Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 23 Sepasang Pendekar Api dan Petir


__ADS_3

"Kakang, tentunya kedatanganmu tidak hanya bercerita tentang itu bukan ? tanya Prahasta.


Ki Bajra lalu mengeluarkan pedang hitam, dari lengan bajunya. Pranayam yang melihat hal itu tercengang, darimana Ki Bajra memunculkan pedang panjang itu. Prahasta yang mengetahui hal itu tersenyum dan menjelaskan kepada muridnya.


"Suatu saat kalau ilmumu sudah tinggi, kau akan dapat menyatukan pusaka dengan tubuhmu", ucap Prahasta kepada muridnya.


Ki Bajra lalu menyerahkan pedang itu kepada Prahasta. Prahasta yang menerima pedang itu, melihat dengan teliti dan ingatannya kembali pada masa 90 tahun yang lalu.


*****


Dua orang pemuda tampak berdiri di depan sebuah nisan, memberikan penghormatan terakhir.


"Kakang, apa yang akan kita lakukan sekarang ?", tanya Prahasta.


"Kita akan menuruni Gunung Dieng ini, dan menuju arah matahari terbit", jawab Bajra.


Bajra Geni dan Prahasta adalah saudara seperguruan. Mereka kemudian menuju ke arah timur. Bukan tanpa pertimbangan perjalanan ini dilakukan. Semua adalah wasiat dari Gurunya.


Bajra Geni, seorang pendekar dengan senjata andalannya tombak bergagang pendek. Sedangkan Prahasta memiliki senjata pusaka berupa pedang dengan hitam.


Guru mereka adalah seorang sesepuh di Pertapaan Mandalasari, salah satu lereng Gunung Dieng. Pertapaan ini masih ada hubungan dengan Palarasa, karena pendirinya adalah murid Palarasa.


Keduanya berpetualang melakukan wasiat gurunya untuk melakukan pengembaraan kearah timur. Mereka bertugas melenyapkan semua pendekar aliran hitam tanpa terkecuali.


Sepak terjang mereka di dunia persilatan terkenal kejam terhadap pendekar aliran hitam. Demikian juga untuk para perampok, begal dan komplotannya yang lain, pasti ketakutan mendengar sepak terjang keduanya.


Keduanya terkenal dengan sebutan Sepasang Pendekar Api dan Petir. Bukan tanpa alasan julukan itu diberikan, Prahasta adalah pendekar dengan pusaka pedang hitam yang dialiri petir. Dan Bajra Geni terkenal dengan tombak apinya.


*****


"Tak kusangka cucuku sendiri yang kini memilikinya, mungkin ini sudah takdir", ucap Prahasta.

__ADS_1


Ia menerima pedang itu dari Bajra, dan melihat dengan teliti kerusakan pada pedang itu. Menurut pengamatannya diperlukan waktu setidaknya 1 pekan untuk memperbaikinya.


"Kakang, kau harus membantuku untuk membakar logam ini. Kalau hanya mengandalkan panasnya arang, butuh waktu 1 purnama lebih. Dengan kekuatan api milikmu kurasa 1 pekan cukup", ucap Prahasta.


"Tentu saja aku akan membantumu", jawb Bajra. Lalu ia kembali mengeluarkan pusaka miliknya dari balik lengan bajunya. Sebuah tombak pendek, yang dulu menjadi andalannya, Tombak Api.


"Kakang, apa maksudmu.... ", tanya Prahasta.


Belum selesai pertanyaan Prahasta, Ki Bajra memotongnya. Ia menjelaskan maksudnya untuk menggabungkan dua pusaka menjadi satu. Bisa dibayangkan sekuat apa nantinya pusaka yang akan dibuat. Prahasta menyuruh muridnya bersiap-siap melakukan ritual penempaan pusaka.


Kemudian Pranayam segera bergegas menyiapkan ubo rampe, untuk memulai membuat sebuah pusaka. Apalagi tampaknya pusaka yang akan dibuat ini adalah pusaka paling kuat yang pernah di buat oleh Gurunya.


Ritual pembuatan pusaka diawali dengan pembakaran kemenyan, dan sajian kembang setaman. Setelah semua siap, Ki Bajra dengan kekuatan api miliknya, membakar pedang hitam itu sampai menganga. Kemudian Empu Prahasta menempa pedang itu dengan palunya.


Pranayam kembali di kejutkan dengan apa yang dilakukan gurunya. Bagaimana tidak, Prahasta hanya menggunakan tangan kosong untuk memegang bilah pedang yang sedang menganga itu. Berulang ulang proses penempaan itu dilakukan oleh 2 pendekar paling hebat dizamannya.


Setelah sepekan, penempaan pedang yang dilakukan keduanya telah selesai. Tidak hanya penempaan bilah pedang saja, tetapi pada saat malam menjelang kedua pendekar sepuh itu, menuliskan rajah untuk menarik kekuatan semesta agar tersimpan didalamnya.


