
Selama satu tahun lebih Donpa berada di Dataran Spear, belajar cara menggunakan mana. Hingga akhirnya ia paham cara menggunakannya, namun suatu ketika ada keanehan yang terjadi.
"Pagi ini aku akan membunuh bison," ungkap Donpa lalu berdiri menatap bison yang berjarak 30 meter di hadapannya.
Ia menggunakan mana untuk memperkuat tubuhnya, dan melompat sejauh 10 meter lalu menendang batu berdiameter 2 meter yang ada di hadapannya.
"Grak ...!!!" Suara keras hantaman dari kaki Donpa yang menendang batu layaknya seperti menendang sebuah bola.
Batu yang terlempar langsung mengarah ke bison yang ada di depannya.
"Buar ...!!!" Suara hantaman batu yang sangat kuat mengenai bison itu hingga terpental 6 meter diikuti dengan hancurnya batu saat mengenai bison tersebut.
Dengan santainya Donpa berjalan mendekati bison yang sudah lemah tak berdaya. "Aku semakin terbiasa menggunakan mana ini," ucap Donpa sambil melihat telapak tangan kanannya yang dilapisi mana beraura hitam.
Donpa mengalami perubahan mental dan bentuk fisik setelah sekian lama ia berada di Dataran Spear. Seperti biasanya, ia memakan bison itu mentah-mentah, rahang Donpa menjadi cukup kuat untuk mengunyah daging mentah
Beberapa bison yang ada di sekitarnya menatap Donpa, tampak seperti hewan yang kebingungan, kehilangan keberanian untuk melakukan pergerakan.
Ayo lari ma ....
Ti-tidak nak ....
Mendengar suara itu Donpa melirik ke arah bison yang ada di sisi kirinya.
"Hooh ...." Lirik Donpa lalu melanjutkan memakan daging bison tadi.
Karena tidak berinteraksi langsung dengan manusia, Donpa melakukan meditasi dengan cara memahami bahasa lingkungan di sekitarnya, yang di isi dengan hewan-hewan. Ia tidak tahu bagaimana cara Meldanova mengerti bahasa dirinya sewaktu tiba di tanah Outcast. Baginya, itu serupa dengan cara ia mengerti dan memahami bahasa hewan-hewan yang ada di sekitarnya.
"Apa seperti ini yang didengarkan Meldanova saat aku berbicara dengan bahasa yang berbeda darinya?" gumam Donpa sambil mendengar rintihan tangis hewan yang ada di sekitarnya.
Setelah mengisi perutnya ia kembali ke batu meditasi, ia mulai berpikir untuk kembali ke Ensnare dan mempelajari Bloodthing Wish setelah ia tau cara menggunakan mana.
Terdiam sesaat ia mencoba menggunakan mana untuk mencari lokasi pohon Ensnare.
"Hmmmm ...."
Wajahnya tampak mengkerut seperti sedang kesulitan. "Apa pohon itu sangat jauh?"
Sesaat menatap langit. "Yahc... berjalan-jalan tak ada salahnya, lagi pula aku sudah terbiasa seperti ini," ungkapnya lalu berlari ke arah timur dari sisi Dataran Spear tanah Outcast menuju Rawa Hening Goblin area.
Beberapa menit setelah berlari ke sisi timur ia sampai di pinggiran Dataran Spear. Donpa memasuki hutan yang cukup rimbun, kali ini ia melompat melewati pepohonan melalui cabang pohon yang menjadi penghubung.
__ADS_1
Beberapa tahun lalu aku membutuhkan waktu berhari-hari untuk berjalan melewati gunung-gunung di tanah Outcast.
Aku merasa lelah karena jalan yang ku lewati tidak datar
Tapi kali ini, aku merasa nyaman dan menghemat tenagaku
Aku dapat melompat ke sana kemari dengan mudahnya, gumam Donpa sambil melompat di antara pepohonan menuju kawasan Rawa Hening tanah Outcast.
Setelah beberapa saat Donpa memasuki pedalaman hutan, akhirnya ia melihat beberapa buah yang tampak segar, ia pun berhenti dan lalu mengambilnya. "Waaaaa setelah sekian lama ..., akhirnya aku menemukan buah juga," tampak raut wajah bahagia melihat buah yang ada di hutan tersebut.
Melepas pakaian yang ia kenakan sebagai tas untuk membawa buah-buahan yang ia ambil. Setelah itu Donpa melanjutkan perjalanannya.
