New World : Donpa

New World : Donpa
Melkuera


__ADS_3

Melkuera Kingdom adalah kerajaan yang menguasai tanah Novajan. Novajan berlokasi di timur laut tanah Outcast. Untuk sampai kesana membutuhkan lima hari pelayaran menyebrangi lautan. Beberapa kesatria yang dikirim ke tanah Outcast bertujuan membentuk area tambang. Diketahui ada banyak material yang ada di tanah OutCast.


Kafa Sumi selaku pemimpin pasukan membentuk dua bagian pasukan. Satu pasukan bertugas menjaga para penambang yang di pimpin oleh Jarromi Paulin dan satu pasukan betugas mengeksplorasi tanah Outcast yang dipimpin oleh Rudof Sannah.


Alasan mereka mendirikan benteng dibibir pantai dikarenakan lokasi yang paling aman adalah di sana. Beberapa pasukan banyak gugur saat memasuki kedalaman tanah Outcast.


Tak jauh dari benteng mereka, ada kaki gunung yang mereka gali mencipatakan sebuah terowongan yang diisi 500 penambang dari kerajaan Melkuera.


"Mereka adalah orang-orang yang kami temukan di dalam hutan, tuan," ucap salah satu bawahan yang menyampaikan laporan pada Kafa Sumi.


"Sepertinya mereka bukan berasal dari tanah ini," gumam Kafa Sumi menerjemahkan laporan dari bawahannya.


Saat insiden Black Hole, orang-orang dari Melkuera mendengar suara yang cukup keras dari tengah hutan.


Oleh karena itu Kafa Sumi mengirim tim penjelajah untuk mencari tau sumber dari suara tersebut.


"Terlebih lagi tuan, mereka membawa peralatan asing." Laporan lanjutan dari bawahannya.


"Oh itu aku sudah tahu dari Rudof," jawab Kafa.


Lanjut Kafa bergumam. "Kurasa itu sesuatu yang cukup mahal jika dilelang ke tuan-tuan tanah."


Kafa Sumi berniat mengambil barang-barang tersebut lalu melelangnya di kerajaan Melkuera kepada para tuan tanah yang ada dikerajaannya.


"Siapkan makan dan obat-obatan untuk mengobati luka mereka."


"Siap tuan!" Beranjak pergi meninggalkan ruangan Kafa Sumi.


Hari itu hari yang tenang untuk Mikaru, ia dapat beristirahat dengan tenang tanpa perasaan takut terhadap teror chimera.


Demam tinggi yang ia alami membuat istirahatnya dihadiri mimpi buruk di mana kenangan ibunya semasa hidup kembali menghiasi pikirannya.


Mikaru Donpa adalah anak sulung dari pasangan Ridho dan Ayu. Ayahnya Ridho berkerja sebagai reporter dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.


Dalam mimpi buruk yang dialami Mikaru melihat bayangan ayahnya sedang berbincang dengan atasannya.


Atasannya meminta Ridho untuk meliput berita tentang dampak perang yang dialami bagian timur. Saat itu usia Mikaru masih berusia satu tahun.


"Ta-tapi pak ... apa ini tidak terlalu mendadak," bantah Ridho kepada atasanya.


"Mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa selain kamu ...."


"Anak saya masih kecil, istri saya tidak dapat mengurus rumah sendirian."


"Kami akan membantu keluargamu jika memerlukan sesuatu."


"Ta-tapi pak ...."


Memotong penjelasan Ridho, ia berkata. "Lebih baik mendapatkan pekerjaan dengan hasil besar dari pada kehilangan pekerjaan kan?"


Mendengar ucapan atasannya yang mengisyaratkan jika menolak ia akan diberhentikan, Ridho tak punya pilihan lain selain menuruti perintah atasannya.


Mikaru seakan berada diantara mereka memperhatikan setiap pembicaraan mereka.


"Apa ...."


"Siapa?"


"Siapa mereka ...."


Mikaru dibuat bertanya-tanya dengan sesuatu yang terjadi di alam mimpinya.


