Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 2 Ki Demang Aryo Dimejo


__ADS_3

Prajurit Tandya (siap).... ! Ki Lurah dengan sigap, menyiapkan prajuritnya untuk menghormati Ki Demang, yang terlihat berjalan tergesa-gesa. Sudah menjadi kebiasaan di kademangan Daha dan seluruh wilayah Kahuripan, bagi para prajurit untuk memberi kehormatan kepada atasanya. Namun tidak seperti biasanya, alih-alih Ki Demang berhenti sejenak dan menjawab penghormatan yang diberikan, Ki Demang terus berjalan menuju pintu rumah joglo yang terbuat dari kayu jati. Kurang dari satu depa (1,8 meter), Ki Demang berbalik arah dan memanggil anaknya.


"Arya, ikut Romo kedalam", panggil Ki Demang pada putranya.


"Injeh Romo, ngestoaken dawuh (baik ayah, laksanakan)", jawab Arya, langsung mengekor kepada ayahnya. Tanda tanya besar dalam benaknya, tidak seperti biasanya Romo berlalu begitu saja tanpa peduli prajurit yang sedang berlatih.


Sesampainya di bale (ruang tamu yang luas) rumah, Ki Demang menyuruh anaknya untuk menunggu. "Duduklah, Romo ingin berbicara, tunggulah sebentar", kata Ki Demang. Kemudian Ki Demang masuk kedalam menuju sentong (kamar yang berdekatan dengan bale) bagian tengah, mengambil satu kotak kayu, dengan ukiran naga.


Ukiran yang sangat indah dan halus. Naga tersebut jelas tergambar meliuk melingkari sebuah pedang yang memiliki motif bintang. Ukiran Naga dan Bintang menjadi ciri khas setiap pekerjaan bangunan ataupun ukiran kayu yang dikerjakan oleh keluarga ini.


Ki Demang mengucap mantra, sebelum kemudian membuka kotak penyimpanan itu. Kotak tersebut adalah peninggalan leluhur Bangsawan Arya. Tidak banyak yang tahu, bahwa leluhurnya itu adalah pendekar terhebat pada masanya. Pendekar dengan pusaka sebuah pedang bertuah, Pedang Bintang. Pendekar dengan nama Arya Kamajaya tersebut, merupakan leluhur ke tujuh dari Arya Gentala.


Arya Kamajaya - (Gantung Siwur) memiliki putra


Arya Damar - (Udhek-udhek) memiliki putra


Aryo Buwono - (Wareng) memiliki putra


Aryo Biantoro - (Buyut) memiliki putra


Arya Janitra - (Simbah/kakek) memiliki putra


Aryo Dimejo - (Romo/Bapak) memiliki putra


Arya Gentala - (Anak)


Itulah nama leluhur Arya dari jalur laki-laki, yang dalam kepercayaan di Jawa Dwipa, hanya keturunan laki-lakilah yang akan meneruskan luri keluarga. (istilah luri sering digunakan untuk menggambarkan warisan keilmuan dan kekuatan yang dimiliki oleh leluhur, dan hanya bisa diturunkan melalui silsilah)


Namun sayang sekali, sampai saat ini tidak satupun keturunannya mampu mewarisi ilmu kanuragan dan pusaka pedang bintang. Entah luri dari Arya Kamajaya akan turun kepada siapa, masih belum dapat disimpulkan. Satu-satunya peninggalan yang masih dirawat Ki Demang Aryo Dimejo adalah kotak kayu tersebut.

__ADS_1


Setelah kotak kayu terbuka, tampak medali dengan bentuk bintang memiliki tujuh sudut. Medali tersebut berwarna hitam legam, berbahan logam yang berasal dari batu bintang (batu meteor). Aroma wangi minyak cendana menusuk hidung, mengiringi kotak yang dibuka. Ki Demang menutup kembali kotak itu, dan membawanya kedepan.


Arya yang sejak tadi duduk bersimpuh di bale rumah joglo (pada masa itu belum lazim ada meja kursi diruang tamu), sedikit mengangkat kepala melirik kepada kotak kayu yang dibawah ayahnya. Dia merasakan sesuatu didalam kotak kayu itu seolah memanggil dirinya untuk mengambilnya. Tapi perasaan itu ia tahan, karena rasa hormat yang begitu dalam kepada Romonya (ayahanda).


Ki Demang kemudian duduk didepan Arya, dan membuka kotak tersebut, dan berkata "Nak, janganlah banyak tanya, dengarkan Romomu. Ini adalah peninggalan leluhurmu, tujuh nasab keatas. Beliau adalah pendekar yang hebat, sekaligus pendiri keluarga Bangsawan Arya. Ingatlah, apa yang ada dikotak ini, menjadi incaran seluruh dunia persilatan. Besok pagi, sebelum ayam jago (jantan) kluruk (berkokok), pergilah menuju arah matahari terbenam"


Lalu Ki Demang menjelaskan bahwa disana, tepatnya di Bukit Klotok, ada seorang pertapa yang sudah lama mengundurkan diri dari urusan duniawi.


"Tapi Romo, untuk apa.....", Arya yang sedari tadi diam, mencoba bertanya dengan nada lirih, ia tahu adalah tabu untuk bertanya pada saat Romonya sedang medhar sabdo (memberi instruksi). Tapi hal ini terpaksa ia lakukan karena, semua terjadi begitu saja.


Belum selesai Arya mengucapkan pertanyaan, langsung dipotong oleh Ki Demang.


