
Suasana tanah Outcast di pagi hari tampak seperti sore hari, matahari tak sekalipun pernah menampakan wujudnya, hanya kilauan cahaya tertutup kabut menghasilkan warna orange yang dapat dirasakan penghuni tanah Outcast.
Meski suasana tampak mencekam, bukan berarti tak ada kehidupan di dalamnya. Layaknya sebuah taman, kicauan burung kerap mewarnai suasana pagi hari. Seperti yang dirasakan Ririn saat berdiri di depan mulut gua, menatap hutan yang ada di depan mulut Gua Ogre.
"Kau menghawatirkan anak itu?" Terdengar sayup suara dan langkah kecil dari arah dalam gua yang mendekatinya.
"Humm ...." Ririn berbalik memperhatikan dalam gua dan melihat sumber suara itu. "Oh nenek Myobu." Tersenyum Ririn sambil menyilangkan tangan memegang kain yang menutup kedua bahunya.
"Setelah kepergian anak itu, setiap pagi kau selalu ke tempat ini." Berdiri di sebelah Ririn sambil menawarkan secangkir minuman hangat, nenek Myobu bertanya, "Apa kau menunggu anak itu?"
"Hampir satu minggu ia pergi, entah bagaimana keadaannya saat ini," ucap Ririn tampak membayangkan Donpa sambil menatap arah di mana Donpa mengucapkan salam perpisahan terakhir kali.
"Aku mengerti." Seolah tampak memahami ke khawatiran Ririn, nenek Myobu tersenyum sambil berkata, "Dia laki-laki yang kuat, cepat atau lambat ia akan segera menemukan cara melepaskan sihir Meldanova."
Menanggapi ucapan nenek Myobu, Ririn berkata, "Aku juga berharap seperti itu."
"Semoga kau baik-baik saja, Donpa." gumam Ririn, sambil menatap langit tanah Outcast yang berwarna orange.
"Nenek Myobu ...!" Dari kejauhan di dalam hutan, terdengar suara teriakan seorang perempuan yang memanggil nenek Myobu.
Tampak seorang gadis berlari dari balik hutan. "Woaaa ... Lupus ...!!" Teriak nenek Myobu menyambut Lupus yang telah kembali dari altar Novajan.
"Wahaha ..., akhirnya aku berhasil nek ...!!" Teriak Lupus sambil berlari ke arah nenek Myobu lalu memeluknya dengan erat.
Altar Novajan adalah tempat penyembahan Vampir kepada Dewa Novajan. Lupus melakukan meditasi di Altar dan mempersembahkan darahnya kepada Dewa Novajan, salah satu ras Old Deus yang berada di dunia atas.
Syarat dan ketentuan untuk mengundang kehadiran dewa Novajan adalah berupa darah murni keturunan tetua Vampir atau Vampir terkuat yang menjadi pemimpin di ras itu. Lupus merupakan Vampir keturunan berdarah murni, ia menggunakan darahnya sebagai persembahan untuk dewa Novajan. Darah murni Vampir diletakan di cawan emas yang ada di Altar, tepat di tengah-tengah tempat ritual.
Vampir yang memiliki keturunan murni harus bermeditasi mengorbankan sejumlah mana cukup besar untuk memanggil Dewa Novajan. Lupus berkali-kali gagal karena kehabisan mana saat memanggil dewa Novajan hingga akhirnya ia terus menerus berlatih dan mencoba untuk dapat bertemu dengan dewa Novajan.
Keberhasilan Lupus memanggil dewa Novajan menjadikan dirinya mendapatkan kekuatan sejati Vampir yang diberi kemuliaan oleh Old Deus.
"Saat itu, tubuhku bergetar nek." Lupus menjelaskan kejadian yang dialaminya. "Dewa itu datang, tapi aku tidak dapat melihat wujudnya, aku hanya bisa mendengar suaranya. Saat itu ia bertanya tentang aku, dan tentang kita para Vampir, lalu ia bertanya tujuanku dan permintaanku, aku hanya mengatakan, berikan aku kemuliaan untuk dapat mempertahankan ras terakhir di tanah ini."
"Lalu apa yang dewa itu berikan?" tanya nenek Myobu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang dewa itu lakukan, hanya saja aku merasakan banyak energi yang masuk ke dalam tubuhku dan itu terasa panas, hingga aku kehilangan kesadaran sesaat." Mencoba menjelaskan secara rinci, Lupus memperlihatkan perubahan wujudnya ke nenek Myobu. "Lihat ini nek ...."
Seketika sepasang sayap keluar dari pinggul Lupus, tampak seperti sayap kelelawar yang terbentang sepanjang tiga meter. "Aku bisa terbang nek ...!!!" ucap Lupus lalu melayang seolah tampak telah menyatu dengan angin tanpa harus mengepakkan kedua sayapnya.
Nenek Myobu terkejut melihat wujud Lupus yang berbeda, lalu berkata, "Kau tak terlihat seperti Vampir, melainkan tampak seperti Iblis."
Ririn yang melihat wujud Lupus tampak bersiaga melepas kain yang ia pegang.
