Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 9 Arya Gentala


__ADS_3

Wardhani mengingatkan Arya untuk membuang identitas keluarganya. Ia khawatir, Arya akan menjadi sasaran pendekar silat, tidak hanya golongan hitam. Bahkan aliran putihpun banyak yang menginginkan medali bintang.


Arya Gentala, Ki Demang Aryo Dimejo memberi nama anaknya. Bukan tanpa alasan ia memberi nama anaknya seperti itu. Gentala yang berarti Naga, mengisyaratkan pertemuan Ki Demang dengan sosok Pertapa Suci. Pertapa itu mengabarkan beberapa kejadian yang akan dialami anaknya di masa depan.


Sedangkan Arya adalah nama besar keluarga secara turun temurun, yang memiliki arti Bangsawan atau orang terhormat. Kisah ini terjadi 20 tahun yang lalu, sewaktu Arya masih di kandungan simboknya.


Ki Demang seolah menjadi orang yang paling bahagia di kademangan Daha, saat mendengar kehamilan istrinya. Pantas saja satu purnama ini, Sekararum merasakan mual-mual dan sesekali muntah.


Ki Demang sudah menantikan kehamilan istrinya dalam waktu yang lama. Sudah lima tahun kurang satu purnama, Ki Demang mengharapkan hal ini. Sudah berbagai obat ia berikan kepada Sekararum, tidak terhitung lagi tabib dan dukun sakti ia datangi, demi mendapatkan buah hati.


"Usianya jabang bayi dalam kandungannya sudah tiga purnama Ki Demang", ucap Mbok Srinem, seorang dukun beranak paling hebat di kademangan Daha. Sumringah wajah Ki Demang, mendengar hal itu, dan apabila bukan karena menjaga wibawanya sebagai Demang, tentu saja ia akan melonjak-lonjak kegirangan seperti anak kecil.


"Mohon maaf Ki Demang, Nyai Sekar harus istirahat banyak, agar kandungannya bisa sehat", lanjut Mbok Srinem. "Lakukan apapun Mbok, berapapun biayanya dan apapun yang dibutuhkan jangan sungkan", ucap Ki Demang.


Kemudian Ki Demang memanggil Ki Lurah Seno untuk menyiapkan segala kebutuhan Mbok Srinem selama di kademangan. Memang Ki Demang meminta Mbok Srinem untuk tinggal di kademangan, sampai istrinya melahirkan.


Suatu malam, Ki Demang sedang melakukan semedi, hal yang biasa ia lakukan apabila ia tidak bisa tidur. Tidak ada ritual istimewa yang ia lakukan, hanya saja ia seperti mendapatkan wisik dan melihat seekor Naga melingkar diatas bubungan rumah joglo Ki Demang. (Bubungan adalah atap rumah paling atas, yang merupakan pertemuan deretan genting atau dikenal dengan Wuwungan).


Ki Demang terbangun dari semedinya, segera menemui istrinya. "Dinda Sekar, aku mendapatkan wisik, sebuah naga bertengger diatas wuwungan", ucap Ki Demang. "Kangmas, naga adalah pertanda bagus untuk keluarga kita", ucap Sekararum.


Sekar teringat, Bopo-nya dulu pernah bercerita, tentang mimpi-mimpi dan tafsirannya. Salah satunya, adalah mimpi tentang naga diatas rumah. Bahwa akan lahir seorang pelindung atau penjaga dari keluarga itu. Mendengar hal ini, Ki Demang semakin bahagia. Ia tak sabar segera mengabarkan hal ini kepada keluarga besarnya.


Pasangan itupun akhirnya tertidur dengan bahagia, bahkan bisa dilihat bahwa Ki Demang terlelap dengan bibir masih tersenyum. Keesokan harinya, Mbok Srinem menghadap Ki Demang, bahwa menurut perhitungannya, sudah waktunya melakukan telonan. (tradisi selamatan pada saat usia kandungan tiga lapan. satu lapan \= 35 hari).

__ADS_1


"Ki Demang, sudah waktunya Nyai Sekar melakukan upacara telonan, menurut perhitungan hamba, Kamis Kliwon atau Akad Pon adalah waktu yang tepat", ucap Mbok Srinem sambil menghitung neptu dengan jarinya.


"Baiklah Mbok, lakukan yang paling dekat saja", ujar Ki Demang. "Injeh Ndoro, kalau begitu Akad Pon adalah yang terdekat, hamba akan menyiapkan segala sesuatunya. Mohon Ndoro Demang berkenan", jawab Srinem, seraya beringsut kedalam.


Ki Demang memanggil seorang cethi (pelayan/pembantu) dan memerintahkannya untuk menemani Srinem, menyiapkan segala kebutuhan telonan. Tidak lupa Ki Demang memerintahkan Ki Lurah Seno, untuk memberi tahu semua orang yang tinggal di rumah Demang Aryo Dimejo, bahwa malam Akad Pon akan Ki Demang akan melakukan upacara selamatan.


