New World : Donpa

New World : Donpa
Blake


__ADS_3

Apa yang akan ku perbuat saat perempuan itu kembali.


Jika mekanismenya sama seperti saat ia membuka gerbang mana.


Harusnya itu adalah titik buta di mana aku bisa melakukan serangan kepadanya.


*Tapi jika ritualnya berbeda*.


Apa yang akan kulakukan.


Donpa yang berjalan melewati lereng gua menuju mulut gua.


Pagi itu Donpa telah bersiap pergi meninggalkan suku Vampir untuk kembali ke pohon Ensnare. Ia masih berharap dapat menemukan sesuatu di dalam perpustakaan tersembunyi milik Meldanova.


Melihat Donpa yang berdiam seolah sedang memikirkan sesuatu, Ririn bertanya, "Kapan kita akan bertemu kembali?"


Perjalanan Donpa ditemani nenek Myobu dan dua Vampir pria berbadan tegap serta Ririn teman lamanya. Menanggapi ucapan Ririn, Donpa menjawab, "Dalam waktu dekat, aku akan menjemputmu lalu bantu aku menghancurkan benteng perbatasan Melkuera ya."


"Hummm ...." Angguk Ririn mengiya kan ajakan Donpa.


"Sebelum itu, bawa lah ini Donpa," ucap nenek Myobu memberikan buku catatan milik tuan Kate yang sebelumnya pernah ia baca.


Mengulurkan tangan mengambil buku yang diberikan nenek Myobu. "Te-terima kasih nenek Myobu!" ucap Donpa seraya menundukan kepalanya.


Meski Donpa tidak mengerti bahasa Vampir, Ririn senantiasa menjadi penerjemah komunikasi antara nenek Myobu dan Donpa.


"Ngomong-ngomong." Menatap lereng gua sambil memegang dagu seolah sedang memikirkan sesuatu, Donpa bertanya, "Selama aku di sini, aku tidak melihat Lupus, apa yang terjadi padanya?"


"Lupus sedang menjalani ritual dosa di altar Novajan," jawab nenek Myobu.


"Ritual dosa? Maksudnya ritual yang bagaimana?" tanya Donpa.


"Ritual dosa adalah ritual Vampir yang berharap kemuliaan dari dewa Novajan," jawab nenek Myobu.


"Semacam ibadah kah?" gumam Donpa menyela penjelasan nenek Myobu melalui Ririn.


"Lupus satu-satunya Vampir yang mewarisi darah pemimpin Vampir, ia ingin menggapai kekuatan True Vampir untuk melawan Meldanova dengan cara memohon kemuliaan pada dewa Novajan." Nenek Myobu menjelaskan tentang dewa Novajan.


"Dewa itu sama dengan tuhan kan?" tanya Donpa.


"Iya, satu-satunya harapan kami adalah Lupus untuk menghentikan belenggu penyihir jahat yang telah menguasai tanah ini selama ratusan tahun."

__ADS_1


"Ritual seperti apa yang ia jalankan nek?" tanya Donpa.


"Di Altar Novajan, Lupus memberikan darahnya sembari berdoa dan terus meminta kepada dewa Novajan untuk memuliakan dirinya."


Sambil berjalan nenek Myobu terus menjelaskan kegiatan yang dilakukan Lupus selama satu bulan penuh.


"Kemuliaan yang seperti apa, maksudnya?" tanya Donpa.


"Bagi para Vampir, kemuliaan yang didapat dari dewa Novajan adalah setetes kekuatan yang diberikannya untuk pemujanya," jawab nenek Myobu.


Tampak terkejut kagum Donpa mendengarnya. "Wooaaa ... itu sungguhan? Lalu berapa lama Lupus ada di sana?" tanya Donpa.


"Sampai ia lelah dan memutuskannya kembali ke sini," jawab nenek Myobu sambil tersenyum kepada Donpa.


Apa di dunia ini dewa benaran ada?


Tapi ....


Jika dipikir-pikir sihir tak masuk akal seperti itu saja ada, kemungkinan dewa juga ada.


Donpa membayangkan sosok dewa yang sebenarnya seperti apa, lalu berkata, "Sial ..., aku juga ingin ke altar itu dan meminta kemuliaan juga," ucap Donpa.


Mendengar ucapan perpisahan Donpa, Ririn menjawab, "Jaga dirimu baik-baik, Donpa ...!"


Donpa melanjutkan perjalananya menuju pohon Ensnare, perjalanan yang cukup panjang melewati Reruntuhan Kota dan Pegunungan Outcast.


