Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 7 Nyai Dyah Wardhani 2


__ADS_3

Pertarungan masih terus berlangsung, namun pemenangnya sudah bisa terlihat. Dursana beberapa kali terkena tendangan di dadanya, nafasnya pun sudah putus-putus.


Sudarta dan Supala tidak jauh lebih baik, sabetan selendang ungu sekeras batu menghantam dengan telak wajah dan perut mereka. Darah segar menghiasi sudut bibir keduanya, mereka sudah tak sanggup melanjutkan pertarungan.


Sudarta dan Supala memilih untuk minggir dari medan pertarungan, dan mengatur sisa-sisa tenaga dalamnya untuk mengurangi rasa sakit yang mereka terima.


Sedangkan Dursana yang masih menyimpan sedikit tenaga dalam, mulai menghimpun kekuatan. Ia memaksa Nadi Sumsuma bekerja keras, mengalirkan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.


Ia mengaliri pedangnya, hingga pedang besar itu berubah warna menjadi kelam. Sedangkan gadis muda itu tidak tinggal diam, ia mengalirkan seluruh tenaga dalamnya kedalam selendangnya. Selendang ungu itu menjadi sekeras baja.


"Tebasan Penghancur Gunung", Dursana mengayunkan pedang besarnya kearah gadis itu. Ini merupakan pertaruhannya, karena ini merupakan serangan terakhir dengan jurus terkuat yang dimilikinya.


"Selendang Besi Pemecah Raga", gadis itu melompat sambil berteriak. Ia menyambut tebasan pedang Dursana dengan selendang andalannya.


Keduanya saling mengayunkan senjata dengan kekuatan penuh. Dhuummm.... suara seperti dentuman memekakkan telinga, diiringi dengan hempasan angin dan debu-debu, sehingga keduanya samar terlihat.


Tiga hembusan nafas kemudian, Dursana tampak terjatuh, pedang ditangannya patah menjadi beberapa bagian. Darah segar keluar tidak hanya dari mulutnya, hidung dan telinganya pun berdarah.


Gadis itu juga mengalami luka dalam yang tidak ringan, organ dalamnya ada yang terluka serius, selendang ungu terlihat sobek di ujungnya. Mulutnya pun mengeluarkan darah.


Melihat hal itu Palarasa, segera menghampiri gadis itu, dan memberikan pertolongan sementara. Ia menyalurkan tenaga prana melalui tangan yang di tempelkan di punggung gadis itu.


"Duduklah, aku akan mengalirkan energi kehidupan kepadamu", ucap Palarasa.


Kemudian gadis itu duduk bersila dan memejamkan mata. Kedua tangannya diletakkan masing-masing diatas lututnya.


"Energi dalam apa ini, rasanya sungguh berbeda dengan yang biasanya", batin gadis itu. Beberapa saat kemudian, tubuh gadis itu sudah lebih baik, ia sudah bisa menggunakan tenaga dalamnya kembali.


Wardhani merasakan, energi tersebut membuat lancar sirkulasi tenaga dalam yang berpusat pada cakra manipura.


Tidak terasa matahari telah tenggelam diufuk barat. Sedangkan komplotan Lowo Ireng sudah tidak nampak batang hidungnya. Mereka melarikan diri, saat Palarasa mengobati gadis itu.


"Terimakasih Kisanak, telah menolongku", ucap gadis itu. Kemudian gadis itu memperkenalkan dirinya. "Namaku Dyah Wardhani, asalku dari kerajaan atas angin", ucapnya.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, siapakah Kisanak, dan mengapa ingin sekali mendapatkan rumput salju ?", tanya Wardhani.


"Aku adalah seorang pengembara dari seberang samudra, namaku Palasara. Aku menginginkannya untuk bahan obat bagi saudaraku", jawab Palasara merendah.


Padahal di tempat asalnya, ia adalah tabib yang paling hebat. Ia menguasai teknik pengobatan tidak hanya dari bahan herbal, tetapi menyatukannya dengan energi prana. Sehingga ia sering dicari, tidak hanya untuk mengobati pasiennya, tetapi juga untuk meningkatkan kekuatan dan membangkitkan energi kehidupan seorang pendekar.


Palarasa akhirnya melakukan perjalanan jauh, mengembara dan topo ngrame untuk menghindari orang-orang yang menginginkan kekuatan secara instan.


Kemudian Wardhani menanyakan perihal energi yang tadi masuk ke tubuhnya. Palarasa menjelaskan, bahwa itu bukanlah tenaga dalam, yang mengharuskan pemiliknya berhati-hati dalam menyalurkan.


Itu adalah prana, energi kehidupan yang siapa saja bisa menerima energi ini, bahkan tanpa harus melihat kecocokan tenaga dalam yang dimilikinya.


Palarasa juga menjelaskan, bahwa dirinya mungkin memiliki energi prana yang cukup besar, tetapi karena tidak didukung oleh kemampuannya dalam olah tubuh dan tenaga dalam, sehingga Palarasa tidak bisa menyalurkan dalam jumlah besar.


"Ikutlah denganku, akan aku minta ayahku mengizinkanmu mengambil beberapa rumput salju", ucap Wardhani. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata, yang sedang mengawasi keberadaannya.


Kemudian Palarasa dan Wardhani melanjutkan perjalanan menuju puncak Dieng dengan berjalan kaki. Butuh waktu 2 malam untuk sampai kesana, dengan jaln kaki. Wardhani tidak bisa berlari kencang, karena tenaga dalamnya belum pulih benar.


