Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 17 Siluman Buaya Putih


__ADS_3

"Dhuug.... braakk ... !!!


Gentala terdorong kebelakang dan membentur dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Dinding bambu itu hancur tertimpa tubuh Gentala, ia terjatuh dan pingsan. Tangan kirinya tampak mengeluarkan darah akibat sayatan pedang Kirana.


Pelayan yang ada diruangan itu, terkejut dan buru-buru melihat apa yang terjadi. Mereka kaget, namun tidak berani ikut campur melihat Kirana yang masih berdiri di dekat Gentala.


"Huh, lelaki lemah, banyak gaya", ucal Kirana sambil menyarungkan pedang.


Kemudian ia kembali ke tempat semula dan melanjutkan makan. Nyai Anjani yang baru keluar setelah mendengar suara gaduh, langsung menuju tempat Kirana. Dia datang dan tergopoh-gopoh, langsung meminta maaf meskipun tidak tahu apa yang terjadi.


Namun bukan Anjani namanya kalau tidak pandai memutar bahasa. Sebagai pemilik penginapan, ia telah sering menghadapi kejadian seperti ini. Memihak kepada orang yang jelas kuasanya adalah penting. Dalam hal ini, Anjani melihat memihak Bukit Bintang tentu lebih menguntunkan dibandingkan pemuda yang baru sekali ini datang ke penginapannya.


"Den Ayu, maafkan ketidak nyamanan ini, sebagai kompensasinya, semua hidangan ini tidak usah dibayar", ucap Anjani.


"Hemmm.....", hanya itu yang keluar dari mulut Kirana sambil tetap menikmati wedang jahe dengan wadah yang baru di tangannya.


Mengeluarkan beberapa picis demi menjaga hubungan dengan pelanggan adalah prioritas. Kemudian Anjani menyuruh beberapa pelayan laki-laki nya untuk mengangkat Gentala menuju kamarnya. Narsih dengan telaten membersihkan luka di tangan kiri Gentala dan membalutnya dengan kain.


"Hei... bocah, sampai kapan kau akan pura-pura pingsan", ucap Wardhani. Memang Gentala hanya pura-pura pingsan, ia tidak ingin pujaan hatinya semakin marah, jika tahu Gentala baik-baik saja terkena tendangan.


"He he heh..., aku tak menyangka bisa sedekat tadi dengan Kirana", jawab Gentala.


Ia masih membayangkan, bagaimana wajahnya bisa sedekat itu dengan Kirana.


Dewi Kamaratih sang Dewi Cinta...


Kenapa kau datang mengusik sukmaku


Ah... tidak hanya bambu yang mengenai pelipisku...


Lalu pedangnya... dan juga tendanganya...


Pasti....


Lain kali akan kudapatkan hatinya


Tunggulah Kirana Mahadewi


Gentala kembali meracau, bagai seorang penyair. Kata-kata indah seorang pemuda yang di mabuk kepayang meluncur dengan lancar, bahkan tanpa ia pikirkan.


"Sejak kapan kau menjadi penyair seperti itu ?", ucap Wardhani tak membutuhkan jawaban.

__ADS_1


"Kalau kau ingin mengejarnya, kau harus lebih kuat, kalahkan dirinya maka kau akan dapatkan hatinya", lanjut Wardhani.


"Lalu sejak kapan juga Nyai menjadi bijaksana seperti ini ? Biasanya Nyai akan bicara ngalor ngidul sekenanya saja, hehehe...", jawab Gentala sambil cengar cengir.


"Gerah polo beneran agaknya bocah ini", batin Wardhani.


Malam harinya, Gentala melanjutkan meditasi untuk menjaga keseimbangan tenaga dalam dan energi cakra yang dimilikinya. Pagi harinya ia kembali melanjutkan perjalanan, menuju Bukit Klotok. Bonggol yang telah beristirahat selama dua hari terlihat segar kembali, menyambut juragannya.


Perjalanan Gentala kembali dilanjutkan menuju Sungai Brantas (sungai yang kelak membelah Kahuripan menjadi Jenggala dan Panjalu. Jenggala di timur dengan ibukota Kahuripan dan Panjalu di Barat dengan ibukota Dahanapura). Sungai ini dihuni oleh siluman buaya putih yang jumlahnya ratusan.


Siluman di sungai itu jarang sekali keluar dan mengganggu manusia karena telah melakukan perjanjian dengan seorang Pandhita yang sakti mandraguna bernama Resi Kaniyasa. Namun akhir-akhir ini sering terjadi pertarungan antara pendekar dengan siluman buaya putih.


Kejadian ini dipicu oleh banyaknya pendekar yang menginginkan batu mustika siluman, untuk meningkatkan kekuatan ataupun dijual. Sungai yang dulunya damai, kini kembali bergejolak kembali. Jasa penyeberangan pun semakin sepi dan kini muncul para pendekar yang menawarkan jasanya untuk mengawal penyebrangan.


Matahari masih diatas kepala, saat Gentala memasuki kawasan hutan di tepian sungai Brantas. Hutan itu tidak begitu luas, hanya tanaman semak perdu yang banyak tumbuh disana. Keluar dari hutan ia telah sampai di bibir sungai Brantas.


Aliran sungai yang deras, dan kedalamannya mencapai tiga tombak. Tidak ada pendekar yang gila menyeberangi sungai itu dengan berenang. Hanya sedikit pendekar yang dapat menyeberangi sungai itu dengan terbang.


Gentala menyusuri tepian sungai dengan berkuda kecepatan sedang, ia tidak mau menyia-nyiakan pemandangan di dekatnya.


