
Sihir ilusi yang ada di sekitar pohon Ensnare menyesatkan makhluk lain yang ingin mendekati pohon ini, pohon yang hanya bisa dijelajah oleh pemiliknya atau makhluk yang memiliki kemampuan lebih tinggi darinya.
Lupus dan Ririn yang terbang melewati jurang pemisah antara sisi tanah Outcast dengan tanah pohon Ensnare tampak terjebak dalam sihir ilusi yang dibuat Meldanova, seolah mereka hanya memutari pohon itu.
Merasa ada yang janggal dengan tempat itu, Ririn bertanya, "Apa kita terjebak?"
"Ciih ...." Mengecap kesal karena ucapan Ririn, Lupus mempercepat kecepatannya agar dapat sampai ke tanah yang ada di depannya.
Sebelumnya ....
Aku merasa jarak kedua sisi berkisar 20 km sampai 30 km.
Tapi kenapa ....
Lupus yang sangat percaya diri dengan kecepatannya saat terbang, tersentak bingung kenapa ia tidak bisa melewati jurang pemisah itu, bahkan saat itu Lupus telah meningkatkan kecepatannya hingga terbang dengan kecepatan 6000 km/jam atau 5 kali lipat dari kecepatan suara.
Ririn melirik ke arah Lupus, merasakan ada sesuatu hal yang tidak masuk akal.
"Jika kau sudah lelah, sebaiknya kita kembali terlebih dahulu," ucap Ririn.
Mereka berdua terbang dengan kekuatan Lupus menarik telapak tangan Ririn seolah sedang menyeretnya di udara.
Lupus yang menyadari stamina dan mana nya sudah terkuras cukup banyak, memilih untuk mendengarkan ucapan Ririn. "Hmmm ...." Saut Lupus lalu berkata, "Kurasa kau benar."
Lupus pun memutar badannya dan berbalik arah, kembali ke tempat pertama saat mereka datang.
Sambil menghemat mana dan stamina, mereka terbang dengan santai, namun sayangnya, hingga 4 jam berlalu jalan kembali merekapun tak kunjung mendekat.
Mereka berdua tampak berhenti di tengah-tengah jurang pemisah.
"AAAaaaaa ....!" Teriak Lupus yang merasa kesal dengan situasinya.
Amarah Lupus yang meluap, membuatnya melemparkan bola hitam dengan tangan kirinya ke arah tepi jurang tempat mereka tiba sebelumnya.
"Haaa ....!"
"Ba-bagaimana bisa?"
Serentak mereka berdua berkata, setelah melihat bola hitam seukuran bola kaki yang dilepaskan Lupus tak kunjung sampai ke tepi jurang.
Sambil menunjuk ke arah pohon Ririn berkata, "Coba tembak ke arah sana."
"Hoo ...." Mengikuti kata-kata Ririn, Lupus menembakan kembali ke arah pohon Ensnare, arah berlawanan dari tembakan pertama.
Setelah tembakan kedua, mereka meyakini bahwa mereka berdua telah terjebak di antara kedua sisi.
__ADS_1
"Siiaall ... sialll ... sialll ....!!" Terlihat teramat kesal Lupus berteriak berkali-kali.
"Aaaa ... bagaimana ini? Aku ingin turun, tanganku sudah kesemutan haaaa ...." Keluh Ririn karena genggaman Lupus yang membawanya terbang terlalu kuat hingga mengalami kesemutan seraya mengibas tangan kanannya ke atas dan ke bawah seperti ayunan palu yang sedang menghantam benda tumpul.
Lupus yang sudah mencapai batas kesabarannya, melontarkan bola-bola hitam ke segala sisi sambil berteriak. "Siall ... siall ... sial ... siall ...!! Tempat macam apa ini!"
Bola-bola sihir yang dilontarkan dengan kecepatan tinggi tampak melesat dan tak satupun yang mencapai target, berbeda cerita dengan bola-bola sihir yang Lupus lontarkan ke sisi yang tidak mengarah ke tepi jurang.
"Haa ...?" Terkejut Lupus, lalu menghindari serangannya sendiri yang beberapa menit kembali ke titik pelepasan atau tempat Lupus berdiri
"Ba-bagaimana bisa ...," ucap Ririn sambil memperhatikan bola sihir yang dilontarkan Lupus lewat di hadapannya.
Bola-bola yang di arahkan ke sisi kiri dan kanan seolah tampak memutari pohon Ensnare, layaknya sebuah planet yang mengorbit matahari.
Ririn dibuat kebingungan dengan situasi yang tidak masuk akal ini, ia melirik ke arah bola hitam yang di arah kan ke tepi jurang, hingga saat ini tak kunjung sampai, sementara bola-bola sihir yang di lontarkan ke arah kiri dan kanan justru malah kembali melewati mereka.
"Lupus ...!!" ucap Ririn sambil menunjuk bola yang melewati mereka.
"Ciiih ...." Mengecap kesal, Lupus seolah paham maksud Ririn yang mengajaknya terbang mengikuti bola itu.
Meski hal itu sia-sia, Ririn penasaran dengan area sekitar pohon Ensnare. Hingga akhirnya mereka terbang sampai di atas jembatan penghubung sekaligus satu-satunya jalan masuk ke pohon Ensnare.
Ririn dan Lupus mendarat di tengah-tengah jembatan penghubung atau dikenal sebagai jembatan Keabadian.
