New World : Donpa

New World : Donpa
Mana Lost


__ADS_3

Pertemuan Donpa dengan Meldanova telah diakhiri dengan tertutupnya tirai malam, pagi ini Donpa terbangun dengan rasa mual yang sengat hebat serta tubuh terasa lemas. "Huhh ... haah ...." Desah nafas Donpa yang terengah-engah, kemudian terbangun dari tidurnya.


"A-apa yang terjadi," ucap Donpa sambil memegang dahi dengan tangan kanannya.


Donpa tampak kehabisan mana, kepalanya terasa pusing seolah sedang berputar serta tubuhnya bergetar dan berkeringat cukup banyak hingga membasahi seluruh pakaian dan kasur yang ia gunakan.


Perlahan ia meraih air di dalam botol dan bio potion, lalu meneguk ke duanya hingga habis untuk memulihkan staminanya.


"Si-sial ..., kaki dan tanganku terasa lemas, kepalaku pusing dan mual," ucap Donpa sambil menutup mulutnya seolah ingin muntah.


Apa yang dialami Donpa adalah kondisi di mana seseorang terlalu banyak menggunakan mana, Donpa yang belum terlatih dalam menggunakan dan menyetabilkan mana, kini mengalami penurunan energi kehidupan dalam jiwanya, mereka menyebutnya Mana Lost.


Ia pun bersandar di dinding kamar lalu perlahan menyeret punggungnya dan duduk bersandar. "Aku butuh makanan," ucap Donpa lalu merangkak mendekati ransel dan mempersiapkan sarapannya.


Dalam kondisi Mana Lost, seseorang merasa begitu lemas hingga pandangan mereka tampak gelap, rasa pusing yang begitu hebat membuat lambung terasa mual, gejala itu lebih parah dari gejala Vertigo.


Jika terus dibiarkan, seseorang akan kehilangan jiwanya atau mati tanpa sadar.


"Sii-sial ..., pandanganku mulai pudar."


Belum sampai meraih ranselnya, Donpa tergeletak pingsan.


Beralih ke Gua Ogre, tampak dua perempuan tengah bertarung seimbang, melayangkan beberapa pukulan dan saling menghindar satu sama lain.


"Haha ..., apa hanya segitu saja kemampuanmu?" Provokasi yang dilakukan Lupus setelah menghindari serangan Ririn.


"Si-sial ...." Menggeram kesal Ririn melihat Lupus.


Perubahan wujud Ririn terjadi, tampak pancaran sinar hijau yang memadat seolah membentuk sesuatu di punggung Ririn.


"Sebagai seorang manusia, kau cukup menarik dan cukup kuat," jawab Lupus lalu menyerang Ririn dari arah depan.


Kecepatan Lupus semakin lama semakin sulit dilihat oleh Ririn, hingga akhirnya Lupus berhasil memukul perut Ririn dengan tangan kanannya.


"Uhuk ... uhuk ...."


Suara batuk akibat pukulan keras yang mengarah ke perut Ririn, hingga ia mengeluarkan air liurnya.


Serangan keras dari Lupus berlanjut dengan tangan kirinya yang memukul kepala Ririn, lalu dilanjutkan dengan tangan kanannya, serangan beruntun yang memukul Ririn sebanyak 9 kali dalam satu detik diakhiri dengan tendangan memutar yang melempar Ririn sejauh 2 kilometer menghantam pohon dan bebatuan.


Ririn yang terhenti di bebatuan gua, terbatuk mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Uhuk-uhuk ... akh ..., kuat sekali pukulannya, sampai sejauh ini aku terhempas," ucap Ririn perlahan bangkit.


Belum sempat berdiri, Lupus telah lebih dulu berada di atas Ririn, ia tampak bersiap mengeluarkan sihir yang ia kumpulkan di telapak tangannya mengarahkan ke Ririn.


Partikel yang berkumpul membentuk bola hitam kemerahan menyerupai kilatan petir yang menyambar.


Seketika tempat itu tampak sangat terang dan kering, Ririn yang tidak menyadari keberadaan Lupus, melirik ke sumber suara yang terdengar seperti bunyi aliran listrik yang menyambar.


"Bo-bohong kan ...!!!"


Seolah tak percaya Ririn menatap Lupus yang ingin menyerangnya dengan sihir yang besar itu.


"Haha ..., kau sudah menyerah?" Lupus tertawa melihat ekspresi Ririn yang terlihat putus asa.


Energi yang dikumpulkan Lupus terlalu besar hingga area di sekitarnya bergetar, Ririn menatap gumpalan bola energy yang pekat dan ia tidak dapat bergerak sedikitpun, tubuhnya bergetar pikirannya tak dapat mengambil keputusan, hingga akhirnya ia terdiam menatap lupus yang menertawainya.


Kekuatan Old Deus benar-benar di luar perkiraanku, sangat kuat ....


Bahkan aku bisa menyerap energy di sekitarku.


Kurasa, dengan ini aku bisa mengalahkan penyihir itu dengan mudah.


Haha ....


