
Gentala mulai menuruni tebing saat matahari mengintip di ufuk timur, dan baru sampai saat matahari tinggi. Setelah sampai di Sumber Lo, ia bergegas untuk mandi, dan mempersiapkan segala sesuatu untuk Tapa Ngalong.
Ia melihat keatas untuk mencari dahan melintang, sebagai cantolan kedua kakinya. Setelah menemukan dahan yang dimaksud, ia segera naik dan berbalik menggantungkan kakinya.
Tujuan tapa ngalong ini adalah melancarkan sirkulasi darah menuju otak, namun tidak boleh dilakukan terlalu lama, karena bisa mengakibatkan pembuluh darah di kepala pecah.
Waktu yang diberikan kepada Gentala untuk tapa ngalong adalah sampai tengah hari, itu berarti kurang lebih lima pembakaran dupa. Rupanya Ki Bajra telah memperkirakan dengan tepat, waktu untuk melakukan tapa ngalong sehingga tidak membahayakan Gentala.
Baru beberapa saat ia menggantung, kepalanya terasa berat dan pandangan matanya kabur, bumi seolah berputar dengan kencang.
Bruuukkk... ! ! !
Gentala terjatuh dan kepalanya terasa pusing, pandangan matanya pun masih berkunang-kunang. Setelah mendingan, ia kembali naik dan menggantung secara terbalik. Tak lama kemudian ia kembali terjatuh.
Sudah tak terhitung berapa kali Gentala terjatuh, saat melakukan tapa ngalong. Namun ia seolah tak peduli dengan hal itu, luka lecer di bagian dahi dan pelipis tampak mengeluarkan darah bercampur keringat. Hal yang sama terjadi pada lutut dan sikunya. Hingga akhirnya waktu tengah hari telah tiba.
Kini ia berendam sebatas leher untuk menjalani tapa kungkum. Pada awalnya, ia berpikir bertapa dengan berendam adalah hal mudah. Akan tetapi semakin lama tubuhnya menggigil kedingingan karena terus direndam air.
Tujuan bertapa dengan berendam air adalah untuk menyiapkan nadi-nadi dalam tubuhnya agar menjadi kuat saat menerima energi. Baru separuh waktu yang ditentukan, Gentala naik dan berjemur di bawah sinar matahari.
Setelah tubuhnya hangat, ia kembali masuk kedalam air sampai hari senja dan melanjutkan pertapaan. Lalu ia kembali menaiki tebing curam menuju gua untuk melakukan semedi.
Rutinitas itu ia lakukan hingga tujuh hari lamanya. Pagi hari, di hari ke delapan Ki Bajra datang menemuinya dengan membawa sebilah pedang yang bagus. Gentala hampir tak mengenali pedang di tangan Ki Bajra. Kini pedang usang milik Gentala menjadi seperti baru.
*****
Satu pekan sebelumnya....
Ki Bajra terbang ke arah selatan menuju arah Lodoyong, tepatnya di kaki Gunung Gamping. Seorang kenalan yang telah puluhan tahun tidak ia kunjungi. Orang itu adalah seorang pandai besi yang memiliki kemampuan membuat senjata. Tidak hanya senjata biasa, tetapi senjata pusaka tingkat tinggi pun dapat dibuatnya.
__ADS_1
Namanya adalah Empu Prahasta, dengan kemampuannya saat itu, ia sering didatangi petinggi kerajaan untuk membuat pusaka, baik keris, tombak maupun pedang. Tak jarang, petinggi kerajaan harus pulang dengan tangan kosong, karena tidak mampu melakukan syarat yang diajukan.
Setidaknya mereka pulang dengan membawa senjata biasa, yang bahan bakunya ada di tempat Empu Prahasta. Bagi yang mampu melakukan syarat tersebut, maka Sang Empu akan dengan senang hati membuatkannya.
Salah satu persyaratannya adalah orang yang mau dibuatkan pusaka, harus membawa sendiri bahan bakunya. Kemudian Prahasta akan membakar bahan mentah itu dengan ritual khusus. Apabila bahan tersebut tidak meleleh, maka ia akan bersedia membuatkannya.
Selain itu selama pembuatan, calon pemilik pusaka harus melakukan tapa brata di kaki Gunung Gamping sampai pusaka itu jadi. Tujuannya adalah agar pusaka bisa menyatu dengan pemiliknya.
Karena syarat yang berat itulah, akhirnya ia mulai dilupakan oleh para pendekar. Sampai akhirnya 15 tahun yang lalu, tersiar kabar bahwa Sang Empu telah meletakkan palu, dan mewariskan kemampuannya kepada salah seorang muridnya. Sang murid itu bernama Empu Pranayam, meskipun ia mewarisi seluruh ilmu gurunya, namun tampaknya kualitas pusaka yang dibuatnya belum mampu menyamainya.
