NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 1


__ADS_3

"Berhenti, Nicholaa!"



Oh tidak, mendengar suara lantangnya saja sudah membuatku bergidik ngeri. Tapi aku harus berani, Aku harus terus melangkahkan kakiku, berlari jauh darinya atau hidupku akan berakhir bersamanya.



"Nicholaa!"



Tidak kuperdulikan sama sekali teriakan itu. Yang ada dalam fikiranku hanyalah kemana kakiku harus berpijak tanpa berhenti. Apa maksudnya? Menikah tanpa rasa saling cinta, itu sama sekali bukan impianku. Lagipula, dia siapa? Hanya rekan bisnis kak Megan yang sama sekali tidak aku kenal, lalu memaksaku menikah dengannya untuk dijadikan istri kedua? Oh, aku tidak akan membuat takdirku semengerikan itu.



"Nicholaa!!!"



Aku terus berlari disela-sela kendaraan yang berlalu lalang memadati jalanan ini. Suara klakson yang terus menelusup ke gendang telingaku tidak kupedulikan sama sekali.



"Berjalanlah yang benar, Nona!"



"Hei, kau buta?!"



"Kau ini cari mati atau bagaimana?!"



Bahkan teriakan demi teriakan yang terus memakiku sebab perjalanan mereka terganggu olehku, kuabaikan begitu saja.



"Nicholaa, berhenti!"



Ya Tuhan, suaranya semakin dekat. Tidak adakah yang ingin memberikanku satu permintaan disini? Aku mau peri mariposa datang lalu membawaku terbang tinggi. Menghilang, supaya dia tidak bisa mencariku lagi.



"Berhenti!"



Tidak akan.



"Berhenti atau kutembak kakimu sekarang juga, Nicholaa Johnson!"



Shit.


Langkahku terhenti.



"Berbaliklah, sweety," rayunya.



Ku tarik nafasku dalam-dalam sebelum menghadapnya. Ku putar tumit kakiku pelan-pelan. Dan, oh... lihatlah senyum seringainya. Membuatku bergidik ketakutan.



"Jangan mendekat!" bentakku menghentikan langkahnya yang mulai maju.



"Takluklah padaku, Nicholaa."



"Itu tidak akan terjadi, Tuan."



"Itu akan terjadi!"



"Seorang Megan Johnson tidak akan membiarkanmu begitu saja jika dia tahu tentang kelakuan bejatmu kepada adiknya sendiri!"



"Kau menghinaku, Nicholaa?"



"Ya, dimana hati nuranimu yang tega memaksa perempuan yang sama sekali tidak mengenalmu bahkan tidak memiliki perasaan apapun kepadamu?" aku tersenyum getir, "semengerikan apakah istrimu hingga kau tidak puas dan memaksa orang lain untuk menjadi istri keduamu?!"



"Hentikan bicaramu, Nicholaa! Apapun yang terjadi, kau harus tetap menikah denganku!"



"Tidak akan!"



"Harus!"



"Akan aku katakan semuanya kepada kak Megan, dan lihatlah apa yang akan dia lakukan kepadamu, Tuan."



"Jangan coba-coba dan jangan menolakku!"



"Aku menolakmu!"



"Maka aku bersumpah akan membuat hidupmu dan sekeluarga menderita!"



"Aku tidak takut padamu!"



"Nichola, berhentiii!!" teriaknya yang melihatku seketika kembali berlari menghindarinya.



Rasa takut bercampur sesak membuat air mataku lolos dari pertahanan. Inilah akibatnya jika William tidak juga kunjung pulang. Aku tidak terbiasa melawan apapun sendirian. Dari kecil dialah yang selalu menjagaku, menemani hari-hariku dari pagi hingga aku terlelap dalam mimpi. William satu-satunya teman yang aku punya, aku tidak memiliki sahabat siapapun selain dia. Aku terlalu terbiasa bersamanya, terlalu ketergantungan untuk berlindung di balik punggungnya. Hingga kepergiannya ke luar negeri untuk mengejar cita-citanya kini membuatku kalang kabut menghadapi dunia.



Sekujur tubuhku merinding mendengar hentakan sepatu di belakangku yang kian lama terdengar semakin dekat. Jantungku bergetar hebat. Tanganku terus menyeka air mata yang seakan ikut berbicara akan kegelisahan di ruang dalamku.



