
"Ah... Den Mas pintar sekali, keris itu pantas untuk saudagar seperti Den Mas", ucap Truno, nama pelayan itu di bumbui rayuan.
Truno menjelaskan, bahwa keris dengan pamor udan mas adalah ageman (pegangan) setiap saudagar kaya. Dan ia melihat Gentala sebagai pemuda kaya, seperti putra seorang saudagar.
"Benar paman, keris ini sangat indah, apalagi dipadu dengan ukiran kayu di warangka nya, menjadi sempurna nilainya", jawab Gentala seakan ia tertarik untuk membeli.
Truno pun semakin senang, ia mendapat tangkapan besar kali ini. Paling tidak ia bisa mendapatkan lima gobog dari juragannya apabila bisa menjualkan keris itu. Lima gobog adalah jumlah besar untuk seorang pelayan di Astana itu. Bisa buat beli beras sepuluh sekati (satu kati disamakan dengan 6,5 ons) beserta lauk pauk untuk satu minggu.
"Kalau boleh tahu, Empu mana yang bisa membuat garapan sehalus itu paman ?", tanya Gentala.
"Maafkan aku Den Mas, untuk urusan itu hanya juragan yang tahu, tetapi kalau Den Mas tertarik untuk membelinya, nanti bisa bertanya langsung dengan Juragan Karta", Jawan Truno.
"Berapa harganya paman ? Aku sebenarnya ingin membeli pedang, tapi nanti kalau picis dikantongku ini cukup, aku akan membeli keris itu", ucap Gentala sambil kembali berjalan melihat-lihat.
"Bagi Den Mas pasti tidak mahal, keris ini harganya 10 keping emas", jawab Truno
Truno kembali mengantarkan tamunya itu berkeliling, ia semakin senang jawaban orang yang diantarkannya itu. Ia berhenti disamping Gentala saat pemuda itu melihat deretan batu mustika yang dipajang rapi. Ada yang berwarna merah, ungu, hitam sampai putih.
"Batu mustika ini tingkat menengah Den Mas, harganya satu keping emas, sedangkan yang tingkat rendah disampingnya harganya 50 keping gobog, " Truno menjelaskan tanpa diminta.
"Aku tidak melihat batu mustika yang tinggi, apa memang tidak ada ?", tanya Gentala.
Kemudian Truno menjelaskan bahwa akhir-akhir ini batu mustika tingkat atas, sering habis. Ada padepokan yang rutin datang dan memesan batu mustika, dikarenakan jumlah mustika tingkat atas sangat terbatas, sehingga tidak dipajang bersama dagangan yang lain.
"Berapa harga tiap mustika tingkat atas paman ?", tanya Gentala.
"Paling murah untuk harga mustika tingkat tinggi lima keping emas Den Mas", jawab Truno.
Gentala mulai berfikir untuk menjual semua mustika yang dimilikinya. Kemudian ia melanjutkan untuk melihat ke bagian pedang. Ada banyak macam pedang yang saat ini dipajang. Saat ini belum ada yang menarik perhatiannya. Ia hanya mengambil pedang untuk dilihat dan kemudian dikembalikan di tempatnya.
__ADS_1
Ada yang ia sukai bentuknya, namun bahannya tidak bagus. Gentala mencari pedang yang berbahan batu bintang, atau paling tidak, ada campuran dari besi dan batu bintang. Saat ia membolak balik pedang, ada rombongan yang masuk, terlihat dari penampilannya mereka berasal dari sebuah padepokan.
Mereka berjumlah lima orang, dan semuanya perempuan, tampak salah satu tangannya menenteng pedang. Satu orang berjalan paling depan, pakaiannya tampak berbeda dari yang lain. Ia adalah gadis yang paling cantik diantaranya.
Waktu seolah berhenti, dada Gentala berdegup kencang, saat melihat paras ayu gadis itu. Di Kademangan Daha banyak gadis cantik, tapi tak ada yang membuat hatinya berdetak kencang seperti saat ini. Ia tak tahu, perasaan apa yang saat ini melingkupi hatinya.
Bahkan beberapa gadis cantik sering mengejar dan menyatakan cintanya kepada Gentala, tak satupun yang ia terima. Namun kini, hanya melihat saja, tanpa bicara, tanpa mendekat, hatinya bergetar hebat.
Gadis itu bahkan tidak melihat pada Gentala, namun ia kedua matanya terus mengikuti langkah gadis itu. Sungguh paras yang mempesona, rambut hitamnya dibiarkan tergerai sepunggung, ditambah lesung pipi yang menjadikannya seperti bidadari.
" ehemm... ehemm, Den Mas.. Den Mas....", panggil Truno saat melihat mata Gentala berkedip.
Truno bahkan harus menggoyangkan tubuh Gentala, untuk menyadarkannya.
"Maafkan aku paman, aku sungguh tidak mengerti dengan diriku, aku bahkan rela menerima tusukan pedangnya demi melihatnya dari dekat", ucap Gentala.
