New World : Donpa

New World : Donpa
True Vampir


__ADS_3

Meldanova adalah penyihir yang dibuang oleh kerajaan Melkuera. Raja William Vengeance berpikir bahwa kemampuan Meldanova sangat berbahaya dan berpotensi menghancurkan kerajaan, oleh karena itu raja meminta untuk ia mengembangkan kemampuannya di tanah Outcast tanpa tau dan kapan ia dibawa kembali.


Merasa senang Meldanova melakukan berbagai aktifitas sihir untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya. Pada saat yang bersamaan ia menjalin hubungan dengan salah satu vampir yang ada di tempat itu, yaitu tuan Kate Welson.


Tuan Kate kerap kali menghampiri Meldanova dan secara diam-diam membantunya untuk mengembangkan sihir.


Mengetahui aktifitas Kate kala itu membuat tetua vampir murka dan berusaha menangkap mereka berdua. Pertarungan sengit antara ras vampir dan mereka berlangsung di tanah Outcast.


Dampak dari peperangan itu cukup besar karena melibatkan seluruh ras vampir hingga akhirnya kematian tuan Kate menjadi pemicu amarah Meldanova.


Meldanova menyelesaikan peperangan itu dengan kemampuan yang ia kembangkan bersama tuan Kate, yang saat ini masih berdiri kokoh di pusat pulau, yaitu pohon Ensnare.


"Begitu lah awal mula kepunahan keempat ras terjadi," ungkap nenek Myobu.


Seolah tak percaya Donpa bertanya, "Sekuat itukah perempuan gila itu?"


"Rak hanya itu, bahkan sejak saat itu kami bersatu dengan ras lain untuk mengalahkannya, namun usaha kami sia-sia. Viper, Ogre dan Kukra 100% punah di tanah ini. Kami yang ada di sini hanya pelarian, meski kami berusaha bersembunyi dari Meldanova, ia kerap kali mengirim beberapa peliharaannya untuk membunuh kami." lanjut nenek Myobu menjelaskan.


"Peliharaannya? Maksudmu Chimera itu?" tanya Donpa.


"Benar ..., ada lima jenis Chimera yang berkeliaran di tanah ini. Terlebih tanah ini diselimuti kabut yang akan membuat orang-orang tersesat. Eksistensi sihir Meldanova juga mencakup menyegel waktu dan arah mata angin. Sudah dipastikan mereka yang berdiri di sini tidak akan pernah bisa keluar."


"Ta-tapi, bagaimana bisa Lupus berpergian bebas seperti itu?" tanya Ririn pada nenek Myobu.


"Hanya Lupus yang bisa bergerak bebas di luar sana, itu karena ia sama sepertimu," jawab nenek Myobu seolah menunjuk ke arah Ririn dengan matanya.


Merasa bingung dengan kesamaan Lupus dengan dirinya, Ririn bertanya, "Sama denganku? Maksudnya?"


"Kalian berdua sama-sama pengguna spirit."


"Hah ... benarkah?" Ririn yang terkejut langsung melontarkan sorot matanya pada Lupus.


Menjawab tatapan Ririn, Lupus hanya tersenyum.


"Tak sepenuhnya sama, kau menyatu dengan spirit sementara Lupus mengendalikan spirit." Nenek Myobu mencoba menjelaskan perbedaan kecil yang ada pada Ririn dan Lupus.


Dari apa yang dilihat Donpa, Lupus tampak mengangkat telapak tangan kanannya ke arah atas seolah sedang menampung sesuatu lalu mengucap sebuah nama. "Paimon."


Tampak wujud peri kecil berwarna kekuningan terbang di atas telapak tangannya.


"Ma-mahkluk apa itu?" ungkap Donpa yang terkejut melihat peri kecil terbang di atas telapak tangan Lupus.

__ADS_1


"Aku penguna spirit, tetapi tidak menjadi satu dengan nya, jadi aku bisa kapan saja memanggil spirit untuk membantuku," jawab Lupus.


Lupus adalah pengguna spirit yang memiliki kemampuan angin sama seperti Ririn yang memiliki Sylph berkemampuan angin. Perbedaan diantara mereka adalah pengendali dan penyatuan.


Penyatuan yang di miliki Ririn tidak dapat memanggil spirit ke dimensi nyata. Sylph hanya hidup dalam diri Ririn, penyatuan mereka memperoleh dua kehidupan dalam satu wujud di mana kemampuan Ririn dimiliki Sylph dan kemampuan Sylph dimiliki Ririn. Mereka berdua menyatukan takdir apa bila salah satu dari mereka mati, maka keduanya akan mati.


