
Walang Ijo kemudian menceritakan bahwa saat ini ada dua orang yang akan menuju puncak Dieng, Palarasa dan Wardhani. Menurut hasil pendengarannya, saat mengintai mereka, Walang Ijo tahu bahwa Wardhani bukan hanya berasal dari Puncak Dieng, tetapi juga seorang yang memiliki kedudukan tinggi disana.
"Aku bisa saja mengalahkan gadis itu, tapi aku tidak tahu kekuatan lelaki yang bersamannya. Ia sama sekali tidak mengeluarkan jurus tertentu saat mengalahkan salah satu komplotan Lowo Ireng.
Setelah mendapatkan informasi dari Walang Ijo, Durgandhini tampak tersenyum. Ia yakin gadis yang diceritakan itu adalah putri raja kerajaan Sembungan. Hanya ada satu gadis yang menggunakan selendang ungu sebagai senjata di kerajaan itu.
Durgandhini segera memerintahkan anak buahnya untuk mengumpulkan para sesepuh padepokan. Ada tiga orang yang ilmunya setingkat Walang Ijo, yaitu Hanudhara, Durmadha, dan Nandhaka.
Sedangkan Durgandhini sebelum menguasai Kitab Handratantra, sebenarnya masih dibawah Walang Ijo. Tetapi setelah menguasainya, ia memiliki ilmu yang lebih tinggi dari Walang Ijo.
Ketiga sesepuh padepokan, segera bersiap dan berkumpul di kediaman Durgandhini. Setelah kelima orang itu siap, mereka berangkat dengan kecepatan penuh. Meloncat diatas dahan pohon menembus hutan lebat.
Perjalanan mereka cukup cepat, tidak sampai tengah hari mereka telah sampai di arena pertarungan antara Wardhani dan Lowo Ireng. Mereka beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaga dalamnya, terutama Walang Ijo, yang sudah sejak kemarin belum beristirahat.
*****
Palarasa menghentikan semedinya, setelah mendengar suara ayam hutan berkokok. Sedangkan Wardhani masih terlihat tidur bersandarkan pohon pinus, yang memang habitatnya di pegunungan.
Palarasa berjalan disekitar tempat itu, untuk mencari buah-buahan atau tanaman yamg bisa dimakan. Pengalamannya mengembara bertahun-tahun, membuatnya bisa menghafal tanaman hutan yang bisa dimakan di wilayah pegunungan ini.
Ia tersenyum saat menemukan tanaman merambat, batangnya memiliki duri. Kemudian ia menggali pada pangkal tanaman tersebut dan menemukan tiga buah polo pendem (umbi-umbian) seukuran betis orang dewasa.
Gembili, nama umbi yang saat ini sedang dibakar oleh Palarasa. Bau harum yang muncul dari hasil bakaran gembili itu, menyebabkan Wardhani terbangun. Ia mengumpulkan kesadaran sambil mengulat badannya.
Kemudian Wardhani mendekat ke perapian yang sudah padam, menyisakan bara api untuk membakar gembili. "Makanlah dulu, setelah itu kita akan melanjutkan perjalanan", ucap Palarasa.
Wardhani menerima potongan gembili yang masih mengepulkan asap, dan ia mulai memakannya. "Bopo, kalau boleh aku tahu, tenaga dalam apa yang bopo gunakan pada saat menyembuhkanku ?", tanya Wardhani.
"Prana, di tempat asalku, kami menyebutnya begitu", jawab Palarasa. Palarasa kemudian menjelaskan bahwa antara prana dan tenaga dalam, hampir tidak ada bedanya. Bahkan diperlukan kemampuan khusus untuk bisa membedakannya.
__ADS_1
Perbedaan mendasarnya adalah bahwa prana bersumber dari alam semesta, dan tenaga dalam berasal dari kekuatan tubuh.
