
Getaran tubuh Gentala berlangsung tidak lama, selebihnya tubuh pemuda itu kembali tenang. Energi alam yang berkumpul di tempat itu membuat beberapa denawa melesat ke arah mulut Goa. Namun sesampainya disana, lokasi itu hanya terlihat seperti hutan belantara.
Bahkan raja siluman yang baru sampai kemudian, mengalami hal yang sama. Mereka hanya merasakan aliran energi di Bukit Klotok tersedot ke arah sana. Dan kemudian hilang tiba-tiba di tengah belantara.
Semua yang datang saat itu meyakini, bahwa tempat itu adalah Goa Selomangleng, tetapi mereka tidak dapat menemukan apa-apa. Kesimpulan mereka sama, Pertapa tua disana sedang melakukan semedi.
Apa yang dirasakan Gentala tidak ada yang tahu, bahkan Ki Bajra sendiri juga tidak mengerti. Ia tetap menunggu muridnya, dengan posisi waspada. Ki Bajra hanya bisa mengamati aliran energi kehidupan itu telah masuk kedalam tubuh Gentala.
Mula-mula energi kehidupan itu masuk melalui Cakra Mahkota/Sahasrara. Bagian kepala Gentala mengeluarkan warna ungu, menandakan energi kehidupan telah memenuhi cakra ini.
Kemudian energi itu menelusur di antara kedua mata Gentala, berpendar menjadi warna nila. Cakra Mata Ketiga/Ajna ini memungkinkan Gentala menjadi waskita dan menguasai pengetahuan spiritual yang hebat.
Cakra Tenggorokan/Vishudda yang terletak di bagian tenggorokan Gentala mulai mengeluarkan warna biru muda. Ini pertanda jika energi kehidupan telah sampai di titik ini. Bersamaan dengan itu, kokok ayam mulai terdengar bersahutan.
Gentala sama sekali tidak mendengar apa yang ada di luar dirinya. Apa yang dialaminya pada saat energi kehidupan itu menyeruak masuk kedalam tubuhnya adalah hal yang luar biasa. Saat ini ia sama sekali tidak merasakan kesakitan si tubuhnya.
Pengalaman spiritual yang dialami Gentala pada saat energi kehidupan memenuhi ruang di dalam cakra mahkota menjadikan Gentala menyadari betapa kecil dirinya di hadapan semesta. Saat itu Gentala bertemu dengan sosok Pertapa Suci yang pernah meramalkan masa depannya.
"Akhirnya kau datang Ngger", ucap sosok berpakaian serba putih bernama Bagawanta Bhari.
Sosok itu dilihat Gentala melayang di jagat semesta diantara bintang. Ia berfikir itu adalah dewa yang sedang menemuinya. Lantas ia pun bersujud tak berani melihat kepada Sang Bagawan.
"Oh Dewa.... ", bisik Gentala dalam hatinya.
"Aku bukan dewa seperti yang kau bayangkan, aku pernah menemui ayahmu saat kau dalam kandungan", jawab Bagawan.
Kemudian Sang Bagawan menjelaskan, bahwa saat ini, dirinya terhubung dengan Gentala karena pusaran energi kehidupan yang memenuhi Cakra Mahkota Gentala, sebagian berasal dari sisa-sisa energi spiritual yang ditinggalkan oleh Bagawan di Bukit Klotok.
__ADS_1
"Rupanya Bajra telah mengaktifkan ke tujuh cakra di tubuhmu", ucap Bagawan.
Bagawanta Bhari lalu memberitahu Gentala, bahwa ia akan menemuinya, saat Pedang Bintang telah ada di tangannya. Bagawan pun menitipkan pesan kepada Ki Bajra, agar menyelesaikan tugasnya dalam lima purnama.
Gentala kembali teringat pesan ayahnya tentang sesosok pertapa suci yang meramalkan masa depan Gentala.
"Rupanya, beliau adalah Pertapa Suci itu", batin Gentala.
Kini tiba-tiba sosok Kirana muncul di hadapan Gentala sangat nyata. Kirana terlihat menangis, tanpa mengeluarkan suara. Air matanya terus menetes tanpa henti. Gentala yang melihat itu berusaha untuk menjangkau dan menenangkan Kirana.
Namun tampaknya, Kirana tidak mengetahui sama sekali kehadiran Gentala. Seakan sosok Gentala seperti mahkluk gaib yang tidak terlihat. Gentala menjadi bingung, teriakannya tak didengar Kirana.
Memang ini semua merupakan ujiann untuk menyempurnakan dan membersihkan aliran energi pada Cakra Jantung/Anahata. Di sisi luar, Ki Bajra waspada ketika dari dalam dada Gentala keluar bayangan hitam, yang kemudian menyelimuti seluruh tubuh Gentala.
Ki Bajra akan mengambil resiko membangunkan Gentala dengan paksa, jika sampai matabari terbenam bayangan itu tidak hilang. Kecemasan Ki Bajra cukup beralasan, jika Gentala tak mampu melalui cobaan ini, maka Gentala akan mengalami luka dalam yang serius, bahkan sampai menderita kelumpuhan dan mati.
