
Sebelum kedatangan Meldanova, vampir yang merupakan penghuni asli tanah Outcast, mereka hidup tumbuh dan berkembang seperti manusia pada umumnya. Vampir yang tidak takut pada matahari, justru mereka tumbuh bersama dengan matahari. Yang membedakan vampir dan manusia hanya ada pada taringnya, kecuali leluhur mereka yang memiliki sepasang sayap berwarna hitam yang berada di punggung, layaknya seperti sayap kelelawar.
Tidak seperti pada kisah-kisah pada umumnya, vampir di tanah Outcast tidak menularkan virus atau menyebarkan populasi berdasarkan gigitan mereka, justru vampir hampir menyerupai manusia, mereka kawin dan berkembang layaknya manusia.
Donpa yang terperangkap di tengah-tengah kerumunan vampir, mencoba melakukan perlawanan sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia. Fisik vampir jauh lebih kuat dari dirinya, hingga ia tergeletak tak berdaya menatap sebuah pedang mengarah ke kepalanya.
"Berhenti ...!!!" Teriak Lupus untuk menghentikan penyerangan para vampir kepada Donpa.
Dengan kalimat yang berbeda, Donpa merasakan bahwa teriakan perempuan itu menandakan untuk menyudahi pertikaian diantara mereka.
"Hah ... hah ...." Desah nafas Donpa yang kelelahan saat menghadapi para vampir.
Dari sisi kiri perempuan yang berteriak itu, Donpa melihat Ririn melangkah maju berdiri sejajar di samping perempuan itu.
"Tidak apa-apa Donpa, mereka mengobatiku." Keadaan Ririn yang mulai membaik, setelah mendapatkan perawatan oleh bangsa vampir.
"Heee ...?" Donpa yang merasa bingung dengan apa yang telah dilakukan vampir itu seolah tak percaya dengan ucapan Ririn. "Bukannya dia menggigitmu?.
"Tidak, mereka mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuhku." Ririn mencoba menjelaskan apa yang telah dilakukan vampir itu.
"Meski begitu, cepat atau lambat kau juga akan menjadi vampir setelah digigit. Hiii ...."
"Haha, kau terlalu banyak menonton film." Ririn mencoba menjelaskan detail dari permasalahan pada Donpa sambil melirik Lupus dengan senyuman. "Setidaknya, ia berusaha menyelamatkan nyawaku dengan taruhan racun yang akan menular kepadanya juga."
"Ba-baiklah, kalau begitu." Sambil menyimpan senjata apinya, Donpa lanjut berkata, "Jadi ... bisa ia bertanggung jawab dengan luka yang ada pada tubuhku?"
"Haha ... bukan kah kau bisa menyembuhkannya sendiri?" Tertawa memperhatikan luka-luka yang ada pada tubuh Donpa.
Pertikaian mereka ditutup dengan ajakan makan malam oleh tetua vampir, yaitu nenek Myobu.
Malam itu suasana begitu ramai di gua Ogre, para vampir itu menari-nari melingkari bara api unggun, layaknya sekelompok orang yang tengah melakukan pesta.
Terus terang.
Tingkah mereka mengingatkanku pada mereka,
gumam Donpa sambil memperhatikan beberapa vampir yang sedang menari.
Donpa masih mengingat kejadian yang menimpa dirinya pada malam itu. Di mana pasukan perbatasan Melkuera melakukan penyerangan pada dirinya serta membunuh rekan-rekannya, terutama kekasihnya Rumia.
"Kau tidak mau ini?" ungkap Ririn menjulurkan roti dengan tangannya.
__ADS_1
"Ti-tidak ... aku tidak lapar."
Terbata-bata Donpa menolak pemberian Ririn.
Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi.
"Oh ... ayolah ... kau belum makan sedikitpun."
Ririn mencoba memaksa Donpa dengan merangkulnya lalu memaksa memasukan roti ke dalam mulutnya.
"Ti-ti ... emm emmm...," menjawab sambil mengunyah makanan yang dipaksa masuk ke dalam mulutnya.
"Haha ...." Tawa Ririn melihat Donpa yang tersedak.
Makan malam mereka diwarnai dengan senda gurau, ditemani Lupus serta nenek Myobu.
Berkat Sylph, Ririn mampu berkomunikasi dengan para vampir, ia menerjemahkan setiap penyampaian vampir pada Donpa dan sebaliknya.
Donpa yang penasaran dengan kejadian sebelumnya bertanya.
"Apa yang kau rasakan?"
"Tidak, maksudku apa yang terjadi saat kau memakan buah Ensnare milikku?"
