
"Kau sudah bangun Nak", sapa orang tua kepada Gentala.
Gentala kaget, ia tidak menduga saat terbangun, ada sosok sepuh berpakaian hitam. Ia jadi teringat pesan ayahnya, untuk mencari pertapa sakti yang memiliki ciri seperti orang tua disampingnya.
"Maafkan aku Aki, aku tidak tahu anda disini", ucap Gentala sambil memperbaiki duduknya.
Kemudian orang tua itu menanyakan asal usul Gentala dan kenapa sampai di hutan Klotok. Padahal semua penduduk tahu, kalau hutan itu terlarang untuk didatangi. Mendengar cerita Gentala, Ki Bajra, hanya manggut-manggut sambil mengelus jenggot putihnya.
"Apakah benar, yang dihadapan kawulo (hamba) ini adalah pertapa sakti bernama Ki Bajra Geni ?, tanya Gentala.
"Hm.... orang menyebut namaku seperti itu. Aku ya aku, he he he....", jawab Ki Bajra.
"Mohon maaf atas ketidak tahuan kawulo, saya di utus oleh Romo, menemui Ki Bajra", ucap Gentala.
Hitam dan putih selalu berpasangan
Baik dan buruk lahir bersamaan
Menunaikan tugas Sang Hyang Akaryo Jagad
Sekedar mengikuti irama kehidupan
Bait syair yang diucapkan Ki Bajra, seakan memiliki makna, bahwa di belahan bumi yang lain, kegelapan mulai menampakkan diri. Kemudian Ki Bajra memberikan penjelasan kepada Gentala, bahwa ia akan melatihnya mulai sekarang.
"Aku akan melatihmu, aku tunggu di Goa Selomangleng", ucap Ki Bajra.
(Goa ini terletak di lereng Gunung Klotok, menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Kediri)
"Sendiko Dawuh Guru", jawab Gentala sambil membungkukkan badan, memberikan penghormatan kepada Ki Bajra.
"Kau harus jalan kaki menuju kesana", ucap Ki Bajra sambil menunjuk ke arah tebing curam.
"Maaf Guru, aku membawa si Bonggol, dan beberapa barang", ucap Gentala sambil menunjuk ke arah kudanya.
__ADS_1
"Tidak usah kuatir, kau cukup bawa bekal seperlunya saja", jawab Ki Bajra. Kemudian Ki Bajra mengambil pedang di samping Gentala dan melihatnya dengan teliti. Matanya menyipit mendapati simbol bintang yang ada di pedang itu.
"Pedang ini, cukup bagus, sayang tidak terawat. Apakah ini warisan keluargamu ?", tanya Ki Bajra. Ia menyayangkan ada beberapa bagian yang tampak mengalami kerusakan dan ujungnya pun tumpul.
Lalu Gentala menceritakan dari mana ia memperoleh pedang itu. Ia pun menceritakan empu yang dulu membuatnya. Tak lama kemudian, Ki Bajra berdiri dan berjalan menuju si Bonggol. Ia mengelus-elus kuda milik Gentala tersebut dan tiba-tiba...
Hhhuup..... Whussh....
Ki Bajra dengan tangan kirinya, mengangkat Si Bonggol dan meletakkan di pundaknya. Sebelum akhirnya ia terbang menuju goa tempat pertapaannya.
"Kau harus sampai sebelum matahari terbenam, atau kau akan dihadang oleh siluman. Aku tidak akan menolongmu untuk kedua kalinya", ucap Ki Bajra sambil melesat dengan cepat.
"Dua kali ?", pikir Gentala. Ia masih melongo dengan melihat orang yang bisa terbang, ditambah lagi ia bingung kapan Ki Bajra menolongnya.
Tak mau pikir panjang, ia lalu bergegas menuju arah Goa Selomangleng. Perjalanan yang cukup berat, karena selain medannya yang terjal, siluman dan bangsa denawa akan menghadang.
Setapak demi setapak ia lalui, kini ia dihadapkan pada lereng yang cukup curam. Tidak ada pijakan sama sekali, ditambah lumut di bebatuan menjadikan tebing itu semakin sulit di takhlukkan. Ia berjalan kesana kemari, mengamati dinding tebing.
Akhirnya ia menemukan bagian tebing yang agak landai, dan bisa ia panjat. Matahari mulai condong ke barat saat ia selesai mengisi perutnya dengan buah-buahan yang ia temukan disana. Ia berfikir, bahwa perjalannya akan panjang, jadi perlu mengisi perut.
Gentala tiba-tiba ingat, jika tadi Ki Bajra mengatakan akan banyak siluman dan denawa yang menghadang, tetapi sama sekali ia tidak menemui selama perjalanan.
"Ah... sudahlah", pikir Gentala. Ia tak mau repot memikirkan hal itu.