"Dasar bocah edan, kalau pedang itu menusukmu, kau akan mati", Wardhani kembali dibuat heran dengan kelakuan Gentala.
"Nyai siapa Den ?," Truno kebingungan karena ia tidak mendengar ucapan Wardhani.
Gentala tidak menjawab, tapi langsung mengalihkan perhatian, dengan bertanya lagi tentang pedang yang ditangannya. Ia benar-benar tidak konsentrasi, bahkan tidak mendengar perkataan Truno.
"Gentala, ambillah pedang yang disana, sedikit berkarat, tapi bahan pembuatnya sangat bagus, dan lihatlah di gagangnya ada motif bintang yang sebagian telah rusak", perkataan Wardhani menyadarkan lamunan Gentala.
Gentala lalu mengambil pedang itu dan mengamati bentuknya. Panjang pedang itu setengah depa dan panjang gagang pedang satu jengkal. Pedang itu tampak sedikit tumpul di ujungnya, mata pedangnya pun terlihat goresan di beberapa tempat.
Wardhani menjelaskan, pedang itu dapat di perbaiki, yang lebih penting bahan baku pedang itu adalah batu bintang. Batu bintang atau batu meteor, bahan baku paling kuat untuk membuat pedang dan dapat dialiri tenaga dalam jumlah besar.
"Paman, aku ingin pedang ini, harganya berapa ?", tanya Gentala sambil menimang dan menggerakkan pedang itu ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Truno menjelaskan, pedang yang terlihat jelek dan ujungnya tumpul itu seharga satu keping emas.
"Baik, aku ambil ini paman", ucap Gentala sambil mengikuti Truno menuju tempat juragan Karta untuk membayar pedang itu.
*****
"Maafkan aku Nona, kali ini kami hanya punya 10 mustika tingkat atas", ucap juragan Karta kepada rombongan gadis yang baru saja datang.
"Aduh... bagaimana ini juragan, kami sudah jauh-jauh dari Bukit Bintang, berharap paling tidak, 50 mustika tinggat atas", ucap gadis itu.
Gadis itu terus mendesak Karta untuk mendapatkan mustika tingkat atas, berapapun biayanya. Akhirnya Karta menyanggupi untuk mencarikan di beberapa relasi dagangnya.
"Nona, tunggulah barang satu atau dua hari di penginapan Griya Pakuwon, nanti akan aku kabari kalau barangnya sudah ada", ucap Karta.
Gentala yang sedang mengantri di dekat juragan Karta, matanya tidak pernah lepas dari wajah gadis yang sejak kedatangannya telah membius dirinya. Bahkan ia terlihat senyum-senyum tidak jelas apa yang ada dipikirannya.
"Baiklah kalau begitu, besok pagi aku tunggu kabar darimu", ucap gadis itu sambil pamit untuk istirahat di penginpan. Memang kebiasaan gadis itu dan rombongannya, selalu menginap di Griya Pakuwon.
"Dan kau kisanak, jaga matamu, sekali lagi kau melihatku seperti itu, akan ku congkel dengan pedangku ini", ucap gadis itu sambil mengacungkan pedangnya kepada Gentala.
Setelah itu, ia pergi begitu saja meninggalkan Gentala, bersama juragan Karta untuk menyelesaikan pembayaran pedang usang.
Juragan Karta lalu melayani Gentala yang hendak membayar pedang yang sedang di tamgannya. Setelah Gentala selesai membayar, ia kemudian menanyakan tentang keris yang memiliki pamor udan mas.
"Paman, aku lihat disana ada keris bagus, bisakah paman memberitahuku, siapa yang membuatnya?", tanya Gentala pada juragan Karta.
"Hm.... tilam upih pamor udan mas, apa nakmas seorang saudagar ?", Karta balik tanya kepas Gentala. Karena sudah umum bahwa keris dengan dhapur (bentuk pakem keris) tilam upih dan pamor (guratan atau corak yang muncul di masing-masing sisi keris) digunakan oleh para saudagar.
Gentala pun memanfaatkan kesempatan untuk menawarkan batu mustikanya. "Benar Paman, aku adalah pedagang batu", jawab Gentala sambil menunjukkan dua bua mustika kelas atas. Ia memang menyiapkan mustika itu saat mendengar percakapan Juragan Karta.
__ADS_1
Mata Karta berkilat saat melihat batu itu, ia yakin bahwa yang ditangan pemuda itu adalah mustika kelas atas. Lalu ia mengajak Gentala masuk kedalam ruangan pribadi Juragan Karta. Truno yang sedari tadi kinthil (mengekor) Gentala, tidak diperbolehkan masuk.
"Nak mas masih punya berapa batu mustika seperti ini ?", tanya Karta seakan mendapat tangkapan besar. Memang mencari mustika kualitas atas adalah sulit, karena harus membunuh siluman yang berusia minimal seratus tahun.