"Akan sangat besar kekuatan seseorang yang bisa menggabungkan keduanya", lanjut Palarasa. Wardhani semakin tertarik untuk mempelajarinya dan meminta Palarasa untuk mengajarinya.
Palarasa dengan senang hati menerima permintaan Wardhani, karena ajaran yang ia yakini adalah tentang cinta kasih dan berbuat baik kepada semua manusia. Palarasa tidak menyadari bahwa sifatnya itu, suatu saat akan menimbulkan niat buruk orang lain untuk mencelakainya.
"Aku akan membuka ketujuh cakra dalam tubuhmu, agar energi prana bisa mengalir dengan lancar. Besar kecilnya kekuatan yang masuk, tergantung seberapa besar nadimu bisa menampung." ucap Palarasa.
Palarasa kemudian memegang pergelangan tangan Wardhani, untuk melihat jenis nadi yang dimilikinya. Palarasa menemukan, bahwa Wardhani memiliki Nadi Rumput. Kemudian ia berdiri di belakang Wardhani.
Palarasa menggerakkan tangan kirinya kearah langit, dan menekuk pergelangan tangannya sehingga telapak tangan menghadap langit. Sedangkan tangan kanannya, ia tekuk semua jari kecuali jari telunjuk dan jari tengah. Ia gunakan kedua jari itu untum mengukir sebuah rajah.
Rajah yang tercipta di udara yang kosong itu, muncul dengan guratan warna emas. Kemudian Palarasa menggerakkan tangan kanannya untuk memasukkan energi alam semesta yang ia tarik melalui tangan kirinya.
Energi itu masuk melalui cakra mahkota yang terletak di ubun-ubun Wardhani. Wardhani merasakan kekuatan hebat masuk kedalam tubuhya. Tubuhnya secara reflek bergerak tak beraturan, menandakan sumbatan-sumbatan di beberapa aliran nadi.
Palarasa kemudian menghentikan aliran energi murni kepada Wardhani, setelah gerakan-gerakan Wardhani menjadi pelan dan akhirnya terhenti. Kemudian ia bersila untuk mengisi kembali tenaganya yang hampir habis.
Kemudian Wardhani berdiri dan memasang kuda-kuda, mencoba kekuatan barunya. Ia menghimpun tenaga dalam di tangan kanannya, dan menghantam dengan keras pohon pinus tempat ia bersandar.
Dhhuuumm...... krraakkk .... suara ledakan dihasilkan dari pukulan itu. Pohon pinus seukuran tubuh orang dewasa itupun tumbang dengan satu serangan. Wardhani kaget campur gembira, ia tidak menyangka kekuatan pukulannya meningkat drastis. Setidaknya tiga kali lipat, atau bahkan lebih.
"Kau cukup hebat Wardhani, latihlah terus pernafasanmu, maka energi prana dalam tubuhmu akan semakin besar", ucap Palarasa. Kemudian ia mengajari Wardhani olah nafas, dengan menggunakan metode Nafas Segitiga.
Kelak, metode inilah yang menjadi teknik rahasia keluarga Arya.
*******
Tiga ratus tahun kemudian, tepatnya di Alas Wonojoyo, Arya tampak berdiri di depan pohon Joho. Ia masih bingung dengan apa yang baru saja dialaminya. Si Bonggol masih terlihat meringkuk seperti saat sebelum ia masuk ke dimensi lain.
__ADS_1
Ia memeriksa medali bintang yang ada di tangannya, lalu mengguncang-guncangnya. "Tidak ada yang aneh", ucap Arya. "Aaarggghh.... hentikan bocah edan", teriak Wardhani dengan marah-marah. Kini ia menjadi penghuni batu bintang itu dalam wujud sukma.
Wardhani akan muncul seperti kabut asap berbentuk seorang wanita, saat berbicara dengan Arya. Ia hanya bisa muncul, jika medali bintang itu berada di dekat Arya, dengan radius satu depa.