Setelah nafasnya teratur, ia berdiri dan menemukan cahaya kecil di depan Gua. Ki Bajra terlihat duduk semedi di samping perapian itu. Gentala lalu duduk dihadapan Gurunya, tak berani mengganggu dan mengajak bicara.
Lantas ia melakukan hal yang sama dengan Gurunya. Saat waktu sidem kayon, Ki Bajra membuka mata, dan membangunkan Gentala dari semedinya. (Sidem kayon adalah waktu tepat tengah malam. Diyakini waktu inilah gerbang antara alam nyata dan alam gaib terbuka).
"Nak mas, Cakra di tubuhmu masih dua yang terbuka", ucap Ki Bajra. Lalu Ki Bajra menjelaskan, bahwa untuk mempelajari ilmu kanuragan darinya, Gentala harus bisa membuka ke tujuh Cakra ini.
"Seharusnya dengan bantuan medali bintang, kau bisa membuka ketujuh cakra ditubuhmu dengan sempurna", ucap Ki Bajra.
"Maaf Guru, saat ini aku tidak dapat menggunakannya", jawab Gentala. Lalu ia pun menceritakan semuanya, termasuk keberadaan sukma Nyai Wardhani di dalam medali itu. Ia tidak ingin menyembunyikan segala sesuatu dari Gurunya.
__ADS_1
"Hmm... Nyai Wardhani, tampaknya tugasku menjadi lebih ringan", batin Ki Bajra.
"Kau pemuda yang jujur, aku suka itu", puji Ki Bajra. Gentala tidak menjawab, hanya menundukkan kepala, menghormati Gurunya.
"Baiklah, aku akan membantumu, tapi kau harus kuat meditasi ini selama tiga hari tiga malam", ucap Ki Bajra.
"Sendiko dawuh", hanya itu yang keluar dari mulut Gentala. Ia tidak banyak bertanya, mengapa harus secepat itu berlatih.
Memang terkesan terburu-buru, tetapi harus demikian, demi menjaga keseimbangan Bumi Kahuripan, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Ki Bajra Geni, berdasarkan wisik yang ia terima. Memberikan pelatihan dasar kepada Gentala, sebelum nantinya perjalanan Gentala dimulai.
Ki Bajra menuliskan simbol rajah pangurung sebelum mulai ritual pembukaan cakra. Simbol yang ditulis itu kemudian memunculkan cahaya berwarna kuning emas, dan menyebar semakin membesar, mengelilingi tempat di sekitaran gua. Setelah cukup meluas, cahaya itu kemudian pudar dengan sendirinya.
"Sun amatek aji Cupu Manik Astagina
Rupane abang wujuding Bethari
Rupane putih wujuding Bethara
.....
.....
Ki Bajra merapal mantra Ajian Cupu Manik Astagina, untuk memperkuat wadah energi di tubuh Gentala. Kemudian ia mulai membuka *C**akra Mahkota* (Mahasasra) yang terletak di bagian kepala. Normalnya manusia akan melakukan meditasi membuka sendiri cakra di tubuhnya.
Pembukaan itu biasanya dimulai dari cakra dasar. Dalam kasus Gentala, dengan nadi naga yang dimilikinya, serta di dampingi oleh Ki Bajra. Cakra Mahkota akan mempercepat energi yang masuk, tetapi sangat berbahaya.
Ini merupakan jalan pintas, banyak pendekar yang melakukan ini dan tewas ditengah jalan. Mereka mati karena nadi dalam tubuhnya pecah, tidak kuat menampung derasnya yang masuk.
Ki Bajra melanjutkan membuka Cakra Ajna serta cakra lain di tubuh Gentala. Selesai melakukan itu, Ki Bajra lalu menulisbdi udara simbol rajah yang kini telah punah. Rajah Yoni Madyantara, sebuah rajah terlarang untuk menarik paksa energi alam.
Ki Bajra nafasnya tak beraturan setelah selesai melakukan semua. Membutuhkan separuh lebih tenaga yang dimilikinya. Ia pun melakukan meditasi untuk mengembalikan energi dalam tubuhnya. Ia tidak mengira, membuka cakra dengan nadi naga menghabiskan tenaga yang cukup banyak.
Tak lama setelah ritual itu selesai, pusaran energi terlihat di atas kepala Gentala. Pusaran itu berputar ke kekiri, berputar pelan. Sekalipun pelan, energi yang tersedot kedalam tubuh Gentala tidak terbendung.
__ADS_1
Kejadian ini menarik seluruh penghuni kawasan Bukit Klotok. Bangsa siluman dan denawa menjadi tertarik untuk mendekati pusaran energi yang mereka rasakan.
Tubuh Gentala bergetar hebat menerima energi yang masuk. Entah apa yang dirasakan oleh Gentala saat itu. Ki Bajra hanya bisa memasrahkan kepada Sang Hyang Murbehing Dumadi.