
Setelah Arya mulai semedi, Ki Demang kemudian membaca mantra itu kembali. Ki Demang menghentikan mantra yang ia lafalkan setelah sampai pada hitungan ke 27. Pada saat itu ia melihat kening anaknya mulai berkeringat, dan batu bintang yang ada dihadapan Arya mulai bereaksi. Samar-samar terlihat cahaya pelangi keluar dari batu bintang dan bergerak menyelubungi tubuh Arya.
Cahaya yang menyelubungi Arya, perlahan masuk ke tubuhnya melalui kening diantara dua matanya. Wajah Ki Demang tampak bahagia sekaligus tegang, ia mengerti bahwa sedang terjadi interaksi antara batu bintang dan sukma sang anak.
Sedangkan Arya, masih dengan mata terpejam, dia tidak bisa membedakan apakah itu mimpi atau kenyataan. Arya merasa berada dalam ruangan yang luas, dengan warna biru langit. Tidak ada satupun benda disana,
hanya ada gambar formasi bintang dengan tujuh buah sudut, masing-masing sudut tampak berlubang dengan pola bintang pula.
Hanya ada satu sudut bintang yang terisi, sedangkan yang lainnya masih kosong. Arya tidak tahu, ia ada dimana, tetapi tempat itu seperti di alam bawah sadarnya. Selama dia melakukan semedi, dia tidak pernah mengalami hal ini.
"Aneh, sebenarnya ini dimana, mimpi atau bukan?" Arya masih bingung dan belum menyadari dimana tepatnya ia berada. Sampai matanya tertuju pada salah satu sudut bintang dan melihat batu bintang yang persis milik keluarganya. Disaat masih bingung, samar-samar kabut tipis mulai munculdan membentuk pola mirip seekor naga, kemudian perlahan berubah membentuk wujud seorang kakek tua.
Meskipun samar, Arya bisa melihat kakek tersebut masih bisa berdiri dengan tegak, tanpa tongkat. Rambut putihnya dibiarkan menjuntai sebahu, tanpa diikat. Janggut tipisnya dibiarkan memanjang. Tampak kakek tersebut menarik nafas dan mulai bicara.
"Cucuku, sudah hampir 300 tahun, tidak ada yang datang kemari. Aku adalah leluhurmu dari jalur laki-laki ayahmu. Orang mengenalku sebagai penguasa naga bintang".
Kakek tersebut adalah Arya Kamajaya, yang merupakan pendiri keluarga Arya sekaligus pemilik bintang. Sedangkan julukan penguasa naga bintang sesungguhnya dia dapatkan setelah berhasil menyingkap rahasia jejak naga di puncak gunung Kampud (saat ini gunung tersebut dikenal dengan nama gunung Kelud).
Kemudian Kamajaya menggerakkan tangannya seperti mengusap udara yang hampa dan tiba-tiba siluet tipis berbentuk pedangmuncul dihadapan Arya.
Pedang dengan panjang bilah setengah depa dan gagang pedang sepanjang satu hasta (20 cm) muncul dihadapan Arya.
"Jika kamu sudah cukup kuat, pergilah ke Bukit Bintang, dan temukan pedang ini. Ini adalah warisan keluarga, hanya keturunanku dari jalur laki-laki yang bisa mengambilnya," ucap sang kakek.
__ADS_1
“Eyang, apakah aku harus menjadi kuat ? Sungguh aku tidak punya keinginan untuk menjadi pendekar seperti harapan keluarga. Aku lebih senang menjadi tukang kayu dan mengukir naga diatas kayu itu eyang”, keluh Arya.
“Arya, kelak kau akan mengerti, mengapa aku mengajarkan anak turunku membuat ukiran naga dan bintang, ada rahasia besar tersembunyi disana. Kau akan membutuhkan keahlianmu dalam mengukir kayu untuk menemukan keenam medali yang lain”.
Eyang Kamajaya juga memberi wejangan kalau menjadi pendekar atau bukan itu adalah pilihan, tetapi memerangi angkara murka adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh garis keturunannya.
Eyang Kamajaya menjelaskan bahwa medali batu bintang itu berjumlah tujuh dan kesemuanya tersebar di tempat yang tidak diketahui. Hanya dengan melacak energi dari batu bintang, maka akan dapat menemukan lokasi tersebut.
Setelah memberikan penjelasan, Kamajaya menghilang bersamaan dengan menghilangnya kabut secara perlahan, sampai akhirnya kesadaran Arya kembali. Ia perlahan membuka matanya, dan mendapati ayahnya masih duduk disampingnya.
"Romo, berapa lama aku semedi ?" tanya Arya. Ki Demang menceritakan, kalau semedi yang dilakukan anaknya hanya sebentar. Bahkan minuman yang disajikan ibunya pun belum dingin sepenuhnya.