"Maaf Nyai, aku kira tadi cuma hayalanku saja, ternyata memang benar terjadi", jawab Arya sambil cengengesan. "Dasar bocah edan, Kamajaya saja takut kepadaku", batin Wardhani.
Wardhani kemudian menyuruh Arya untuk beristirahat, sebelum besok melanjutkan perjalanan. Ia sendiri melakukan meditasi di dalam medali yang di bawa oleh Arya.
Si Bonggol meringkik dengan keras, seakan membangunkan majikannya. "Bonggol, inikan masih pagi, matahari juga belum muncul, aku masih mengantuk", ucap Arya sambil menguap. Ia berbicara seakan mengerti bahasa kuda.
"Bangunlah Arya, aku akan melatihmu sebelum meninggalkan hutan ini", ucap Wardhani. Arya menuruti perkataan Wardhani, daripada mendengar omelan cerewetnya.
Saat ini tenaga dalam Wardhani sudah kembali utuh, nampaknya semedi yang ia lakuka semalaman di dalam batu bintang tidak sia-sia. Kemudian ia menyuruh Arya meletakkan tangan kanannya diatas batu itu.
Setelah tangan Arya diatas batu, energi kehidupan masuk dengan cepat ke tubuhnya, jauh lebih besar dari yang kemarin ia rasakan. Kondisi ini membuat Arya masuk kedalam alam bawah sadarnya. Ia mendapati disana Nyai Wardhani tengah berdiri dan memegang sebuah pedang.
"Aku akan melatihmu teknik dasar pedang", kata Wardhani. Kemudian ia mencontohkan gerakan-gerakan dasar, yang ia pelajari dari Kamajaya. Meskipun hanya gerakan dasar, teknik ini, tidak ada celah sama sekali.
Wardhani mengeluarkan pedang dari sarungnya, dan melakukan gerakan melompat sambil menebas kearah samping, kemudian memutar menebas kearah belakang. Gerakan demi gerakan ia lakukan, sementara Arya dengan malas-malasan memperhatikan.
"Lakukan seperti tadi", ucap Wardhani sambil melempar pedangnya kearah Arya. Arya mulai menirukan gerakan yang tadi dicontohkan Wardhani. "Gerakan kakimu kurang lebar, itu mudah dijatuhkan lawanmu", Wardhani nampak memberi arahan.
"Kunci ilmu pedang adalah pada hatimu, satukan hatimu dengan pedang maka ia akan menjadi teknik tak terkalahkan", ucap Wardhani. Setelah puluhan kali mencoba, akhirnya Arya bisa menirukan teknik dasar itu.
"Arya, ketahuilah teknik pedang dasar ini bernama Pedang Bintang Menyapa Langit", Wardhani menceritakan bahwa masih banyak teknik pedang milik Kamajaya yang tingkat tinggi. Wardhani bukan tidak menyadari, ketidak seriusan Arya dalam mempelajari ilmu kanuragan.
Ia mengingatkan dirinya kepada Begawan Palarasa, yang juga tidak tertarik dengan ilmu kanuragan, tetapi pendapat merupakan seorang tabib luar biasa dan memiliki pemahaman energi prana tingkat tinggi. Ia masih teringat, bagaimana Palarasa membuat diriny dan beberapa pendekar memiliki kemampuan tiga kali lipat dalam semalam.
"Arya, dengarkan aku, mulai sekarang jangan kau gunakan namamu itu", Wardhani mengingatkan. Ia khawatir akan ramalan yang disampaikan seorang Pertapa Suci, tiga ratus tahun yang lalu, dan menceritakannya kepada Arya.
__ADS_1
Ramalan itu menyebutkan, apabila ada keturunan Kamajaya bisa menyatu dengan medali bintang, maka disisi lain kitan Handratantra juga akan memilih penerusnya. Dan saat ini salah satu ramalan telah muncul.
Update setiap hari pukul 20.00 WIB.