Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 12 Siluman Alas Wonojoyo 2


__ADS_3

Gentala menyelesaikan semedinya, setelah ketiga batu itu menjadi abu. Ia tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. "Nyai, kemana batu mustika itu", tanya Gentala. Kemudian Wardhani menjelaskan bahwa batu itu sebenarnya adalah kumpulan energi dari siluman yang mengkristal.


Semakin besar energi yang terkumpul, akan semakin bening mustika itu. Letaknya pun tidak pasti di bagian tubuh yang mana. Efek dari tiga mustika itu di tambah khasiat dari daun talas tadi, luka di bahu kiri Gentala tidak terasa sakit lagi. Ia pun kini mengambil umbi talas yang sudah matang, dan menyantapnya dengan lahap.


Ia teringat akan Romonya, yang menyukai jenis-jenis polo pendhem. "Gentala, kalau kau bisa menggabungkan tenaga dalam dan kekuatan fisik secara bersamaan, maka luka itu tidak akan kau dapat", ucap Wardhani.


"Baik Nyai, aku akan mengingat pesanmu, hanya saja aku belum terbiasa dengan tenaga dalamku", jawab Gentala.


Sebelum melanjutkan lagi perjalanan Gentala berlatih kembali dengan menggabungkan kekuatan fisik dan tenaga dalam. Teknik pedang yang ia kuasai, di padu kekuatan tenaga dalam menghasilkan kilatan cahaya kuning keemasan setiap ia menyabetkan belatinya.


Wardhani tersenyum melihat perkembangan Gentala yang begitu mengerikan. Bagaimana tidak, setiap kilatan yang keluar mampu membuat luka goresan di batu besar di sebelahnya, dan langsung memotong pohon yang seukuran paha orang dewasa.


Gentala sendiri merasa kaget bukan kepalang, melihat kerusakan yang ia timbulkan. Namun efek samping dari penggunaan tenaga dalam yang berlebihan, membuatnya lemas dan hampir pingsan. Nampaknya ia belum bisa mengatur besar kecilnya tenaga dalam yang ia keluarkan.


Nafasnya masih memburu, sebelum akhirnya Gentala duduk untuk mengatur nafasnya. Ia tidak mengira hanya dalam waktu sebentar, ia sudah kehabisan tenaga. Berbeda saat ia hanya melakukan aktifitas fisik.


Ia pun kini menyadari, perlu banyak latihan agar ia bisa selamat dari kejaran siluman di hutan ini. Memang saat ini masih ada Nyai Wardhani, tetapi sebagai laki-laki, ia tidak bisa terus bergantung kepada orang lain. Ia pun bertekad membunuh sebanyak mungkin siluman, untuk menambah kekuatan.


"Nyai, mari kita lanjutkan perjalanan, aku sudah tidak sabar mencoba kemampuanku", ucap Gentala bersemangat. Kini ia pun melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, menuntun si Bonggol. Samar-samar ia mendengar suara gemerincing mendekat. Ia lalu mengingat kalau sebelum kemunculan siluman srigala, bulu kuduknya berdiri.


Saat ini pun, ia merasakan hal yang sama dan bersiap menyalurkan separuh tenaga dalam menuju kedua tangannya. Tali kekang kuda ia lepaskan dan meyiapkan belati kesayangannya. Tiba-tiba dari arah atas sesosok bayangan menyerang dengan kecepatan tinggi.


Tak mampu menghindar, ia menghadang serangan itu sekuat tenaga. Trraanngg.... suara belati Gentala seperti menahan tebasan pedang. Ia mundur tiga langkah, tangannya terasa bergetar hebat, padahal sudah dilambari tenaga dalam.

__ADS_1


Siluman kera ekor besi melesat turun dari pucuk pohon menyabetkan ekornya ke arah Gentala. Suara benturan ekor dan belati terdengar keras. Benar-benar ekor besi, terbukti percikan api keluar bersamaan dengan benturan.


Untung saja belati itu sudah dilambari tenaga dalam, sehingga tidak patah. Gentala merasa tertantang, dan kembali menyerang dengan teknik pedang bintang menyapa langit. Ia melompat dan menebaskan pedangnya, ke badan kera itu. Sinar kuning melesat dengan cepat tidak sempat ditangkis oleh kera.


Ssreet.... jlleeb... kera itu jatuh terkena sabetan dengan dada tergores cukup dalam. Belum sempat ia berdiri, Gentala melompat memanfaatkan kesempatan menebas sekuat tenaga kearah leher kera, dan craassh.... kepala kera jatuh ke tanah.


Tiba tiba puluhan siluman muncul dan langsung menyerang bersamaan ke arah Gentala. Siluman landak dan trenggiling menyerang arah bawah sedangkan lima siluman kelelawar menyerang dari atas. Kombinasi itu berhasil membuat Gentala mundur terdesak.


Desing sayap kelelawar berseliweran menghasilkan pisau angin yang melukai tubuh Gentala. Bajunya robek di berbagai tempat, ia tidak bisa terus bertahan. "Gunakan teknik pedang menyapa langit", teriak Wardhani.