Berbeda dengan alam bawah sadarnya, ia merasakan hampir setengah hari (6 jam) ia berada disana mendengarkan wejangan dari Eyang Kamajaya. Lalu Arya menceritakan apa yang terjadi di alam bawah sadarnya.
panjang. Ki Demang sadar, bahwa perjalanan anaknya merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Ia pun bangga karena, dari sekian banyak keturunan Eyang Kamajaya, hanya Arya seorang yang berkesempatan bertemu dengan sisa-sisa energi Eyangnya.
"Le, memang benar kita ini keturunan orang sakti, pendekar tanpa tanding. Bahkan dapat dikatakan, dengan pusaka pedang bintangnya tidak ada pendekar yang bisa menandinginya. Hanya saja, beliau meninggal karena dikeroyok orang-orang golongan hitam," cerita Ki Demang.
Pedang bintang saat ini tidak diketahui keberadaannya, seakan lenyap ditelan bumi. Hilangnya pedang bintang bersamaan dengan tewasnya Eyang Kamajaya. Namun sesaat sebelum meninggal sekilas cahaya terbang meninggalkan jasad Kamajaya.
Ki Demang menjelaskan, bahwa golongan hitam pada saat itu dipimpin oleh Padepokan Bethari Durga,
demi merebut pedang bintang dan merebut rahasia naga yang disimpan oleh Eyang Kamajaya.
__ADS_1
Hampir semua sesepuh golongan hitam mati dalam pertempuran tersebut, termasuk sesepuh Padepokan Bethari Durga, yang memiliki julukan Nyai Durgandhini. Ia tewas setelah tubuhnya disabet pedang bintang dan terbelah dua, kemudian dengan panasnya kekuatan batu bintang Eyang Kamajaya meleburkan kedua belahan tubuhnya.
Cerita ini didapatkan Ki Demang secara turun temurun dari leluhurnya, hanya saja tidak diceritakan dimana letak batu bintang yang lain. Cerita itu hanya mengharuskan siapapun yang menjadi pewaris batu bintang untuk melakukan perjalanan ke Bukit Bintang.
Diyakini oleh Ki Demang dan sesepuh keluarga Arya, bahwa ada petunjuk yang ditinggalkan oleh Eyang Kamajaya disana. Bukit Bintang saat ini merupakan sebuah tempat dimana padepokan aliran putih berada.
Tidak ada satupun sesepuh ataupun murid dari padepokan Bukit Bintang yang tahu keterkaitan bukit ini dengan pedang bintang. Kecuali seseorang yang memang ditugaskan untuk menjadi pemandu pewaris sah pedang bintang. Orang ini adalah orang yang paling tua disana dan berusia 130 tahun, tetapi keberadaannya tidak begitu dianggap. Karena dia dianggap gila karena selalu berceloteh tentang kebangkitan Nyai Durgandhini.
Ki Demang melanjutkan wedhar sabdha kepada Arya, "Le, janganlah lantas karena kau sudah tahu leluhurmu, lantas muncul sifat adigang, adigung, adiguno (sifat kesombongan yang dimiliki karena kekuatan, kekuasaan dan kepandaian). Romo tidak suka itu, lebih baik Romo tidak punya anak daripada punya anak yang memiliki sifat itu."
Kemudian Ki Demang menyuruh anaknya beristirahat, mengingat perjalanan panjang yang akan dilakukan. Arya semakin bingung dengan apa yang dihadapinya, tentang batu bintang, pedang bintang ataupun Nyai Durgandhini.
Arya kemudian berjalan menuju kamarnya, dia meletakkan kotak kayu yang berisikan batu bintang itu di atas dipan disamping pembaringannya. Lalu ia berusaha memejamkan matanya, namun sayang, setelah beberapa saat ia tetap tidak bisa terlelap. Arya memutuskan untuk membuka kotak penyimpanan itu dan mengeluarkan medali bintang.
Batu itu ia pegang dengan kedua tangannya, tepat didepan perutnya. Tangan kiri berada dibawah sebagai tempat meletakkan medali dan tangan kanannya dia letakkan diatasnnya. Sambil memejamkan mata, Arya merapal mantra yang telah diajarkan ayahnya.
Beberapa saat kemudian, Arya merasakan batu itu terasa hangat dan berubah seperti pusaran energi, semakin lama semakin besar. Lonjakan energi yang datang entah darimana mulai memasuki tubuh Arya melalui Cakra Manipura dan disebarkan melalui nadi-nadi menuju pusat cakra yang lain. (Cakra Manipura letaknya di bagian perut yang berfungsi sebagai pusat pemrosesan prana – koreksi bila salah).
Arya merasakan kesakitan yang sangat sejalan dengan aliran energi yang deras di dalam tubuhnya. Sejak melakukan oleh tubuh, baru kali ini ia merasakan penderitaan seperti ini. Jika saja ia tidak segera mengembalikan medali itu ketempatnya, ia tidak yakin tubuhnya akan mampu menampung seluruh energi prana tersebut.
Kelelahan yang dialami Arya menjadikan ia terlelap begitu saja setelah berbaring di atas dipan kayu. Hingga tak terasa, langit di timur semburat merah, yang tandanya sebentar lagi ayam jago mulai kluruk.
Update tiap hari jam 8 malam
__ADS_1