Naga Bintang Dahanapura

Naga Bintang Dahanapura
Episode 21 Dimensi Ruang Goa Selomangkleng


__ADS_3

Gentala siuman dan mendapati dirinya telah berada di dalam goa. Ia tidak tahu berapa lama pingsan, nampaknya diluar matahari telah tinggi. Ki Bajra juga tidak nampak di tempat itu.


"Nyai.... Nyai Wardhani.... ", teriak Gentala. Namun juga tidak ada sahutan.


Lalu ia bangun dan pergi keluar goa untuk menghirup udara segar. Tubuhnya masih terasa kaku, setelah tiga hari lamanya melakukan pembukaan cakra. Ia ingin melakukan pelatihan.


***


Sementara itu, di salah satu sudut goa terdapat ukiran membentuk sebuah pintu. Pintu itu terpahat rapi di dinding batu goa, dan hanya Ki Bajra yang bisa memasukinya, karena dibutuhkan rajah khusus untuk membukanya. Rajah ini merupakan kebalikan dari rajah pangurung.


Nama dari rajah ini adalah Rajah Tatas Panguncen, sebuah rangkaian simbol dan aksara yang bisa digunakan untuk membuka pintu gaib. Ki Bajra menggunakan rajah ini untuk membuka Dimensi Ruang yang ada di dalam goa itu.


Goa Selomangleng sendiri memiliki banyak ruang rahasia, antara lain adalah ruangan untuk latihan yang disebut sebagai Sasana Warabrata. Dan ruangan yang terhubung dengan pesisir pantai selatan yang disebut sebagai Sasana Laksita. Ruangan-ruangan tersebut hanya memiliki pintu batu yang terukir dibatu, dan tidak bisa digeser.


Saat ini Ki Bajra dan Nyai Wardhani berada di dalam Sasana Warabrata, agar Wardhani bisa melakukan meditasi dengan sempurna. Meditasi yang dilakukan Wardhani adalah untuk menyempurnakan sukmanya, sehingga nanti bisa kembali kepada badan wadag yang saat ini masih tertinggal di Gunung Dieng.


Sesaat sebelum masuk kedalam Sasana Warabrata . . .


"Nyai, apa yang terjadi dengan Eyang Guru Palarasa ?', tanya Ki Bajra membuat kaget Wardhani.


Ia tak menyangka, masih ada yang mengenali Palarasa, meskipun telah berlangsung 300 tahun lalu. Ki Bajra menjelaskan bahwa ia tahu cerita itu dari Gentala, dan kebetulan Ki Bajra adalah murid generasi ke-3 dari Palarasa.


Wardhani kembali terkaget, mengetahui yang dihadapannya adalah cucu murid dari Palarasa. Dari awal saat Ki Bajra membuka cakra milik Gentala, gerakannya sama persis saat Palarasa membuka cakra miliknya. Perbedaannya, Palarasa tidak menggunakan Ajian Cupu Manik Astagina.


"Pantas saja kau menguasai rajah pangurung sekaligus rajah untuk membukanya", Ujar Wardhani. Wardhani meminta maaf kepada Ki Bajra belum bisa menceritakan perihal Palarasa dengan alasan tertentu. Dan Ki Bajra memaklumi hal ini.


"Gentala memiliki takdir yang berat, saat ini kegelapan telah bangkit dan gerakannya diawali dari pesisir selatan", ucap Wardhani. Ia menceritakan kabar yang pernah dia dengar dari Juragan Karta. Rupanya Ki Bajra juga telah mengetahui hal itu.


"Tugasku hanya memberikan semua ilmuku kepada Gentala, selebihnya terserah pada kehendak Sang Hyang Murbehing Dumadi", jawab Ki Bajra.


Ki Bajra menceritakan kepada Wardhani, bahwa puncak Dieng tertutup kabut hitam selama puluhan tahun, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa menuju kesana. Kabut itu sengaja diciptakan oleh murid pertama Palarasa.


Murid Palarasa itu segera menuju ke Puncak Dieng setelah mendengar pertempuran besar disana. Ia memutuskan menyegel tempat itu dengan kabut hitam dan tebal, setelah bertemu dengan seorang Pertapa Suci. Pertapa itulah yang juga meramalkan, bahwa Ki Bajra akan kembali berurusan dengan dunia setelah melakukan pengasingan.

__ADS_1


"Rupanya seperti itu", sedikit banyak Ki Bajra mulai mengerti apa yang akan dilakukan.


*****


Diluar Goa, Gentala kembali melatih ilmu kanuragan satu-satunya, Pedang Bintang Menyapa Langit. Jurus yang diajarkan oleh Wardhani itu, hanyalah tahap pertama dari tiga rangkaian Ilmu Pedang Bintang. Ki Bajra yang melihat itu tersenyum dan kemudian menyerang Gentala dengan ranting kering.


"Lemaskan pergelangan tanganmu", ucap Ki Bajra memberikan koreksi terhadap Gentala.


Trang... trang...


Suara pertemuan ranting dan pedang terdengar keras. Gentala tak menyangka, pedangnya bisa dengan mudah di tangkis oleh ranting kecil. Perlu pengendalian energi di dalam ranting itu, agar ranting tidak hancur saat di masuki tenaga dalam.


Bhuugh.... !!!


Satu serangan telak mendarat di tubuh Gentala, ranting kecil itu berhasil membuat tubuhnya terjerembab dan tumbang. Ki Bajra sejenak memberikan waktu Gentala untuk bangkit.


"Kalau aku musuhmu, kau pasti sudah tewas", ucap Ki Bajra.