Dari apa yang dilihat nenek Myobu, Lupus tampak memiliki sepasang tanduk seperti domba yang mengarah ke belakang, serta kulitnya tampak seperti kulit kadal di bagian lengan hingga ujung jari, kulit yang berwarna hitam dengan kuku panjang, begitu pula pangkal paha hingga ujung jari kaki, serta ekor dengan ujung yang runcing berwarna hitam, panjang mengibas-ngibas di belakangnya.
Lupus yang tidak tahu dengan wujudnya sekarang bertanya, "Apa yang nenek katakan? Ini adalah wujud pemberian dewa Novajan untuk mengalahkan Meldanova."
"Yang benar saja," ucap Ririn bersiaga jika Lupus menyerang.
Suara Lupus terdengar bergema, seperti memiliki 3 suara yang menyatu. Mendengar ucapan Ririn, Lupus melirik menatap Ririn. "Kau .... Kenapa?"
Wajah Lupus tampak memiliki dua mata kecil di bawah mata besarnya, dengan garis hitam yang tersambung dari mata ke lehernya.
Lupus tampak seperti tak memakai pakaian, ia terbang mendekati Ririn. "Kau ingin menyerangku?" tanya Lupus yang melihat Ririn bersiaga.
Ekor lupus yang runcing dan tajam, mengarah ke perut Ririn dari arah bawah. Pandangan Ririn yang menatap wajah Lupus, tidak menyadari hingga serangan itu tiba.
Beralih ke Donpa yang hendak beristirahat di salah satu kamar yang ada di pohon Ensnare.
"Yah ..., kurasa cukup sampai di sini, besok akan kulanjutkan kembali membaca buku-buku yang ada di perpustakaan itu," ucap Donpa beranjak pergi dari bangku dekat jendela dan mendekati ranjang tidurnya sambil melepas beberapa senjata yang masih ada di pinggang dan pahanya, lalu ia letakan di meja sebelah ranjang tidurnya.
Kilas balik ingatan itu masih teringat, kebencian terhadap pasukan perbatasan Melkuera. Seolah ingatan yang terus di beri pupuk hingga menjadi dendam yang teramat dalam. Seraya bergumam, "Aku tak akan mati sebelum orang-orang itu ku lenyapkan, tidak akan pernah ku maafkan apa yang telah kalian perbuat kepadaku dan teman-temanku."
Perlahan kesadaran Donpa hilang membawa kebencian yang begitu besar ke dalam tidurnya.
Ia bermimpi seolah ada yang memanggil namanya. "Donpa ... Donpa ... Donpa ...." Suara itu seolah semakin dekat dengan telinganya. "Donpa ...."
Merasa tidak asing dengan suara yang memanggil namanya. "Ru-Rumiaaa ...!" Menoleh ke kanan dan ke kiri, Donpa mencari sumber suara. "Kau kah itu? Rumia ...!!" Teriak Donpa memanggil Rumia.
Dari apa yang di lihat, ia berada di tengah-tengah ruang hampa yang putih dan sangat luas.
__ADS_1
"Donpa ... Donpa ... Donpa ...." Suara itu masih bergema di ruang hampa tempat Donpa berdiri.
"Di mana kau ...? Rumia ...!" Teriak Donpa melirik kiri dan kanan mencari keberadaan Rumia.
"Don-paa ...." Terdengar suara yang begitu dekat di telinga kanannya.
"Ru- ...," ucap Donpa yang tertahan saat menoleh ke sisi kanan melihat Meldanova yang membisiki telinganya. "K-kau ...!!"
"Haha ..., kau terkejut?" Candaan Meldanova kepada Donpa sambil tertawa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Donpa tampak waspada lalu melangkah mundur menjaga jarak terhadap Meldanova.
"Hmm ...." Melihat ekspresi Donpa yang menjaga jarak, Meldanova bertanya, "Apa ada yang salah denganku?"
"Ti-tidak ada apa-apa, haha ...." Terbata-bata Donpa menjawab lalu tertawa dengan terpaksa.
Menyadari kejanggalan terjadi pada Donpa, Meldanova mencoba mencairkan suasana dengan bertanya, "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau baik-baik saja?"
"Yah ..., cukup baik," jawab Donpa sambil melihat telapak tangannya.
"Bagaimana latihanmu? Kau sudah bisa mengendalikan mana?" tanya Meldanova sambil melangkah mengelilingi Donpa dan memperhatikannya.
"Yah ..., kurasa aku sudah cukup memahami konsep mana," jawab Donpa sambil memperhatikan Meldanova yang berjalan memutarinya.
"Wooaaa ..., benarkah ...?" Terhenti sesaat lalu menatap Donpa, seolah tampak kagum. "Bisa kau tunjukan padaku bagaimana kau mengendalikan mana?"
"Bisa, tapi sebelum itu," tanya Donpa.
"Sebelum itu?" Mengulang ucapan Donpa, Meldanova tampak memiringkan kepalanya seolah tampak bingung dengan pertanyaan Donpa.
"Kenapa kau begitu baik dan merawatku?" Menatap tajam, Donpa bertanya kepada Meldanova.
Donpa mempertanyakan tentang kebenaran dibalik kebaikan Meldanova mengapa ia menolong dan merawatnya. Satu hal yang diyakini Donpa, tak ada maksud jika memiliki tujuan.
Suasana mulai tegang saat pertanyaan Donpa terucap.
__ADS_1
Tertunduk seraya tersenyum Meldanova berkata. "Hooo ...."