Aku kembali memijakkan kakiku dijalanan, ini satu-satunya cara supaya dia kesusahan mencariku. Padatnya kendaraan yang berlalu lalang akan membuatnya kewalahan dan menyerah. Tapi aku salah, dia terlihat begitu gesit hingga selalu bisa memergoki kemana arahku berlari. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus bersembunyi.



"Permisi, Nona," ucapku beringsut mendekati seorang perempuan yang berjalan menyusuri trotoar.



"Hei, apa yang kau lakukan?" protesnya ketika aku melingkarkan tanganku dan menyembunyikan kepalaku di bahunya.



"Tolong lindungi aku."



"Pergilah, kau mengganggu perjalananku."



"Ta-"



"Masuk mobilku!" ucapku terhenti ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam mobilnya.



Aku terkejut, siapa dia? Ku lihat dia memutari mobilnya lalu masuk dan duduk di kursi kemudi.



"Siapa kau?" tanyaku ketakutan.



"Hei, jawab pertanyaanku!!" bentakku ketika dia justru menjalankan mobilnya.



"Apa yang akan kau lakukan?" desakku lagi.



"Melindungimu."



"Melindungiku?"



"Ya."



"Kemana kau akan membawaku, Tuan?"



"Pulang."



"Tapi, Ruma-"



"Ya, aku tau rumahmu."



Aku tercengang. Bagaimana mungkin dia bisa tahu dimana rumahku sedangkan sebelum ini aku dan dia sama sekali belum pernah ketemu? Oh, lelucon apa ini? Dia pasti membohongiku.



"Jujur dan katakan kalau kau akan menculikku!" bentakku menahan takut.



Pemuda itu tersenyum lembut, "apa aku terlihat semengerikan itu, Nona?"



Mataku menyelidik. Kaos biru muda, celana jeans, dan sandal rumahan. Oh tidak. Bahkan dia sangat tampan.



"Hahahaha!!"



"Hei, kenapa kau tertawa?" kejutku.


__ADS_1


"Aku tahu apa yang ada di fikiranmu, Nona."



Mataku melebar, apa yang dia katakan barusan? Apa dia tahu bahwa baru saja aku bilang dia tampan? Ya Tuhan, makhluk apa ini? Dia tahu rumahku, dan sekarang dia tahu apa yang ada di fikiranku? Astaga, apa dia seorang pangeran yang Kau turunkan untuk menyelamatkanku?



"Maksudku, aku tahu kau sedang ketakutan."



Aku menghela nafas. Oh, Nicholaa, kau sudah berfikir yang tidak-tidak.



"Tenang saja, aku tidak tahu bahwa kau tadi bilang aku tampan."



Mataku lagi-lagi melebar, "hei, kau baru saja mengatakannya!"



"Oh ya? Kalau begitu aku tidak sengaja," dia menahan tawanya.



Aku terdiam, dia benar-benar membuatku malu. Bagaimana bisa dia menebak pikiranku?



"Tenang, Nicholaa. Aku bukan orang jahat."



Aku tersedak, "kau? Kau tau namaku? Sebenarnya anda ini siapa, Tuan?"



"Kesalahan apa yang sudah kau lakukan hingga membuat dia terus mengejarmu?"



"Kesalahan? Aku tidak melakukan apapun."



"Lalu?"



"Bukan urusanmu."



"Semua tentangmu akan menjadi urusanku, Nocholaa."



"Kenapa begitu?"



"Jawab atau aku akan mengembalikanmu kepadanya."



"Jangan, kumohon!"



"Kalau begitu katakan."



"Dia memaksaku untuk menikah dengannya."



"Dan kau terganggu?"



"Tentu saja."



"Baik, kupastikan setelah ini dia tidak akan mengganggumu lagi."



"Maksudmu?"



"Sudah sampai, turun dan masuklah. Aku hanya akan pergi setelah memastikan bahwa kau akan baik-baik saja sampai kamarmu," ucapnya menepikan mobil tepat di depan pagar rumahku.



Aku mengalihkan pandangan keterkejutanku darinya dan beranjak turun.



"Tunggu!" cegahnya membuatku terkesiap.



"Ada apa?"



