Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 14 Astana Curika (Rumah Pusaka)


__ADS_3

Pertarungan demi pertarungan telah dilalui oleh Gentala melawan para siluman di Alas Wonojoyo. Terakhir ia melawan Ratu Siluman, Nyai Rondho Kuning. Dari hasil pertarungannya dengan bangsa siluman, kini ia telah membuka sua buah cakra dengan sempurna, dan satu cakra setengah sempurna.


Ia pun kini masih menyimpan ratusan mustika siluman, terdiri dari 83 mustika tingkat rendah, 89 mustika tingkat menengah dan dan 7 mustika tingkat tinggi. Wardhani tidak menyarankan Gentala menghabiskan mustika siluman untuk bermeditasi membuka cakra.


Pembukaan cakra yang terus menerus, akan menghabiskan energi yang lebih banyak sehingga tidak efektif. Sehingga perlu membisakan diri untuk menjaga cakra yang telah terbuka sebelum membuka kembali yang lain.


"Gentala sebaiknya kita melanjutkan perjalanan", ajak Wardhani.


Gentala menyiapkan segala sesuatu untuk melanjutkan perjalanan. Si Bonggol meringkik saat majikannya naik diatas punggungnya. Kuda itu dipacu dengan kecepatan sedang, menyusuri setapak di depannya. Menjelang Gentala tersenyum lebar, ia telah sampai di penghujung hutan.


Kini Bonggol dipacu dengan kecepatan penuh, mengikuti arah terbenam. Sore itu ia melintasi hamparan sawah dengan padi yang telah menguning. Gentala menghentikan kudanya, saat bertemu dengan penduduk yang sedang merumput.


"Kisanak, mohon maaf, kemana arah penginapan terdekat ?", tanya Gentala seraya turun dari kudanya.


"Den Mas bisa mengikuti jalan ini lurus, disana nanti silahkan belok kiri. Kisanak akan sampai di pemukiman penduduk. Hanya ada satu penginapan disana.", jawab orang itu.


Gentala memacu kembali kudanya, setelah mengucapkan terima kasih kepada orang itu. Benar saja, setelah belok kiri, samar-samar ada bangunan pemukiman. Tepat saat matahari terbenam, ia sampai didepan penginapan Griya Pakuwon.


Melihat kedatangan seorang pemuda berpakaian layaknya orang kaya, seorang pekatik (juru rawat kuda) yang dipekerjakan oleh penginapan dengan sigap menyambut Gentala.


Gentala memang merubah penampilan menjadi seperti orang kaya, dengan baju yang menjadi bekal Simboknya. Semua atribut yang menjadi ciri bahwa dia adalah putra Demang Daha ia tinggalkan. Kini ia benar-benar seperti seorang pemuda kaya.


Meskipun tidak tampak barang mewah yang ia bawa, namun dari pakaian, kuda dan buntalan picis yang ia selipkan di pinggang, sudah menjadi kebiasaan orang kaya zaman dahulu.


Si Bonggol lantas di bawa pekatik untuk dirawat dan dimandikan. Sedangkan Gentala menuju penginapan menemui pelayan.

__ADS_1


"Den Mas, ada yang bisa saya bantu ?" ucap Narsih pelayan pemginapan sambil mempersilahkan duduk tamunya.


"Aku ingin menginap dua malam disini, siapkan satu buah kamar yang bagus, berapa biayanya ?", ucap Gentala.


"Untuk kamar yang paling bagus, biayanya satu picis emas selama satu malam Den Mas, itu sudah termasuk biaya makan dan minum," jawab Narsih.


Setelah membayar dua keping emas, Gentala duduk di bale-bale sambil menunggu kamarnya siap. Tidak lama kemudian, berbagai kudapan seperti wajik, dawet dan olahan daging sapi telah siap di meja. Tidak ketinggalan kulupan dedaunan dengan bumbu kelapa parut telah terhidang.


"Ini bagian dari pelayanan kami Den Mas," ucap Narsih. Gentala memang bertanya kepada salah seorang pelayan yang mengantarkan makanan, kenapa disuguhi berbagai hidangan.


Narsih kemudian memanggil seorang jayèngan (seorang pelayan khusus pembawa minuman), untuk menuangkan arak kedalam cangkir bambu dihadapan Gentala.


"Maafkan aku nona, aku tak biasa minum arak", cegah Gentala. Kemudian ia memesan wedang jahe kepada pelayan itu. Narsih tersenyum dan menggelengkan kepala, ia heran saat ini masih ada pemuda yang tidak minum arak.


Setelah menyelesaikan makan, Gentala langsung menuju kamar yang telah disiapkan. Malam ini ia ingin tidur sepuasnya, setelah hampir dua purnama ia harus tidur di hutan belantara. Ia meletakkan buntalannya dan melihat banyaknya mustika siluman yang ia bawa.


