
Arya dibangunkan ayahnya sesaat sebelum ayam jantan berkokok. Ki Demang sengaja tidak tidur semalaman, untuk berjaga dan membangunkan putra semata wayangnya. Tidak ada penjaga yang diberitahu, selain Ki Lurah Seno, demi menjaga keamanan dan tidak menimbulkan kegaduhan menjelang pagi hari itu.
Sekararum dengan cekatan menyiapkan bungkusan ketela rebus untuk bekal perjalanan. Selain itu, tidak lupa pakaian dan picis sebagai bekal makanan. "Le, simbokmu ini tidak menuntutmu untuk menjadi pendekar hebat, ataupun menyuruhmu menjadi penerus keluarga", ucap Sekar dengan mata yang berair.
"Jadilah seperti apa yang kau inginkan, jadikan dirimu bermanfaat bagi orang lain, sesekali pulanglah kesini", ucap Sekar sambil memeluk anaknya.
Tak kuasa ia membendung air matanya, melepas kepergian anaknya. Sesak ia rasakan, seperti terhimpit batu besar. Namun sepenuhnya ia menyadari, semenjak Arya kecil, inilah yang paling dia takutkan.
Tidak jauh berbeda dengan Sekar, Ki Demang tampak beberapa kali mengambil nafas panjang. "Anakku, kau sudah besar, jagalah dirimu baik-baik, ingatlah pesan Romo dan Simbokmu", ucap Ki Demang sambil memberikan buntalan kecil, berisi 5 keping picis emas.
Ki Lurah yang sejak tadi berada tak jauh, menuntun 2 ekor kuda berwarna coklat tua dengan rambut poni dan ekor berwarna pirang. Seekor kuda diserahkan kepada Arya dan satunya ia naiki sendiri. Memang Ki Lurah diutus untuk mengantarkan kepergian Arya sampai perbatasan Kademangan Daha.
Kuda yang diberikan kepada Arya adalah kuda pilihan yang dirawat sendiri sejak masih belo. (Belo adalah nama/istilah yang digunakan orang Jawa terhadap anak kuda). Kuda itu di beri nama Bonggol
Tidak lama kemudian, dua ekor kuda berderap beriringan menembus dinginnya dini hari Kota Daha, menuju perbatasan sebelah barat. Mereka baru sampai perbatasan pada saat fajar mulai merekah di ufuk timur.
"Den Mas, sampai di sini saya mengantarkan Den Mas", ucap Ki Lurah sesaat sampai perbatasan kademangan Daha.
" Kehidupan dunia persilatan sangat kejam, tidak ada aturan yang pasti. Yang kuatlah yang berkuasa", lanjut Ki Lurah.
Setelah berpamitan, Arya meneruskan perjalanan menuju arah matahari terbenam. Menurut perkiraan, ia akan sampai di Bukit Klotok dalam 2 hari perjalanan. Ada dua lokasi yang paling menakutkan bagi penduduk di wilayah Panjalu, yaitu Hutan Larangan atau penduduk setempat menyebutnya Alas Wonojoyo dan Tepian sungai Brantas.
Kedua lokasi ini terkenal dengan siluman penunggu, memedi maupun genderuwo. Banyak manusia yang tidak selamat setelah memasukinya.
Begitupun juga dengan Arya, tidak sedikitpun bayangan tergambar dalam pikirannya, bahwa dia akan melewati dua wilayah yang paling menakutkan di Panjalu. Ia tidak tahu harus bagaimana, karena satu-satunya jalan menuju Bukit Klotok adalah melewati Alas Wonojoyo.
Sebagai pemuda yang masih belia, dan kurang pengalaman di dunia persilatan, ia menjadi ragu untuk melewati Alas Wonojoyo. Tidak terasa tinggi matahari telah melewati ujung tombak, Arya memutuskan untuk berhenti sejenak, sekedar mengisi perut dan mencari rumput untuk pakan kudanya.
__ADS_1
Ia berhenti di jalan setapak, pinggiran sungai Keling. Sungai yang menjadi sumber air bagi sebagian penduduk Kadipaten Keling. Kemudian ia membuka bekal yang diberikan Simbok, dan mulai mengunyah ketela rebus yang sudah dingin itu.
Terkadang ia menyesal tidak begitu menyukai ilmu kanuragan sejak kecil, bila dihadapkan pada situasi saat ini. Satu-satunya yang bisa dia andalkan hanyalah kecerdasan otaknya, dan ketrampilannya dalam seni bangunan.
Baru kali ini, dia merasa kesepian yang sangat, dan tidak memiliki rencana apapun selain segera menuju bukit Klotok. Ia menyimpan seribu pertanyaan, yang tidak mampu dia sampaikan kepada sang Romo. Tapi begitulah Arya, bukan tidak mau bertanya kepada ayahnya, tetapi lebih untuk menghormati dan menjalankan perintah yang diberikan ayahnya.
Ki Demang sudah mengatakan untuk mencari jawaban semua pertanyaan kepada Pertapa suci disana. Maka itulah yang akan dilakukan oleh Arya. Rasa ingin tahu yang begitu menyiksa, membuatnya cepat-cepat ingin menyelesaikan istirahat dan melanjutkan perjalanan.