Gentala mengambil kuda-kuda dan melompat keatas, ia menyabetkan belatinya ke arah kelelawar yang menyerang dari arah depan. Sabetan zig zag dari belatinya membuat pisau udara disertai sinar keemasan menerjang. Kelima kelelawar itu mati dan jatuh, di sertai beberapa robohnya dahan pohon disekelilingnya.


Amukan Gentala lagi-lagi terlihat oleh Wardhani tanpa ekspresi sama sekali, hanya kelelahan tampak jelas di wajahnya. Setelah menghabisi siluman kelelawar, ia terus menyerang siluman landak dan trenggiling. Tebasan pedangnya tak mampu menembus pertahanan siluman trenggiling.


Serangan duri tajam dari landak masih bisa dihindari, tapi ia tidak bisa bertahan lebih lama. Maka dalam sekali serangan ia melompat dan melemparkan belatinya kearah siluman landak.


Bhuugh.... serangan itu mengenai dada Gentala. Darah segar menghiasi sudut bibirnya, ia merasakan dadanya terhantam batu besar. Trenggiling itu kembali menyerangnya, tubuhnya berputar kembali diudara dan dilingkupi sinar kebiruan, sebelum akhirnya menerjang ke arah lawan.


Gentala tidak mau ketinggalan, sisa-sisa tenaga dalam ia kumpulkan di tangan kanannya. Ia bertaruh pada pukulan terakhirnya, jika gagal bisa saja ia mati.


Dhuuar...!!!


Kepala trenggiling pecah, darah segar muncrat membasahi wajah Gentala yang ambruk kehabisan tenaga. Luka dalam didadanya akibat benturan tadi, mulai terasa menyakitkan. Dadanya terlihat membiru, dan organ dalamnya juga terluka.

__ADS_1


Perlahan ia duduk sambil memegang dadanya, setelah nafasnya teratur ia mencoba mengalirkan tenaga dalam untuk mengobati lukanya. "Jangan gunakan tenaga dalammu, itu akan membuatmu lemas, sisa tenagamu tidak cukup untuk mengobati luka dalam yang kau alami", Wardhani muncul dan memberitahu Gentala.


Sisa tenaga dalam yang sedikit, akan habis bila ia gunakan untuk pengobatan. Bisa jadi malah membuatnya jatuh pingsan sebelum menyelesaikannya. Kemudian Wardhani menyuruhnya mengambil medali bintang, dan menggunakannya untuk semedi.


Dengan bantuan medali bintang, energi kehidupan di sekitar tempat itu tersedot kedalam batu itu. Lalu dengan kesadarannya, Gentala telah mampu mengatur besar kecilnya energi yang disalurkan ke dalam nadinya melalui batu itu.


Energi yang masuk memenuhi nadi-nadi di rongga dada dan menghangatkannya. Besarnya energi prana itu secara tidak sengaja mengaktifkan Cakra Anahata. (letak cakra anahata berada di dada, nama lainnya adalah cakra jantung).


Aktifnya cakra ini dipicu oleh benturan keras di dadanya, yang mengakibatkan cakra anahata sedikit terbuka. Namun dengan kemampuan saat ini, Gentala belum bisa menyempurnakan keberadaan cakra ini.


Malam telah tiba, saat ia selesai mengumpulkan mustika siluman yang ia bunuh. Selanjutnya ia menaiki Si Bonggol dan memacunya perlahan. Tujuannya kali ini mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Biar bagaimanalun kuatnya. tubuh fisiknya masih belum mampu untuk terus-terusan bertarung.


Tidak terasa sudah tujuh hari, Gentala masih belum bisa keluar dari Alas Wonojoyo. Pertarungan demi pertarungan telah ia lalui, puluhan bahkan ratusan siluman, telah ia bunuh. Mustika siluman pun sudah banyak yang terkumpul. Wardhani belum mengizinkannya menyerap mustika siluman itu, karena meskipun banyak tetapi masih belum cukup untuk membuka cakra jantung dengan sempurna.


Gentala terus memacu kudanya dibawah bayang-bayang pohon hutan itu, bedanya kali ini Si Bonggol setengah berlari. Keanehan kembali ia alami, sudah tiga kali Gentala melewati tempat yang sama. Ia selalu terhenti di dekat pohon beringin, seperti saat dulu ia terjebak di pohon joho.


Menyadari hal itu, ia kembali memusatkan pikiran dan membaca satu-satunya yang ia kuasai.


Pangreksan kang muksa,


Ening meneng roso jati,


Ora katon pangrasa manungsa

__ADS_1


Tujuh kali ia merapal mantra tanpa nafas, hal yang pernah di ajarkan Wardhani saat ia terjebak dalam dimensi Pohon Joho.


Tiba-tiba seokor ular dengan ukuran sebesar pohon kelapa muncul dihadapannya. Sisiknya berwarna emas, tubuhnya melingkat dan kepalanya berdiri memamdang Gentala.


__ADS_2