Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 24 Tenaga Inti Api


__ADS_3

Sudah 3 hari tiga malam berlalu, Gentala masih larut dalam semedinya. Nadi dalam tubuhnya kini terisi oleh energi api yang di saring oleh rajah api di medali bintang. Rajah yang di tulis oleh Ki Bajra, merupakan rajah kuno peninggalan leluhur.


Dari luar, tidak tampak hal aneh yang terjadi dengan tubuh Gentala pada saat semedi. Namun, jika dilihat setelah 3 hari energi api mulai memasuki nadi-nadi kecil Gentala. Rasa panas dan terbakar ia rasakan dalam tubuhnya. Jika saja ia tidak melakukan topo kungkum sebelumnya, pasti tubuhnya akan terbakar dari dalam.


Beruntung, saat ini Gentala telah melakukan tapa kungkum sebelumnya, sehingga nadi dalam tubuhnya dapat menyimpan hawa dingin dari air sumber. Ia baru menyadari manfaat dari ritual yang dilakukan sebelumnya.


Rasa panas dalam tubuh Gentala berangsur menghilang seiring dengan telah terpenuhinya semua nadi-nadi dengan energi api. Saat itulah ia membuka matanya dan merasakan energi yang meluap-luap dari dalam tubuhnya. Perutnya pun kini telah merengek untuk diisi, karena sejak tiga hari ia tidak makan.


Saat membuka mata, ia menemukan Ki Bajra sedang bercengkrama denga Bonggol, kuda kesayanganya. Bahkan ia lupa, kapan terakhir kali memberikan makan kepadanya. Tapi, tampaknya Bonggol yang telah akrab dengan gurunya itu, kini sedikit melupakannya.


“Kau sudah selesai semedi rupanya, lebih cepat dari yang kubayangkan”, ucap Ki Bajra.


Ki Bajra lalu menyuruh Gentala untuk mendekat dan kemudian ia memeriksa pergelangan tangan Gentala. Sambil mengelus jenggot tipisnya, ia memejamkan matanya, ia kaget merasakan tingkat tenaga dalam pemuda itu. Meskipun masih belum sebesar dirinya, tapi ia ingat betul bahwa saat akan meninggalkan Gentala, tenaga dalam yang dimilikinya baru sampai tingkat dasar.


Setelah melakukan latihan satu pekan ditambah dengan semedi selama tiga hari, Gentala telah sampai pada tingkatan fana. Ki Bajra tidak bisa membayangkan berapa tingkat yang akan dilampaui oleh Gentala, mengingat usianya kini masih sangatlah muda. Ki Bajra sendiri untuk menembus pada tingkatan fana, setelah melakukan tapa brata selama 41 hari.


“Aku akan mengajarimu satu jurus yang didasarkan pada kekuatan api”, ucap Ki Bajra.


Ki Bajra mengambil tempat agak ke pinggir, dan melakukan beberapa gerakan. Kakinya dibuka sedikit, posisi badan jongkok dengan punggung lurus. Kedua tangan mengepal disisi kanan dan kiri. Terlihat dari samping, mulutnya komat-kamit merapal mantra.


Sun matek aji lebur seketi


Ingsun megeng nafas ghoib


Neges jatining rasa


Bumi jugrug segoro asat


Asap terkepul nampak dari kepalan tangan kanannya, dengan sekali hentakan kuat, Ki Bajra memukul udara kosong didepannya.


Dhuummm..... ! ! !

__ADS_1


Energi panas keluar dari tinju tangan kanannya menghasilkan warna merah yang melesat kedepan. Pohon-pohon didepan Ki Bajra hancur luluh, meninggalkan bekas seperti terbakar. Entah berapa banyak pohon yang tumbang, yang jelas pukulan itu menghancurkan pohon-pohon sejauh 20 tombak.


Gentala tercengang melihat kenyataan itu, ia tidak menyangka Gurunya menyimpan ajian yang dahsyat. Ia tidak tahu apakah ia dapat mewarisi ilmu itu atau tidak. Karena tingkat tenaga dalamnya masih rendah.


“Jurus ini bernama Ajian Lebur Seketi, kau boleh menggunakannya saat tenaga dalammu mencapai tingkat bumi,” Ki Bajra menjelaskan kepada Gentala.


Ki Bajra lalu mengajarkan mantra dan gerakan Ajian Lebur Seketi kepada Gentala. Ajian ini membutuhkan energi yang besar untuk melakukannya, paling tidak tenaga dalam tingkat bumi. Apabila orang dengan tenaga dalam dibawah tingkat itu maka bisa dipastikan, nadinya akan hancur dan seluruh tubuhnya akan lumpuh.


Untuk saat ini, Gentala hanya menghafalkan gerakan dan juga mantra ajian itu. Ki Bajra tidak mengizinkannya untuk melakukan dengan sungguh-sungguh karena dapat berakibat fatal.


“Latihlah ilmu pedangmu”, ucap Ki Bajra memberikan arahan. Karena ia tahu sebentar lagi adik seperguruannya datang dan akan melatih Gentala ilmu pedang.


Gentala lalu mengambil pedang yang telah disempurnakan oleh Ki Bajra dan adik seperguruannya. Pedang itu kini menjadi bertambah berat, seberat seekor kambing. Perlu latihan untuk menyesuaikan beratnya dengan tenaga yang akan dikeluarkan.


