
Chimera diciptakan untuk membuat pohon Ensnare tetap terjaga dan tumbuh, dengan cara memberi tumbal darah kepada pohon Ensnare. Darah yang membanjiri tanah Outcast akan terhisap oleh akar pohon Ensnare di seluruh tanah Outcast. Sebagai gantinya pohon Ensnare akan terus memberikan buah penyembuhan yang mampu mengembalikan darah yang hilang.
Malam itu Donpa terbaring tak sadarkan diri akibat serangan Beast yang begitu kuat. Beast adalah jenis Chimera terbaik yang dimiliki Meldanova.
Serangan Beast membuat luka serius pada tubuh Donpa, hingga ia kehilangan banyak darah. Namun, saat itu Beast mencium bau darah dari Donpa yang menyerupai bau pohon Ensnare.
Donpa yang kerap mengonsumsi buah Ensnare tanpa ia sadari 40% darah di tubuhnya mengandung sel dari pohon Ensnare. Pohon inilah yang menjadi alasan Chimera diciptakan, oleh karena itu Chimera berhenti menyerangnya lalu membawa Donpa kembali ke pohon Ensnare.
Setelah kesadarannya kembali, Donpa terbaring di bawah pohon raksasa, tepatnya di depan jembatan tak berujung yang menjadi pintu masuk ke pohon Ensnare.
"Bagaimana aku bisa sampai di sini?" Seraya menoleh ke kiri dan ke kanan, ia tampak bingung dan sedikit lupa dengan pertarungannya melawan Chimera pada malam tadi.
Menutup mata dengan telapak tangan kanan seolah tampak berusaha mengingat sesuatu yang terjadi padanya. "Apa yang terjadi padaku?"
Kepalanya terasa pusing akibat kekurangan darah, sel-sel yang terkandung dalam buah Ensnare membuatnya mampu beregenerasi sedikit lebih cepat dari pada manusia pada umumnya.
Ia bergegas melangkah maju melewati jembatan tak berujung untuk mengambil buah Ensnare.
Aku baru mengingatnya.
Aku kehilangan banyak darah semalam.
Pertarunganku bersama monster itu.
"Aku butuh buah Ensnare..." Tertatih-tatih ia melangkah kecil sambil memegang tali jembatan untuk menyeimbangkan dirinya.
Tak lama setelah melewati jembatan Tak Berujung ia tiba di halaman pohon Ensnare, di mana terdapat banyak buah Ensnare yang terjatuh dari pohonnya, layaknya seperti buah jambu yang sedang panen.
Tak berpikir panjang, Donpa langsung tersungkur kehilangan keseimbangan dan mengambil satu buah yang berada di dekatnya lalu makan sambil terbaring lemah.
"Sudah lama sekali aku tidak merasakan buah ini," ungkap Donpa yang terus menerus mengunyah dan menelan buah tersebut.
__ADS_1
Berawal dari ia memakan dengan lamban sambil terbaring, lama kelamaan semakin cepat lalu duduk dan berdiri, menandakan staminanya perlahan telah kembali.
Buah Ensnare adalah buah yang mampu mengembalikan darah yang hilang tapi tidak menyembuhkan luka yang terbuka, namun saat mana di dalam diri Donpa bertemu dengan sel buah Ensnare yang ada di darah tubuhnya, terjadi reaksi penyembuhan luka sedikit lebih cepat dari manusia normal.
"Akhirnya tubuhku kembali prima," ungkap Donpa seraya melempar-lembar buah Ensnare yang ada di tangannya.
Setelah prima ia kembali berjalan menuju pintu masuk pohon Ensnare. "Apa perempuan itu ada di dalam?"
Donpa yang bertelanjang dada hendak mencari sesuatu yang ada di dalam pohon Ensnare, sebuah pakaian yang dapat ia pakai dan berharap Meldanova ada di dalamnya.
"Masih seperti yang dulu," ucap Donpa setelah membuka pintu masuk pohon Ensnare. "Rumah seribu pintu."
Ia pun melangkah ke anak tangga menuju ke ruangan yang ada di lantai 3, meski tak tahu menuju ke mana, melalui pintu mana pun Donpa akan selalu masuk ke ruangan yang menjadi tujuannya.
"Greekk ...." Suara pintu tua yang terbuka. "Wanita itu sedang tidak ada di sini rupanya." Masuk ke ruangan tempat biasa Meldanova beristirahat.
Mengelilingi sisi ruangan, Donpa hendak mencari sesuatu yang dapat ia pakai. "Apa tidak ada pakaian di sini.?" ucapnya sambil memperhatikan sisi ruangan.