Sesaat hendak melepaskan kemampuannya, tiba-tiba secercah cahaya menembus kabut, sinar mentari yang telah dirindukan para penduduk Outcast setelah beratus-ratus tahun kini perlahan menyinari tanah itu.


Merasakan cahaya matahari di pergelangan tangannya, Lupus seketika melirik ke langit-langit, tampak gumpalan asap yang terpisah lalu menghilang.


Raut wajah yang kebingungan, pupil mata yang membesar memfokuskan pandangannya ke arah langit-langit Outcast. "A-apa yang sedang terjadi ...?" ucap Lupus.


Energy sihir yang ia kumpulkan membentuk sebuah bola hitam dengan beberapa kilatan layaknya petir yang menyambar, perlahan mengecil seolah kembali diserap oleh alam. Lupus tampak tidak memfokuskan aliran mananya, perhatiannya teralihkan pada fenomena yang mengejutkan di pagi itu.


100 meter di bawah Lupus, tepat Ririn berdiri, ia juga menyaksikan fenomena itu, seraya bergumam, "Don ... pa ...," ucap Ririn lalu bertekuk lutut seolah merasa lega karena firasatnya Donpa telah berhasil melepaskan kutukan dari Meldanova, serta berhasil mengalahkan Meldanova.


"Ba-bagaimana bisa ...," ucap Lupus lalu melirik Ririn.


Melihat Ririn yang bertekuk lutut, seketika Lupus meluncur dengan cepat menuju Ririn.


"BUUAAARR ...." Terdengar suara hentakan kaki Lupus yang mendarat ke tanah dengan kuat lalu berjalan mendekati Ririn.


"Cepat katakan." Menggenggam leher Ririn, Lupus mengangkat Ririn dengan satu tangannya. "Apa yang terjadi?" ucap Lupus.

__ADS_1


"Te-temanku ..., se-sepertinya ...." terbata-bata Ririn menjawab karena lehernya dicekik oleh Lupus. "Be-berhasil mengalahkan penyihir itu."


"Ma-maaksudmu ...?" Melepaskan Cengkramannya, Lupus berkata, "Teman priamu waktu itu?"


"Ciiih ...!!!" Tampak raut wajah Lupus yang kesal. "Kau ikut denganku...!!!" ucap Lupus membawa ririn pergi ke pohon Ensnare.


"Hee ...?" Ajakan Lupus membuat Ririn bingung.


Lupus tampak menarik pergelangan tangan Ririn, lalu membawanya terbang menuju pohon Ensnare.


Mereka berdua pergi ke pohon Ensnare untuk memastikan kebenaran tentang fenomena yang terjadi di tanah Outcast. Saat mereka terbang, beberapa kali Pulppy dan Buzuzima menyerang mereka, namun serangan itu dapat dengan mudah diatasi oleh Lupus.


Beberapa jam telah berlalu, akhirnya mereka tiba di depan pohon Ensnare, mereka berdua terhenti sesaat di tepi jurang, lalu memperhatikan jarak antara tempat mereka berdiri dengan dataran pohon Ensnare yang dipisahkan oleh jurang sangat dalam.


"Jarak nya cukup jauh, terlebih jurang ini cukup dalam ...." Lupus memperhatikan area di sekitar dan menganalisa apakah ada bahaya atau jebakan di antara kedua sisi, terlebih ini adalah daerah terlarang, tempat tinggal penguasa tanah Outcast.


Berbeda dengan Ririn yang terkejut kagum melihat pemandangan yang sangat menakjubkan.


"Wooaaa ... sangat besar, pohon apa ini?" ucap Ririn yang kagum melihat pohon raksasa.


"Kita tidak punya banyak waktu." Lupus kembali terbang dan membawa Ririn menuju pintu masuk pohon Ensnare.


Dengan kecepatan tinggi mereka berdua mencoba melewati jurang pemisah pohon Ensnare. Lupus yang merasa jengkel bergumam,


Bagaimana mahkluk selemah itu bisa mengalahkan penyihir setingkat Divine.


Ini sangat tidak masuk akal.


Kalaupun ini hanya jebakan dan penyihir itu masih hidup.


Aku akan membunuhnya dengan kekuatan yang baru kudapatkan ini.


Lupus dan Ririn terbang bergandengan, tampak Lupus menggenggam tangan kiri Ririn dengan tangan kanannya, mereka terbang dengan kecepatan tinggi hingga tidak terasa sudah 2 jam berlalu, walaupun mereka sudah terbang selama itu, tetapi mereka masih belum juga sampai ke tepi pohon Ensnare.


Ririn yang bingung sudah berapa lama mereka terbang, mencoba melirik ke arah belakang.


"Aku sudah 3 kali melihat ke belakang, sepertinya jarak kita tidak bertambah dan berkurang," ucap Ririn


"Haa ...? Jangan bercanda kau." Saut Lupus mendengar ucapan Ririn lalu melirik ke tempat asal sebelum mereka beranjak terbang.


Perlahan kecepatan mereka berkurang lalu terhenti, sambil melayang di udara, Lupus memperhatikan sekitarnya.

__ADS_1


"Sial ..., kita terjebak ...!!" ucap Lupus yang lambat menyadarinya.


__ADS_2