
Manusia memiliki dua kemampuan dasar yang bersumber dari jiwa atau roh dan stamina atau fisik. Jiwa atau roh memiliki eksistensi mana dan stamina atau fisik memiliki eksistensi core. Meldanova menjelaskan struktur kemampuan dasar manusia dengan cara memasuki alam bawah sadar Donpa lalu membuka gerbang mana yang ada di dalam diri Donpa.
"Kita dapat memulai mengetahui mana berjenis apa yang ada dalam tubuhmu, dengan cara masuk ke dalam jiwamu," ungkap Meldanova seraya memegang Bloodthing Wish lalu mendekati Donpa. "Dengan begitu kita bisa tahu penyebab kenapa dirimu tidak memiliki mana."
Mendengar ucapan Meldanova membuat donpa bertanya, "Apa yang akan kita lakukan?" Sambil menatap Bloodthing Wish yang ada ditangannya.
"Tak seperti Widsith, buku itu tak memiliki aura atau tekanan yang membuatku mual seperti sebelumnya." gumam Donpa memperhatikan buku itu.
"Baiklah ..., ayo kita mulai," ucap Meldanova mendekatkan telapak tangan kanannya ke dada Donpa.
Meldanova hendak masuk ke dalam jiwa Donpa, dari apa yang Donpa lihat, setelah ia katakan, "Ayo kita mulai." Tiba-tiba dirinya terjatuh menimpa Donpa. Kesadaran Meldanova hilang sesaat setelah melakukan transisi sihir memasukan kesadarannya ke dalam jiwa Donpa.
"Hee ...?" ucap Donpa sambil memegang tubuh Meldanova.
Meldanova melakukan transisi sihir jiwa agar dapat masuk ke alam bawah sadar Donpa dengan membawa Bloodthing Wish. Entah bagaimana struktur tubuh dan jiwa Donpa tidak memiliki keistimewaan hingga membuat Meldanova berkata, "Tak ada yang spesial di dalam tubuh ini."
Dari apa yang tampak dimata Meldanova, jiwa Donpa begitu jernih layaknya berdiri di atas air yang tenang tanpa hembusan angin.
"Jadi ... dari mana kita akan memulainya?" Sambil melangkahkan kaki bergerak maju ke bagian terdalam alam bawah sadar Donpa.
Ini kali pertamanya aku masuk ke dalam jiwa seseorang yang tidak memiliki mana ataupun core.
Layaknya berjalan di atas air, tiap langkah Meldanova seperti menggerakan air. Sambil memandangi sekelilingnya, hanya langit cerah dan genangan air yang tampak sejauh mata memandang.
Meldanova melangkah cukup jauh hingga terlihat sebuah gerbang raksasa yang berdiri kokoh tanpa sisi layaknya sebuah pintu tanpa bagian atau sisi lain untuk menghubungkan suatu ruang. Meldanova memutari gerbang tersebut lalu berkata, "Hee ... kedua sisi memiliki gagang pintu, jika kubuka di bagian sini apakah akan menembus ke bagian sana atau tidak keduanya?"
Ia tampak bingung memutari gerbang setinggi 8 meter dengan lebar 4 meter layaknya gerbang pintu istana. Pintu ini berwarna perak dan mempunyai dua handle berukuran besar di tiap sisinya. "Jika dilihat dari manapun, keduanya memiliki bentuk yang sama." Setelah mengelilingi dan mengamati gerbang hingga 23 kali, Meldanova memutuskan untuk membukanya.
Meski gerbang itu cukup besar, membukanya tidak lah sulit, hanya dengan menekan gagang pintu secara otomatis gerbang itu terbuka.
Greee ... eek ....
Terdengar suara pintu yang terbuka lalu mengeluarkan cairan hitam cukup banyak hingga menodai pakaian yang ia kenakan.
Perlahan cairan hitam itu menodai air yang menjadi pijakan Meldanova, serta langit-langit yang ada di atasnya perlahan berubah menjadi hitam. "Apa ini wujud mana dari anak ini?"
__ADS_1
Perlahan cairan hitam itu merambah ke seluruh sisi hingga tak menyisakan satu warna kecuali hitam. "Apakah ini mana? Ataukah core? Kurasa kedua pintu tadi menjadi pilihan untuk membuka gerbang mana atau core," ucap Meldanova seraya memperhatikan cairan hitam itu yang perlahan melahap seluruh sisi ruang dalam jiwa Donpa.
Setelah semua cairan itu sempurna menutup setiap warna, tempat itu seketika menjadi gelap tak berwarna. "Kurasa, aku butuh cahaya." Sambil menggerakan tangan kanannya Meldanova menggunakan sihir kehidupan memanggil sebuah tumbuhan seperti tumbuhan eceng gondok yang di mana batang dari tumbuhan itu mengeluarkan sinar yang cukup terang.
