakang. Rupanya kombinasi serangan itu berhasil menyudutkan Gentala.
Wardhani yang melihat itu berteriak, "Gunakan tenaga dalammu Gentala", teriak Wardhani.
Karena panik, dari awal pertarungan Gentala hanya menggunakan tenaga fisik saja, ia belum terbiasa menggunakan tenaga dalam dalam pertarungan. Mendengar teriakan Wardhani, ia langsung melambari tangan dan juga belatinya dengan tenaga dalam.
Gentala yang dalam keadaan terdesak, hanya menunggu serangan dari kedua srigala itu. Namun kali ini ia lebih percaya diri dengan kedua tangan yang penuh tenaga dalam. Srigala yang terluka perutnya, menerkam lebih dahulu sedangkan satunya bersiap menyerang apabila Gentala menghindar.
Ternyata Gentala sama sekali tidak menghindari serangan. Ia menangkis terkaman dengan tangan kiri dan menusukkan belati di tangan kanannya tepat di jantung srigala.
Nahas, gigitan itu lumayan dalam, karena ia tidak bisa menghindar. Namun kesempatan itu tidak ia sia-siakan, sekuat tenaga ia menyabetkan belatinya kearah leher srigala. Dengan tubuh yang sudah letih, ia roboh ketanah bersama dengan tewasnya srigala dengan luka menganga di lehernya.
Gentala jatuh, dan merangkank menjauhi mayat siluman itu dengan merangkak sebelum akhirnya pingsan dan bersimbah darah. Wardhani yang hanya berwujud sukma, tidak bisa menyentuh tubuh Gentala untuk mengobati luka fisiknya.
Hanya menyalurkan energi prana yang bisa ia untuk mengobati luka dalam Gentala. Tidak lama kemudian, barulah Gentala siuman dan merasakan seluruh tubuhnya remuk dan perih, terlebih luka gigitan pada bahu kirinya.
Ia segera melepaskan bajunya dan membersihkan luka-luka ditubuhnya. Kemudian merobek kain yang dibawanya untuk membalut luka dibahunya dan mengganti pakaian dengan yang ia bawa.
"Nyai kenapa engkau tidak membantuku ? Aku hampir mati tadi", protes Gentala kepada Nyai Wardhani. Memang Wardhani tidak punya badan wadak, itu hanya menghalanginya untuk tidak bisa menyentuh benda-benda disekitarnya.
__ADS_1
Tetapi tenaga dalam yang dimiliki Wardhani masih bisa melukai manusia atau makhluk siluman. "Kalau aku membantumu, kau tidak akan belajar dari pertarungan itu", jawab Wardhani. Tentu saja Wardhani akan turun tangan membantu jika nyawa Gentala dalam bahaya.
"Gentala, ambilah mustika siluman srigala yang kau bunuh tadi", perintah Wardhani. Lalu ia menjelaskan bahwa mustika itu akan bermanfaat bagi Gentala untuk membuka cakra utama ditubuhnya. Mustika siluman umumnya berbentuk batu mirip batu akik.
Besar kecilnya mustika tidak menjadi ukuran kekuatan didalamnya. Semakin bening dan transparan batu itu, maka akan semakin besar tenaga didalamnya. Bening seperti kristal atau berlian.
Setelah selesai merapikan diri, Gentala kembali menaiki punggung si Bonggol untuk melanjutkan perjalanan. Sebelumnya Wardhani memberi tahu Gentala untuk mencari tanaman talas, untuk mengobati luka luarnya.
Untuk melindungi perjalanan ini, sampai Gentala sembuh benar, Wardhani memasang rajah pangurung untuk mereka bertiga. Rajah ini terbilang cukup ampuh, karena bisa menyamarkan hawa keberadaan mereka. Wardhani memang sedikit kejam dalam melatih Gentala, agar kejadian masa lalu tidak terulang kembali.
Langkah kaki si Bonggol terhenti, saat Gentala menarik tali kekangnya. Di depan tampak sungai kecil, cukup baginya membasuh diri. Beruntung di sisi-sisi sungai itu ada tanaman talas. Setelah ia selesai membasuh diri, dan membersihkan lukanya, ia mencabut beberapa batang tanaman talas.
Umbinya ia bersihkan untuk mengisi perut dan daunnya ia tumbuk untuk membalur lukanya. Selesai membalur luka, ia kemudian membuat perapian untuk membakar umbi. Sambil menunggu umbinya matang, Gentala memanfaatkan waktunya untuk meditasi.
"Gentala, keluarkan mustika siluman tadi, aku akan mengajarimu cara menggunakannya", ujar Wardhani. Tiga buah mustika berwarna coklat seukuran jari jempol dikeluarkan Gentala dari buntalannya. Kemudian ia tunjukkan kepada Wardhani.
"Genggamlah ketiganya, lalu bersemedilah", Wardhani memberikan petunjuk. Gentala mulai bersemedi dengan menggenggam mustika siluman srigala. Ia merasakan aliran energi masuk melalui tangan kanan yang menggenggam mustika.
Perlahan sinar kuning keemasan keluar dari tubuh Gentala membentuk selubung tipis. Ia merasakan nadinya teraliri energi mustika siluman tersebut. Energi itu kemudian tersedot kedalam cakra manipuranya, dan memperkokoh sumber energi disana.
Cakra Manipura baru terbuka beberapa waktu lalu, kini sudah mencapai tahap sempurna. Waktu yang relatif singkat, bagi seorang pendekar untuk menyempurnakan cakra. Umumnya untuk membuka sampai tahap penyempurnaan dibutuhkan waktu tujuh purnama.
Update setiap hari pukul 21.00 WIB
__ADS_1