New World : Donpa

New World : Donpa
Perbekalan


__ADS_3

Penggunaan mana yang berlebihan memberikan efek buruk bagi penggunanya, diantaranya akan merasa pusing, mual bahkan mimisan, Donpa yang menyadari akan hal itu terus memaksa latihannya hingga matanya memerah dan mengeluarkan darah.


"Semakin ku paksa semakin kabur penglihatanku." Menatap buku yang ia pegang lalu menutupnya. "Aaakhh ... aku menyerah."


Mengeluh dengan kegagalannya membuat ia merentangkan tangan seolah menyerah dan bersandar di kursi sambil menatap langit perpustakaan tersembunyi milik Meldanova.


"Sudah beberapa hari aku mencobanya, tidak sedikitpun adanya kemajuan," bergumam seraya menatap lampu yang menyala di perpustakaan.


Lampu-lampu yang ada di dalam pohon Ensnare bukan lah lampu yang menyala dari aliran listrik, lampu-lampu tersebut terbuat dari lighting crystal, dapat menyala dengan cara menghisap sebagian kecil mana yang ada di sekitarnya.


Mengangkat tangan seolah menutup sinar dari lighting crystal yang menyorot matanya menggunakan telapak tangan, Donpa bergumam, "Jika mana mampu memperkuat indra, harusnya aku bisa dengan mudah membaca buk-(buku)." Donpa terhenti seolah menyadari sesuatu, lalu kembali membuka buku yang ada di meja.


Aku mengerti sekarang.


Tentu saja aku tidak dapat membacanya.


Itu karena ....


Kembali membuka buku ia mencoba memejamkan mata, seolah sedang memfokuskan aliran mana yang bergerak di tubuhnya.


Perlahan-lahan ia membuka kedua matanya lalu melihat tulisan yang ada di dalam buku milik Meldanova.


Mana yang sebelumnya ia pusatkan ke mata, kini ia alihkan kepada saraf penghubung yang ada di dalam otak. Seketika tulisan yang ada di buku tiba-tiba ia pahami tiap kata perkata yang terkandung di dalamnya.


Sudah kuduga.


Bukan mata medianya, melainkan saraf penghubung yang mengirim sinyal ke otak sebagai jembatan untuk memberikan terjemah sebuah kata.


Percuma saja jika aku perkuat mana di mata, sementara memori yang ada di kepalaku tidak pernah merekam ataupun mengetahui sesuatu yang tidak pernah ia ketahui.


Oleh karena itu, jika saraf penghantar visual penglihatan yang diberikan mana sebagai media penerjemah maka sesuatu yang kulihat memiliki kata yang sama dengan kata yang pernah ada di duniaku sebelumnya.


Perlahan-lahan ia membaca tiap kata demi kata yang ada di dalam buku tersebut yang berjudul. "Bintang jatuh," ucap Donpa melihat tulisan yang ada di halaman pertama.

__ADS_1


Donpa harus berkonsentrasi penuh untuk menjaga kestabilan mana yang ada di sarafnya, sebab huruf-huruf yang ada di dalam buku kerap berubah-ubah seolah kembali ke tulisan aslinya.


"Si-sial ...," keluh Donpa melihat tulisan yang selalu kembali ke bentuk aslinya ketika konsentrasinya tidak stabil.


"Huuueeekkk ...." Suara donpa yang muntah.


"Sial ... kepalaku jadi pusing, perutku mual juga," ungkap Donpa sambil menutup mukanya dengan tangan kanan seperti sedang mengistirahatkan matanya.


Menerjamahkan tulisan tak semudah menerjemahkan gelombang suara. Tulisan membutuhkan konsentrasi penuh untuk memahami tiap kata yang ada di dalamnya.


Oleh karena itu pengguna mana membutuhkan kestabilan dalam pengendalian mana di saraf-saraf tertentu dengan kata lain Donpa mempelajari tahap kedua pengendalian kontrol mana.


Satu minggu berlalu. "Huuuaaaa ..., akhirnya selesai," ucap Donpa yang merasa puas lalu mengepalkan tangan di atas meja menjadi alas kepalanya untuk rebah.


"Mengartikan buku ini butuh waktu satu minggu." Sambil menatap ke arah buku-buku yang masih banyak terpapar di rak buku perpustakaan tersembunyi.


Donpa menyadari keterbatasannya, ia kerap kali lupa setelah membaca tiap-tiap halaman yang ada di dalam buku bacaannya.


