New World : Donpa

New World : Donpa
Dataran Spear


__ADS_3

Dataran Spear adalah padang rumput yang tak tertutup awan tebal di tanah Outcast. Dataran Spear adalah rumah bagi flora dan fauna beragam jenis di satu tempat tanpa ada nya monster di wilayah tersebut. Meldanova menjadikan Dataran Spear sebagai taman di tanah Outcast.


Donpa tidak tahu sekarang ia berada di mana, Meldanova pergi meninggalkanny saat ia sedang melakukan meditasi, ia tidak membawa perlengkapan apapun termasuk peta.


"Sial, ke arah mana pohon Ensnare berada, harusnya pohon itu terlihat dari sisi mana pun di tanah outcast," keluh Donpa seraya memperhatikan sekitar.


"Siaallll ... hari semakin gelap, harus bermalam di mana aku ...!!"


Tindakan sengaja yang dilakukan oleh Meldanova, bertujuan untuk melatih pengendalian mana Donpa, ia meyakini jika bisa menguasai pengendalian mana, mudah bagi Donpa untuk kembali ke Pohon Ensnare.


Donpa lebih memilih untuk beristirahat daripada mencari jalan untuk pulang. Melihat hari semakin gelap ia berinisiatif mendirikan tempat untuk ia berlindung yang terbuat dari ranting dan akar pohon.


Saat itu juga, Donpa bergegas mencari semua bahan yang ia perlukan. "Ini jauh lebih sulit dari pada saat dia meninggalkan ku di pohon Ensnare sendirian," ungkap Donpa sambil memperhatikan area sekitar mencari ranting-ranting pohon di sekitar bebatuan.


"Tunggu? Di mana pohon-pohonnya ...!" Teriak kesal melihat pohon yang tumbuh di area sekitar hanya sedikit. Dari 95% Dataran Spear diisi dengan rumput hijau dan bebatuan berukuran besar.


Seolah dataran itu memaksa nya untuk menguji kemampuan bertahan hidupnya, Meldanova tidak segan-segan meninggalkan Donpa di manapun.


Donpa yang kewalahan, memilih kembali ke tempat Meldanova meninggalkannya.


Ia berbaring di atas batu besar seolah tampak mengeluh, menyesalkan waktu yang ia habiskan untuk mencari ranting dan akar, harusnya ia habiskan waktu itu untuk mencari makanan. "Tak terasa hari sudah gelap, tak ada cahaya apapun yang dapat kulihat."


Ia terbaring menatap langit, dengan menikmati otot dari sistem pencernaan yang berkontraksi. "Sial ...! Buah Ensnare pun tak sempat kubawa," ucap Donpa ditemani oleh suara perut yang keroncongan.


Di kegelapan tak banyak aktifitas yang ia lakukan, hanya berbaring dan melipat tubuh seperti orang yang kedinginan. Dataran Spear terkenal dengan angin dinginnya saat malam hari, dikarenakan tidak ada pepohonan yang menahan angin di tempat itu.


"Di-dingin sekali di sini," ucap dengan tubuh yang bergetar karena dinginnya tiupan angin.


Ini adalah malam pertama yang sangat sulit dilalui Donpa, hingga ia terjaga sampai pagi tiba, lalu memikirkan segala sesuatu yang harus dipersiapkan di malam berikutnya.


"Jika saja aku membawa buah Ensnare, aku tidak akan kelaparan seperti ini." Kuatnya angin ditambah perut yang kosong membuat ia semakin lemah tak berdaya, ia berpindah ke balik batu untuk berlindung dari hembusan angin.

__ADS_1


Hari berikutnya dibuka dengan kicauan burung di sekitar tempat peristirahatan Donpa, mendengar kicauan itu ia langsung mencari segala sesuatu yang dapat ia makan.


"Aku sudah tidak tahan lagi," ungkap Donpa seraya berdiri memperhatikan sekitar.


Berdiri di atas batu tempat meditasi, ia memperhatikan sekitar, mencari sesuatu yang dapat ia makan.


"Itu, kelinci waktu itu." Ia melihat beberapa ekor kelinci karnivora yang kala itu memakan jari manis dan kelingkingnya.


Ia pun berlari mendekati sekelompok kelinci karnivora yang ia targetkan. Kelinci-kelinci di tanah Outcast berbeda dengan kelinci pada umumnya, mereka tidak takut berhadapan dengan predator bahkan ia tak kan berlari pergi justru berbalik menyerang.


Melihat kedatangan Donpa, membuat beberapa kelinci menatap tajam hendak bersiap melompat ke arahnya.


"Sial ..., aku tidak punya sesuatu yang bisa dilakukan untuk menyerang ataupun bertahan," gumam Donpa memperhatikan sorot mata dari kelinci-kelinci yang bersiap menyerangnya.