Gerakan yang dilakukan oleh Gentala menjadi sangat lambat karena terbebani oleh berat pedang itu. Berulang kali ia terpaksa menghentikan gerakannya dan mengambil nafas sejenak. Pedang itu benar-benar membuatnya kelelahan.


Melihat hal itu Ki Bajra lalu mengambil pedang ditangan Gentala, lalu memainkan satu dua jurus. Permainan yang ditunjukkan oleh Ki Bajra sangat elok, halus seperti tanpa tenaga. Kemudian ia menebaskan pedang itu kepada sebuah batu seukuran kerbau yang ada disamping goa.


Batu itu tidak hancur, melainkan terbelah menjadi dua. Potongan yang sangat halus, seperti pisau tajam yang memotong pisang. Lagi-lagi Gentala dibuat takjub dan terpana dengan ilmu gurunya. Ia pun mendekati gurunya, dan tidak sabar untuk diajarkan teknik pedang yang barusan ia lihat.


“Guru, ajari aku ilmu pedang yang barusan guru lakukan”, pinta Gentala kepada Ki Bajra.


“Akan ada orang yang mengajarimu teknik pedang, dan itu sangat sesuai dengan ilmu pedangmu sebelumnya”, jawab Ki Bajra.


“Benarkah ?”, tanya Gentala seakan tidak percaya.


Ki Bajra lalu meyuruh Gentala menguatkan fisiknya terlebih dahulu. Mula-mula ia harus naik turun tebing, untuk melatih otot tangan dan kaki. Latihan itu ia jalani berpuluh-puluh kali, sampai akhirnya terbentuk jalur pendakian yang mudah dilewati.


Tidak berhenti sampai disitu, batu yang pernah dibelah oleh Ki Bajra, di belah lagi menjadi potongan kecil. Ada yang seukuran buah kelapa sampai paling besar separuh ukuran kerbau.


Setelah lancar naik turun tanpa beban, kini Gentala naik turun tebing dengan memikul dua buah batu seukuran kelapa begitu seterusnya sampai ia akhirnya mampu mengangkat batu dengan ukuran setengah kerbau. Tidak terasa setengah purnama ia jalani untuk melakukan latihan fisik.

__ADS_1


Saat ini ia sedang berdiri dibawah terik matahari dan kedua tangannya mengangkat batu besar. Meskipun ia telah mampu mengangkatnya, namun latihan seperti itu tetap ia lakukan untuk melatih otot-ototnya. 15 hari telah berlalu dan kini ia bersiap melakukan latihan pedang kembali.


Gentala mulai menggerakkan pedang hitam, yang dulu terasa berat, namun kini ia bisa menggerakkan dengan lancar. Gerakannya telah lincah kembali seperti sedia kala, bahkan ayunan pedangnya semakin bertenaga.


“Nak mas, coba kau tebas batu itu”, tiba-tiba sesosok sepuh datang dan memberi perintah kepada Gentala. Sosok itu adalah Empu Prahasta adik seperguruan Ki Bajra Geni dan juga termasuk kakek jauh Gentala.


Dhuummm !!!....


Batu itu tidak terbelah menjadi dua, melainkan hancur menjadi beberapa bagian. Tampaknya kontrol tenaga dalam yang dilakukan Gentala belum sempurna. Sehingga dampak yang ditimbulkan pun menjadi berantakan.


“Tenagamu lumayan besar, tapi kau belum bisa mengontrolnya”, ucap Prahasta mengoreksi apa yang dilakukan oleh Gentala. Ki Bajra muncul belakangan lalu mengenalkan Prahasta kepada Gentala.


“Dia adalah kakekmu, Prahasta namanya. Dia pemilik sekaligus pembuat pedang hitam ditanganmu itu”, ucap Ki Bajra.


Gentala lalu menghampiri Prahasta, ia sungkem memberi penghormatan sebelum akhirnya ia memeluk kakeknya. Hatinya gembira karena bisa bertemu dengan leluhurnya.


“Aku akan mengajarimu teknik pedang bintang, warisan Eyang Kamajaya”, ucap Prahasta.


Prahasta menjelaskan bahwa teknik ini terdiri dari tingkatan, dan yang sedang dipraktikkan oleh Gentala adalah tingkatan pertama, Pedang Bintang Menyapa Langit. Prahasta melihat bahwa masih ada kekurangan dalam teknik pedang yang pertama itu. Sehingga teknik ini perlu disempurnakan terlebih dahulu.


Kemudian Prahasta memperagakan teknik Pedang Bintang Menyapa Langit dengan amat indah, gerakan menebas, menusuk maupun berkelit dilakukan dengan ringan, seakan tanpa tenaga. Lalu pada tebasan itu dipadu dengan tenaga dalam Prahasta dan diarahkan ke batu besar yang digunakan latihan oleh Gentala.


Energi yang keluar dari pedang hitam tersebut berwujud sinar kuning keemasan, dan membentuk tebasan tidak zig zag.


Slash... slash... ! ! !


Batu besar itu kini terbelah menjadi potongan-potongan kecil dan rapi, teknik pedang yang benar-benar hebat.


“Kuasailah tingkatan pertama lebih dahulu, lalu akan aku ajarkan tingkat kedua dan ketiga dari teknik pedang bintang”, ucap Prahasta menyudahi latihan Gentala kali ini.


Kemudian Prahasta menyuruh Gentala beristirahat, karena esok hari ia akan melatihnya dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2