Donpa mencatat point penting dalam buku bacaannya, buku pertama yang ia selesaikan adalah bintang jatuh.


Bintang jatuh adalah buku yang ditulis oleh penyihir dari kerajaan Lubunica. Sebuah buku yang menceritakan seorang penyihir dengan harapan tinggi namun tak memiliki kekuatan. Donpa mengambil beberapa kata yang menjadi bahan catatannya, bagaimana penyihir itu mendapatkan kekuatan.


Setelah selesai, dia menutup buku itu lalu beristirahat membayangkan isi cerita dalam buku tersebut. "Kurasa aku perlu membuat ramuan seperti penyihir itu," ucap Donpa seolah merencanakan sesuatu.


Donpa berniat kembali ke reruntuhan kota untuk mencari beberapa peralatan yang masih dapat digunakan.


Tak seperti sebelumnya, perjalanan Donpa tidak memakan waktu berminggu-minggu, hanya dengan beberapa hari, ia terbiasa melompat di antara pepohonan dengan kecepatan pergerakan mencapai 120 km/jam.


Meski terbilang mudah dan efisien bukan berarti ia tidak merasa lelah, justru tingkat kelelahan yang dialaminya meningkat dua kali lipat saat stamina dan mana di konsumsi secara bersamaan.


"Kurasa aku perlu mengatur pola pernafasan." Merasa sedikit kesemutan di kedua kaki dan kepalanya sedikit pusing.


Sesekali ia berhenti melompat dan berjalan, guna mengisi kembali mana yang ia gunakan.

__ADS_1


Perjalanan yang sebelumnya ditempuh 32 hari perjalanan, kini hanya memakan waktu 8 hari untuk tiba di reruntuhan kota.


"Akhirnya sampai juga," ucap Donpa seraya merentangkan kedua tangan.


"Tak seperti sebelumnya, perjalanan ini jadi sedikit lebih mudah," gumam Donpa.


Donpa yang tiba di reruntuhan kota menyisir setiap tempat untuk mencari sesuatu yang dapat ia gunakan.


"Kurasa sedikit merapikan penampilan tidak masalah," ucap Donpa melihat dirinya yang sangat lusuh.


Ia tampak tak mengenakan pakaian, hanya selembar kain yang menutup dadanya dan celana panjang yang robek selutut, serta tidak menggunakan alas kaki.


Memasuki runtuhan bangunan bekas toko pakaian, Donpa mengambil beberapa pakaian yang dapat ia gunakan.


"Kurasa ini cukup baik," ungkap Donpa memperhatikan penampilannya menyeluruh di cermin besar.


Donpa tampak mengenakan kaos ketat elastis yang terbuat dari gabungan karet dan kulit kangguru berwarna hitam. Baju yang cukup kuat berlengan panjang menutup leher hingga pergelangan tangan. "Cukup lembut, kurasa aku akan aman jika terhempas jatuh ataupun terseret," ungkap Donpa.


Satu set baju spesial yang dikembangkan untuk mengurangi kerusakan saat berkendara ketika terjatuh.


Donpa menjadikan baju itu sebagai dasar dengan menambahkan beberapa pengikat item di bagian dada, pinggang, serta dada. Lalu menambahkan jaket kulit ketat berwarna coklat anti air serta sepatu bot tinggi sampai ke betis berwarna coklat.


Ia merapikan rambut dengan memotong sebagian, lalu menarik poninya hingga kebelakang dan menjepitnya, lalu dengan jepitan itu, ia menegakkan rambut bagian belakang ke atas.


"Kurasa cukup," ucap Donpa setelah selesai.


Ia menambahkan ikat pinggang yang dapat menopang beberapa tas kecil di kiri dan kanan.


Beberapa peralatan ia kumpulkan dalam satu tas carrier berkapasitas 100 L yang ia temukan di reruntuhan kota, serta beberapa buku petunjuk dalam pembuatan berbagai jenis material yang sangat ia butuhkan.


Penampilan Donpa tampak jauh berbeda dengan pistol di paha kanan, pisau berukuran 30 cm di pinggang bagian belakang serta beberapa peledak di paha bagian kiri.


"Tapi ..., sebelum itu aku ingin melihat lokasi keberadaan vampir itu," ucap Donpa, lalu beranjak pergi seraya menopang tas carrier besar yang berisi beberapa perlengkapan yang telah ia persiapkan.

__ADS_1


__ADS_2