Donpa pun mengurungkan niat untuk menangkap kelinci itu, hingga akhirnya ia berbalik kembali ke tempat peristirahatannya.


"Aaaa ..., tak adakah sesuatu yang dapat kumakan di tempat ini?"Teriak Donpa.


"Apa tidak ada batu yang ukurannya lebih kecil dari ini?" ucap Donpa.


Batu seukuran 10-20 cm pun tak dapat ia temukan, Donpa benar-benar dibuat kewalahan menahan lapar, meski memiliki pemandangan yang indah, tempat itu seperti neraka di mana yang lemah akan mati dengan sendirinya.


Ia pun kembali terduduk di atas batu besar tempat Meldanova menyuruhnya untuk bermeditasi.


"Bagaimana bisa aku bermeditasi, perutku sangat lapar," ungkap Donpa sambil terduduk memperhatikan sekitar.


"Tak ada air ..., tak ada pohon ..., bahkan terik matahari di sini jauh lebih kuat. Perempuan itu benar-benar ingin membunuhku," gumam Donpa.


Umumnya hewan-hewan herbivora yang ada di dunia Donpa, di tanah Outcast ini mereka semua menjadi hewan karnivora. Tidak ada satupun hewan yang dapat ia buru tanpa senjata.


Di Dataran Spear tidak ditumbuhi banyak pepohonan yang memiliki buah, umumnya hewan-hewan yang hidup di Dataran Spear saling berburu satu sama lain.

__ADS_1


Waktu terus berlalu, tak banyak yang dapat Donpa lakukan, tubuhnya semakin lemah, hingga ia terbaring menatap hewan-hewan yang tengah berkumpul di kelompoknya masing-masing.


Ada sekelompok kelinci, bison, domba, rusa, gajah seperti hewan-hewan herbivora pada umumnya yang berkumpul untuk memakan tumbuhan, tapi apa yang dilihat Donpa itu berbeda. Layaknya manusia yang hendak untuk berperang, mereka seperti sudah siap di dalam kelompoknya untuk memangsa kelompok lain demi mendapatkan nutrisi dan air dari tubuh lawannya.


"Aku benar-benar tidak mengerti konsep kehidupan makhluk-makhluk di tanah ini," ucap Donpa memperhatikan hewan-hewan pemangsa itu.


Terdiam dalam lamunan ia kembali mengingat konsep mana yang diajarkan Meldanova. Denyut darah semakin lemah membuat ia sedikit lebih merasakan aliran mana yang ada di dalam tubuhnya.


Kala itu tanpa sengaja ia memperhatikan hewan yang berkumpul dalam kelompoknya, tanpa sengaja ia memfokuskan mana pada saraf matanya hingga ia mampu memperdekat jarak pandangnya.


"Hah ...?" Terkejut hal yang baru saja terjadi ia terduduk lalu mengusap kedua matanya.


"Barusan ..., aku bisa melihat lebih dekat," ucap Donpa mengulang penglihatannya.


Seolah tidak percaya dengan sesuatu yang baru saja terjadi. "Ba-bagaimana itu bisa terjadi." Kembali mengusap kedua matanya.


"Apa ini mana control yang dikatakan Meldanova?" bergumam terbayang ucapan Meldanova yang mengatakan mana mampu mempertajam indra tubuh.


Ia pun kembali bermeditasi, menyilangkan kedua kakinya lalu memejamkan matanya.


Ia berusaha merasakan aliran mana yang ada di dalam tubuhnya, lebih dalam, sangat dalam hingga ia mendengar suara beberapa hewan di sekitarnya.


Beberapa saat setelah meditasi ia kembali membuka kedua matanya, lalu melangkah menuruni bebatuan tempatnya bermeditasi. Tak jauh dari sana sekitar 5 meter ia melangkah, ia menangkap seekor ular dengan tangan kanannya, tak membutuhkan waktu lama, ia langsung memakan ular itu mentah-mentah.


Perlahan Donpa mulai memahami cara kerja mana yang ada di dalam tubuhnya, ia bisa merasakan, mendengar segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitar nya.


Beberapa waktu telah berlalu, proses meditasi terus dilakukan berulang-ulang kali. Tampaknya Donpa sudah mulai terbiasa hidup berburu. Kini penampilannya tampak berantakan, rambut yang memanjang, pakaian yang rusak menandakan ia sudah hidup di Dataran Spear dalam waktu lama.


Terbangun dari tidur, ia berkata, "522 ...." Perlahan mencoba membangunkan tubuhnya untuk duduk. "Sudah 522 kali aku melihat matahari pagi yang menyambut ku di sini..."


Memperhatikan kedua tangannya lalu berkata, "Aku tidak tahu berapa lama ia akan kembali menjemput ku."

__ADS_1


Proses bertahap yang menambah sensitivitas indra yang membuatnya mampu merasakan kehadiran hewan di radius 50 meter sekitarnya.


__ADS_2