
Selama ratusan tahun tanah Outcast dikuasai penyihir Meldanova, eksistensinya membuat seluruh makhluk yang ada di dalamnya terperangkap dan tak dapat bergerak bebas. Sihir Meldanova mengunci atau menyegel pergerakan waktu serta mematikan berbagai macam peralatan yang berfungsi sebagai penunjuk arah.
Dibeberapa bagian tanah Outcast yang diselimuti awan tebal ditinggali makhluk ciptaan Meldanova, yaitu Chimera. Para Chimera diciptakan Meldanova untuk memburu semua makhluk hidup yang ada di sekitar tanah itu, hingga mengakibatkan kepunahan beberapa ras yang pernah hidup di dalamnya.
Pagi ini, untuk pertama kalinya sinar matahari menyentuh tanah Outcast setelah kematian Meldanova di tangan Donpa.
Perlahan sinar matahari menjalar di tubuh Donpa yang sedang terbaring tak berdaya di sebelah gundukan tanah tempat ia mengubur kepala Meldanova. "Ukkh ...." Desah nafas Donpa lalu terduduk lemas menahan sinar matahari dengan telapak tangannya.
"Apa ini mimpi ...," gumam Donpa sambil menyipitkan matanya melihat kilauan cahaya matahari.
Donpa yang tampak lemas saat berusaha berdiri dibantu oleh kedua tangannya, ia berjalan menuju pintu masuk pohon Ensnare, sambil bergumam, "Apa yang sudah kulakukan?"
Donpa masih bingung dengan apa yang telah ia lakukan, tubuhnya masih dipenuhi bercak darah yang tampak mulai mengering. Ia terlihat menyandarkan tangan ke dinding seolah mempertahankan keseimbangan saat berjalan perlahan memasuki ruangan dalam pohon Ensnare.
Donpa masuk ke dalam toilet lalu membersihkan wajahnya serta noda darah yang ada di sekujur tubuhnya.
Setelah membasuh wajah ia menatap bayangan dirinya dalam cermin seraya bergumam, "Apa wanita itu benar-benar telah mati?"
Setelah membersihkan diri, ia kembali ke kamar tidurnya, perlahan tubuhnya sudah mulai kembali prima, iapun berjalan menaiki anak tangga sambil menggosok-gosokan rambutnya dengan seutas kain.
"Ternyata semua kejadian itu nyata," ucap Donpa. Setelah sampai di depan pintu kamar tidurnya, segera ia membuka pintu tersebut, tampak bercak tetesan darah ada di mana-mana, serta kasur tempat tidurnya penuh bekas darah. Segera ia membasahkan kain yang ia gunakan untuk membersihkan noda darah itu.
"Jika perempuan itu benar-benar mati, itu artinya ...," gumam Donpa lalu melirik ke arah jendela, tampak kilauan sinar cahaya matahari masuk di sela-sela jendela, segera ia bergegas kembali menuruni anak tangga mengarah keluar.
Tenyata benar.
Perempuan itu telah mati.
Menatap cahaya matahari yang begitu menyilaukan hingga ia menutup nya dengan telapak tangannya.
Itu artinya ....
Aku sudah terlepas dari sihirnya ....
__ADS_1
Senyum lebar merasa lega tampak di wajah Donpa lalu kembali masuk ke dalam pohon Ensnare.
"Artinya semua yang ada di sini bisa kumiliki." Donpa tampak melebarkan senyumannya lalu perlahan tertawa kecil hingga tertawa kuat terbahak-bahak. "Haha ... haha ... hahaha ...."
Donpa melanjutkan kegiatannya di perpustakaan tersembunyi, mempelajari semua buku yang ada di dalamnya dan melakukan percobaan dengan hal-hal yang ia temukan.
Sejak saat itu Donpa mulai menjajaki tiap ruang dalam pohon Ensnare, ia mencoba membuka seluruh ruangan yang tertutup lalu membiarkan pintunya terbuka.
"320 ...."
"321 ...."
"322 ...."
"323 ...."
Donpa mencoba menghitung jumlah pintu yang ada di dalam pohon Ensnare. "Hah ... hah ... hah ...." Desah nafas Donpa yang tampak kelelahan. "masih ada berapa banyak ruangan di dalam sini?" ucap Ronpa sambil melihat ke atas, melihat jumlah anak tangga dan jumlah lantai yang tersisa. "Sial, ujungnya masih belum terlihat."
Donpa merasa ruangan itu tidak ada habisnya, Ia berhenti sesaat lalu bersandar di sebelah pintu yang barusan ia buka. "Istirahat sebentar, nanti ku lanjutkan lagi, aku lelah karena terlalu banyak ruangan di pohon ini," ucap Donpa sambil membuka botol minum yang ia siapkan.
"Tak terasa 4 jam telah berlalu, tetapi masih banyak ruangan yang belum aku buka," ucap Donpa sambil melihat jam digital multi fungsi di pergelangan tangannya.