Tak dapat menemukan pakaian yang dapat ia pakai, Donpa berpindah ke ruangan selanjutnya.
"Tidak ada juga."
"Tidak ada juga.."
"Tidak ada juga."
Sesampainya di lantai 9 ruangan ke 3, Donpa masuk ke sebuah perpustakaan yang sangat besar, dengan rak yang cukup tinggi, dengan ketinggian 8 meter. "Wooaa .... Aku baru tahu ada perpustakaan di ruangan ini," ucap kagum memperhatikan sekitar.
"Kukira ruangan tempat Meldanova singgah adalah perpustakaan," ucap Donpa membandingkan kapasitas buku yang ada di ruangan tempat biasa Meldanova singgah dengan tempat yang ia masuki saat ini.
Di ruangan tempat biasa Meldanova bersantai memiliki 10 rak di setiap sudutnya, tapi di tempat ini ada begitu banyak rak dan buku, terlebih rak di sini memiliki ukuran 2 kali lebih tinggi. "Ada berapa banyak buku di sini?" ucap Donpa berjalan mendalami sisi perpustakaan.
__ADS_1
Rasa penasaran membuatnya mencoba melihat-lihat dari sampul bukunya. "Kata-kata yang tertulis di buku ini ... bukan bahasa Melkuera," ungkap Donpa lalu mengambil salah satu buku dan membukanya.
Buku-buku di perpustakaan terlarang milik Meldanova memiliki beragam bahasa, berbeda dengan buku yang ada di ruang pribadi Meldanova yang umumnya diisi dengan buku pengetahuan berbahasa Melkuera.
"Tulisan apa ini?" ucap Donpa yang merasa bingung dengan tulisan yang ada di dalam buku tersebut.
Menutup buku yang telah ia buka lalu mencoba membuka buku lainnya. "Buku ini ..., juga memiliki bahasa yang berbeda dari buku sebelumnya."
Rasa penasaran Donpa membuat ia ingin mengetahui arti dari tulisan-tulisan di buku yang ada di perpustakaan ini.
Ia mengambil salah satu buku lalu mencari tempat untuk duduk dan membacanya.
Menyampingkan tujuan utamanya yang mencari pakaian, ia memilih mencoba menerjemahkan tiap kata dengan bantuan mana control pada indra penglihatannya.
"Kurasa, dengan bantuan mana aku bisa membaca buku ini." Keyakinan Donpa sambil membawa salah satu buku yang akan ia baca.
Kursi dan meja yang terhubung dengan pohon Ensnare di tengah ruangan itu, menjadi pilihan Donpa untuk memulai membaca buku tersebut. Ia memulainya dengan memusatkan aliran mana yang ada di tubuhnya ke arah matanya.
Meski gagal untuk menerjemahkannya, Donpa terus mencoba berkali-kali. Beberapa jam berlalu, tampak hidung Donpa mengalami pendarahan. Ia terhenti sesaat lalu mencari toilet untuk membersihkan diri.
"Sama seperti sebelumnya saat belajar menerjemahkan bahasa hewan yang ada di Dataran Spear, aku harus berusaha dan terus berkonsentrasi penuh," ucap Donpa dengan keyakinan penuh.
Setelah membersihkan diri, Donpa menemukan sebuah kain hitam yang hendak ia jadikan pakaian penutup dada dengan cara melipat seperti memakai shal yang menutup leher, lengan dan dadanya.
Ia pun beristirahat sejenak, mempersiapkan makan malam lalu melanjutkan latihannya.
Proses itu terus terulang setiap harinya.
Mana control yang dipusatkan ke mata tidak akan pernah bisa menerjemahkan kalimat yang ada pada buku itu. Donpa telah salah memahami konsep sihir yang ia yakini, fungsi mana adalah memperkuat indra manusia. Sementara menerjemahkan tulisan tidak termasuk dalam katagori Mana Control.
Fungsi utama mata adalah sebagai indra penglihatan yang digunakan untuk melihat objek atau sesuatu dan kondisi sekitar. Sementara mana mempertajam atau memperkuat kualitas indra, meski ia mengetahui apa yang ia lihat belum tentu yang ia lihat adalah yang ia ketahui. Mata yang melihat sesuatu akan segera mengirim sinyal atau gelombang kepada otak untuk merespon apa yang telah ia lihat, jika otak tidak pernah tahu apa wujud dari penglihatan itu, maka hasilnya tidak akan pernah ada atau tidak diketahui.
__ADS_1
Oleh karena itu, Donpa tidak akan pernah bisa menerjemahkan tulisan yang ada di buku itu.