Ki Bajra menjelaskan, bahwa seorang pendekar tidak akan bisa memilih lawannya di medan pertempuran. Menjadi kuat adalah pilihan satu-satunya untuk selamat dan melindungi orang-orang yang dicintai.


"Turunkan sedikit badanmu", ucap Ki Bajra membetulkan posisi kuda-kuda Gentala.


Suara pertarungan kembali terdengar, gerakan Ki Bajra sangat halus, seolah tidak bertenaga. Tapi begitu menyentuh pedang di tangan Gentala, cukup membuat tangannya kesemutan.


"Longgarkan genggamanmu, biarkan pedangmu menemukan iramanya sendiri", Ki Bajra terus membenahi setiap gerakan Gentala.


Gerakan Gentala semakin lincah, hingga membuat Ki Bajra menaikkan level kekuatannya. Beberapa kali ranting itu terhunus di leher Gentala, bahkan tak jarang menggebuk badannya.


Ki Bajra mundur lima langkah, dan menghentikan serangan. Ia memberikan kesempatan bernafas terhadap Gentala. Terlihat jelas, nafas yang memburu dan terengah-engah.


"Serang aku dengan kekuatan penuh", ucap Ki Bajra.


Gentala lalu menarik nafas, dan mengalirkan tenaga dalam menuju pedangnya. Guratan kecil seukuran rambut, mewarnai pedang itu. Kuning keemasan berulir di atas logam hitam pedangnya.

__ADS_1


"Hiyaaaa..**... ", Gentala berteriak sambil melompat ke udara, lalu dengan kekuatan penuh ia mengarahkan tebasan pedangnya kepada Ki Bajra.


Dhumm.... !!!


Suara benturan sangat keras, menghasilkan hempasan udara yang kencang, menyebabkan keadaan tidak terlihat. Tidak hanya debu yang berterbangan, ranting-ranting kecil pun ikut terbang.


Gentala tercengang saat melihat ujung pedangnya di tangkis dengan menggunakan dua jari oleh Ki Bajra. Ia menduga-duga seberapa tinggi tenaga dalam orang tua itu.


"Di luar sana banyak pendekar yang ilmunya diatasku, kau harus menjadi kuat seperti Eyangmu Kamajaya, atau kau akan kehilangan orang-orang yang kau cintai", ucap Ki Bajra.


Ki Bajra sengaja mengukur tenaga dalam Gentala, untuk menentukan pola latihan yang akan dia berikan kepada Gentala. Saat ini ia pada kesimpulan, bahwa tubuh fisik Gentala harus diperkuat, agar mampu menerima tenaga dalam jumlah yang besar.


Bagi Ki Bajra, menarik energi kehidupan dan memasukkan kedalam tubuh Gentala adalah mudah, tetapi yang lebih penting adalah menyiapkan wadah untuk energi itu sendiri.


Matahari mulai menghilang saat latihan Gentala berakhir. Ia merasakan tubuhnya sakit semua, dan tentu saja lapar.


"Kau akan mulai latihan fisik besok pagi, dan malamnya kau harus mengisi tenaga dalammu", ucap Ki Bajra sambil berlalu memasuki pintu goa.


Gentala yang masih diluar, membuat perapian untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah bara api cukup panas, ia memasukkan sisa-sisa umbi-umbian yang ada disampingnya.


Setelah kenyang ia masuk kedalam goa untuk beristirahat karena ia tahu, besok adalah hari yang melelahkan. Ia tidak menemukan Ki Bajra disana, tapi ia tidak bingung dan langsung berbaring.


*****


Keesokan harinya, Ki Bajra memanggil Gentala dan menjelaskan apa-apa yang harus dilakukan. Ia juga mengatakan, bahwa Nyai Wardhani sedang melakukan tapa brata selama 41 hari.


"Setiap pagi hari kau harus turun menuju Sumber Lo, mandilah disana setelah selesai lakukan Tapa Ngalong, sampai tengah hari. Setelah selesai kau harus melakukan Tapa Kungkum sampai matahari terbenam. Lalu kembalilah kesini untuk melakukan semedi. itu", ucap Ki Bajra.


Tapa Ngalong adalah istilah untuk melakukan tapa dengan menggantung diatas pohon, posisi kepala di bawah. Sedangkan Tapa Kungkum adalah dengan melakukan kungkum atau berendam di air.


Usai menjelaskan hal itu, Ki Bajra meminta pedang Gentala dan mengatakan akan membawanya kepada Empu, kenalan Ki Bajra di pesisir selatan. Ia tidak menyebutkan siapa nama empu itu. Setelah mengatakan itu, Ki Bajra terbang ke arah selatan.


Hal terberat bagi Gentala adalah naik dan turun tebing yang curam itu. Ini karena untuk urusan dengan denawa dan siluman, Ki Bajra telah menanamkan rajah pangurung pada tubuh Gentala. Ia akan aman dari siluman selama tujuh hari.

__ADS_1


Setelah tujuh hari, maka Gentala harus berusaha sendiri, dan inilah latihan yang sesungguhnya. Apakah tujuh hari itu, ia akan dibantu lagi atau tidak, Gentala tidak berani bertanya.


Kini Gentala bersiap untuk melakukan latihan fisik. Ia bergegas menuruni tebing curam dengan hati-hati. Ia mencari bekas tempat ia naik pekan lalu. Tak sesulit pada saat ia naik pertama kali, namun tetap saja goresan tanaman sulur dan semak berduri menghiasi tubuhnya.


__ADS_2