"Semua ruangan tampak memiliki design dan bentuk yang sama, hampir semua pintu yang kubuka berisi kamar tidur." Lanjut berdiri, Donpa bersiap kembali melanjutkan tujuannya. "Apa ini bisa disebut hotel?" ucap Donpa sambil memegang pembatas lalu melihat ke sisi bawah dan atas.
Donpa melanjutkan penelusurannya di dalam pohon Ensnare, hingga matahari pun mulai terbenam. Pintu terakhir yang ia buka menjadi ruangan peristirahatannya di malam ini.
"862 ...." Donpa mencatat setiap ruangan disertai isi dan fungsi ruangan. "Akhhh ..., akhirnya aku dapat beristirahat," ucap Donpa lalu melompat ke atas tempat tidur.
Malam ini Donpa beristirahat di kamar yang memiliki design sama seperti kamar-kamar tempat ia beristirahat sebelumnya, di dalam kamarnya ia mempersiapkan beberapa peralatan dan beberapa buku yang ia bawa. "Bahhkan di tempat ini bisa disebut camping," ucap Donpa yang masih membawa ransel besar miliknya.
Donpa mempersiapkan makan malam yang telah ia bawa dari lantai dasar, berupa daging-dagingan. Rumah sekaligus pohon Ensnare memiliki lemari pendingin yang memiliki luas sama seperti ruang tidur, suhu dingin yang dihasilkan dari energi sihir yang dimiliki pohon Ensnare itu sendiri. Selama pohon Ensnare hidup, lemari pending tetap akan bekerja.
"Meski design yang mewah, tempat ini benar-benar unik," gumam Donpa melihat sekelilingnya.
__ADS_1
Pohon Ensnare memiliki design yang hampir menyerupai istana kerajaan, memiliki pencahayaan otomatis saat malam hari, dikarenakan efek batu sihir yang terpasang di setiap sisi langit-langit dan dinding-dinding ruangan ataupun lorong-lorong.
Setelah makan Donpa melanjutkan aktifitasnya membaca buku yang belum selesai ia baca, sebuah buku yang terdiri dari 9 bagian tentang asal usul dan penciptaan Chimera. Donpa mempelajari setiap buku yang ada di perpustakaan rahasia milik Meldanova.
Beberapa hal yang ia baca, membuat dirinya tertarik untuk menciptakan Chimeranya sendiri.
Malam semakin larut, Donpa mulai merasa lelah dan terkantuk-kantuk. "Huaaaaa ...." Menguap lalu mengusap kedua matanya.
Menutup buku, ia lekas beranjak menuju tempat tidurnya, melihat tempat tidur ia sekilas mulai terpikir kejadian di malam sebelumnya, untuk berjaga-jaga ia tidur tanpa melepas perlengkapan perangnya, semua senjata masih melekat di tubuhnya, kecuali granat yang ia letakan di meja.
"Hooaaammm ...."
Donpa masih belum percaya sepenuhnya dengan kematian Meldanova, ia mulai berpikir jika perempuan itu kembali lagi malam ini, apa yang dapat ia lakukan selain menggunakan senjata yang ia miliki saat ini.
Lambat laun mata Donpa mulai tertutup, kesadaran mulai hilang, tiba-tiba penglihatannya menjadi gelap di iringi teriakan seorang wanita.
"Appaaa yang kau lakukan pada tubuhku ...?" Dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang cepat, mendekatinya.
Donpa berbalik melihat sumber suara namun ia dikejutkan kehadiran sosok Meldanova. "Tidak mungkin ia mati semudah itu," ucap Donpa lalu meraba sakunya, mencoba mengambil senjata yang masih melekat di tubuhnya.
"Haaahh ... !!" Tampak kaget karena tak satupun senjata yang menempel di tubuhnya saat itu. "Si-sial ...." Melirik ke arah Meldanova yang semakin dekat dengan dirinya.
"Cepat keluarkan aku dari sini ...!!!" Meldanova berteriak sambil memegang pundak Donpa dengan kedua tangannya lalu mengayunkan tubuh Donpa.
"Hee ...?" Donpa yang bingung dengan tindakan Meldanova.
Dari apa yang Donpa lihat, mata Meldanova tampak lebm dan berkaca-kaca. "Ke-keluarkan aku dari sini ... haaaaa ...." Tangis Meldanova sambil mengayunkan tangannya dan mengguncang-guncang Donpa.
"Te-tempat ini sangat gelap ..., aku tidak dapat melihat apapun, bahkan aku tidak dapat menggunakan sihir apapun." Isak tangis Meldanova yang bercerita tentang apa yang ia rasakan di tempat itu kepada Donpa.
"Heeee ...?" Donpa tampak terpaksa tersenyum, melihat Meldanova yang menangis sambil bercerita.
Melepas pegangannya dari pundak Donpa, ia mengusap mata mencoba menghapus air matanya lalu berkata. "A-aku ... huh ... huh ... ti-tidak dapat kembali ke tubuhku haaaa ...."
__ADS_1
Sosok penyihir yang sangat ditakuti dan diwaspadainya terlihat sangat lemah dan tak berdaya, membuat Donpa bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.