
Pohon Ensnare adalah pohon raksasa yang diciptakan Meldanova dengan ketinggian 1280m, pohon Ensnare ini dikelilingi oleh air terjun, sehingga menciptakan embun disekitar pohon itu. Untuk melewati air terjun dan sampai ke pohon Ensnare hanya ada satu jalan, yaitu jembatan tua yang telah usang. Diketahui jembatan itu telah diberi mana sihir oleh Meldanova di mana orang yang melewati jembatan tersebut akan sampai ke pohon Esnare dengan jarak waktu puluhan tahun. Adapun yang pernah mencoba melewatinya, mereka terjebak diantaranya tak dapat melanjutkan dan tak dapat kembali, mereka menyebut jembatan tersebut dengan Jembatan Tak berujung.
Meldanova tampak memperkenalkan wilayahnya seraya menundukan kepala sambil meletakan tangan kanan ke dada dan meletakan tangan kiri ke pinggang belakang, layaknya pelayan bangsawan yang tunduk pada tuannya.
"Selamat datang di tanah Outcast."
Seolah tak memperdulikan, Mikaru tengah asik berlari kesana kemari melihat pemadangan yang luar biasa dari ketinggian. "Wooooaaaa ... apa ini surga?"
"Ini adalah tanahku, tempat tinggalku."
Melirik ke arah Meldanova. "Apa pohon ini juga milikmu?"
"Tentu, aku juga yang menciptakannya."
"Ba-bagaimana kau bisa membuat semua ini ...?"
"Itu karena aku seorang penyihir."
"Penyihir?"
Terdiam sesaat Mikaru memperhatikan Meldanova dengan sangat detail.
Wajahnya sangat cantik, tubuhnya halus dan putih, rambutnya yang bergelombang tampak berkilau dan panjang hingga ke punggung, dilihat dari bentuk tubuh yang ideal begitu pula penampilan yang anggun.
"Bagaimana bisa itu disebut penyihir?"
"Haha ... bagaimana sosok penyihir dalam pikiranmu?"
Melipat tangan seraya memikirkan sesosok penyihir dalam pikirannya Mikaru menjawab. "Wanita tua bungkuk dengan hidung panjang menggunakan tongkat serta topi yang ukurannya tiga kali lebih besar dari kepalanya, merucut seperti jarum ... kurang lebih, seperti itu."
"Haha ... justru semua penyihir itu tidak ada yang tua." Bergerak melangkah mendekati Mikaru ia melanjutkan ucapannya. "Bagaimana aku bisa berbicara dengan bahasamu pun juga termasuk bagian dari sihirku."
Seketika Mikaru terdiam.
"Be-benar juga ... bukan kah sebelumnya aku tidak dapat berbicara dengan pasukan kesatria."
Melirik ke arah tangan kanannya. "Tanganku ...?"
"Aku sudah menyembuhkannya."
"Ba-bagaimana bisa."
"Di-di mana Rumia?"
Mikaru teringat malam sebelumnya saat kejadian tragis yang menimpa dirinya.
"Rumia? Maksudmu salah satu dari ketiga wanita itu?"
Ia pun berlari meninggalkan Meldanova menuju anak tangga mengarah ke lantai dasar untuk mencari jalan keluar.
__ADS_1
Desah nafas yang tersedak-sedak ia berlari sekuat tenaga menuruni tangga.
"Hah ... hah ...."
Melihat tingkah Mikaru, Meldanova menghela nafas dan membiarkannya lalu bergumam. "Tak jauh berbeda, di sini maupun di sana, kurasa semua manusia sama saja, hah."
"Di mana pintunya?"
Tiap kali menuruni lantai ia selalu bertemu dengan pintu dan setiap kali ia membukanya ia selalu memasuki ruangan yang sama.
"Di mana jalan keluarnya?"
Dan itu terus berulang-ulang, entah berapa kali ia sudah menuruni tangga hingga akhirnya kakinya mulai lelah, langkahnya perlahan melambat.
Langkah Mikaru terhenti sesaat di pintu ke 63.
"Isinya sama saja .... DI MANA JALAN KELUARNYA!" Teriak Mikaru dengan lantang, dengung di area tangga yang melingkar membuat suaranya bergema hingga membuat Meldanova menghampirinya.
Tampak sesosok tangah berdiri di atas angin tepat di tengah-tengah lantai yang tak memiliki pijakan lalu mendekat dan bertanya. "Sudah lelah?"
Mikaru terperangah melihat Meldanova yang berdiri di atas angin.
"Ka-kau, siapa ...?" Terbata-bata ia bertanya.
"Sudah kukatakan, aku seorang penyihir namaku Meldanova."
"Di-dia penyihir pada malam itu," gumam Mikaru di dalam hati.
"Bagaimana bisa ia berdiri tanpa pijakan."
Melihat Meldanova yang mendekatinya, secara refleks tubuhnya menjauhi Meldanova lalu bersandar pada tembok.