"Tanyalah kepada pertapa di Bukit Klotok, dia tahu jawabannya. Romo sendiri, bukan tidak mau bercerita, tetapi memang Romo juga tidak tahu banyak. Perintah ini datang dari para sesepuh di keluarga besar, pada saat pertemuan rahasia dirumah kakekmu".


Pertapa suci di Bukit Klotok tersebut bernama Ki Bajra Geni. Dia tidak seperti pertapa pada umumnya yang memakai kain berwarna putih sebagai pakaian. Tetapi Ki Bajra Geni justru lebih menyukai warna hitam untuk pakaian yang digunakan.


Ki Demang lalu menjelaskan, bahwa untuk menemui Ki Bajra, Arya harus menemukan goa yang berada di lereng bukit.


"Injeh Romo...", Arya hanya bisa menganggukkan kepala dan menahan air mata yang hampir jatuh di sudut


matanya.


Ki Demang kemudian menjelaskan, bahwa setelah Arya menemukan Pertapa tersebut, dia harus menunjukkan batu bintang yang ada didalam kotak.


Kemudian Ki Demang menyerahkan kotak tersebut kepada Arya, dan mengajarinya mantra sebelum memegang medali bintang. Hanya dengan mantra inilah, kekuatan medali ini bisa dimunculkan dan digunakan secara maksimal.


Mantra yang turun temurun diajarkan oleh pemegang batu bintang, dan tidak boleh ditulis diatas daun lontar, dan tidak boleh diajarkan kepada orang lain yang tidak memiliki darah keturunan Arya.


Pangreksan kang muksa,

__ADS_1


Ening meneng roso jati,


Ora katon pangrasa manungsa


Mantra itu tidak panjang, tapi tidak mudah dihafal, lidah Arya terasa kelu saat mengucapkan mantra itu. Ia hafal di


dalam kepalanya, namun aneh setiap ia ucapkan lidahnya selalu keliru mengucapkan. Entah berapa puluh kali Ki Demang melafalkan mantra untuk didengar dan ditirukan anaknya.


Setelah berulang kali mendengar dan mengulangi mantra tersebut, akhirnya Arya dapat


Ki Demang tersenyum, sambil mengingat bahwa ia dulu bahkan menghabiskan waktu sampai matahari terbenam, padahal ayahnya mulai membacakan mantra saat matahari baru seujung tombak. Dia kemudian menakar siapa yang lebih berbakat, apakah dia atau putranya.


Beberapa saat kemudian, Sekararum istri Ki Demang, datang membawa dua cangkir yang terbuat dari tanah liat. Tampak asap mengepul tipis diatas cangkir itu, aroma jahe dipadu gula aren memancing air liur untuk membasahi rongga mulut. Tidak lupa singkong bakar yang sedikit gosong diletakkan diatas nampan kecil dari anyaman bambu.


Sungguh menggoda sajian sederhana itu, terutama bagi Ki Demang. Memang dia adalah  seorang pejabat Kademangan, namun ia terbiasa hidup sederhana. "Dinda Sekar, tampaknya sudah waktunya", kata Ki Demang kepada istrinya. "Para sesepuh sudah menurunkan titahnya, dan Arya yang ketiban sampur (mendapatkan tugas), tidak bisa ditunda lagi. Besok pagi Arya harus sudah berangkat".


Kemudian Ki Demang menceritakan perihal pertemuannya dengan keluarga besar Arya, dimana pada saat itu terjadi ketegangan antara beberapa sesepuh yang hadir pada saat itu. Ki Demang menceritakan, bahwa ada sesepuh yang tidak setuju terhadap penunjukan Arya sebagai pewaris medali bintang, mengingat dia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan terhadap ilmu kanuragan.


"Injeh Kangmas, ini mungkin sudah menjadi takdir anak kita Arya. Kalau begitu aku akan menyiapkan bekal untuk


perjalanan besok", Sekararum bangkit dan berjalan kedalam sentong untuk menyiapkan bekal Arya selama perjalanan. Sekar memasukkan 500 keping gobog (gobog adalah mata uang logam yang berlaku pada saat itu, ada yang menyebut picis), kedalam kantung uang dan beberapa lembar baju ganti.


Sementara di ruang depan Arya melafalkan mantra yang diajarkan ayahnya, secara terus menerus sampai tidak terjadi kesalahan sama sekali.


"Thole (panggilan sayang untuk anak, Nak), coba kamu duduk posisi semedi, tutuplah matamu. Kaki bersila dengan posisi kaki kanan diatas kaki kiri". Ki Demang memandu anaknya untuk melakukan posisi duduk yang benar. Kemudian meletakkan kedua tangan Arya diatas paha, dengan telapak tangan menghadap langit.


"Aturlah nafasmu Le, gunakan teknik pernafasan rahasia keluarga kita", ucap Ki Demang kemudian duduk disamping Arya. Teknik pernafasan ini dinamakan Nafas Segitiga. Menghirup nafas melalui hidung selama 13 ketukan, menahan nafas dan mengeluarkan nafas melalui mulut, masing-masing selama 13 ketukan.


Teknik ini sungguh berat untuk dilakukan, meskipun terlihat sederhana. Tidak seperti menghirup nafas panjang dan mengeluarkan secara perlahan. Yang paling sulit adalah menjaga ritme 13 ketukan.

__ADS_1


Seringkali Arya pada saat latihan dulu, lebih panjang dalam menahan nafas daripada menghirup dan melepasnya, atau sebaliknya. Pada saat awal-awal berlatih, Arya hanya mampu mengulangi sebanyak tiga kali saja. Baru kemudian dia bisa melakukan teknik ini dalam waktu yang lama, setelah melakukan latihan selama tujuh purnama.


__ADS_2