Jalan semakin curam menuju bukit yang tinggi, ia teringat sewaktu ia masih berjalan melewati gunung-gunung di tanah Outcast. "Mungkin aku sudah beristirahat, haha ...," ucapnya lalu tertawa.
Perjalanan menuju Rawa Hening menghabiskan waktu 32 jam, Donpa tak beristirahat sedikitpun, bahkan dalam gelap ia dapat melihat cukup baik karena ia sudah terbiasa melatih mana untuk indra penglihatannya di malam hari.
Sesampainya di Rawa Hening dengan keaadaan gelap gulita, ia melihat beberapa mahkluk yang menyerangnya dulu yaitu Chimera.
"Akhirnya ketemu ...." Dari pepohonan tempat Donpa melintas, ia melihat 3 Chimera sedang berjalan di bawahnya.
Segera Donpa melancarkan serangan dengan kakinya yang langsung mengarah ke Beast.
"Cukup keras ...," ucap Donpa yang merasakan kulit Beast setelah ia menendangnya.
Dua chimera yang ada di belakangnya bersiap menyerang dengan kedua tangannya.
"Oops ...," ucap Donpa melihat ke belakang lalu melompat menghindari serangan Beast. "Hampir saja."
Beast yang datang dari arah berlawanan, menyerang dari belakang dengan cepat setelah Donpa menghindari serangan Beast pertama, sambil melakukan serangan balasan dengan cara menendang wajah Beast.
Serangan beast kedua tidak dapat dihindari Donpa hingga punggungnya terkena pukulan Beast.
Akh ...!!!
Donpa yang terpental sejauh 20 meter menghantam sebuah pohon hingga roboh.
"Sial ..., padahal pukulannya terlihat lamban, seperti kucing yang sedang menampar sebuah mainan, tapi kenapa begitu terkena, serangan itu menjadi sangat kuat," gumam Donpa menahan rasa sakit setelah terkena pukulan dari Beast dan menghantam pohon.
Auman Chimera terdengar begitu keras hingga memekakkan telinga, Donpa yang terbaring setelah serangan itu perlahan berdiri lalu tertawa.
"Haha ..., sial monster ini jauh lebih kuat dari hewan-hewan yang aku hadapi sebelumnya," ucap Donpa menatap tiga Chimera yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Donpa mulai bersiap menyerang dari depan seraya memusatkan mana lalu berteriak.
Tampak aura hitam yang menyelimuti pergelangan tangan dan kakinya.
Chimera pun juga bersiap bersama dengan ular yang ada di ekornya.
Pertarungan sengit terjadi, meski terlihat ayunan yang pelan namun serangan Beast sangat lah kuat saat mengenai lawannya. Donpa yang menghindari serangan Beast langsung melayangkan serangan balik ke arah wajahnya, meski pukulan itu masuk, ular yang ada di ekor Beast dengan cepat membalas pukulan Donpa dengan cara menggigit perut Donpa lalu mengibas-ngibaskan kepalanya. Donpa yang terayun tidak dapat melepaskan gigitan ular tersebut hingga ular itu melemparnya.
Donpa yang terpental ke arah depan, disambut Beast lain yang sudah menunggunya dengan memukul layaknya kucing yang memukul ke arah bawah.
Pukulan itu berefek kuat hingga tempat yang menjadi pendaratan donpa retak, tampak darah donpa keluar dari segala sisi melingkari dirinya yang terkapar di tanah.
Sial ...!
Aku tidak membawa buah ensnare.
Aku tidak dapat beregenerasi.
Beast kembali menyerang dari sisi kanan, Donpa yang merasakan serangan Beast mencoba berdiri lalu menahannya dengan kedua tangannya.
Serangan Beast itu semakin kuat hingga Donpa terpental sangat jauh.
Aaaakh ...!
Apa aku akan mati.
Serangan yang menjatuhkan 4 pohon sekaligus membuat Donpa tak lagi berdaya.
Beast pun kembali menyerang.
Yah ..., aku akan mati, ternyata aku masih belum cukup kuat.
Namun, seketika serangan itu terhenti saat para Beast mencium bau darah Donpa, makhluk itu tampak mengendus-endus mendekatkan hidungnya ke wajah Donpa.
Tampak Beast menjilati tubuh Donpa.
Apa?
Apa yang terjadi pada mahkluk ini?
Karena terlalu banyak darah yang keluar, perlahan kesadaran Donpa menghilang, ia pingsan di tengah-tengah para Chimera.
__ADS_1