"Adi Prahasta, aku kira pedang ini akan menjadi pusaka paling kuat di bumi Kahuripan ini", ucap Ki Bajra.


"Hmm... ini semua berkat kakang juga. Akan lebih ampuh kalau kita bisa memasukkan prewangan kedalamnya", ucap Prahasta.


"Mungkin roh naga yang tersegel oleh medali bintang bisa kita masukkan kedalam pedang ini Kakang ", Prahasta kembali berkata kepada Ki Bajra.


Prahasta lalu menceritakan rahasia turun temurun dari keluarga Arya, bahwa ada roh naga yang saat ini masih tersegel di tempat yang tidak diketahui. Segel tersebut dibuat oleh Kamajaya menggunakan tujuh medali bintang.


"Kau selalu seperti itu Adi Prahasta. Tidak mudah menemukan tempat dimana roh Naga itu disegel. Untuk saat ini, aku telah menemukan prewangan yang tepat untuk pedang ini", jawab Ki Bajra.


Ki Bajra lalu menjelaskan bahwa saat ini ada sukma Nyai Wardhani yang sedang tapa brata di Goa Selomangleng. Ia juga menceritakan siapa Wardhani sebenarnya.


"Jadi mungkin, memang benar cerita para sesepuh di Pertapaan Mandalasari", Prahasta menambahkan pendapatnya.

__ADS_1


Mereka berdua lalu teringat cerita turun temurun di Mandalasari, bahwa ada sebuah Goa di puncak Dieng bernama Goa Pengantin. Namun cerita itu tak pernah ada yang menyelidiki kebenarannya karena puncak Dieng selalu tertutup kabut hitam.


"Kalau begitu aku pamit dulu Adi Prahasta. Kau harus segera menyusulku untuk menurunkan ilmu pedangmu kepada muridku", ucap Ki Bajra.


*****


Pedang hitam itu kini berada di tangan Gentala. Ia hampir tidak mengenalinya, kecuali warnanya. Beratnya pun kini bertambah dua kali lipat. Ia juga tidak menemukan identitas ukiran bintang di pedang itu.


"Hari ini, kau istirahatlah, gunakan untuk semedi. Gunakan medalimu untuk menarik energi dari alam", ucap Ki Bajra kepada Gentala.


Ki Bajra lalu meminta kembali pedang di tangan Gentala, ia akan membawanya ke sasana warabrata. Ia ingin energi pedang dapat selaras dengan energi dari sukma Wardhani. Agar saat penyatuan nantinya, tidak mengalami kesulitan.


Gentala yang kini berada di dalam Goa, segera melakukan semedi. Selama tujuh hari sebelumnya, ia melakukan latihan fisik dan juga semedi malam hari. Kekuatannya bertambah pesat, namun belum cukup untuk berhadapan dengan Raja Denawa di hutan Klotok.


Tepat sebelum Gentala memulai semedi Ki Bajra muncul tiba-tiba dari dinding batu. Kejadian ini membuatnya kaget, namun setelah beberapa kali melihat kehebatan Gurunya itu, ia hanya bisa berkata dalam hatinya.


"Besok apa lagi yang aneh.... ," batin Gentala.


"Aku akan menurunkan tenaga dalam api kepadamu, setelah kau siap.", ucap Ki Bajra.


Ki Bajra lalu menjelaskan kepada Gentala bahwa unsur kehidupan yang paling di kuasai oleh Ki Bajra bersifat panas atau api. Gentala yang memiliki nadi naga, bisa mempelajari semua unsur kehidupan.


Ki Bajra kemudian menuliskan rajah api di atas medali bintang, dengan begitu maka hanya energi api yang akan masuk kedalam medali itu. Kemudian medali itu dipegang oleh Gentala, tangan kiri dibawah sebagai tatakan medali dan tangan kana menutupnya.


Gentala menggunakan nafas segitiga untuk menarik energi alam kedalam tubuhnya. Tubuhnya mulai merasa hangat, saat perlahan energi mulai masuk. Butuh waktu lama untuk membuat penuh nadi di dalam tubuhnya.


Sementara itu, di kaki Gunung Gamping....


Prahasta kini berada dalam ruang semedinya, ia mengambil kotak penyimpanan yang cukup besar, dan mengambil 2 buah gulungan lontar. Gulungan itu berisi tentang teknik pedang warisan Kamajaya. Teknik pedang bintang tingkat 2 dan tingkat 3.


"Pranayam, aku akan pergi menyusuk kakang Bajra, jagalah tempat ini. Jangan sekali-kali kau menerima pesanan pembuatan pusaka." ucap Prahasta, mewanti-wanti muridnya.

__ADS_1


__ADS_2