Mikaru mengikuti setiap detail yang terjadi pada Ridho, dengan wajah murung ia pulang menuju kediaman keluarganya.


"Ini kan rumahku?"


Melihat rumahnya tiba-tiba Mikaru meneteskan air matanya, Mikaru bergegas berlari ingin membuka pintu. Sayang, ia tak dapat menyentuh gagang pintu. Dia hanya dapat melihat dan mendengar dari setiap kejadian yang ada didalam mimpinya.


"Aku pulang ...."


Sambil membuka pintu lalu melepas alas kaki menuju ruang tengah.


"Dia ... ayahku?"


Memperhatikan gerak gerik Ridho melangkah masuk kedalam rumah menemui ibunya.


Terkejut Mikaru saat melihat ibunya berbicara dengan Ridho sambil menggendong dirinya sewaktu kecil.


"Ii-ibuu ...." Tetesan air mata tak tertahankan, Mikaru berlari ingin merangkul ibunya. Namun, ia tak dapat menyentuhnya.

__ADS_1


Keluarga kecil itu tampak sangat bahagia dengan kesederhanaannya. Mikaru memperhatikan gerak gerik ayah dan ibunya yang bersenda gurau tersenyum dan tertawa dengan sendirinya.


Setelah makan malam, wajah Ridho tampak serius ingin membicarakan sesuatu.


Dari apa yang Mikaru lihat, Ridho tampak berat hati meninggalkan istri dan anaknya yang masih kecil untuk pergi bertugas.


"Jaga dirimu dan anak kita baik-baik ...." Pelukan Ridho menjadi menutup pertemuan mereka.


"Hati-hati ...." Diiringi senduhan yang menahan tangis Ayu melambaikan tangannya.


mimpi yang terlintas di pandangannya tiba-tiba berubah beberapa hari setelahnya.


Tampak seseorang mengetuk pintu mengunjungi ibunya, dia adalah Romi, atasan ayahnya yang memberi perintah untuk bertugas meliput daerah yang berbahaya.


Hampir setiap hari ia berkunjung membawa makanan dan menanyai kabar ibunya.


Mikaru merasa ada yang tidak beres pada Romi.


"Apa maksudnya ini ...." Tampak Mikaru menggeram kesal melihat Romi.


Dalam mimpi Mikaru satu bulan telah berlalu, hampir setiap hari Romi datang menghampiri, namun hari ini berbeda. Romi membawa pesan duka. Ia memberitahukan bahwa ayahnya Ridho telah tewas saat bertugas.


Ayu terpukul mendengar kabar yang menghancurkan impiannya hingga gairah hidup tak tampak lagi diwajahnya. Ia terduduk lemas bersandar pada tembok mendengar ucapan Romi.


Sejak saat itu, Ayu menjadi seorang yang sangat pendiam.


Romi tak henti-hentinya terus kembali setiap hari, tampak raut wajah Romi yang ingin mendapatkan Ayu. Mikaru yang menahan emosi kini sudah tak tertahan lagi, reflek tangannya memukul wajah Romi.


Sayang pukulannya tidak dapat mengenai Romi, hanya sebuah bayangan yang menampilkan kejadian yang dialami ibunya.


"Kenapa ...."


"Dari mana asalnya ingatan ini ...."


Romi menawarkan Ayu untuk menjadi istrinya, demi mencukupi kebutuhan dan keperluannya untuk hidupnya dan anaknya.


Ayu bersikeras menolak Romi, ia lebih memilih membesarkan Mikaru seorang diri dan mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.


Ayu mulai berkerja sebagai penjahit, terkadang ia mendapatkan pesanan memasak dan diwaktu luangnya ia habiskan membuat kerajinan dengan plastik dan kertas yang tidak terpakai.


Mikaru menyaksikan ibunya yang tiada henti berkerja demi mencukupi kebutuhannya.


"Aa ... aku ...."


"Menghabiskan banyak waktu untuk bermain-main."


