New World : Donpa

New World : Donpa
Serangan Vampir


__ADS_3

Diperjalanan yang tidak memiliki landasan yang rata, seperti bebatuan, berlubang, bahkan kondisi jalan yang menyempit, membuat Donpa kesulitan membawa tas carrier besar yang berisi beberapa persenjataan dan peralatan. Ditambah ia membawa tas yang digenggam di tangan kirinya serta membawa sebuah tongkat di tangan kanannya. Cukup berat untuk membawa kembali ke pohon Ensnare.


"Aku tidak bisa bergerak bebas dengan barang-barang ini," ucap Donpa melirik barang yang ia bawa, memastikan tidak ada yang jatuh.


Ia berencana ke gua Ogre untuk melihat-lihat keberadaan para Vampir.


"Sudah berapa lama aku meninggalkan Ririn di sana." Seraya menatap langit mengingat kejadian akhir sebelum ia berpisah dengan Ririn.


Disepanjang perjalanan melewati kaki gunung menuju gua Ogre, Donpa sangat kesulitan melakukan manufer dengan mana controlnya. "Jika aku melompat di antara pepohonan, mungkin barang-barang yang kubawa akan berjatuhan."


Donpa memilih berjalan layaknya pendaki gunung yang melewati terjalnya perjalanan hingga membutuhkan waktu 4 hari untuk sampai di depan gua Ogre.


"Pintu masuknya ... benar-benar tertutup," ucap Donpa berdiri di depan mulut goa.


Meletakan tas yang ia bawa di tangan kirinya serta menurunkan carrier 100 L dari pundaknya, lalu ia berjalan mendekati mulut goa yang tertimbun longsor bebatuan.


"Apa tidak ada celah untukku masuk." Meraba bebatuan yang menutupi mulut gua, dan berjalan mengitari mulut gua.


"Apa sebaiknya kuledakan saja bebatuan ini." Terlintas ide untuk menghancurkan bebatuan yang menutupi pintu masuk gua, Donpa berencana meledakan bom ditumpukan bebatuan.


Ia kembali memeriksa ranselnya lalu mempersiapkan beberapa peledak yang ia bawa dari reruntuhan kota.


"BuuarRR...!!"


Suara ledakan yang kuat dihasilkan dari dinamit, membuat bebatuan yang menutupi gua hancur berterbangan. Donpa yang berlari bersembunyi dibalik batu sejauh 50 meter dari titik ledakan, merasakan getaran dan angin panas yang kuat.


"Uhuuk ... uhhukk ...." Suara batuk Donpa akibat debu yang dihasilkan oleh ledakan membuat tenggorokannya kering.


"Huaaa ... kuat sekali ledakannya," ucap Donpa lalu memperhatikan kondisi tempat ledakan.


"Uhukk ... uhuukk ..., sial debunya terlalu tebal." Pandangan Donpa tak dapat menembus debu yang tebal, hingga ia harus berjalan mendekati titik ledakan.


"Haaa ...?" Ia dibuat kaget melihat tempat yang ia ledakan menjadi lebih berantakan, batu-batu yang sebelumnya hanya menutup mulut gua, kini seluruh wilayah di jatuhi longsoran batu besar hingga gua tersebut tak lagi tampak di mana posisinya.


"Cih ...." Mengecap kesal Donpa berkata. "Bagaimana aku bisa masuk ke dalam sana ...!!"

__ADS_1


"Hmm ...." Sorot tajam mata Donpa mengarah ke arah kanan dari tempat ia berdiri, merasakan ada sesuatu yang akan datang.


Dibalik pepohonan tampak kilauan cahaya yang datang mendekati Donpa, ia lekas menghindar dengan cara melompat mundur beberapa meter.


"Tokk ... tok ...." Suara pisau-pisau yang menancap ke tanah di tempat Donpa berpijak sebelumnya.


Bersiap dengan serangan, Donpa menarik pisau yang ada di pinggang bagian belakang dengan tangan kanannya lalu mencabut pistol dengan tangan kiri yang ada di paha kanan nya.


Menanggapi serangan kejutan seorang Vampir dari belakang, Donpa menangkis pedang Vampir itu dengan pisau yang ia genggam di tangan kanannya, hingga memercikan api layak saat kedua besi beradu. Kesempatan sempurna ia dapatkan, mengarahkan pistol yang ada di tangan kirinya lalu melepaskan tembakan yang mengarah langsung ke kepala Vampir itu.


Peluru itu berhasil mengenai dahi Vampir hingga mengeluarkan darah, tak mau melepaskan kesempatan segera Donpa mengarahkan pisaunya untuk melepaskan pedang vampir yang mengunci pergerakan pisaunya lalu mengayunkan kaki kanannya dengan melakukan tendangan memutar yang mengarah ke perut vampir hingga ia terpental mundur.


"Kena kau ...!!" ucap Donpa melihat vampir itu terpental.