"Hmm ...?"
Meldanova dibuat bingung dengan tumbuhan yang ia keluarkan, ia menambah pasokan mana kepada tumbuhan itu untuk memperkuat sinar cahayanya.
"Ti-tidak berkerja?"
Cairan hitam itu melahap seluruh warna dan menghitamkan apapun yang ada di dalamnya, bahkan cahaya pun tak dapat menembus ruang itu.
"A-aku belum pernah melihat mana hitam segelap ini."
Mana kegelapan yang jauh lebih gelap dari pada hitam, begitu pekat hingga menghitamkan seluruh komponen, zat, dan satuan yang ada di sekitarnya.
"Haha ... luar biasa sungguh luar biasa ... aku hanya perlu mengembangkan anak ini hingga menjadi wujud yang sempurna untuku bereinkarnasi di tubuh ini." Sorak bahagia Meldanova melihat mana yang begitu pekat di sekitarnya, ia pun segera melakukan sihir pengikat pada Bloodthing Wish yang ada di tangan kirinya.
Setelah ritual itu selesai, Bloodthing Wish memiliki segel sihir tampak seperti logo di sampulnya dengan corak warna merah tua kehitaman.
"Sempurna ... haha ...."
"Sempurna ... haha ... sempurna ... SEMPURNA ...!!"
"Apanya yang sempurna?" jawab Donpa mendengar ucapan Meldanova.
"He ...?" Tersadar di dalam pelukan Donpa membuat Meldanova tersipu malu, lalu menjauhkan dirinya. "Ti-tidak apa-apa, tidak ada apa-apa."
Setelah gerbang mana dilepaskan tubuh Donpa mulai terasa ringan, perlahan syarafnya menyesuaikan bersama dengan kelima indranya.
"Jadi bagaimana- ... " Belum selesai bertanya Donpa mulai merasakan aliran mana yang mengalir di setiap pembuluh darahnya.
Ia pun memperhatikan jarinya lalu menggerakannya. "Apa ini mana?" tanya Donpa.
"Yaps ... gerbang manamu sudah kubuka, kau bisa menggunakan sihir sedikit demi sedikit."
__ADS_1
Donpa pun merasa bahagia lalu berdiri mencoba menggunakan mana yang ia dapatkan.
"Baiklah ... kita coba!!" Mengangkat tangan kanannya lalu tangan kiri memegang pergelangan tangan, Donpa mencoba menembakan sihir. "Bola api!!"
Melihat Donpa yang bersemangat membuat Meldanova tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha."
"Tembakan air!!"
Mengganti tangan kiri sebagai aliran dan tangan kanan sebagai penyanggah, Donpa melanjutkan. "Pisau angin!!"
"Haha ... tidak-tidak ..., bukan seperti itu cara menggunakannya," ucap Meldanova yang tertawa melihat Donpa.
"Kenapa tidak ada sihir yang keluar?" menatap telapak tangannya lalu mengayunkan pergelangan tangannya.
"Kau harus mencocokan mana mu pada sihir yang ingin kau gunakan, terlebih teknik dasar sihir itu digunakan dengan cara menggabungkan energi dan merasakan aliran mana lalu memusatkan pada satu titik yang akan dijadikan sumber perwujudan sihir," ucap Meldanova mencoba menjelaskan pada Donpa.
Merasa bingung dengan penjelasan Meldanova, Donpa bertanya, "Maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Ambillah ini." Meldanova menyerahkan Bloodthing Wish pada Donpa.
Terburu-buru Donpa mendekati Meldanova. "Hah? Buku ini untukku?" Tampak gelagat yang bahagia menerima buku sihir.
"Baiklah ... aku hanya perlu membaca buku ini lalu merapalkan tangan seperti ini kan?" Meniru gaya Meldanova saat menggunakan sihir The Widsith.
Setelah membuka Bloodthing Wish, Donpa dikejutkan dengan tulisan yang ada dilembar pertamanya. "Ba-bagaimana caranya aku membaca tulisan ini?"
"Haha ... kau tidak akan mengerti, karna yang bisa mengerti tulisan divdalam itu hanya pemiliknya seorang," ungkap Meldanova.
"Tapi ... kosong semua." Membuka tiap lembaran buku dengan cepat sambil mencari isi dari buku yang kosong itu .
"Tidak, aku cukup menulis di buku ini saja," ungkap Meldanova sambil memanggil The Widsith.
"Sial, ia mengeluarkan buku itu lagi," gumam Donpa sambil bersiap kabur, karena ia pernah merasakan tekanan yang kuat saat Meldanova mengeluarkan buku The Widsith.
Tunggu ...?
__ADS_1
Tekanan itu.
Tidak terasa lagi.