New World : Donpa

New World : Donpa
Bloodthing Wish


__ADS_3

Tiga tahun berlalu setelah Meldanova menjadi guru di sekolah sihir Lubunica, ia teringat. "Oh iya ... aku melupakan sesuatu."


Diakhir semester baru, Meldanova berminat mengajukan cuti pada profesor Astria.


Ia kembali ke Outcast untuk melihat keadaan Donpa yang telah ia lupakan.


"Apa anak itu masih hidup ya?"


Seperti biasanya, mudah bagi Meldanova untuk kembali dalam waktu singkat ke tanah Outcast.


Melalui teleportasi sihir, ia kembali ke pohon Ensnare.


"Tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu."


Berdiri di hadapan pintu masuk pohon Ensnare, Meldanova melihat sepotong surat yang terkait di gagang pintu masuk pohon Ensnare.


"He ... apa ini?"


Meldanova membuka dengan kedua tangannya, lalu membaca isi surat di dalamnya.


Terima kasih karena sudah menolongku, terima kasih untuk tempat tinggal yang kau sediakan untukku, terima kasih karena sudah menjagaku. Meski kau tidak ada di sini, aku merasa damai dan tenang di tempat tinggalmu. Tiga tahun berlalu saat kau berkata, "Aku akan pergi beberapa jam." Kurasa ini hari yang tepat, aku akan pergi ke pesisir pantai untuk menghancurkan para kesatria bodoh itu dan mencari jalan untuk menghancurkan kerajaan mereka. Aku sudah banyak berlatih dan belajar di rumahmu, kurasa ini hari yang tepat untuk mengucapkan salam perpisahan.


Sekali lagi, terima kasih untuk hidup yang telah kau berikan.


Donpa.


Setelah membaca isi surat, senyum lebar tampak diwajah Meldanova.


"Hmm ... dari mana dia belajar bahasa Melkuera?"


Tersenyum manis sambil menutup surat Donpa.


"Oh iya benar juga, sudah hampir tiga tahun aku meninggalkannya, haha ...." Tertawa Meldanova mengingat janjinya.


"Kira-kira apa dia masih ada di tanah ini, ya ...?"


Membuka kitab Widsith dengan tangan kanannya lalu berkata, "Baiklah Widsith ... di mana anak itu sekarang?"


Kemampuan Meldanova dalam kitab Widsith hampir dipenuhi dengan mantra tumbuhan, ia mencari keberadaan Donpa dengan bantuan akar pohon Ensnare yang menjalar hingga ke sudut pulau.


Cukup mudah mencari Donpa hingga ia merapalkan mantra teleportasi. "Ensnare off the end." Setelah Meldanova mengucapkan mantra teleportasi, tampak tubuhnya seolah masuk ke dalam tanah.

__ADS_1


Dari apa yang Meldanova lihat, Donpa tengah terbaring tak berdaya sambil memegangi rusuknya.


Layaknya pohon yang tumbuh dari akar menjadi batang kayu, Meldanova hadir kepermukaan tepat di belakang Donpa.


"Oya-oya ... baru kutinggal beberapa saat kau sudah bermain sejauh ini."


Mendengar suara Meldanova, Donpa melirik ke arah sumber suara, seolah menjawab ucapan Meldanova, ia menggeram seperti menahan sakit dan hendak memberitahu sesuatu ke Meldanova. "Akh ... akmm ... mmm ... akh ...." Lalu pingsan.


"Hee ... apa yang kau katakan?"


Tidak jelas dengan ucapan Donpa, Meldanova memegang rambut Donpa seolah seperti sedang menarik rambutnya, lalu menggoyang-goyangkannya. "Hey-hey ... apa yang kau katakan?"


Tak menjawab ucapan Meldanova, ia pun bergegas menggendong Donpa lalu berkata, "Baiklah ... sebaiknya kita pulang terlebih dahulu."


Meldanova kembali membawa Donpa ke pohon Ensnare, ia mendapati perawatan dari Meldanova dengan penyembuhan total melalui sihir kehidupan milik Meldanova.


Melihat luka-luka yang ada di tubuh Donpa membuatnya bergumam, "Apa yang kau lakukan selama tiga tahun ini hingga tubuhmu banyak bekas luka."


Meldanova menyembuhkan beberapa tulang yang patah dan beberapa jari yang hilang, serta menghilangkan bekas luka yang telah mengering di tubuh Donpa.


Ia terlalu banyak menkonsumsi buah Ensnare, hingga buah dan sel yang ada di tubuhnya menyatu dengan sempurna.


"Tubuh ini benar-benar sempurna untuk dijadikan wadah reinkarnasiku nanti hahaha," gumam Meldanova.


Setelah mendapati perawatan hingga tidak ada lagi bekas luka yang ada di tubuh Donpa, ia perlahan terbangun dari tidurnya.


"Akh ... kau ternyata," ungkap Donpa sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing dan melirik ke arah Meldanova.