Melihat gerak Mikaru, Meldanova mendekatinya lalu berdiri di anak tangga yang sama dengannya.
"Tak perlu takut, aku tidak akan menyakitimu."
"Kau mencari perempuan itu kan?"
"Di-di mana Rumia ...?" Mikaru bertanya dengan perasaan takut dan tubuh bergetar.
"Maksudmu, salah satu dari ketiga wanita itu?"
"Y-yaa ... di mana Rumia?"
"Mereka bertiga telah mati."
"Bo-bohong ...!"
"Tidak mungkin." Seakan Mikaru tidak percaya dengan apa yang diucapkan Meldanova.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak berbohong."
"Waktu itu ia masih bisa berbicara."
"Tepat saat kedatanganku, ia pun telah tiada."
"Tidak mungkin!"
Seolah tak percaya dengan kenyataan, Mikaru yang syok kehilangan keseimbangan, bertumpu pada dinding dan perlahan terduduk menatap langit-langit.
"Itu tidak benar kan?" Menangisi kejadian yang menimpanya, ia terbayang sosok Rumia dalam pikirannya.
Melihat Mikaru yang tampak begitu sedih, Meldanova berkata. "Maafkan aku, jika saja saat itu aku datang lebih cepat."
Seolah tak menghiraukan ucapan Meldanova, Mikaru hanya tersendu menangisi kejadian itu seraya menyembunyikan wajahnya diantara lutut dan kedua tangannya.
"maafkan aku... jika kau sudah tenang, masukilah ruangan manapun, aku ada didalamnya..." perlahan Meldanova melangkahkan kaki meninggalkan Mikaru yang tengah berduka.
Di tempat yang lain Kameo dan pasukannya memasuki Hutan menuju reruntuhan kota.
"Itu ...." Tunjuk salah satu pasukan mengarah pada bangkai salah satu chimera berkepala buaya.
Mendekati bangkai chimera yang tertancap tombak, Kameo berkata. "Tombak ini milik Rudof.."
"Jadi ini chimera?" Tanya Trisa pada Kameo.
"Ada banyak spesies chimera, beberapa dari mereka mendapatkan multi kemampuan dari hewan-hewan yang digabungkan."
"Seperti sebutannya, mereka diciptakan memang untuk memburu."
Menatap ke dalam hutan Kameo berkata. "Bersiaplah, sebentar lagi kita akan menghadapi beberapa dari spesies mereka."
Perjalanan panjang yang mereka tempuh terhenti sesaat dihadapan bangkai Crock, Jenis Chimera yang diciptakan Meldanova.
Kameo mengarahkan pada pasukannya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar.
Chimera terdiri dari beberapa spesies, diantaranya.
Crock memiliki kepala buaya dan tubuh tringgiling dengan kaki kucing yang memiliki selaput, dan Crock memiliki ukuran tinggi tiga sampai empat meter dengan panjang tujuh sampai delapan meter.
Lalu Pulppy yang memiliki kepala dan tubuh elang berkaki empat dengan ekor kalajengking memiliki dua kaki elang dan dua kaki singa. Diketahui Pulppy memiliki tinggi dua sampai tiga meter dan panjang empat sampai lima meter.
Lalu Beast yang memiliki ciri kepala dan tubuh singa, serta sepasang tanduk kambing dengan ekor berbentuk ular yang memiliki kesadarannya sendiri. Diketahui Beast memiliki tinggi empat sampai lima meter dengan panjang tujuh sampai delapan meter.
Lalu Melt yang memiliki ciri kepala lintah berbadan ular memiliki sepasang senjata layaknya pisau tajam seperti kaki depan belalang sembah. Diketahui Melt memiliki tinggi satu sampai dua meter dengan panjang sembilan sampai dua belas meter.
Berikutnya Buzuzima adalah Chimera pengintai milik Meldanova, bentuknya sama seperti bunglon memiliki ekor layaknya gurita dengan dua tentakel, kepalanya menyerupai kepala bunglon dengan bentuk bibir dua belahan vertikal dan horizontal, lidahnya sangat panjang serta mulut mereka dipenuhi dengan taring, tinggi mereka hanya satu meter dengan panjang delapan meter.
Lalu Chimera terakhir adalah yang terbesar yaitu Babon. Babon memiliki kepala layaknya banteng dengan tubuh landak berekor monyet, tubuhnya memiliki ukuran tinggi lima belas sampai dua puluh meter, kaki dan tangannya tampak begitu kekar seperti gorila, diketahui ia satu-satu yang chimera yang dapat berdiri.
__ADS_1
Kelima Chimera tersebut adalah makhluk buatan Meldanova yang diperuntukan mencari tumbal atau darah untuk Pohon Ensnare, di mana darah yang tumpah di dataran Outcast akan dipersembahkan untuk Pohon Ensnare.