"Nyai, keluarlah, bantu bocah ini, aku tidak bisa masuk kedalam kesadarannya", pinta Ki Bajra sambil melihat buntalan kain di samping Gentala.
Wardhani tidak banyak bertanya, langkah penting yang bisa ia lakukan adalah membantu Gentala. Setelah menampakkan wujudnya di hadapan Ki Bajra, ia lalu membantu mengalirkan energi kehidupan ke tubuh Gentala.
"Kita tak akan dapat membantu dengan cara seperti ini", ucap Ki Bajra.
Ki Bajra lalu merapal ajian Ngrogoh Sukmo, untuk mengirimkan Sukma Nyai Wardhani ke tubuh Gentala. Selesai ia merapal mantra, sukma Wardhani seperti terhisap ke dalam tubuh Gentala.
Wardhani menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Ia melihat Gentala seperti orang gila yang bicara sendiri dengan batu di sana. Sayup-sayup Wardhani mendengar nama Kirana terus disebut oleh Gentala.
"Oalah dasar bocah edan, sekarang jadi beneran gila", ucap Wardhani tanpa ekspresi.
__ADS_1
Lalu ia menuju tempat Gentala dan langsung menendang dan memukulnya. Ini adalah salah satu upaya agar kesadaran Gentala kembali. Ia menghajar habis-habisan sukma Gentala, sampai akhirnya....
"Nyai, apa yang kau lakukan", tanya Gentala.
"Menyadarkan bocah edan, yang saat ini tergila-gila dengan Kirana", jawab Wardhani. Tampaknya ia telah berhasil membuat sadar Gentala. Selepas itu Wardhani memberikan nasehat, agar setidaknya merelakan perasaannya saat ini.
Berbagai macam nasehat yang diberikan, ternyata memiliki efek. Diluar, kabut gelap yang menutupi tubuh Gentala lenyap, telah berganti menjadi hijau. Ini menandakan halangan pada cakra jantung telah dapat dilalui. Sukma Wardhani tampak keluar setelah itu.
Selanjutnya Cakra Perut/Manipura, tidak banyak hambatan pada saat pembersihan cakra ini, karena memang telah terbuka sempurna sebelumnya. Munculnya cahaya kuning di sekitar perut mengakhiri pembersihan di titik ini.
Cahaya jingga perlahan muncul di bawah perut Gentala, ini merupakan titik dimana Cakra Seksualitas/Svadhisthana berada. Setelah itu pembersihan cakra menuju titik paling akhir di tubuh Gentala, yaitu Cakra Bumi/Muladhara. Cahaya merah yang keluar di sekitaran tulang ekor, mengakhiri pembersihan pada cakra utama.
Dua hari dua malam telah terlewati saat ke tujuh cakra dalam tubuh Gentala terbuka lebar. Namun proses ini masih belum berakhir, ia masih harus mengalirkan energi kehidupan di seluruh nadi dalam tubuhnya.
Teriakan keras terdengar, bersamaan dengan munculnya guratan-guratan otot yang terlihat keluar di lengannya. Guratan itu mengeluarkan cahaya ke emasan, sehingga terlihat nadi di tubuhnya hampir meledak.
"Aaakhh..... " , teriakan panjang, sering kali keluar dari mulut Gentala. Pada proses ini baik Ki Bajra maupun Wardhani tidak bisa ikut campur. Karena bisa berakibat hancurnya nadi-nadi kecil dalam tubuh Gentala.
Memakan waktu hampir satu hari satu malam, untuk Gentala menyelesaikan tahapan akhir semedinya. Saat matahari telah condong, proses pembukaan cakra dan pembersihan nadi di tubuh Gentala telah selesai.
Tubuhnya ambruk ke belakang tiba-tiba membuat kaget Ki Bajra dan Wardhani. Kemudian Ki Bajra memeriksa keadaan Gentala dan tersenyum.
"Nadi naga.... ", ucap Ki Bajra lirih menggantung. Tampaknya ada hal lain yang di sembunyikan Ki Bajra yang membuat penasaran Wardhani.
"Ki, ada apa dengan nadi Gentala", selidik Wardhani.
Ki Bajra lalu menjelaskan, saat ini seluruh nadi di tubuh Gentala telah terbuka dengan sempurna, saatnya melalukan pelatihan dengan sebenarnya. Hanya menunggu Gentala siuman untuk memulainya.
__ADS_1
Senyuman Ki Bajra mengisyaratkan, bahwa akan diperlukan metode pelatihan yang benar-benar berbeda. Butuh tempat khusus yang memiliki energi besar, dan itu bukan di Bukit Klotok.
Bisa dibilang, energi kehidupan di sekitar tempat itu telah ludes di sedot Gentala. Perlu waktu satu purnama, agar energi di tempat itu kembali seperri sedia kala.