Ini dikarenakan laku tirakat yang dilakukan oleh Pranayam masih belum setingkat dengan gurunya. (laku tirakat merupakan salah satu upaya spiritual untuk meningkatkan kekuatan batin)
Ki Bajra telah sampai di kaki Gunung Gamping sebelum tengah hari. Ia lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, saat melihat gubug pembuatan pusaka.
Dhangg.... !!! Dheengg.... !!!
Suara logam beradu dengan palu telah terdengar nyaring, pertanda tempat itu telah dekat. Pranayam menghentikan gerakan palu di tangannya saat melihat orang tua berpakaian serba hitam sampai di gubug itu.
"Aku ingin bertemu dengan Gurumu", jawab Ki Bajra dengan nada halus dan berwibawa.
Pranayam tidak langsung mengabulkan e
permintaan Ki Bajra, karena ia baru pertama kali bertemu. Ia malah mengatakan, bahwa gurunya sedang melakukan tapa brata dan belum bisa di temui.
Memang kebiasaan Empu Prahasta apabila sedang melakukan laku tirakat, maka tidak ada yang bisa mengganggunya. Konon sekelas utusan Raja pun harus menunggu setengah purnama untuk bertemu dengannya.
"Pergilah ketempat gurumu, katakan Bajra ingin bertemu. Aku akan pergi jika gurumu tidak keluar sampai matahari diatas kepala", permintaan orang tua yang sopan itu, mau tidak mau meluluhkan hati Pranayam.
Begitu sampai di depan ruangan tempat Gurunya semedi, Pranayam duduk timpuh dan berdehem kecil.
__ADS_1
"Ehem... Guru ada orang sepuh, bernama Ki Bajra ingin bertemu", ucap Pranayam.
Tidak ada suara yang terdengar dari dalam, Pranayam kemudian kembali menuju gubug dimana Ki Bajra menunggu. Ia kaget setengah mati saat disana telah mendapati gurunya berbicara dengan Ki Bajra.
Ia jadi menduga-duga seberapa sakti gurunya, selama ini gurunya tidak pernah memperlihatkan kesaktiannya. Lalu siapakah tamunya itu, bahkan sekelas utusan raja saja harus menunggu. Belum lagi segenting apa berita yang dibawa tamunya itu.
"Pranayam, anggap saja kau tidak melihat dan mendengar apa yang terjadi saat ini", ucap Prahasta kepada muridnya.
Pranayam tahu betul, bahwa jika gurunya telah berkata demikian, maka nyawa pun akan di pertaruhkan untuk menjaga rahasia itu. Lalu Prahasta menyuruh muridnya untuk duduk dan mendengarkan percakapan keduanya. Hati Pranayam berbunga-bunga saat diberikan kesempatan langka itu.
"Kakang Bajra, aku kira kita tidak akan bertemu lagi. Aku mendengar kau telah meninggalkan segala urusan duniawi, dan melakukan pertapaan", ucap Prahasta.
"Adi Prahasta, tampaknya semesta belum memberiku izin untuk menghindari dunia", ucap Ki Bajra.
Kemudian Ki Bajra menceritakan wisik yang ia terima dan ramalan dari seorang pertapa suci. Yang membuat Prahasta tercengang adalah saat ini Ki Bajra sedang melatih seorang murid.
"Saat ini aku sedang melatih keturunan Eyang Kamajaya", ucap Ki Bajra yang sontak membuat Prahasta terkejut bukan kepalang. Bagaimanapun ia juga memiliki darah Kamajaya. Secara tidak langsung Gentala adalah cucunya.
"Beritamu benar-benar mengejutkanku Kakang", jawab Prahasta. Prahasta tidak mengira akhirnya darah Kamajaya akan kembali mewarnai dunia persilatan.
"Adi, apakah benar di Lodoyong sini telah bangkit padepokan aliran hitam ?", tanya Ki Bajra.
Prahasta kemudian menceritakan salah satu alasan dirinya undur diri dari dunia pandai besi. Ia beberapa kali mendapatkan pesanan dari orang-orang padepokan aliran hitam. Awalnya ia tidak mempermasalahkan siapapun yang ingin pesan senjata atau pusaka.
Sampai pada akhirnya, Prahasta mendengar, orang-orang yang di curigai sebagai keturunan Kamajaya telah di buru dan dibantai di daerah Lodoyong ini. Mulanya Prahasta berpikir ini hanya kebetulan saja.
Suatu hari, ia didatangi seseorang yang berasal dari ujung timur Lodoyong. Orang itu datang, dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Setelah di tolong oleh Prahasta, ia menceritakan bahwa keluarganya telah dibantai oleh segerombolan pendekar yang mengaku titisan Bethari Durga.
Kemudian orang itu menyerahkan salah satu pedang yang berhasil ia rebut dari penyerangnya. Lalu Prahasta mengenali bahwa pedang itu adalah salah satu buatannya. Sejak saat itulah Empu Prahasta tidak membuat senjata lagi.
__ADS_1
"Hmm.... jadi begitu Adimas", ucap Ki Bajra sambil mengelus jenggot tipisnya.