Arya memacu kudanya sampai perjalanan setengah hari kemudian ia sampai pada tepian Alas Wonojoyo. Sepanjang perjalanan ia tidak bertemu dengan pemukiman penduduk, sehingga ia tidak bisa berhenti sejenak untuk beristirahat. Setapak jalan yang membelah alas Wonojoyo ditumbuhi rerumputan, menunjukkan jarang di lewati oleh penduduk.
"Bonggol, kita harus melewati hutan ini, agar segera sampai ditujuan", ucap Arya sambil mengelus rambut kudanya. Bonggol meringkik, seakan mengerti kemauan tuannya.
Rata-rata penduduk lebih suka memutar, jika ingin pergi kewilayah Panjalu sebelah barat dan tidak melewati tengah hutan. Meskipun demikian, bukan berarti tidak pernah dilewati manusia.
Setapak yang ada, menunjukkan bahwa hutan itu pernah dilewati manusia. Arya berhenti sejenak, ia melihat kearah langit, memperkirakan butuh waktu setengah hari jika ia terus memacu kudanya agar bisa melewati Alas Wonojoyo.
Matahari baru saja tergelincir dari puncaknya, dan perkiraan Arya, surub (penanda waktu matahari mulai terbenam) ia telah keluar Alas Wonojoyo.
Bayangan lelembut dan dedemit seperti yang diceritakan penduduk sedikit mengganggu pikirannya, tetapi kemudian ia tepis dan terus memacu si Bonggol.
"Ayo Bonggol, jangan berhenti, kita tidak boleh kemalaman di hutan ini", sesekali Arya memecut pelan perut tunggangannya.
Tiba-tiba Bonggol berheti mendadak dan meringkik keras, seperti ketakutan tepat di bawah Pohon Joho. (Pohon Joho adalah pohon keramat, biasanya orang bertapa di bawah pohon itu) Setelah kembali tenang Bonggol akhirnya berjalan pelan-pelan.
Anehnya, perjalanan Arya seperti tak berujung. Ia kembali terhenti di depan pohon keramat itu. Karena kelelahan, akhirnya ia memutuskan istirahat dibawah pohon tersebut.
Tidak terasa matahari sudah mulai beranjak, dan malampun mulai menjelang. Angin semilir terasa begitu dingin, menusuk tulang. Lalu Arya membuat perapian kecil didepannya. Bekal yang dia bawa tinggal sedikit, hanya mampu mengganjal perutnya malam ini.
__ADS_1
Krik.... kriik ... kriik....., suara binatang malam mulai bersahutan, menemani kesendirian Arya. Kemudian ia mengambil medali bintang dan mulai melakukan semedi.
Keheningan malam ini, membuat Arya cepat larut dalam roso ning (rasa penyatuan antara jiwa dan pikiran, saat ini terjadi seseorang tidak akan memiliki perasaan apapun terhadap badan wadag nya).
Dalam roso ning yang dialami oleh Arya, dia mulai bisa merasakan hawa keberadaan di sekitarnya, meskipun baru setengah depa. Ia bisa merasakan keberadaan si Bonggol yang sedang meringkuk di sebelahnya.
Ia juga merasakan, seperti ada kekuatan besar yang terkandung didalam pohon yang ada dibelakangnya.
*****
Di tempat lain, di sebuah goa di lereng Lereng Bukit Klotok, seorang sepuh, tengah menjalani laku tapa brata selama 41 hari. Malam ini bertepatan dengan hari ke 40, pertanda esok tengah hari ia harus menyudahi tapa bratanya.
Sebuah wisik (petunjuk berupa suara, nama lain dari wangsit), samar terdengar, namun bukan di telinganya. Lebih tepatnya, wisik itu jelas ia dengarkan melalui ketajaman mata batinnya.
Sesepuh itu adalah Ki Bajra Geni, pertapa sakti dari bukit klotok, yang sudah lama undur diri dari urusan keduniaan. Namun, wisik yang ia terima, justru sebaliknya.
Wisik yang ia dapatkan, mengharuskan dirinya mengangkat murid yang merupakan penerus Eyang Kamajaya. Ki Bajra tersenyum dalam tapa bratanya, ia merasa lega karena pada akhirnya ada keturuan Kamajaya yang menjadi pewaris Pedang Bintang.
"Hmm.... sepertinya ramalan Kamajaya akan terwujud, aku hanya bisa melatihnya", batin Ki Bajra.
Kamajaya meramalkan, bahwa kelak anak turunnya akan menjadi pewaris pedang bintang dan juga mampu menguak rahasia di petilasan naga. Saat itu terjadi, maka pewaris tersebut tidak hanya menyamai kekuatannya, bahkan bisa jauh diatasnya.
Namun, saat itu terjadi Bethari Durga juga akan muncul kembali, menebar teror ketakutan, pagebluk bahkan kematian.
"Sebelum itu terjadi, pedang bintang harus ditemukan dan jangan sampai jatuh ketangan yang salah", ucap Ki Bajra.
Kemudian ia teringat pesan gurunya, bahwa jika kelak Ki Bajra menerima murid yang memiliki batu bintang, maka ia harus mewariskan seluruh ilmunya.
__ADS_1
*****
Update setiap hari pukul 20.00 WIB.