*****


"Hiyaa.... Jurus Pedang Menggapai Bintang", teriak Kirana sambil menebaskan pedang ke arah siluman buaya putih.


Sasmita dan Jingga dibuat kerepotan oleh 5 siluman yang mengeroyoknya. Sabetan ekor buaya bertubi-tubi membuat keduanya kehabisan tenaga. Baju Jingga terlihat robek bagian lengannya, ia mendapatkan gebukan telak di lengan kirinya.


Sasmita masih tampak lebih baik, meskipun belum tampak luka luar, namun di bibirnya membekas noda darah yang segar. Bahkan dua orang temannya telah pingsan sejak tadi.


Sasmita kembali menyerang dengan sisa sisa tenaganya, ia mengeluarkan jurus yang sama dengan Kirana. Hanya saja daya hancurnya masih dibawah kekuatan Kirana. Serangan itu ia arahkan kepada dua siluman yang menyerangnya secara bersamaan.


Ayunan pedang Samita mengenai perut siluman itu, satu siluman tewas seketika dengan isi perut keluar. Kemudian ayunan berikutnya ia arahkan untuk menangkis sabetan ekor buaya putih.


"Slaassshh... !!!


Ekor buaya itu putus, dan mencoba mundur. Jingga yang sedari tadi menunggu kesempatan, langsung memburu siluman yag terluka itu. Ia berhasil menancapkan pedang di kepala buaya itu. Lalu ia tersenyum kearah Sasmita.


Keadaan Kirana pun terlihat kelelahan, saat ini ia telah membunuh 7 siluman buaya. Masih tersisa satu siluman, dan nampaknya yang paling kuat diantaranya. Kekuatan Kirana telah habis terkuras untuk membantai siluman sebelumnya, kini ia hanya bisa menghindar dan bertahan.


Hingga akhirnya Kirana lengah, kaki kirinya terperosok ke dalam tanah, hingga hilang keseimbangan. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh siluman buaya.


Dengan cepat, siluman itu memukulkan ekornya kearah tubuh Kirana. Sinar merah menyertai sabetan ekor buaya itu. Sasmita dan Jingga yang hanya bisa melihat sesepuhnya dari jauh.

__ADS_1


"Sesepuh ....", teriak Sasmita dan Jingga bersamaan. Kirana hanya pasrah, menerima pukulan itu. Ia yakin takkan selamat dari pukulan tersebut.


Dhhuuarr... !!!


*****


"Aku merasakan hawa siluman disini", bisik Wardhani.


Gentala mempercepat langkah kudanya, saat melihat dari kejauhan tiga orang perempuan di keroyok oleh buaya putih. Ia mengenali mereka dari pakaian yang dikenakannya.


"Kirana...", batin Gentala.


Ia melompat dari kudanya saat mendekati Kirana yang tengah terperosok ke dalam lubang di tanah. Sampai akhirnya sesaat sebelum sabetan ekor buaya mendarat di tubuh Kirana.


Dhhuuarr... !!!


Benturan keras terjadi antara ekor buaya dengan kedua tangan Gentala yang menyilang di depan dada. Darah segar keluar dari mulut Gentala, dan ia terhuyung hampir roboh.


"Apa yang terjadi ?" batin Kirana. Ia menanti mendaratnya serangan itu namun tidak merasakan apa-apa setelah bunyi ledakan terjadi. Ia membuka matanya dan melihat seseorang menangkis serangan siluman itu.


Gentala kembali berdiri dan bersiap menyerang siluman di depannya. Ia menghunus pedang yang baru ia beli kemarin. Ia mengeluarkan jurus Pedang Bintang Menyapa Langit.


"Jurus itu...", batin Kirana


Kilat kuning keluar menyertai tebasan pedang yang dilakukan Gentala. Siluman Buaya menangkis dengan ekornya. Ledakan kembali terjadi, siluman buaya terlempar mundur dan tak bergerak kembali. Ia tewas seketika dalam satu pukulan.


Gentala tersungkur setelah mengerahkan seluruh tenaga dalam satu ayunan. Darah segar kini mengalir semakin banyak di bibirnya. Nafasnya memburu, ia berusaha duduk namun tak mampu menopang berat tubuhnya.


Ia hampir terjatuh, saat Kirana datang membantunya duduk. Kirana terkejut melihat pemuda yang menyelamatkannya adalah pemuda yang ia tendang kemarin.


"Duduklah, atur pernafasanmu, aku akan membantumu meringankan luka dalam yang kau alami", ucap Kirana.


Gentala yang tengah duduk, mengatur pernafasanya, lalu berkata "Tidak usah Kirana, simpan tenagamu untuk mengobati temanmu", ucap Gentala.


"Darimana kau tahu namaku ?", ucap Kirana.


Gentala tidak menjawab, karena ia sedang konsentrasi mengatur pernafasan dan menghimpun tenaga dalam. Kirana mendengus kesal, karena pertanyaannya diabaikan oleh pemuda itu.


Lalu ia menuju Sasmita dan Jingga untuk membantunya memulihkan diri. Ia menggunakan mustika siluman buaya yang baru saja ia kumpulkan untuk membantu murid-muridnya memulihkan diri.


Hari mulai senja, saat Kirana dan keempat muridnya selesai memulihkan diri. Ia hendak melanjutkan perjalanan, dan menghampiri Gentala.

__ADS_1


"Setidaknya katakan siapa namamu", ucap Kirana saat di dekat Gentala. Gentala yang masih semedi membuka matanya menyudahi semedi yang ia lakukan.


__ADS_2