Mereka berjalan pelan dikeremangan malam. Semakin lama jalan makin menanjak. Mereka berhenti sejenak, untuk beristirahat. Palarasa memilih duduk bersemedi untuk mengembalikan energi yang tadi disalurkan kepada Wardhani.


*****


Sementara itu, sepasang mata yang sejak tadi mengintai, keluar dari persembunyian dan segera berlari meloncat diatas dahan pepohonan. Gerakannya gesit, dan seperti terlatih untuk gerak senyap.


Tujuannya adalah Padepokan Bethari Durga, dengan kecepatannya sekarang, ia akan sampai disana esok pagi. Ia terus berlompatan melintasi hutan, tanpa memutar agar ia segera sampai.


Keesokan paginya, ia telah sampai di depan gerbang Padepokan Bethari Durga. Saat berjalan memasukinya, ia dihadang oleh dua orang penjaga gerbang.


"Tunggu, siapa kau.... ? Berani-beraninya memasuki wilayah kami. Orang itu tidak menjawab, ia berjalan masuk kedalam dan dengan tiba-tiba terdengar suara "ssriingg.... bhuugg".


Tidak terlihat apa yang terjadi, tapi yang jelas kepala kedua penjaga gerbang itu sudah jatuh ketanah. Beberapa penjaga yang ada disekitarnya langsung berdiri dan mengepung orang itu.


"Aku hanya ingin masuk, dan bertemu Durgandhini, jangan menghalangiku", ucap orang itu. "Kurang ajar, beraninya memanggil nama ketua kami sembarangan", kata salah seorang penjaga.

__ADS_1


"Seraaaangg....", salah satu penjaga memberikan perintah kepada yang lain. Orang itu tampak diam, tidak bergeming. Ia mengeluarkan pedang tipis yang masih ada noda darahnya.


Sesaat sebelum mengayunkan pedang tipis itu, ia masih sempat menjilat darah yang belum kering. Kemudian ia menunduk menghindari tusukan tombak dari arah belakangnya, sambil menyabetkan pedangnya.


Srriing... sriiinggg.... dua kali tebasan diarah depan, kemudian tubuhnya meliuk kekanan menghindari sabetan pedang lawannya. Saat meliuk kekanan, pedangnya ia tebaskan kearah perut penjaga.


Lalu orang itu melompati dua penjaga yang masih berdiri. "Aaaaahhh...." teriakan kesakitan terdengar bersamaan dengan putusnya kaki penjaga yang terkena sabetannya.


Sedangkan penjaga satu lagi langsung terjatuh tanpa suara, sambil memegangi usus yang terburai, akibat tebasan pedang. Nyawanya melayang sebelum sempat berteriak.


Keributan pagi itu, terdengar oleh seorang sesepuh yang kebetulan baru datang. Melihat para penjaga pintu terkapar, sesepuh itu segera berlari menyusul kedalam.


Ia melihat dua orang penjaga yang masih berdiri, terkencing-kencing ketakutan. "Walang Ijo, tidak bisakah kau datang baik-baik ?", ucap sesepuh padhepokan yang bernama Hanudhara.


Hanudhara adalah orang keeprcayaan Durgandhini, ia berusia 70 tahunan. Meskipun sudah tua, namun badannya yang kekar dan kumisnya yang lebat, membuatnya seperti berumur 40 tahunan.


Walang Ijo tidak menjawab pertanyaan itu, ia malah menjilati pedang yang berlumuran darah tanpa ekspresi.


"Dimana Durgandhini ?", tanya Lowo Ijo. "Aku punya informasi penting yang harus kusampaikan", lanjutnya.


Hanudhara kemudian mengantar Lowo Ijo, ke sebuah sebuah bangunan paling bagus disana. Sesampainya didepan pintu, Hanudhara hendak mengetuk pintu, tiba-tiba ....


"Bruuaak...." pintu dengan desain kupu tarung itu pun jebol, ditendang Lowo Ijo. Dua orang pemuda yang sedang telanjang, kaget bukan kepalang, buru-buru mengambil kain sekenanya, dan berlari keluar.


Kemudian seorang perempuan berwajah cantik, keluar dengan hanya menggunakan jarik (kain panjang sebagai pakaian tradisional untuk perempuan).


Ia adalah Nyai Durgandhini, seharusnya ia sudah berusia 90 tahun, tetapi karena ritual bersetubuh yang ia lakukan setiap malam purnama dengan pemuda yang masih perjaka, ia masih terlihat seperti gadis 20 tahu.


"Nenek peyot, kalau kau ingin menginginkan harta karun Kerajaan Sembungan, maka saat ini adalah waktu yang tepat", ucap Walang Ijo tanpa basa-basi.


Hanya Walang Ijo yang berani memanggil demikian kepada Durgandhini. Hal ini karena, Walang Ijo pernah menyelamatkan nyawa Durgandhini dan juga memberikannya kitab ritual bernama Kitab Hardhatanta.


Kitab Hardatantra secara garis besar mengajarkan cara-cara meningkatkan kekuatan dengan mengumbar hawa nafsu. Harda artinya hawa nafsu dan Tantra artinya ajaran tentang hubungan badan.

__ADS_1


Durgandhini menjadi salah satu tokoh aliran hitam yang paling ditakuti oleh pendekar semasanya. Bukan hanya karena kekuatannya, tetapi juga karena ajaran sesatnya.


Update setiap hari pukul 20.00


__ADS_2