Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 18 Bukit Klotok


__ADS_3

"Gentala, namaku Gentala", jawabnya dengan hati yang berdebar-debar.


Mereka memutuskan melanjutkan perjalanan bersama untuk menyeberangi sungai Brantas. Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat penyeberangan dan menaiki gethek bersama. Tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan.


Mulut Gentala seakan terkunci, tak mampu mengeluarkan kata-kata. Kirana pun demikian, ia masih merasa bersalah, atas perbuatannya tempo hari. Bahkan untuk komunikasi dengan penjaga gethek, dilakukan oleh Jingga.


Wardhani sedari tadi menggoda Gentala, dengan syair-syair yang pernah ia dengar dari Gentala.


"Tidak kusangka, kau begitu pengecut Gentala , hi hi hi... ", ejek Wardhani.


"Apa maksudmu Nyai ?", tanya Gentala pura-pura tidak tahu.


Padahal ia tahu benar, Wardhani sedang mengejeknya karena ia tidak berani bicara apapun kepada Kirana.


"Aku... aku.... ", Kirana tampak kaget dan gugup saat berdiri di belakang Gentala.


"Maaf..., aku tidak bermaksud apa-apa, terimakasih", Kirana melanjutkan kalimatnya dengan nada yang datar.


"Oh.... iya", hanya itu yang keluar dari mulut Gentala, ia tak tahu harus bicara apa lagi dengan Kirana.


Keempat gadis murid dari Kirana tertawa lirih, melihat Sesepuhnya bisa dibuat kikuk oleh seorang pemuda, yang baru saja ia kenal.


Sesaat kemudian gethek kecil yang mereka tumpangi telah sampai di seberang. Kirana dan muridnya, langsung meninggalkan tempat itu. Hanya Jingga yang sempat pamitan dan berterimakasih kepada Gentala.


"Terimakasih Kakang, sudah menyelamatkan kami, jangan lupa mengunjungi kami, bawalah medali ini saat kesana", ucap Jingga.


Lantas Jingga memberikan Gentala sebuah lencana tanda pengenal sesepuh padepokan. Lencana itu terbuat dari kayu berbentuk bintang, salah satu sudutnya berlubang, sebagai tempat tali gantungan dengan warna ungu.


Gentala menerima lencana itu, dan berjanji akan menuju Bukit Bintang jika urusannya telah selesai. Ketika jarak di antara mereka mencapai lima tombak, Gentala tiba-tiba berteriak "Kirana ..... ! ! !, tunggu aku di Bukit Bintang.... "


Kirana tidak menjawab, menoleh pun tidak, tetapi jelas terukir senyum diwajahnya mendengar teriakan Gentala. Keempat murid Kirana serempak menoleh dan melambaikan tangan ke arak Gentala. Hal yang berbeda justru dirasasakan oleh Gentala, ia sangat berharap Kirana berbalik menatapnya, atau setidaknya membalas dengan isyarat tangan.


*****

__ADS_1


Gentala kembali menaiki punggung si Bonggol, memacunya kearah Bukit Klotok. Hatinya tampak gundah, ia takut rasa yang di alaminya bertepuk sebelah tangan. Ia diam tak bicara sama sekali, sampai akhirnya ia kembali memasuki kawasan hutan Bukit Klotok.


Sebelum melanjutkan perjalanan, ia melihat di kejauhan, lereng Klotok telah kelihatan. Gentala tampak menarik nafas panjang, mengingat cerita ayahnya, bahwa Bukit Klotok juga menyimpan bahaya yang tidak bisa di remehkan.


Klotok berasal dari kata Kolothok, kolo yang artinya bahaya, sedangkan thok memiliki arti banyak. Sehingga Bukit Klotok merupakan Bukit yang penuh dengan bahaya. Namun ayah Gentala, tidak menceritakan bahaya apa yang terkandung di dalamnya.


"Bocah, kenapa dengan dirimu, sedari tadi diam saja, apa kau masih memikirkan pujaan hatimu", tanya Wardhani.


"Iya Nyai, entah kenapa baru sebentar saja aku sudah merasa rindu", jawab Gentala lirih.


Seakan kehilangan semangat hidup, ia berjalan menuju lereng bukit dengan menuntun kudanya. Melihat hal ini, Wardhani hanya bisa sembunyi di medali bintang, melanjutkan meditasi. Ia membutuhkan energi yang cukup besar untuk menjaga sukmanya agar tetap utuh.


Sebelum melakukan meditasi ia berpesan kepada Gentala, agar tidak lupa tujuan datang ke Bukit ini.


"Gentala, ingatlah Kirana menunggumu di Bukit Bintang, giatlah berlatih disini, aku akan melakuka meditasi dalam waktu yang lama. Aku tidak bisa membantumu saat meditasi, atau sukmaku akan terluka", ucap Wardhani.


Demi mendengar Kirana sedang menunggunya, membuat Gentala menjadi semangat kembali dan kini ia melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.


Setapak demi setapak ia lalui, sampailah ia kepada lereng bukit. Pohon yang ada disana semakin lebat, Gentala menebaskan pedang untuk membuka jalan menuju puncak bukit itu. Tidak terasa senja mulai menghilang berganti malam, Gentala menghentikan langkahnya saat menemukan sumber air.


