Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 26 Perseteruan Antar Pesanggrahan


__ADS_3

Setelah kejadian di pesanggrahan Bintang Barat antara Andika dan Nandaka, pesanggrahan Bintang Timur merasa seperti kehilangan muka. Bagaimana tidak, Nandaka yang merupakan tangan kanan putra mahkota  Padepokan Bukit Bintang, harus kalah dengan beberapa jurus saja.


Aditya sebagai sesepuh Bintang Timur, meluap marahnya saat Nandaka kembali dengan keadaan terluka. Ia tidak menyangka ada murid padepokan yang masih berani kepadanya.


"Kurang ajar si Andika, sudah berani bertingkah rupanya", teriak Aditya sambil kakinya menedang pintu pesanggrahan. Tak ayal, pintu yang terbuat dari kayu itu jebol seketika menerima tendangannya.


Nandaka yang masih merasakan kesakitan, dengan sengaja mengatakan bahwa perbuatan Andika kepadanya adalah wujud tantangan Andika terhadap pesanggrahan Bintang Timur. Mendengar hal ini, gemerutuk suara gigi Aditya menahan kemarahan.


Hal yang tidak dikatakan oleh Nandaka adalah kedatangan Mahawira yang justru membantu Andika dan menyalahkan apa yang dilakukan oleh Nandaka.


Aditya berjanji akan membalaskan perbuatan Andika terhadap Nandaka. Ia tidak sadar, sikapnya yang arogan dan adigang adigung justru malah mudah dimanfaatkan oleh anak buahnya.


"Rawatlah lukamu, besok ikut aku melabrak pesanggraham Bintang Selatan", ucap Aditya terhadap Nandaka.


Setelah Nandaka pergi, Aditya masuk kedalam bangunan utama pesanggrahan dan menemui ibunya, yang sedari tadi menunggunya. Ibu Aditya merupakan selir dari Mahawira, karena istri Mahawira tidak dikaruniai seorang putra, maka ia menikah lagi dan lahirlah Aditya.


Aditya merupakan satu-satunya putra Mahawira, meskipun kelakuannya seringkali membuat orang lain mengelus dada. Bagaimana tidak, seorang ketua yang bijaksana harus menanggung beban persoalan yang diakibatkan putra semata wayangnya.


Sebenarnya banyak orang yang merasa kasihan terhadap Mahawira, tetapi apa daya semua karena janjinya kepada sang selir. Janji adalah janji dan bagi seorang ketua, janji adalah Sabdo Pandito Ratu. Ia pernah menjanjikan akan mengabulkan semua permintaan sang selir apabila bisa memberikannya keturunan laki-laki.


“Aku akan menuruti semua permintaanmu Diajeng”, janji Mahawira kepada Gandawati. Kejadian itu berlangsung di sasana parepatan, saat pernikahan antara Mahawira dan Gandawati. Saat itu Mahawira masih menjadi sesepuh pesanggrahan Bintang Timur.


Bagi seorang pendekar, janji adalah janji yang harus selalu ditepati. Sampai saat ini pun Mahawira juga masih menuruti permintaan Gandawati. Bahkan dalam perseteruan antara Bintang Timur dan Bintang Selatanpun, Mahawira tidak bisa bersikap netral.


Hampir semua sesepuh memaklumi apa yang dilakukan Mahawira, namun tidak sedikit yang menghujatnya. Bagaimana tidak, seorang ketua padepokan harus bertekuk lutut di hadapan selir. Semua dilakukan karena janji.


*****


Aditya bersama dengan Nandaka menuju pesanggrahan Bintang Selatan dengan membawa 10 orang terbaiknya. Salah satu diantaranya adalah Darmaji, kakak kandung Gandawati. Kekuatan Darmaji bisa dikatakan seimbang dengan Mahesa Sura, sesepuh Bintang Selatan.


Tidak ada yang tahu, sesungguhnya Darmaji memiliki ambisi untuk menguasai seluruh padepokan. Satu-satunya jalan saat ini adalah melalui adiknya, Gandawati.


Darmaji adalah saudara seperguruan Mahawira, yang pada saat pergantian ketua padepokan, ia sangat berambisi untuk menggantikan ketua terdahulu.


Namun dalam pertarungan penentuan, Darmaji kalah dari Mahawira sehingga ia harus merelakan jabatan ketua untuk Mahawira. Pada saat itulah, Darmaji berpura-pura mengakui kekalahan dan mengundurkan diri dari jabatan sesepuh pesanggrahan yang akan diberikan.

__ADS_1


Ia meminta jabatannya diberikan kepada anak dari Gandawati, Aditya yang pada saat itu masih berumur 14 tahun. Darmaji berjanji akan membantu mengelola pesanggrahan. Dari situlah kemudian, pikiran-pikiran busuknya dicecarkan kepada Aditya.


Hasilnya dapat dilihat saat ini, sifat Aditya yang tidak pernah mau mengalah dengan semua orang diperguruan. Alasannya adalah karena dia adalah sesepuh pesanggrahan dan akan menjadi pewaris satu-satunya Padepokan Bukit Bintang. Ia lupa, bahwa untuk menjadi ketua, harus diputuskan oleh ujian yang akan diberikan oleh semua sesepuh di Bukit Bintang.


“Andika keluar kau....”, teriak Aditya lantang.


Beberapa penjaga gerbang menyambut kedatangan rombongan Aditya. Mereka sudah paham, kalau Aditya datang pasti akan membawa kerusuhan.


Dhug... braakkk....


Suara tendangan dan pukulan tiba-tiba terdengar, 3 orang penjaga gerbang terjatuh. Nandaka menghajar mereka tanpa pertanyaan sama sekali, bahkan salah satu penjaga tampak pingsan dianiaya olehnya.