Secara pribadi, Ki Demang meminta kepada sesepuh di kademangan Daha untuk memimpin upacara selamatan. Sesepuh yang merupakan pepundhen (orang yang dituakan, khususnya dalam hal ritual) di Daha itu bernama Ki Argasonya.


Malam Akad Pon telah tiba, Ki Demang beserta para abdi dalem sudah bersiap di bale-bale ruang utama kademangan. Tampak hidangan yang ada di depannya, takir plontang, sego golong dan jenang sengkala. Itu semua merupakan menu wajib dalam telonan.


Acara berlangsung dengan hikmat, wangi kemenyan bercampur cendana menyebar ke seluruh ruangan. Setelah acara selesai, orang-orang yang hadir ketika itu, langsung membagi-bagi makanan yang ada di depan mereka.


Suasana sukacita melingkupi seluruh yang hadir, khususnya Ki Demang. Sampai akhirnya, ada seorang sepuh datang ke acara tersebut. Melihat kedatangan orang tua itu, Ki Demang dengan cekatan, menghampirinya.


Ki Demang mengajak Pertapa itu menuju ruangan, dan memberikannya penghormatan khusus. Pertapa itu tersenyum, dan berkata lirih " .... hemmm, benar-benar keturunan Kamajaya", ucapnya nyaris tidak terdengar.


"Nakmas, tidak usah repot-repot. Aku tidak akan lama disini", ucapnya. Kemudian Bagawanta Bhari lalu menanyakan tentang medali bintang yang disimpan oleh Ki Demang.


Ki Demang nampak kaget dan pucat, tidak ada orang tahu bahwa medali bintang itu berada di tangannya. "Tidak usah takut Nakmas, aku bisa merasakan energi dari medali itu", ucapnya.


Pertapa itu menjelaskan bahwa ada tujuh medali yang saat ini masih tersebar di tanah Kahuripan ini, hanya satu medali yang jelas keberadaannya. Dan itu merupakan medali terkuat diantara tujuh yang lainnya.


"Hal lainnya terkait dengan medali itu, akan terjawab oleh pewarisnya pada saatnya nanti", ucap Pertapa itu.

__ADS_1


Ia juga meramalkan bahwa kelak anaknya adalah laki-laki dan akan menjadi pendekar tanpa tanding. Namun pertapa itu juga mengingatkan, bahwa kelahiran putranya akan dibarengi dengan munculnya kekuatan hitam.


Bagawanta Bhari menjelaskan bahwa Ki Demang harus mengirimkan anaknya kepada Pertapa di Gunung Klotok, saat usianya tepat 20 tahun. Anak tersebut akan memulai takdirnya saat itu.


"Hindarkan anakmu untuk berlatih kanuragan secara berlebihan, apalagi tenaga dalam. Ajari saja meditasi Nafas Segitiga, warisan keluargamu", ucapnya lagi-lagi mengagetkan Ki Demang. Bagaimana tidak, nafas segitiga juga merupakan hal yang sifatnya rahasia.


"Hitam dan putih selalu lahir berpasangan, tidak bisa dipungkiri, sebagai manusia kita cuma bisa menyiapkan" ujar Bagawanta Bhari. Setelah menyampaikan petunjuknya, Bagawanta Bhari dipersilahkan untuk makan makanan yang sudah di siapkan.


Ki Demang meminta izin masuk kedalam, untuk menyiapkan buah tangan bagi pertapa itu. Namun ia kaget, setelah kembali ke bale tadi, ia tidak mendapati pertapa itu di ruangan.


Acara selamatan itu telah usai, kini tinggallah Ki Demang dan istrinya. Ki Demang lalu menceritakan ramalan pertapa suci kepada Sekar. Ada raut kegembiraan yang tergambar di wajahnya, namun sekaligus sedih.


Bagaimana tidak, ia akan mendapatkan anak yang akan menjadi pendekar hebat. Di satu sisi, ia akan berpisah dengan anaknya saat usianya 20 tahun. Takdir memang unik, tidak bisa diminta atau di tolak.


*****


"Gentala, mulai hari ini namamu adalah Gentala", ucap Wardhani. Tidak ada lagi nama Arya ataupun yang berbau keluargamu.


Arya atau Gentala saat ini selesai menjalankan latihan teknik pedang, yang sebenarnya adalah milik Kamajaya. Kemudian untuk menguatkan tenaga dalamnya ia terus bermeditasi dengan menggunakan teknik nafas segitiga.


Teknik meditasi ini di sempurnakan oleh Wardhani, dengan membuka sumbatan-sumbatan pada nadi sumshuma. Perlahan namun pasti Gentala semakin mahir dalam ilmu pedang dan kekuatannya meningkat tajam.


Hanya saja sampai saat ini, dia belum menemukan lawan tanding yang sebenarnya di dunia nyata. Karena selama beberpa hari ini, ia hanya menjalankan latihan bersama Wardhani di alam bawah sadarnya.

__ADS_1


Update setiap hari pukul 20.00 WIB.


__ADS_2