New World : Donpa

New World : Donpa
Lubunica


__ADS_3

Hari yang cerah membuat suasana kota tampak begitu indah, kepadatan penduduk di sekitar perpustakaan membuat Meldanova melirik ke arah jendela, seraya bergumam.


"Tak seperti di kerajaan Melkuera, tempat ini begitu menarik."


Mengalihkan pandangannya dari jendela bergegas maju menuju ruangan besar dengan beberapa buku tebal yang ia bawa.


"Menyusun buku seperti ini, mengingatkanku sewaktu kecil."


Meldanova lahir di Melkuera, salah satu Kerajaan besar yang menguasai 60% wilayah Wind Spring, sebuah wilayah yang ukurannya 6 kali lebih luas dari tanah Outcast.


"Permisi ...."


Dari arah pintu terdengar suara dari pengunjung perpustakaan Theresa.


"Iya ... silahkan ...," jawab Meldanova, lanjut berjalan menghampiri sumber suara.


"Ma-maaf ... apa kau Meldanova?"


Dari apa yang Meldanova lihat, tampak seorang perempuan dikawal oleh empat orang yang cukup kuat.


"Iya benar, ada yang bisa saya bantu?"


"Woahaha ...." Teriak sambil tertawa perempuan itu berlari mendekati Meldanova.


"A-apa yang kau lakukan." Tampak risih Meldanova menjawab.


Sambil memeluk Meldanova, perempuan itu berkata. "Kita akan menjadi guru di sekolah yang sama kak Nova."


"Kak Nova?"


"Apa itu?"


"Namaku Prisela pemilik perpustakaan Solana, salam kenal kak Nova hihi."


"Apa yang baru saja kudengar ini?"


"A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


Terheran-heran Meldanova dengan ucapan Prisela.


Beralih ke Donpa yang ada di Outcast tengah asik berenang di sisi tebing dengan kedalaman puluhan kilometer.


"Woaa ... segar juga air di bawah sini."


Perlahan Donpa mengitari area sekitar Ensnare, di setiap sisi ditutupi jurang sangat dalam.


Hanya ada satu jalan penghubung ke arah luar Ensnare, yaitu jembatan berkabut, terletak di sisi timur laut.


Karena rasa penasarannya pada tiap sisi Ensnare ia memilih menuruni jurang itu, hingga akhirnya ia menemukan danau luas yang mengelilingi Pohon Ensnare.


"Tempat ini cukup nyaman, baiklah ...."


Ia mencoba menyalakan api untuk membakar ikan yang ia ambil di sekitar danau menggunakan tombak buatannya.


"Hari ini adalah hari ke empat setelah ia berkata aku akan pergi beberapa jam."


*A*ku mengambil beberapa peralatan yang ada di dapurnya untuk mengeksplor wilayah sekitar sini.


Sejauh ini tak ada tanda-tanda bahaya.


Tak ada makhluk buas dan tak ada ancaman yang datang.


"Akhirnya."

__ADS_1


Percikan api keluar dari batu bara, ia pun bersiap membakar ikan tangkapannya.


Sejak saat itu, aku mulai berpikir betapa pentingnya garam di setiap makanan yang kumakan.


"Baiklah ..., berikutnya kita akan mencoba memasuki hutan di seberang sana!!"


Berbekal tombak, pedang, pisau, dan batu api yang ada di dapur serta beberapa buah Ensnare yang ia bawa, Donpa mengeksplorasi wilayah sekitar Pohon Ensnare.


Hari pertama ia berjalan melewati jembatan berkabut, tak butuh waktu lama ia sampai di ujung jembatan lalu memutar dan menemukan seekor kelinci, sayangnya saat itu ia harus kehilangan jari kelingking dan jari manis ditangan kirinya.


Sejak saat itu ia mewaspadai setiap makhluk yang ia temui.


Hari kedua ia kembali ke jembatan lalu memasuki hutan, ia menandai setiap tempat yang ia lalui dengan goresan pedang. Ia menemui area berbukit terdapat banyak rusa tengah mengerumuni bangkai gajah.


Ia dibuat heran beberapa hewan herbivora yang ia temui menjadi karnivora di tanah itu.


Hari ketiga ia melewati tempat yang berbeda. Kali ini ia memutar ke sisi kiri mengarah ke bagian selatan.


Donpa mendapati sebuah pegunungan dengan hutan rimbun yang cukup padat, berbeda dengan sisi timur yang dominan diisi dengan padang rumput yang luas dan beberapa pohon kecil.