Setelah meletakkan di meja dalam kamar, Narsih dan kedua temannya pergi meninggalkan kamar Gentala. Mencium bau harum wedang jahe dan makanan didepannya, membuat perutnya berbunyi. Ia pun segera melahap makanan yang disediakan sampai habis.


"Dasar butho (sebutan untuk manusia rakus) makanan satu meja dihabiskan semua", ucap Wardhani.


"Nyai, kau harus mencoba makanan ini, lidahku tak mau berhenti mengecap, lezat sekali", jawab Gentala tanpa dosa.


Setelah makan dan istirahat sebentar, Gentala membersihkan diri dan ingin kepasar, mencari pakaian yang bagus dan juga sebilah pedang sebagai pengganti belatinya yang telah rusak.


"Aki, saya ingin mencari baju dan juga pedang, dimana kiranya saya harus pergi ?", tanya Gentala kepada pekatik kuda.

__ADS_1


"Den Mas bisa ke pasar Kliwon, kebetulan hari ini bertepatan dengan hari pasaran", jawab pekatik kuda yang bernama Parmin. Setelah itu Parmin memberi ancer-ancer arah menuju Pasar Kliwon.


Aneka barang dagangan dapat ditemukan di pasar ini, mulai jenis rojokoyo (hewan ternak), kebutuhan pokok, senjata bahkan ada tempat khusus penjualan pusaka.


Gentala menuju penjual pakaian dan mulai memilih pakaian yang bagus dan mahal. Ini dilakukan setelah mendapatkan saran dari Wardhani untuk tampil seperti anak dari saudagar yang kaya. Dengan penampilannya itu, orang tidak akan mengira Gentala adalah seorang Pendekar.


Umumnya pendekar saat itu, memiliki baju yang memperlihatkan ciri khas sebuah padepokan. Dan lagi senjata yang umum dipakai adalah ***keris, berang** (sejenis golok), clurit, tombak*. Sedangkan untuk pedang biasanya hanya untuk prajurit ataupun hiasan bagi saudagar.


Gentala memilih pakaian polos dengan warna yang dasar merah tua. Kainnya adalah kain terbaik yang dimiliki oleh penjual dan berasal dari pesisir utara pulau Jawa.


"Berapa harga pakaian ini Juragan ?", tanya Gentala. (kata juragan lazim digunakan untuk memanggil penjual pada saat transaksi)


"Selera Den Mas sangat bagus, pakaian ini pasti cocok jika Den Mas yang memakai", ucal penjual itu panjang lebar sebelum menjawab pertanyaan Gentala. Harganya 100 gobog, Gentala mengambil dua buah pakaian, selain warna merah tua. 300 gobog ia keluarkan dari buntalan penyimpan uang.


Setelah itu ia melihat sebuah bangunan cukup besar, hampir seukuran dengan tempatnya menginap. Di depan pintu masuk tertulis ***Astana Curika** (Astana diartikan sebagai istana dan curika diartikan sebagai keris atau pusaka*)


Picis yang dimiliki Gentala kini tinggal 3 keping emas dan 200 gobog. Ia berniat menjual mustika siluman apabila ada yang bersedia membeli. Karena mustika siluman bisa dijadikan mata pada cincin sehingga memiliki tuah. Seperti mustika kecubung, tapak jalak, badar besi dan lain sebagainya.


"Silahkan masuk Den Mas, mau cari pusaka jenis apa?," tanya pelayan di tempat itu.


Gentala mengutarakan niatnya untuk mencari pedang, namun sebelumnya ia akan melihat-lihat dulu. Berbagai macam keris ia lihat dengan teliti, namun bukan pada bentuk keris nya, melainkan pada ukiran di setiap warangkanya.


Ia terhenti di depan keris yang memiliki pamor udan mas, lama ia memperhatikan gagang keris berkepala burung seperti yang ia ukir. Perhatiannya kini tertuju pada ukiran warangka yang terbuat dari kayu Nagasari, kayu paling bagus untuk membuat warangka karena seratnya yang halus.


Ia melihat ukiran di warangka itu, dan menemukan tujuh buah bintang yang diukir sangat halus, hampir tidak terlihat. Pelayan yang sedari tadi mengikutinya, mulai tersenyum melihat ketertarikan calon pembelinya.

__ADS_1


"Ah... Den Mas pintar sekali, keris itu pantas untuk saudagar seperti Den Mas", ucap Truno, nama pelayan itu di bumbui rayuan.


Truno menjelaskan, bahwa keris dengan pamor udan mas adalah ***ageman** (pegangan*) setiap saudagar kaya. Dan ia melihat Gentala sebagai pemuda kaya, seperti putra seorang saudagar.


__ADS_2