Keuntungan yang didapat dalam penyatuan adalah 100%, kemampuan yang sama-sama bisa saling dikendalikan oleh satu sama lain.


Berbeda dengan pengendalian, mereka hanya sebagai support, membantu satu sama lain. Tak ada kerugian diantara mereka dan tak ada keuntungan diantara mereka.


Mendengar penjelasan nenek Myobu membuat Ririn paham mekanisme kekuatan yang ada di dalam dirinya.


"Jadi karena itu, jika aku mati, maka Sylph juga akan mati."


Memahami ucapan nenek Myobu membuat Ririn tampak merenungi kejadian yang menimpanya.


"Jadi apa yang membuatmu keracunan sihir sebesar itu?" tanya nenek Myobu kepada Ririn.


Mendengar pertanyaan nenek Myobu membuat Ririn mengarahkan pandangannya pada Donpa.


"Ha ... kenapa? Apa yang dia katakan?." Donpa yang tidak mengerti dengan dialog mereka meminta untuk diterjemahkan.


"Buah apa yang kau miliki?" tanya Ririn.


Buah yang menyerupai apel ia keluarkan dari tasnya lalu memberikannya pada Ririn.


"Buah itu," bisik nenek Myobu tampak terkejut melihat buah yang dikeluarkan Donpa.


Tatapan penuh ketakutan melihat Donpa. "Jangan-jangan kau."


"Ha? kenapa? Apa yang dia katakan Ririn." Melihat ekspresi nenek Myobu dan Lupus membuat Donpa kebingungan.


Seketika Lupus langsung mengeluarkan panah yang terbentuk dari partikel sihir dan mengarahkannya pada Donpa.


"Hey ... hey ... ada apa itu?" Mengangkat tangan Donpa menjawab.


Tiba-tiba dari belakang seorang vampir menerjang rusuk Donpa ke sisi kanan.


Grak ....


Terdengar suara hempasan Donpa yang terlempar dan menabrak bebatuan dalam goa.

__ADS_1


"Uhuh, a-apa yang kau lakukan?" merintih menahan sakit sambil memegang rusuk, Donpa berusaha bangkit berdiri.


"Hentikan ...!" Ririn mencoba melerai pertikaian itu dengan berdiri membelakangi Donpa dan menghadap ke arah vampir sambil mengangkat kedua tangan seolah berharap segera dihentikan.


"Jangan biarkan anak itu terlalu lama di sini, ini berbahaya," ungkap nenek Myobu kepada Ririn.


Melihat Donpa yang hendak berdiri, Lupus melepaskan anak panah dengan partikel sihir berwarna kehijauan mengarah ke Donpa.


Secara naluri Ririn menghalau serangan Lupus dengan kemampuan anginnya. "Hentikan!"


Serangan itu meleset mengenai dinding gua.


"Donpa ... pergi dari sini, aku akan menahan mereka semua," ungkap Ririn sambil bersiap melakukan pertarungan.


Ririn tampak menggenggam angin seperti memegang kedua pedang.


Donpa berusaha pergi meninggalkan gua dengan langkah kecil membungkuk sambil memegang rusuknya.


Ransel yang berisi buah Ensnare yang ia bawa tertinggal, tampak beberapa vampir hendak menghancurkan ranselnya.


"Di dalam ransel itu bukan hanya buah, ada juga beberapa peledak," gumam Donpa memperhatikan aksi vampir yang berusaha menghancurkan tasnya dengan sihir api.


DDUuaaarrr ...!!


Suara ledakan yang meruntuhkan gua, mengakibatkan pemisah kedua sisi di antara Donpa dan Ririn yang sendirian menghadapi vampir.


Tak lama setelah ledakan itu, getaran bumi mulai terasa ditelapak kaki Donpa.


"Tampak seperti goa yang akan runtuh," gumam Donpa menatap kakinya yang bergetar.


"Si-sial ...."


Donpa yang mencemaskan Ririn, melirik ke arah belakang.


"Semoga kau baik-baik saja Ririn ..., uhuk-uhuk," ucap Donpa sambil terbatuk seperti tersedak.


Kembali melangkah ke arah luar gua, Donpa tampak mempercepat langkahnya sambil meraba dinding gua sebagai sandaran jika ia kehilangan keseimbangan yang disebabkan oleh getaran.


Gua pun runtuh setelah Donpa sampai di mulut gua, ia pun tersungkur dan terbaring lemah sambil memegangi rusuknya dan memperhatikan gua yang tertimbun bebatuan hingga tak tampak cela jalan keluar.


Donpa mulai kesulitan bernafas hingga kesadarannya perlahan menghilang.

__ADS_1


"Oya-oya ... baru kutinggal beberapa saat kau sudah bermain sejauh ini."


__ADS_2