"Hee ... kau sudah sadar?" jawab Meldanova.


"Kepalaku terasa pusing, apa aku boleh meminta buahnya?" Donpa merasa ia kekurangan banyak darah hingga kepalanya terasa pusing, dan menurutnya obat yang paling ampuh pada saat itu adalah memakan buah Ensnare.


"Ini, apa buah ini membantumu selama aku pergi?" tanya Meldanova sambil memberikan buah Ensnare.


Terhenti digigitan pertama sambil menatap buah yang ada digenggamnya. "Jika tidak ada buah ini, kurasa aku sudah lama mati," ungkap Donpa.


Mengingat bekas luka yang ada di tubuh Donpa, membuat Meldanova untuk memberikan perhatian khusus menjaga pertumbuhannya.


"Apa kau bertemu dengan mahkluk yang cukup kuat? Atau kau bertemu dengan manusia yang lebih kuat darimu?" tanya Meldanova.


"Tak hanya kuat, bahkan senjata yang menjadi puncak kekuatan di dunia kami pun sulit memberi luka besar pada mereka," jawab Donpa, mengingat saat dia melawan vampir di dalam gua Ogre.

__ADS_1


"Apa kau kalah bertarung dengan pasukan perbatasan Melkuera?" tanya Meldanova.


"Bukan merek- ...," seketika Donpa mengingat cerita nenek Myobu bahwa seluruh mahkluk Outcast hampir punah karena Meldanova.


"I-iya, mereka cukup kuat. Ti-tidak, mereka sangat kuat," terbata-bata Donpa menjawabnya.


Donpa menyembunyikan keberadaan vampir agar Meldanova tidak memburu ras terakhir mereka yang ada di tanah Outcast.


"Si-sial ... hampir saja aku berkata diserang oleh para vampir," gumam Donpa sambil menghela nafasnya.


Mendengar keluhan Donpa membuat Meldanova ingin memberikan sesuatu dan mengajarkan sihir. "Kau ingin menggunakan sihir bukan?"


Sontak Donpa terkejut dengan ucapan Meldanova, "Ha ...? Tentu saja, aku ingin mempelajarinya."


Meldanova tidak punya pilihan lain selain mengajarkan beberapa kekuatan sihir agar Donpa dapat bertahan hidup ketika ia tak ada di sisinya.


Meldanova mengucap sebuah mantra, lalu mengangkat kedua tangannya seperti hendak memunculkan sesuatu dari energi sihir yang berpusat pada satu titik di tengah-tengah kedua tangannya.


"Tak ada harapan tanpa darah ..., tak ada kekuatan tanpa darah ..., tak ada tujuan tanpa darah ..., darah adalah awal ..., darah adalah akhir ..., darah penghapus dosa ..., datang lah Bloodting Wish ...!!"


Dari apa yang dilihat Donpa, setelah sesaat mantra di utarakan, tampak darah keluar dari segala pori-pori Meldanova hingga membuatnya tertunduk.


"Apa? Kenapa kau Meldanova?"


Donpa yang terkejut melihat Meldanova mengeluarkan banyak darah, berusaha berdiri mendekati Meldanova.


"Ti-tidak ..., tidak apa-apa, buku ini memang sedikit merepotkan," ucap Meldanova sambil melirik Donpa.


Gumpalan energi merah yang masih bersinar perlahan menghisap darah Meldanova yang mengalir ke lantai, lalu bergumpal dan seketika menjadi sebuah buku berwarna merah tua kehitaman.


"Buku apa itu?" tanya Donpa memperhatikan sebuah buku yang melayang.


"Ini adalah buku sihir yang ku gunakan waktu dulu, aku kesulitan menggunakannya karena ia terus menerus menghisap darahku," ungkap Meldanova yang mencoba menjelaskannya.


"Maksudmu? Ini buku sihir pertamamu?" tanya Donpa.


Bloodthing Wish adalah buku pertama Meldanova, meski tebal tetapi hanya satu halaman yang terisi segel mantra. Buku itu adalah buku yang membuat raja Melkuera merasa Meldanova adalah ancaman bagi kerajaannya.


Pohon Ensnare diciptakan untuk menjadi pemasok darah saat menggunakan Bloodthing Wish. Ini adalah hasil kerja sama yang dilakukan Meldanova bersama kekasihnya Kate untuk mencari cara menyempurnakan buku Bloodthing Wish, namun penelitian mereka tidak sempurna karena kematian Kate yang menjadi akhir dari projek mereka.


Meldanova berusaha menkonsumsi buah Ensnare bersamaan dengan menggunakan Bloodthing Wish, namun gagal. Sebagai pencipta, sel Meldanova menolak sel Ensnare untuk menguasai dirinya, hingga akhirnya Meldanova meninggalkan buku Bloodthing Wish dan menciptakan buku baru yaitu The Widsith sebagai buku kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2