
Pohon Joho identik dengan nuansa spiritual yang tinggi. Tidak semua tempat bisa menjadi lahan tumbuh bagi pohon ini. Hanya tempat yang memiliki energi kehidupan yang bagus, bisa menjadi tumbuhnya pohon ini. Oleh karena itulah, banyak orang pertapa yang menjadikan pohon ini sebagai naungan untuk lelaku. (lelaku adalah istilah seseorang yang sedang melakukan tirakat)
Arya yang baru menyadari, bahwa pohon tempatnya istirahat adalah Pohon Joho, tidak menyia-nyiakan hal itu. Meskipun ia lemah dalam olah tubuh, namun ia adalah pemuda yang suka melakukan semedi.
Tujuan Arya sendiri sebenarnya bukan untuk mengumpulkan tenaga murni, melainkan untuk menyatukan hati dan pikiran, sebelum dia mulai membuat ukiran kayu.
Saat ini Arya sedang melakukan semedi dan sudah memasuki alam ning, dan panca indranya kehilangan fungsi untuk sementara.
(Dalam semedi dikenal istilah neng ning nung nang. Ning adalah keadaan dimana kesadaran akal, pikiran dan prilaku menyatu dengan alam sehingga tercipta keheningan. Istilah lainnya adalah sembah sukma).
Energi kehidupan di sekeliling Arya, kembali terhisap medali bintang yang ia gunakan untuk semedi. Bedanya, kali ini energi tersebut tidak masuk keseluruhan ke tubuh Arya, karena sebagian besar diserap oleh Pohon Joho.
Energi yang terserap oleh pohon itu, membuat pangkal batangnya mengeluarkan cahaya putih, semakin lama semakin terang. Arya yang sedang semedi, terganggu kemudian membuka mata.
Keterkejutan Arya bertambah, ketika melihat ada celah yang cukup besar di pohon itu. Ia berjalan mendekati celah itu. Sedikit takut ia rasakan, saat tangannya meraba celah pohon yang bercahaya itu. Begitu tangannya bersentuhan dengan cahaya tersebut, sontak ada kekuatan dahsyat yang menghisap tubuh Arya.
"Aaahhhh......" teriak Arya bersamaan tubuhnya yang menghilang, masuk ke dalam celah itu. Tubuh Arya melayang diudara, tak bisa digerakkan, ia hanya bisa mengamati sekelilingnya.
Beruntung, medali bintang tergenggam erat ditangan, sehingga ikut terbawa kedalam ruangan itu.
"Dimana ini...", tanya Arya dalam hati. Karena terlalu lama, melayang akhirnya dia berteriak sekuat tenaga. "Haaaiii.... kisanak, seseorang tolong aku.....
Beberapa kali Arya berteriak, tidak ada sahutan sama sekali. Ditengah kebingunganya ia mencoba merapal mantra pembuka medali bintang, satu-satunya mantra yang ia kuasai.
Bersamaan dengan itu, guncangan hebat terjadi, dan tubuh Arya terjatuh... bruukkk... suara benturan tubuh Arya saat jatuh.
"Anak muda, apa hubunganmu dengan Kamajaya ?" suara perempuan terdengar nyaring secara tiba-tiba.
"Nuwun inggih Nyisanak, namaku Arya. sedangkan Eyang Kamajaya adalah leluhurku", teriak Arya menjawab.
(Nuwun inggih adalah kalimat penghormatan yang lazim dipakai untuk mengawali sebuah percakapan, Nyisanak adalah sebutan untuk perempuan yang belum diketahui namanya)
__ADS_1
"Hii.. hii... hii... ", suara tawa perempuan itu terdengar melengking memekakkan telinga. "Tidak sia-sia aku aku menunggu disini, Kamajaya aku akan membalas budi kepadamu, melalui cucumu", ucap perempuan itu.
Kemudian seorang perempuan, dengan paras ayu muncuk dihadapan Arya yang masih bersimpuh, merasakan sakit akibat terjatuh.
Perempuan berdandan seperti seorang putri kerajaan, dengan pakaian berwarna ungu, lengkap dengan perhiasan yang melingkar di leher dan tangannya.
Rambutnya dibiarkan tergerai, dengan mahkota emas berbentuk bando dan bertabur berlian diatasnya. "Berdirilah Nakmas, tidak perlu takut, aku adalah sahabat Kamajaya, namaku adalah Dyah Wardhani", ucapnya.
Suara yang keluar dari perempuan itu terdengar kalem dan sangat halus, sesuai dengan penampilannya. "Aneh, lantas tadi siapa yang berteriak, seperti suara kuntilanak", gumam Arya.
Arya kemudian berdiri, meskipun kakinya masih terasa sedikit sakit. "Lalu, bagaimana aku harus memanggil sebutan Nyisanak ?" tanya Arya.
"Panggil saja aku Nyai Wardhani", jawabnya. "Mendekatlah, biar aku periksa nadimu", ucap Nyai Wardhani sambil memegang pergelangan tangan Arya.
"Nadi Naga, bagus... bagus... kau cocok mewarisi ilmu kanuragan Eyangmu dan juga memungkinkan untuk menguasai Warisan Naga", lanjut Nyai Wardhani.
Nyai Wardhani menjelaskan bahwa Nadi manusia terbagi menjadi tujuh nadi. Nadi Naga, Nadi Emas, Nadi Petir, Nadi Api, Nadi Air, Nadi Tanah, dan Nadi Rumput.