"Tanpa tahu perjuangan ibuku ...."


Terbata-bata ia menangisi perbuatannya.


"Ma-maafkan aku bu ...!"


Teriak Mikaru hingga terbangun dari tidurnya.


"Ha ... haa ...." Desah nafas saat tersentak, Mikaru bangun dari mimpi buruknya.


Sambil mengusap mata.


"Ma-maaf kan aku bu ...."


Kesadarannya mulai kembali lalu melihat isi camp yang tampak begitu sepi.


"Di mana yang lain ...."


Melirik kiri dan kanan memperhatikan seisi ruangan, ia teringat ponselnya.


"Seharusnya ini sudah aktif."


Melihat jam digital yang ada di ponselnya, ia terkejut.


"Aaaa ...!!! 14 jam aku tertidur?"


Saat tiba di pesisir pantai, ia merubah settingan jam berdasarkan terbitnya matahari. Ia menerka-nerka bahwa pagi itu jam 05.30 AM, saat terbangun telah pukul 19.30 PM.


"Pantas saja perutku terasa sangat lapar ...."


Berdiri mengarah ke pintu keluar camp, tampak di meja ada tumpukan makanan.


"Ternyata ia tidur ...."

__ADS_1


Mikaru melihat Sigit sedang tidur di meja dengan melipat tangannya tepat didepan makanan.


"Huuaaaa ...." Menguap seakan tidur nya masih kurang.


"Aku mau ke toilet dulu."


Setelah keluar, tampak suara huru hara seakan sedang pesta makan malam di tengah-tengah camp.


"Heboh sekali di sana."


"Kurasa Ririn, Mira dan Rumia ada di sana."


Memutari tenda mencari toilet, Mikaru menemukan toilet tepat di belakang campnya.


"Toilet ini persis toilet desa, begitu terbuka atapnya."


Ditoilet kecil tanpa atap, Mikaru membersihkan muka lalu buang air kecil. Setelahnya, ia kembali ke camp tak sabar ingin makan.


Sampai di meja makan, ia kembali memanggil Sigit yang tampak tidur sangat pulas.


"Hey ...."


Menepuk pundak Sigit.


"Apa tidak sakit tidur seperti itu, Sigit?"


Sigit tertidur sangat pulas, sampai-sampai tak menghiraukan panggilan Mikaru.


Semakin merasa kesal Mikaru terus menerus memanggil sambil menarik ulur pundaknya.


"Hoy Sigit ...!"


Semakin keras tarikan Mikaru membuat goyangan yang cukup kuat hingga kepala Sigit memutar.


"Si-sigit?!"


terkejut Mikaru melihat busa yang keluar dari mulutnya, matanyapun terbuka lebar dengan pupil mengarah ke atas tampak seperti menahan sesak nafas.


"Sigit!!!"


Teriak Mikaru mencoba menepuk pipi Sigit.


"Apa yang terjadi ...."


"Sigit!"


"Apa yang mereka alami."


"Bertahan lah ... Sigit!"


"Di mana Rumia ...."


Berlari keluar camp menuju keramian yang ada di tengah benteng.


"Apa kau baik-baik saja ...."


Berlari sambil menangis, ia terbayang wajah Rumia.


"Rumia ...."


"Harusnya lukamu yang cepat diobati."


"Rumia ...."


"Tidak perlu khawatir, aku tidak apa-apa."


"Rumia ...."


"Mikaru, Terima Kasih ...."


"Rumiaaa !!!"


Sesampainya di tengah camp, ia melihat Rumia terbaring lemah tanpa busana.


Ia di kerumuni oleh orang-orang dari benteng perbatasan, tampak wajah bengis sambil tertawa.


"Aa-apa yang mereka lakukan ...."


Tampak diantara mereka sedang bermain sebuah lomba minum minuman keras, tiba-tiba seseorang yang menang duel minum mendekati Rumia, hendak memperkosanya.

__ADS_1


"Bajingan kalian semuaaaa ...!!!"


__ADS_2