New World : Donpa

New World : Donpa
Vampir


__ADS_3

Buah Ensnare diciptakan Meldanova dari kebenciannya pada dunia. Buah yang menghisap segala bentuk kehidupan, lahir dari amarah, keserakahan dan dendam. Tak ada satupun mahkluk yang bisa memakan buah itu kecuali pemiliknya, yaitu Meldanova.


Donpa adalah alasan yang berbeda, di mana ia tak memiliki mana atau pun core sebagai dasar kekuatannya. Tak ada penolakan yang ada dalam tubuhnya, hingga buah itu dapat menjadi satu dengan sel-sel yang ada pada tubuh Donpa, terlebih kebencian yang begitu besar di dalam tubuh Donpa membuat buah itu mengikatnya dan tanpa ia sadari eksistensi buah tersebut perlahan menjalar di dalam dirinya dan menjadikannya sebagai tuannya, bukan Meldanova.


Ririn yang telah mengikat kontrak dengan spirit di dalam dirinya membuat perlawanan hebat pada buah Ensnare yang masuk ke dalam tubuhnya.


Buah yang dipikir Donpa adalah makanan sekaligus obat penyembuhan, justru menjadi racun mematikan bagi mahkluk lainnya.


"Ririn ... sadar lah."


Teriak Donpa sambil mecoba menyadarkan Ririn.


Ririn masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan di sana ia bertemu dengan Sylph.


"Apa yang sudah kau masukan ke dalam mulutmu Ririn?"


"Buah yang diberikan Donpa."


Alam bawah sadar Ririn yang semulanya terang, perlahan dirasuki oleh kegelepan.


"Kita harus mengeluarkan sari buah itu dari tubuhmu sebelum terlambat!"


Tampak raut wajah yang cemas pada Sylph, ia mencoba dengan kekuatannya menahan pergerakan kegelapan yang hendak melahap alam bawah sadar Ririn.


"Ak-aku tidak kuat ...!!!"


Melihat Sylph yang berusaha keras menahannya, Ririn bertanya, "Apa yang bisa kulakukan Sylph?"


Kecemasan Ririn tak menuai jawaban.


"Kau tidak dapat melakukan apapun, kesadaranmu terkunci dari sini."


"Aku harus bagaimana?"


"Berharap saja temanmu melakukan sesuatu."


Alam bawah sadar Ririn yang dirasuki aura kegelapan perlahan menghitam. Kegelapan itu mencoba melahap semua cahaya yang ada di dalam diri Ririn.


Donpa yang kebingungan dibuat tak berdaya melihat Ririn yang tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir dari tubuhnya.


Grek ... grek ....


Suara langkah kaki yang begitu cepat mendekati Donpa.


Ti-tidak untuk saat ini.


"Tolong lah," gumam Donpa yang menyadari kehadiran seseorang dari balik semak.


Dengan cepat sesosok makhluk mengambil Ririn dari tangan Donpa lalu menggigit lehernya.


"Ri-ririn!!"


Teriak Donpa yang tak kuasa melihat Ririn yang digigit sesosok mahkluk menyerupai manusia.


Dengan cepat Donpa mengeluarkan pistol yang ia bawa, lalu mengarahkannya pada mahkluk itu.


Dor ... dor ... dor ....


Sambil berlari mendekati Ririn, Donpa menembakinya lalu mengeluarkan sebuah pedang dengan tangannya dan berusaha menjangkau makhluk itu untuk menebasnya.


"Haaaa ...." Hela nafas Donpa mengayunkan pedang ke arah kepala makhluk itu.

__ADS_1


Dengan cepat mahkluk itu menangkap pedang Donpa dengan tangan kirinya.


"Hee ...?"


Setelah menghisap darah dari buah Ensnare yang ada di tubuh Ririn, mahkluk itu membuang darah tersebut dan membawa Ririn serta menarik tangan Donpa seolah membawa pergi dari tempat itu


"Dia perempuan," gumam Donpa melihat sesosok perempuan yang menarik tangannya.


"Apa yang kau lakukan?"


Tak menjawab pertanyaan Donpa, perempuan itu tetap melanjutkan pelariannya.


Perempuan itu membawa pergi Donpa dan Ririn menuju selatan tanah Outcast, mengarah ke gua Ogre.


Dari apa yang Donpa lihat, perempuan itu mengenakan kain dan ia gunakan untuk menutupi kepalanya, sambil menopang Ririn lalu memegang tangan kirinya.


Genggamannya begitu kuat.


Apa yang akan ia lakukan kepada kami.


"Hey ... kau dengar? Apa yang akan kau lakukan?"


Perlawanan Donpa sia-sia, bahkan langkah kaki perempuan itu semakin cepat hingga Donpa yang mengikutinya tidak mampu menahannya hingga terjatuh.