Masing-masing memiliki keunggulan dan tidak menjamin bahwa nadi api lebih kuat dari nadi air. Kecuali Nadi Naga, yang bisa menampung semua energi kehidupan. Bisa dikatakan bahwa nadi naga merupakan induk dari segala nadi, sehingga pemiliknya mampu mempelajari energi air, api maupun yang lain.
Seorang pendekar sebelum membuka tujuh buah cakra utama, terlebih dulu harus membersihkan nadi sumshuma.
Nyai Wardhani meletakkan ibu jarinya di kening Arya, untuk memeriksa lebih jauh kondisi tubuh pemuda itu. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Nakmas, apa saja yang kau lakukan selama ini, kenapa tidak ada satupun cakra ditubuhmu terbuka", tanya Nyai Wardhani.
Arya kemudian menceritakan bahwa selama ini, dia tidak begitu tertarik dengan ilmu kanuragan maupun energi kehidupan. Ia hanya tertarik mendalami seni ukiran kayu.
Ilmu kanuragan yang ia pelajari hanya sebatas pukulan dan tendangan, standar untuk bekal perkelahian.
Tetapi, pada akhirnya Arya menyadari, bahwa meditasi yang ia lakukan untuk menarik energi kehidupan, sama halnya dengan meditasi yang ia lakukan pada saat ia akan memulai membuat ukiran kayu.
"Kau terlalu bodoh Nakmas, menyia-nyiakan bakat yang telah diberikan Gusti Kang Murbehing Dumadi, sama saja kau tidak bersyukur". Nyai Wardhani terus saja berceloteh, membuat pening kepala Arya. Untuk ukuran orang yang telah hidup ratusan tahun, ia tergolong cerewet.
__ADS_1
Arya tidak bisa membayangkan, bagaimana Nyai Wardhani ketika masih hidup, pasti sangat cerewet. Lalu kemana sikapnya yang tadi anggun bak putri kerajaan.
"Aku tidak akan menjadi gurumu, karena saat ini aku sudah tidak memiliki badan wadag, lagi pula aku sudah berjanji pada Kamajaya, tidak akan pernah menurunkan ilmuku pada siapapun, termasuk keturunannya....."
Tetapi aku bisa memberimu petunjuk, untuk memulai memaksimalkan potensimu. Bawalah aku keluar, karena latihanmu tidak bisa dilakukan di alamku ini.
Arya masih bingung dengan ucapan Nyai Wardhani, kalau dia tidak punya badan wadag, berarti dia sudah mati. "Hii... jadi Nyai ini termasuk bangsa lelembut atau apa ????" berdiri bulu kuduk Arya.
"Dasar anak muda ..., mana mungkin lelembut punya badan wadag", ucap Nyai Wardhani. Lalu ia menjelaskan bahwa yang ada dihadapan Arya saat ini adalah sukmanya yang pada saat ini terkurung di Pohon Joho.
Sebelum keluar dari tempat ini, kau harus membuka seluruh jalur di nadi sumshuma, agar energi yang masuk melalui medali bintang tidak membuatmu sakit.
"Duduklah bersemedi, tidak usah membaca mantra dan letakkan medali itu", perintah Nyai. Arya kemudian duduk bersila, dengan posisi kaki kanan diatas kaki kiri. (posisi ini dikenal dengan istilah posisi setengah teratai - koreksi jika salah).
Nyai Wardhani mengamati semedi yang dilakukan Arya. Diam-diam ia mengagumi semedi yang dilakukan Arya. "Anak ini, baru sebentar saja sudah masuk ke alam ning, tak bisa kubayangkan sekuat apa kelak dirinya... "
"Andai saja ada seseorang yang mengajarinya membuka cakra, tentu saat ini dia sudah menjadi pendekar pilih tanding", batin Nyai sambil menempelkan telapak tangannya keatas ubun-ubun Arya.
Aliran hangat energi prana memasuki tubuh Arya, menyusuri setiap ruang di nadi sumshuma. Aliran itu membuka setiap sumbatan dan membawa setiap kotoran dalam nadi itu.
(Energi prana adalah teknik energi yang tertinggi, sehingga orang yang menguasai prana bisa dikatakan memiliki keselarasan terhadap energi alam semesta)
Tubuh Arya bereaksi terhadap aliran prana dari Nyai Wardhani. Kedua tangannya bergerak tak terkendali, menandakan banyaknya sumbatan dalam nadi.
Kepala Arya pun berputar dan menekuk, tak beraturan. Sudah lebih dari satu pembakaran dupa, tubuh Arya masih belum berhenti bergerak. Baru setelah Nyai Wardhani melepaskan tangannya, perlahan tubuh Arya mulai berhenti bergerak, dan akhirnya diam.
"Nakmas, energiku tidak cukup untuk membantumu membuka nadi sumshuma milikmu, kamu harus melanjutkan sendiri di duniamu", ucap Nyai.
Sukma Nyai Wardhani sedikit memudar, kehabisan energi. Butuh waktu lama untuk memulihkan kembali sukmanya.
"Aku akan masuk kedalam medali bintang dan ikut denganmu, sambil memulihkan diri", pinta Nyai Wardhani.
__ADS_1
Kemudian Nyai Wardhani memberi tahu Arya, cara keluar dari tempat itu.
Update setiap hari pukul 20.00 WIB.