"Aku tidak tahu pasti, saat itu pandanganku menjadi gelap, tubuhku terasa mati rasa." Ririn mencoba menjelaskan detail kejadian saat itu. "Hingga aku masuk ke dalam alam bawah sadar bertemu dengan Sylph, ia berusaha sekuat tenaga mengeluarkan racun pada buah yang kau bawa itu."
"Ta-tapi ... bagaimana bisa? Aku memakannya baik-baik saja," jawab Donpa.
"Aku juga tidak tahu pasti, Sylph begitu kesulitan mengeluarkan racun yang terus menjalar ke dalam tubuhku, hingga akhirnya nenek Myobu mengeluarkannya."
Mendengar penjelasan Ririn, nenek Myobu menjawab. "Itu karena spirit yang ada dalam tubuhmu, menolak eksistensitas sihir lain."
"Jadi buah yang ada pada Donpa itu adalah buah yang mengandung sihir?" tanya Ririn.
"Wooow ... bagaimana bisa, nenek itu mengerti bahasamu padahal kau berbicara menggunakan bahasa kita?" Terkejut kagum melihat nenek Myobu yang merespon kata-kata Ririn tapi membalasnya dengan bahasa vampir.
Apa yang didengar Donpa dan didengar Ririn itu berbeda, peran Sylph sebagai spirit yang menyatu dengan Ririn membuatnya dapat mengerti bahasa vampir, dan vampir mampu memahami kalimat Ririn, tapi tidak dengan Donpa.
"Tanyakan padanya Rin, kenapa Lupus mau melakukan itu," ungkap Donpa meminta Ririn menyampaikan pada nenek Myobu dan Lupus yang ada di hadapannya.
Dibantu oleh Ririn, Donpa dan Lupus bisa berkomunikasi dengan lancar.
__ADS_1
Lupus tampak bingung seperti malu-malu saat menjawab pertanyaan Donpa. "Sa-saat itu aku ingin menolong Donpa," ungkap Lupus seraya menatap langit-langit sambil menggigit ujung jari telunjuk.
Merasa belum melakukan sesuatu yang besar di pesisir pantai, Donpa bertanya, "Menolong? Bukannya kami belum melakukan apapaun."
"He ... bu-bukan itu, aku mengikuti kalian dari reruntuhan kota," jawab Lupus tampak bingung menjelaskannya.
Mendengar jawaban Lupus yang membingungkan, Donpa kembali bertanya, "Reruntuhan? Artinya saat kami bermalam, kau juga bermalam di sana?"
"Haaa ... iya di atas bangunan sebelah kanan tempat kalian bermalam, he ... hehehe ...." Sambil menggaruk-garuk kepala seperti ada yang ia tutupi.
Donpa semakin penasaran dengan Lupus yang ada di reruntuhan kota. "Apa yang kau lakukan di reruntuhan?"
Merasa cucu nya terpojok dengan jawaban-jawaban memutar, nenek Myobu menjelaskan. "Haha ... sebenarnya Lupus baru kembali dari Altar Novajan."
"Altar Novajan?" Merasa seperti pernah melihatnya, Donpa berpikir kembali.
"Tu-tunggu ...." Merogoh ransel kecil yang ada di paha kirinya lalu mengambil sebuah lipatan kertas.
Ririn yang memperhatikan Donpa mengambil sesuatu lalu bertanya, "Apa itu?"
"Ini peta yang kutemukan di pohon itu," jawab Donpa lalu melihat isi peta.
"Nah ini dia." Dengan telunjuk ia menunjuk rute Altar Novajan dan reruntuhan. "Jika dari Altar Novajan menuju reruntuhan itu artinya harus melewati lembah berliku lalu melewati gunung Outcast, yang artinya."
Sambung Donpa menunjuk peta. "Kau mengikutiku dari sini kan?"
"Haha ... iya." Tersipu malu setelah kebohongannya terbongkar, namun Lupus mencoba menjelaskan. "Sa-saat itu aku berpikir kau adalah vampir."
"Dilihat dari manapun aku ini bukan vampir," jawab Donpa
"Hanya vampir yang wujudnya menyerupai manusia di tanah ini," sambung nenek Myobu.
"Maksudnya nek? Apa ada ras lain di tanah ini?" tanya Ririn.
"Dahulunya tanah ini ditempati empat ras mahkluk hidup, diantaranya Ogre mirip seperti manusia namun bertubuh besar dan berwarna hijau, hampir seluruh ogre memiliki otot.
Selanjutnya Viper, mahkluk melata yang menyerupai ular, memiliki sepasang tangan dan bertubuh tegap, umumnya mereka berwarna hijau dan memiliki sepasang sayap.
Lalu Kukra, mahkluk yang menyerupai buaya memiliki kedua tangan dan kaki, mereka juga sama seperti yang lainnya bisa berdiri seperti manusia.
Dan yang terakhir adalah kami para Vampir."
__ADS_1