Setelah menginjakan kaki mereka di atas jembatan, suasana tampak berubah. "A-apa yang terjadi ...?" ucap Ririn memperhatikan sekitar jembatan tampak mulai berkabut dan menutup pandangan mereka.
"Sebaiknya kita mengikuti jalan ini," ucap Ririn sambil mengepalkan tangan kanan di dadanya, seolah tampak ketakutan dengan tekanan sihir yang tinggi di sekitar area pohon Ensnare.
Perjalanan mereka berlanjut dengan melewati jembatan Keabadian, dengan jarak pandang yang terhalang kabut mereka berdua berjalan sangat waspada sambil memegang tali pembatas jembatan.
Merasakan tekanan sihir yang membuat nafasnya terasa sesak, Ririn bertanya pada Lupus. "A-apa kau merasakan tekanan ini ...?" Terbata-bata seolah mencemaskan sesuatu yang tidak ia ketahui.
Tidak menjawab pertanyaan Ririn, Lupus tampak melirik kiri dan kanan dengan tatapan tajam, ia mewaspadai keberadaan sesuatu dari tekanan sihir yang kuat ini.
Tekanan sihir adalah aura sihir seseorang yang menekan mana dan core di sekitarnya. Beberapa aura sihir yang kuat menimbulkan efek yang sangat berbahaya bagi lingkungannya.
"Uhuuekk ...!!" Tertunduk Ririn kehilangan keseimbangan, tangan kirinya mengepal di dada dan tangan kanannya bergantungan di tali pembatas jembatan.
Melihat Ririn yang tertunduk membuat Lupus sedikit panik lalu memegang punggung Ririn. "Apa yang terjadi?"
"Da-dadaku ...." Dengan ucapan yang terbata-bata Ririn menjelaskan. "Te- ... terasa sesak."
Seketika dari balik kabut tebal terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat mendekati mereka, Lupus yang merasakan kehadiran sesuatu langsung melirik ke sumber suara. Langkah kaki yang begitu cepat datang dari arah depan, belum sempat mata melirik ke sumber suara tiba-tiba Lupus terlempar begitu jauh hingga keluar dari jembatan dan menghantam perbukitan.
BUAAAARR ....
__ADS_1
Akibat dari tendangan yang kuat membuat kabut di sekitar mereka tersapu setelah serangan yang diterima oleh Lupus.
"K-kau ...?" ucap Ririn melihat sesosok pria berdiri tegak di hadapannya. "Donpa?"
"Tekanan sihir yang sangat kuat ini berasal dari Donpa?" gumam Ririn melihat Donpa yang berdiri di hadapannya, seolah tidak percaya dengan kekuatan Donpa.
Mendengar sapaan Ririn, Donpa melirik dengan tatapan tajam.
"Donpa ...." Mata Ririn tampak berkaca-kaca melihat Donpa yang masih hidup.
Tidak tersenyum sedikitpun, Donpa tampak mengulurkan tangan kanannya seolah sedang memanggil sesuatu.
Darah kental keluar dari pori-pori tangan kanannya lalu tumpah membahasi jembatan, gumpalan darah yang terjatuh di lantai jembatan tiba-tiba memanjang, membentuk sebuah pendang yang terbuat dari darah.
Tanpa sepatah katapun Donpa tampak hendak menebas Ririn.
Lupus yang terhempas jauh, melesat kembali melakukan serangan balasan dengan mendaratkan kaki kanannya ke arah wajah Donpa.
Seolah serangannya telah terbaca, tanpa melihat, Donpa menangkap kaki Lupus yang hendak menyerangnya.
"Haa ...?"
Pedang darah yang sebelumnya di arahkan ke Ririn, kini mengarah ke Lupus.
Menyadari serangan itu, Lupus memutar tubuhnya agar dapat terlepas dari cengkraman Donpa, meski ia harus memelintir kaki kanannya.
Serangan Donpa berhasil dihindari Lupus, hingga cengkraman Donpa pun terlepas, dengan kemampuan vampir yang cepat dalam beregenerasi, tulang kaki kanan yang patah dapat pulih kembali.
Lupus mengeluarkan sihir asam yang dapat melenyapkan suatu benda dan sihir itu ia gunakan untuk menyerang Donpa.
Cairan asam berwarna hijau yang keluar dari mulut Lupus diterima oleh Donpa tanpa harus menghindarinya.
"Kena kau ...," ucap Lupus setelah serangannya mengenai Donpa.
Tubuh Donpa yang terkena cairan asam tiba-tiba meledak, darahnya memercik ke sekitar tempat ia berdiri.
"A-apa ...?" Lupus tampak bingung cairan yang ia keluarkan seketika menghilang bersama dengan ledakan darah yang keluar dari tubuh Donpa.
Tanpa disadari Donpa melompat ke arah Lupus lalu menebasnya, Lupus yang tidak dapat menghindarinya mencoba menahan dengan tangannya.
Serangan Donpa berhasil mengenai Lupus,
satu tebasan lalu di ikuti tendangan kuat yang menghantam perut Lupus.
Lupus yang terhempas mundur, diikuti oleh Donpa. Melompat sebelum Lupus terhenti, ia kembali menyerang Lupus dengan segala sisi.
__ADS_1
Lupus yang tidak dapat mengambil kesempatan hanya bisa mengikuti serangan Donpa, hingga akhirnya ia terlempar ke langit-langit dan ditutup dengan pukulan keras Donpa hingga terdengar suara dentuman yang sangat kuat dari benturan tubuh Lupus yang menghantam tanah.