Selama perjalanan Donpa terus memikirkan tempat yang dibicarakan nenek Myobu, altar Novajan. Penasaran dengan altar itu dan berharap dapat bertemu dengan dewa Novajan.


"Seperti apa wujud dewa itu ...? Apakah dia lebih kuat dari perempuan itu ...?" gumam Donpa membayangkan sosok dewa Novajan.


Beberapa hari telah berlalu, Donpa tiba di pohon Ensnare, kondisi tempat sama seperti sebelumnya, tak ada yang berubah. "Perempuan itu belum kembali," ucap Donpa seraya membuka pintu lalu masuk ke dalamnya.


Di dalam ruangan melingkar dengan lantai yang tak terhitung jumlahnya, Donpa berjalan menuju lantai dua ke ruang perpustakaan tersembunyi.


Berjalan mendekati meja di antara lemari-lemari buku yang tinggi, ia meletakan tasnya.


"Baiklah, kita mulai dari sini."


Beberapa perlengkapan yang Donpa bawa dari reruntuhan ia keluarkan dari ransel besarnya.


Saat meletakan buku yang diberikan nenek Myobu, tiba-tiba buku itu bereaksi. "Haa ... apa ...? Ada apa ...?" Menatap buku yang ia letakan di atas meja seketika bergetar, lalu mengeluarkan cahaya berwarna hijau.

__ADS_1


Diikuti dengan buku yang ada di rak sebelah kanan Donpa juga bergetar mengeluarkan cahaya.


"Ada apa ini ...?" Donpa yang terkejut langsung menatap buku yang ada di rak.


Kemudian salah satu buku yang ada di rak bagian belakang ikut bergetar, mata Donpa pun teralih kembali ke buku yang bergetar di arah belakangnya.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" ucap Donpa lalu berdiri melihat ke tiga sisi, beberapa buku yang mengeluarkan cahaya hijau.


Kedua buku yang ada di rak tiba-tiba melayang mendekati buku yang dibawa Donpa. Ke tiga buku itu melayang di atas meja lalu menyatu hingga menimbulkan cahaya yang sangat menyilaukan.


Cahaya yang keluar membuat Donpa memejamkan mata, seketika angin kuat berhembus dari buku itu bersama dengan hilangnya cahaya.


"Grak ...." Suara buku yang melayang jatuh ke atas meja.


Seketika mata Donpa terbuka kembali melihat buku itu. "Ke-kemana ketiga buku tadi?" ucap Donpa lalu memeriksa sekitarnya.


Ketiga buku tadi telah menyatu menjadi sebuah buku berwarna hijau dan hitam, Donpa yang bingung menatap buku yang tergeletak di atas meja. "Bu-buku apa ini ...?" ucap Donpa terbata-bata.


"Itu adalah buku sihir." Gema suara yang terdengar di dalam perpustakaan tersembunyi


"Si-siapa?" Terkejut Donpa melirik ke kiri dan kanan.


Melangkah mundur melirik kiri dan kanan Donpa mencari asal suara. "Si-siapa kau?"


"aku ada di sini." Gema suara itu kembali terdengar entah dari mana.


"Si-siapa kau, katakan?" Teriak Donpa, lalu teringat Meldanova. "Kau Meldanova?"


Tiba-tiba salah satu buku yang ada di meja terbuka. "Bloodthing Wish?" ucap Donpa menatap buku yang diberikan Meldanova untuknya tiba-tiba terbuka.


Bersama dengan berkedipnya Donpa, ruangan yang ia tempati seketika berubah. Lantai yang ia pijak terbuat dari kayu berubah menjadi hitam.


"Haaaa?" Donpa yang terkejut, melangkah mundur melihat pijakannya menjadi hitam, lalu melihat ke sisi kiri dan kanan yang semulanya terdapat rak buku juga ikut menghitam. Sekelilingnya Donpa semuanya menghitam.


"Selamat datang di Library of the Soul." Gema suara diikuti langkah kaki yang mendekati Donpa dari sisi belakang.


Seketika mata Donpa teralih ke sumber suara, tampak seorang perempuan berambut hitam tebal bermata merah menggunakan jubah hitam dengan beberapa garis ungu dan merah berjalan mendekatinya.


Donpa yang terkejut melihatnya berkata, "Si-siapa kau ...?" Terbata-bata Donpa bertanya.


"Aku adalah buku yang menemanimu," ucap perempuan itu seraya tersenyum menampakan taringnya, lalu berkata, "Blake."

__ADS_1


__ADS_2