
Jiwa Meldanova terperangkap di dalam diri Donpa, ia juga tidak dapat mengambil alih tubuh yang masih memiliki jiwa. Meski begitu, jiwanya telah menyatu dalam satu tubuh, ia tidak dapat merasakan, melihat ataupun mendengar dengan situasi yang Donpa alami. Terperangkap di dalam sana, membuatnya merasa jenuh, bosan dan kesepian.
Satu jam di dunia nyata terasa seperti ratusan tahun di dalam sana, terlebih di tempat itu sangat gelap hingga ia merengek memohon kepada Donpa, untuk segera mengeluarkannya dari dalam tubuhnya.
"Aku tidak tahu caranya haaaa ...." Teriak tangis Meldanova, setelah Donpa menanyakan bagaimana cara untuk keluar dari sana.
Tidak ada jalan keluar untuk Meldanova, sekalipun ia menggunakan semua sihir yang ia miliki, sebab dunia mereka berbeda, eksistensi sihirnya tidak dapat terhubung ke dunia Donpa.
"Melihat kondisinya seperti itu," gumam Donpa memperhatikan sekitarnya.
Aku merasa tidak tega.
Meldanova tampak seperti gadis malang yang kesepian, sambil menangis ia merengek meminta pertolongan.
"Ayolah ... huhu ...huhu ...." Tangis terisak-isak sambil menggosokkan kedua matanya dengan tangan kanannya, ia berkata, "Bantu aku keluar dari tempat ini, Donpa."
"Aku pun juga tidak tahu bagaimana caranya, ha ... haha ... haha ...." ucap Donpa sambil menggaruk rambut bagian belakang seolah tampak bingung lalu terpaksa tertawa dengan terbata-bata.
Donpa teringat akan sesuatu. "Oh iya, bukan kah kau punya banyak sihir di dalam Widsith ...?" Tampak seperti memukul telapak tangan kirinya dengan tangan kanan yang menyerupai palu.
"Sudah kulakukan berkali-kali." Sambil menggerakkan kedua telapak tangannya, Meldanova mengeluarkan Widsith ."Lihat, di sini semua sihir tidak dapat digunakan ...!!"
Meski Meldanova merasakan mana nya berkurang saat menciptakan sihir, tak satupun sihir dapat diwujudkan di tempat itu, ia terus menerus mengulang menyebutkan mantra sihir secara bergantian, namun semua yang dia lakukan gagal, bahkan sihir cahaya sekalipun tidak dapat mengeluarkan sinarnya.
"Lihat ..., bahkan untuk menerangi tempat ini pun aku tidak bisa," ungkap Meldanova tampak frustasi dengan sihir cahaya yang bersinar di telapak tangannya namun cahayanya tertahan tak mampu menyebar di tempat itu.
Jika dilihat-lihat memang sedikit aneh.
Cahaya yang keluar dari sihirnya tak mampu menerangi ruang ini, padahal sinar itu sangat kuat.
Bahhkan mataku tak mampu menatap terlalu lama.
Ta-tapi kenapa?
Tubuh kami terlihat jelas di tengah-tengah kegelapan ini.
__ADS_1
Donpa tampak mencoba mencari cara untuk mengeluarkan Meldanova dari dalam tubuhnya, membaca situasi dan menganalisa segala bentuk sihir yang telah dikeluarkan oleh Meldanova, tetapi sihirnya tersebut terpatahkan oleh kegelapan, bahkan sihir cahaya pun tidak mampu menerangi tempat itu.
"Bukan kah, ini tempatmu melepaskan manaku dulu?" Donpa mengingat kejadian saat Meldanova membukakan gerbang mananya.
"Huh ...?" Seketika isak tangisnya pun terhenti mendengar ucapan Donpa.
"Itu benar ..., ini bukan alam bawah sadarmu, melainkan di dalam tubuhmu ..., ini semua adalah warna dari mana mu," jawab Meldanova memutar tubuhnya memperhatikan sekitar.
"Aku tidak tahu sudah berapa tahun di dalam sini, aku tidak dapat mengetahui situasi dan kondisi di luar sana." Berbalik menatap Donpa, ia bertanya, "Apa yang sudah terjadi di luar sana?"
"Tahun ...?" Merasa kaget dengan ucapan Meldanova, Donpa menjawab, "Baru beberapa jam setelah kematianmu, kurasa belum sampai 24 jam." Sambil mengingat-ingat kejadian sebelumnya Donpa tampak berpikir memberikan penjelasan. "Hemmm ..., setelah itu aku mencoba mencari tau seluruh isi ruangan di dalam pohon Ensnare, aku baru sampai di ruang ke 862."
Mendengar ucapan Donpa, sontak Meldanova memotong ucapannya. "Apa yang akan kau lakukan di rumahku ...!!?"
Tampak gelagat Meldanova yang tidak menyukai dengan apa yang dilakukan Donpa terhadap rumahnya.
"Aku ingin tahu apa saja isi ruangan itu, sejauh ini hampir seluruh ruangan adalah kamar tidur, apa kau ingin membuka penginapan?" tanya Donpa.
"Apa urusanmu membuka semua kamar di rumahku ...?" Terdengar nada Meldanova yang meninggi.