Dari arah berlawanan 2 vampir kembali menyerang Donpa, diikuti beberapa Vampir yang ada di belakangnya.


"Sial ..., mereka terus berdatangan."


Melihat musuh yang terlalu banyak, Donpa berlari ke arah hutan lalu melompat ke dahan-dahan pohon.


Diketahui 28 Vampir tengah mengejar Donpa. "Ku habisi satu persatu di sini," gumam Donpa sambil melompat-lompat di antara pepohonan.


Merasa sudah mengetahui hal itu akan terjadi, Donpa menembak sebanyak 3 kali hingga Vampir yang menendangnya ikut terjatuh.


Mendarat dengan sempurna Donpa langsung mengeluarkan granat lalu melempar ke arah vampir yang datang.


"Buaarrr ...!!" Suara ledakan yang kuat hingga membuat 3 vampir terluka, dua vampir berikutnya yang baru tiba langsung menyerang Donpa dengan sebuah pedang.


Donpa di serang dari dua sisi yang berlawanan, ia memperhatikan setiap gerak kaki vampir itu untuk menghindar lalu menyerang balik.


Ayunan pedang mengarah horizontal dihindari Donpa dengan cara mundur beberapa langkah lalu melemparkan pisaunya hingga tertancap di leher vampir yang menyerangnya, lalu memutar badan untuk memperhatikan gerak serangan vampir dari arah berlawanan.


Serangan berikutnya mengarah lurus dari atas ke bawah, Donpa berhasil menghindari serangan itu dengan menarik bahu kirinya ke belakang, lalu memukul wajah Vampir itu dengan tangan kanannya yang sudah tidak memegang pisau, dilanjutkan dengan tendangan dari kaki kiri dan ditutup dengan dua kali tembakan.


Donpa yang lengah tertusuk 4 anak panah di belakang tubuhnya, tepat mengenai punggung.

__ADS_1


"Akh ...."


Menyadari serangan jarak jauh Donpa mengeluarkan granat asap lalu berlari ke arah semak-semak.


Menyadari masih ada banyak musuh yang mengejarnya, ia menempelkan ranjau di beberapa batang pohon saat pelariannya.


Donpa melompat di antara pepohonan dan berlari menuju ransel yang ada di balik bebatuan, ia menyembunyikan peralatannya agar tidak terkena efek ledakan saat meledakan gua.


"Duar ... duarrr ... duuaarr ...." Tiga suara ledakan lanjutan menandakan para Vampir yang mengejar Donpa terkena perangkap yang ia pasang.


Melirik ke arah ledakan, Donpa berkata. "Siial ..., mereka terus berdatangan."


Tak jauh dari tempat ia menyembunyikan ranselnya, ia melihat 3 vlVampir sudah menunggu di hadapannya. "Ini buruk." Donpa mengarahkan pistol ke arah Vampir yang tampak menunggu ia kembali mengisi persenjataannya, namun peluru dalam pistol tersebut sudah habis.


Merasa sedikit panik, Donpa membuang pistol yang ada di tangan kirinya lalu menarik dua pisau yang ada di paha kanan dan kiri segera ia lemparkan pisau tersebut ke arah Vampir yang ada di hadapannya.


Pisau itu berhasil tertancap di mata dan di leher Vampir hingga keduanya terjatuh dan tersisa satu Vampir.


Donpa berlari semakin dekat ke arah Vampir terakhir yang ada di antara dirinya dan ranselnya, segera ia mencabut pisau yang melintang di bagian dada kanannya lalu bersiap menyerang Vampir itu sambil berlari.


Jarak semakin dekat, ayuan pisau Donpa hampir mengenai leher vampir namun di tangkis oleh sihir angin yang menyerupai anak panah datang dari arah kanan mengenai tangannya, hingga ia melepaskan pisau yang hendak ia gunakan untuk menyerang Vampir itu.


"Cukup ...! Donpa ...!"


Mendengar suara itu, Donpa melirik ke sumber suara, ternyata Ririn dan Lupus sedang berdiri di antara pepohonan.


Donpa mengakhiri serangan itu lalu berkata. "Ka-kau ... masih hidup ...?"


Vampir-Vampir yang mengejar Donpa, tiba di lokasi langsung mendekati Donpa dan menyerangnya.


"Diam ... jangan melawan," ucap Ririn.


Salah satu Vampir dengan cepat mendekati Donpa lalu menendangnya hingga Donpa tersungkur jatuh. Segera beberapa Vampir berusaha membekukan Donpa dengan mengunci pergerakan Donpa lalu mencoba mengikat kedua tangannya.


Donpa yang terbaring mencoba melakukan perlawanan, namun sulit karena kedua tangannya telah diikat dari belakang.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan ...?" Teriak Donpa menatap Ririn.


Salah satu Vampir memukul leher Donpa hingga kesadarannya pun hilang.


__ADS_2