"Akkhhh ...." Melirik ke arah Donpa yang tersandung jatuh, perempuan itu merubah genggamannya ke kaki kanan Donpa, lalu menyeret dan membawa mereka pergi.


Posisi Donpa yang diseret perempuan itu tak dapat melakukan perlawanan, kerap kali ia terbentur bebatuan dan pepohonan hingga kesadarannya pun hilang.


Di sisi lain, merasakan pelepasan mana yang dialami Ririn, para kesatria itu mendatangi tempat yang dijadikan Donpa sebagai tempat pengintai.


"Ada yang memata-matai kita dari sini."


"Siapa mereka?"


"Mungkinkah Vampir?"


Percakapan para kesatria kerajaan Melkuera.


Vampir adalah ras murni yang tinggal di tanah Outcast, populasi mereka menurun drastis saat kedatangan Meldanova ke tanah Outcast.


Lupus Regina Beta adalah vampir yang membawa Donpa dan Ririn.


Menjalani sisi bukit menuju arah selatan dan memasuki gua Ogre.


Di tanah Outcast ada banyak ras yang hidup seperti ogre, viper, kukra dan vampir. Namun, mereka semua telah punah dan yang tersisa hanya beberapa vampir.


Vampir yang tersisa tak lebih dari 100 orang, mereka hidup di antara pegunungan dan bersembunyi di dalam gua.


Layaknya makhluk yang mencoba bertahan hidup, para vampir tumbuh dari rasa takut terhadap Meldanova yang mencoba memburu mereka semua.


Sesampainya di dalam gua, Lupus melepaskan Donpa lalu melemparnya ke tengah-tengah kerumunan para vampir. Sementara Ririn dibawa ke sebuah ruangan seperti gubuk yang terbuat dari kayu bersama tiga vampir.


Perlahan Donpa membuka mata.


"Hmm ... di-di mana ini?"


Setelah kesadarannya pulih, tiba tiba Donpa merasa mual lalu muntah.


"Hooeekk ...."


Sial ... perempuan itu.

__ADS_1


Aku masih merasa mual karenanya.


Salah satu vampir yang mengelilingi Donpa mendekatinya


"Siapa kau?"


Vampir itu berbicara dengan bahasa yang tidak dipahami oleh Donpa.


Melihat pergerakan vampir yang mencoba meraihnya, Donpa bersiap mengeluarkan granat.


"Jangan mendekat!" ungkap Donpa sambil menarik pelatuk granat.


Tak menghiraukan ucapan Donpa, vampir itu menarik kerah bajunya.


Bersiap melakukan perlawanan, Donpa mendorong tangan vampir itu ke sisi kiri dengan tangan kanannya, lalu melakukan tendangan memutar ke arah wajah.


"Haa?"


Serangan Donpa dapat dibaca, vampir itu menahan kaki Donpa lalu melemparnya.


Donpa yang terhempas, melempar granat yang telah ia siapkan lalu mengeluarkan senjata api.


Para vampir yang tidak tahu dengan granat hanya bisa melihat benda itu layaknya batu yang dilempar ke arah mereka.


Bingung dengan sesuatu yang dilempar Donpa, salah satu dari mereka mencoba memungut granat. Seketika granat yang ia genggam meledak, dan memecahkan tangan vampir itu.


Melihat rekannya terluka, para vampir bersiap menyerang Donpa.


"Haaaaa ...!"


Teriakan para vampir mengintimidasi Donpa hingga ia terkejut melihat gigi dan mata mereka.


"Ha? Vampir ...!" ungkap Donpa sambil mengarahkan senjata apinya ke arah vampir yang hendak mendekat.


Mereka terlalu banyak.


Dor... dor... dor ....


Berkali-kali Donpa menembak vampir itu, beberapa peluru ada yang masuk ke tubuhnya dan beberapa terpantul ke luar.


Vampir yang berhasil mendekati Donpa segera melayangkan pukulannya ke wajah Donpa.


Grak ....


Terdengar suara pukulan yang menghantam wajah Donpa.


Meski terkena pukulan, Dompa masih melakukan perlawanan.


Keras sekali.


Aku hampir kehilangan kesadaran.


Dor ... dor ... dor ....


Karena jarak tembakan yang sangat dekat, peluru yang dilontarkan pistol Donpa menembus dan melukai mata vampir yang menyerangnya.


Salah satu vampir kembali menyerang Donpa dari belakang.


Donpa yang tidak menyadari kehadirannya terkena tendangan yang begitu kuat di punggung hingga ia tersungkur.


Vampir lain yang telah menunggu hendak melayangkan pedang ke arah wajah Donpa.

__ADS_1


Donpa yang tersungkur tak sempat menghindari serangan hanya bisa melihat ayunan pedang mengarah ke kedua matanya.


__ADS_2