"Apa kau bilang ...!! Kau memutilasi tubuhku ...!!!" Teriak Meldanova sambil memegang kedua bahu Donpa, lalu meremasnya.
Meldanova tampak terkejut dengan apa yang sudah Donpa lakukan terhadap tubuhnya, ia bergumam.
Wajar saja jiwaku tidak dapat kembali ke tubuhku.
Oleh karena itu, aku terdampar di dalam aliran mananya dan hidup sebagai entitas yang berbeda dari dunianya.
Sambil merengang kesakitan, Donpa membenarkan tindakan yang sudah ia lakukan kepada Meldanova. "Ya ..., aku membagi tubuhmu menjadi beberapa bagian, lalu membuangnya satu persatu di tempat yang berbeda." Dengan santai Donpa menjawab.
"Ba-bagaimana kau bisa tau kelemahan sihirku ...?" tanya Meldanova.
"Aku tidak tahu kelemahan sihirmu, tiba-tiba saja aku terbangun dari tidur dan di sana aku melihat tubuhmu tengah terbaring di sebelahku." Menjawab pertanyaan, Donpa tampak memperagakan adegan saat memutilasi tubuh Meldanova. "Begini ..., lalu aku memotong lehermu, tapi aku tidak puas, lalu ku potong menjadi 10 bagian, pada saat itu aku takut jika saja kau kembali sadar, karena tidak ingin membuang-buang waktuku, segera aku buang beberapa bagian tubuhmu ke sisi jurang yang berbeda, yang mengarah ke aliran sungai, dan yaph ..., awan tebal yang menutupi Outcast telah hilang hahahaa ...."
Tertawa dengan bangga, Donpa menceritakan kejadian saat itu.
__ADS_1
Mendengar tawa Donpa yang terbahak-bahak memancing amarah Meldanova
"Brengsek kau ...!!!" Seketika pukulan kuat mengarah ke kepala Donpa.
"Aduh ...!!" Reflek tangan Donpa memegang bagian kepala yang di pukul Meldanova. "Sa-sakit bodoh ...!!"
Tampak wajah Meldanova yang sangat marah hingga urat di kepalanya terlihat di mata Donpa.
"Ma-maafkan aku ...!" Melihat ekspresi Meldanova yang sangat menakutkan, Donpa langsung melompat memeluk kaki Meldanova sambil terus menerus berteriak. "Maa-maafkan aku ..., maafkan aku ...."
Meldanova yang terjebak di dalam aliran mana Donpa tidak dapat melakukan banyak hal selain mencari dan menunggu bagaimana cara ia dapat keluar dari tempat itu, ataukah ia benar-benar akan mati setelah keluar dari dalam tubuh Donpa.
Donpa menceritakan apa saja yang terjadi setelah kematian Meldanova, ia menyimpulkan keadaan di dalam dan di luar memiliki perbedaan waktu yang sangat jauh hingga ia merasa bosan.
Berbeda dengan Donpa yang merasa kebalikannya, beberapa menit di dalam aliran mananya terasa beberapa jam di dunia nyatanya.
"Jadi ..., untuk apa kau menciptakan rumah dengan ruangan yang begitu banyak?" Tanya Donpa.
"Bagaimana ya ...." Termenung seolah sedang mencari alasan, Meldanova menjawab. "Kurasa sudah menjadi ciri khas manusia bukan? Jika ia miliki sesuatu yang berharga, agar tidak dicuri orang lain, ia akan menyembunyikannya di tempat yang sulit ditemukan."
"Maksudmu ...? Kau sengaja membuat rumah seperti labirin? Agar tidak ada yang tahu di mana kau menyembunyikan sesuatu yang berharga itu?" tanya Donpa
"tepat sekali !!" mengoyangkan telunjuk seolah membenarkan ucapan donpa.
"Jadi ..., apa yang kau sembunyikan di tempat itu?" tanya Donpa, dengan ekspresi penasaran akan rahasia yang disembunyikan oleh Meldanova.
"Kenapa tidak kau teruskan campingmu di dalam rumahku hingga kau dapat memasuki seluruh ruangan di dalam rumah itu?" jawab Meldanova.
"Bahkan setelah aku sampai di kamar 862, ujung dari anak tangga itu tidak terlihat." jawab Donpa.
"Yaps ..., perjalananmu masih saaaaaa ... ngat panjang." Menarik telunjuk mengarah ke atas seolah menunjukan bahwa ketinggian pohon Ensnare masih sangat jauh di telusuri Donpa.
Mendengar penjelasan Meldanova, Donpa tampak terkejut sontak menjawab. "Apa ...!! Masih sangat jauh ...? Dan masih banyak pintu yang belum ku telusuri?"
Pohon Ensnare adalah pohon yang dibuat untuk menyesatkan para pencuri, di dalamnya memiliki ruang yang dapat berubah-ubah setiap saat, tak mudah menemukan satu ruang dengan ruang lainnya, apa bila sudah menaiki setengah lantai, orang-orang umumnya tidak dapat kembali ataupun naik. Mereka akan terjebak di tengah-tengah anak tangga dan terus berputar-putar hingga mereka mati dengan sendirinya.
__ADS_1