Tidak ada satupun diantara mereka yang berani melawan Aditya, karena hasilnya sudah pasti. Yang kuat akan menindas yang lemah, ditambah lagi yang dilawan adalah penguasa.


Andika yang mendengar keributan di pintu regol segera melesat kedepan dan ia terkejut menemui 3 orang penjaganya telah babak belur.


“Rupanya kau belum puas kemarin Nandaka, majulah biar aku tuntaskan nyawamu saat ini juga”, ucap Andika tanpa rasa takut.


“Hahaha... , kau yang akan mati Andika”, teriak Nandaka sambil melompat kedepan mengayunkan pedangnya.


“Kau berani menyerang muridku dihadapanku, kau akan menerima akibatnya. Potong sebelah tanganmu, maka aku akan mengampuni nyawamu”, ucap Aditya.


Keributan yang terjadi mengundang semua murid di pesanggrahan Bintang Selatan. Semuanya mengutuk apa yang dikatakakan oleh Aditya, karena semua yang hadir pada saat itu tahu, siapa yang memulai menyerang.


“Cuih, apa kau kira aku takut kepadamu”, jawab Andika sambil meludah kearah Aditya. Langsung saja Aditya tersulut emosinya dan menyerang Andika.


Puluhan jurus telah terlewati, kini mulai tampak perbedaan kekuatan antara keduanya. Meskipun sama-sama memiliki tenaga dalam tingkat bumi, namun agaknya pasokan sumberdaya yang dimiliki Aditya membuatnya menguasai pertarungan.


Sabetan pedang di lengan kiri Andika tidak dapat ditangkis, menyebabkan tangan kirinya putus seketika. Ia segera menotok jalan darahnya agar tidak mengucur terus. Ia terengah-engah sambil menahan rasa sakit di tangan kirinya.


“Tadinya aku hanya menginginkan tangan kirimu, tapi kau tidak memberikannya. Sekarang aku menginginkan nyawamu”, teriak Aditya melompat kedepan memberikan tusukan tepat kearah jantung Andika.


Jleb....


Tusukan bersarang didada Andika, mulutnya terbuka tanpa mengeluarkan suara. Semua yang hadir disana tidak ada yang berani menghentikan kebiadaban Aditya. Hanya mengutuk dalam hati dan berbisik-bisik saja.

__ADS_1


“Semuanya apakah ada yang tidak terima dengan ini, majulah aku akan mengantarkanmu menyusul Andika. Hhahahah...”, tawa Aditya puas.


Aditya dan rombongan berniat merampas semua sumberdaya yang ada di pesanggrahan itu. Dia mengutus murid-muridnya untuk masuk kedalam dan mengambil semua sumberdaya.


Dhumm.....


Sebuah serangan tenaga dalam membuat terpental lima orang murid Aditya yang hendak masuk kedalam pesanggrahan. Serangan itu dilakukan oleh Jalasandha, orang terkuat di padepokan Bukit Bintang.


“Cukup, pulanglah atau aku akan menghancurkan pesanggrahan Bintang Timur”, ucap Jalasandha pelan namun membuat jantung Aditya berdebar kencang.


“Kurang ajar, siapa yang berani berurusan dengan Bintang Timur”, teriak Aditya kepada Jalasandha.


Ia segera menghunus pedangnya dan menyerang Jalasandha. Puluhan tebasan yang diberikan Aditya hanya mengenai angin belaka. Darmaji yang mengetahui kekuatan sesungguhnya Jalasandha langsung menarik lengan Aditya.


“Kita pulang dulu Nak”, ajak Darmaji kepada Aditya.


Aditya bersikukuh untuk menyerang Jalasandha, kali ini menggunakan kekuatan pukulan tenaga dalam. Ia mengambil kuda-kuda dan mulai merapal mantra pukulan Gelap Ngampar, pukulan tinju petir. Penguasaan Aditya untuk pukulan itu hanyalah seperlima dari kekuatan sesungguhnya.


Hiyaaatttt.... dhhuar....


Meskipun baru seperlima kekuatan Gelap Ngampar, namun cukup untuk menghancurkan batu sebesar kerbau. Tenaga dalam Aditya terkuras habis untuk melakukan pukulan itu, namun ia terkejut dengan apa yang terjadi. Bahkan Jalasandha tidak bergeser sedikitpun.


“Anak kemarin sore mau bertingkah. Apa kau kira aku takut membunuhmu karena kau anak Ketua Padepokan.”, ucap Jalasandha.


Kemudian ia maju dan bersiap menghajar Aditya. Darmaji yang mengetahui hal itu langsung menarik lengan Aditya mundur. Ia paham betul apa yang akan terjadi jika Jalasandha marah. Seorang diri pun ia, Jalasandha dapat menghancurkan padepokan ini.


“Maafkan kami Sesepuh, kami akan pergi”, ucap Darmaji langsung melesat pergi tanpa menghiraukan murid yang lain. Baginya menyelamatkan Aditya adalah yang terpenting.


Jalasandha tidak mengejar Darmaji, ia menghampiri Andika yang ternyata belum mati. Lalu ia membawa Andika menuju pesanggrahan Bintang Barat untuk di obati.


Hubungan Jalasandha dengan Mahesa Sura, sesepuh Bintang Selatan sangat baik. Sebelum ia menjadi sesepuh di Bintang Barat, Jalasandha adalah sesepuh di Bintang Selatan. Mahesa Sura adalah adik seperguruannya, yang kemudian menggantikannya sebagai sesepuh di Bintang Selatan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2