Setelah api menyala, ia membersihkan diri di sumber air itu dan berganti pakaian. Perutnya mulai bernyanyi, karena semenjak meninggalkan penginapan, ia sama sekali belum makan. Kemudian ia berburu di sekitar sumber air, dengan dibantu penerangan cahaya bulan.


Beruntung di bawah pohon beringin, di samping sumber ada seekor kancil yang sedang tidur. Gentala mengendap-endap dan ketika jarak satu tombak, ia menghunus pedangnya dan melemparkan ke arah kancil.


Whuussh....!!! jleb... !!! lemparan pedangnya mengenai tubuh kancil itu. Akhirnya Gentala bisa makan malam ini. Setelah makan ia berencana melakukan meditasi menggunakan medali bintang, tetapi ia batalkan, teringat Wardhani yang saat ini tengah melakukan meditasi didalam batu itu.


Hingga akhirnya Gentala memutuskan untuk tidur saja malam ini. Belum juga matanya terpejam, hawa dingin menusuk terasa menusuk tubuh. Ia tidak tahu, kabut putih turun menyelimuti sumber air, menyebabkan tubuhnya menggigil.


Kemudian ia bangun dan mengambil posisi bersila, mendekat diperapian yang hampir padam. Energi kehidupan di tubuhnya di putar, mengaliri seluruh nadi ditubuhnya. Rasa hangat kembali terasa menyelimuti tubuhnya.


Sumber Lo bergejolak, riak gelombang air tercipta dari kedalaman sumber. Gentala tersadar dan mendekati kearah letupan air yang di barengi dengan munculnya asap ungu dari dalam air. Tak lama kemudian, letupan itu terhenti.


Di dasar sumber, muncul cahaya ungu berkilauan. Gentala lekas melepaskan pakaiannya, dan menceburkan diri ke dasar sumber.

__ADS_1


Byur... !!!


Dasar sumber itu, ternyata tidak dalam, hanya setinggi dada orang dewasa. Kemudian ia menyelam melihat asal cahaya itu. Cahaya itu ternyata berasal dari sebuah batu seukuran kepalan tangannya.


Mustika Kecubung Ungu, Gentala mengenali batu itu, karena ayahnya juga memiliki batu tersebut. Hanya saja, ukurannya sebesar ujung kuku dan energinya jauh lebih kecil dari yang di temukan Gentala.


Kemudian ia mengambil mustika itu, dan membawanya kedekat perapian. Aneh, setelah mengambil mustika kecubung wungu suasana di sekeliling tidak sedingin tadi. Hewan malam pun tidak ada yang bersuara.


Merasakan keanehan itu, Gentala mengurungkan niatnya untuk menyerap mustika yang ada ditangannya. Ia hendak menanyakannya kepada Wardhani.


Setelah mengeringkan baju bawahnya, ia melanjutkan tidur yang sempat tertunda.


*****


"Tampaknya bocah itu telah datang", ucap seorang tua yang mengenakan pakaian serba hitam. Sosok itu kemudian terbang menuruni bukit Klotok dan berhenti di salah satu dahan pohon.


Matanya terpejam dan ia menarik nafas dan menahannya, sambil mulutnya komat kamit membaca mantra.


Sir rasa cahyaning rasa....


Mutmaya tejaning maya...


Mantra pembuka mata batin itu ia baca, untuk melihat keberadaan Medali Bintang. Dalam jarak lima mil, ia melihat medali itu dan bergegas ke arah sana. Tujuannya bukan untuk segera menemui pembawa medali itu, melainkan sosok menyeramkan yang terlihat oleh mata batinnya.


Sosok tinggi besar yang dilihatnya adalah Butho Bakasura, raksasa penghuni hutan Klotok yang gemar memakan manusia. Telah banyak manusia yang dimakan olehnya saat memasuki wilayah hutan itu.


Pemilik mata batin itu tidak biasanya ikut campur dengan urusan Bakasura, tetapi karena orang yang sedang diincar adalah pemegang medali bintang, maka ia harus turun tangan seperti wisik yang ia terima.


Orang tua itu melesat dengan cepat, menuju Bakasura berada, tepat saat kabut dingin menerpa tubuh Gentala. Kabut dingin itu adalah ajian sirep yang dikeluarkan oleh Bakasura. Bakasura yang hendak memakan tubuh Genta, terkejut dengan kedatangan orang tua itu.


Bakasura tahu benar, siapa orang tua itu. Dia adalah Pertapa yang tinggal di Bukit Klotok, dan seluruh penghuni kawasan itu tidak ada yang berani mengusiknya. Bajra Geni, pertapa sakti yang telah lama undur diri dari urusan duniawi. Namun kini tiba-tiba turun gunung, turut campur urusan Bakasura.


"Bakasura, tinggalkan anak itu", ucap Bajra Geni. Bakasura kaget mendengar ucapannya, dan mau tak mau harus meninggalkan mangsa yang hendak ia santap.

__ADS_1


Bajra Geni kemudian menetralisir ajian sirep yang dikeluarkan oleh Bakasura. Lalu ia membuka tabir penutup di Sumber Lo. Rajah Pangurung sengaja ia pasang untuk menutupi sebuah mustika di sumber air itu.


__ADS_2