"Hutan ini, hampir sama dengan hutan yang aku temui sebelumnya."


Memasuki kawasan hutan, Donpa menelusuri wilayah serta tak lupa memberi tanda untuk jalan kembali.


"Tapi, tempat ini sedikit berbeda."


Donpa menyadari wilayah ini berbeda dengan wilayah sebelumnya, hanya sedikit rerumputan dan dipenuhi pepohonan menjulang tinggi yang rindang layaknya pohon cemara.


"Cahaya dari langit membuat tempat ini seperti dunia fantasi yang ada di dalam video game."


Sambil memperhatikan sekitar, Donpa terus menelusuri hutan menuju pegunungan lembah berliku.



"Kemungkinan tahun depan ajaran baru akan dibuka."


"Apa benar akan ada banyak siswa siswi dengan kemampuan yang unik?"


"Itu benar, kita tidak tahu bakat apa yang ada di dalam diri mereka. Kurasa ini akan menjadi pengalaman menarik dalam hidupku."


Jika saja.


"Tapi, hanya beberapa saat saja mereka dapat mengunjungi tempat ini kak Nova."


"Kenapa begitu?"


"Kemungkinan kita akan menghabiskan banyak waktu di dalam sekolah selama jam pelajaran."


Diantara mereka ada kemungkinan siswa ataupun siswi yang memiliki kemampuan unik.


"Oh ... tidak masalah, justru itu bagus bukan? Hahaa ...."


Aku akan mengambil tubuh mereka menjadi wadah reinkarnasiku.


"Apa kau sudah bertemu dengan calon guru lainnya?"


"sejauh ini aku hanya bertemu dengan mu saja, Prisela."


Membalikan wajah menatap pengawalnya.


"Di mana bukunya?"


"Baik, sebentar nona."

__ADS_1


Dengan cepat pengawal itu merogoh tas yang dibawa nya, lalu mengambil sebuah buku dengan judul Sekolah Sihir Lubunica.


Ini, nona."


"Baik, terima kasih."


Senyum manis lanjutnya menunjukan isi buku pada Meldanova.


"Di sini, ada beberapa daftar nama guru."


49 guru terpilih di Sekolah Sihir Lubunica


"Data dari kak Nova belum terdaftar dibuku ini, hanya namanya saja."


Wooaa ... informasi yang menarik di dalam buku ini.


"Diantara para guru ini, siapa yang terkuat?"


"Maaf kak Nova, sejauh ini hanya beberapa guru saja yang memungkinkan hampir mencapai tingkat Divine."


Apa? Ada penyihir sekelas divine menjadi guru.


"Tapi, jika kak Nova mencari penyihir terkuat semua ada didaftar kaisar sihir Lubunica, mereka semua adalah seorang kesatria, bukan seorang guru."


"Maksudmu?"


"Kekuatan mereka 10 kali lebih kuat dari para guru yang ada di sekolah sihir Lubunica."


"Se-sepuluh kali lipat?"


Terbata-bata Meldanova mendengar penjelasan Prisela.


Sekuat apa mereka semua?


"Itu benar kak, salah satu contoh adalah kesatria dengan tahta ke 9, Melionidas."


"Apa yang ia miliki?"


"Aku tidak tahu, ceritanya ia pernah mengalahkan Flugel."


"Flugel?"


Sontak terkejut Meldanova mendengar ras Flugel yang sudah Ratusan tahun ia mengembara tidak pernah menemukan makhluk itu.


"Bukan kah Flugel itu ras kuat yang hidup di Pohon Dunia?"


Pohon dunia adalah pohon terbesar di dunia dengan ukuran 10 benua yang disatukan. Pohon dunia adalah jalan masuk menuju Dunia atas tempat Old Deus berada.


"Iya, itu benar, justru Flugel itu menjadi peliharaannya sekarang."


"Bagaimana bisa makhluk sekuat Flugel menjadi peliharaan manusia ...!!!"


"Aku juga tidak tahu, mungkin saja kekuatannya melebihi Flugel."


Bukan kah ini gila.


Flugel itu ras ketiga terkuat dari struktur makhluk atas.


Bagaimana bisa.


Flugel yang memiliki kemampuan alami Divine di kalahkan manusia biasa.


Aku benar-benar bersyukur kepada Profesor Austria yang sudah mengizinkanku tinggal di disini untuk menggali informasi.

__ADS_1


Dengan begitu, aku bisa mencari wadah reinkarnasi sebelum tubuh ini menua lalu melanjutkan usiaku untuk beberapa puluh tahun ke depan.


__ADS_2