Lagi-lagi aku terkejut ketika perlahan jemarinya menyentuh lembut pipiku.



"Jangan biarkan air matamu jatuh, aku tidak suka melihatnya."



Deg. Jantungku bergetar, sekujur tubuhku terasa kaku seketika. Ini terlalu dekat, aroma tubuhnya begitu maskulin. Dan lihatlah, matanya yang hitam pekat begitu indah.




Tidak ingin terjebak dalam keadaan ini, aku segera turun dan masuk ke dalam rumah. Bisa kurasakan dia masih di sana, melihatku sampai aku hilang di balik pintu.



Senyumku mengembang seraya terus menapaki tangga menuju kamarku. Hari ini begitu penuh kejutan. Kejutan karena pemuda sialan itu yang kembali datang, dan kejutan karena tiba-tiba ada pemuda tampan yang datang menyelamatkan. Ya Tuhan, aku meminta Peri Mariposa tetapi Kau menghadirkan seorang pemuda yang berhasil membuatku jatuh cinta.


****



"Nicholaa, cepat turun dan mari kita makan malam!" teriak kak Alodie membuatku semakin cepat menyisir rambutku.



"Nicholaa, cepat atau kau tidak akan kuberi makan sama sekali!"



Mataku melebar. Lelucon apa itu? Uang yang dia makan juga hasil dari jerih payah kakakku.



"Hei, Kakak Ipar. Jaga ucapanmu!"



Ckleek!



Aku terkejut begitu pintu kamarku terbuka.



"Kak Alodie? Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu? Tadi kau berteriak, sekarang sudah di hadapanku. Kau membuatku-"



"Jantungan!"



"Ishhh, kau selalu memotong pembicaraanku."



"Cepat turun, malam ini Megan perlu bicara padamu."



Aku meletakkan sisirku, "apa?"



Kak Alodie memutar bola matanya dengan malas, "turun atau kau akan terjebak dalam rasa penasaran di depan meja riasmu itu!"



Jebret!!



"Astagaa!!" lagi-lagi aku terkejut, "belajarlah membuka dan menutup pintu dengan baik, Nyonya Alodie! Atau kau akan terus membuat adik iparmu ini jantungaaaaan!" teriakku mendengus kesal lalu turun ke ruang makan.



Sudah ada kak Megan yang tengah menggendong Petter di sana, anak pertamanya dengan kak Alodie yang baru saja berumur 9 bulan.



"Malam, Sweety...," sapaku meraih Petter dari gendongan papanya.



"Ini untukmu, Nicholaa," ucap kak Alodie menyodorkan sepiring nasi kepadaku setelah kak Megan, "berikan Petter padaku," lanjutnya. Lalu ku letakkan Petter ke gendongan kak Alodie.



Ku tarik kursiku untuk mulai memakan masakan kak Alodie. Masakan kak Alodie menjadi makanan favoritku setelah masakan mamah. Aku suka belajar masak dengannya. Sebelum menikah dengan kak Megan, dia adalah salah satu Koki Cafe terkenal di kota ini. Namun setelah menikah dengan kak Megan, kak Megan memintanya untuk berhenti berkerja dan fokus mengurus urusan rumah tangga.



"Nicholaa?" Kak Megan memanggilku.



"Ya? Apa yang akan kau bicarakan, Kak?"


****


# AUTHOR POV



Lelaki itu tengah sibuk memandangi satu-satunya foto keluarga yang saat ini masih berhasil dia simpan. Foto kedua orang tuanya yang tengah memeluk erat dirinya yang saat itu masih berumur sepuluh tahun, terlihat sangat bahagia dengan senyum lepasnya yang kini membuatnya tersenyum getir.



"Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan kalian. Lihatlah, putramu ini akan membalas semuanya!" desisnya pelan.



Perlahan, dia mengambil satu buah foto lain. Perempuan dengan parasnya yang cantik terpampang jelas dan semakin membuatnya menahan tangis.



"Allura, kau dimana? Aku hampir putus asa mencari keberadaanmu."


****


# NICHOLAA POV



"Apa? Menikah dengan seorang CEO perusahaan besar?!!!" mataku terbuka lebar-lebar mendengar permintaan kak Megan yang sama sekali tidak pernah terlintas di fikiranku.

__ADS_1



"Ya, Nicholaa. Kakak mohon."



"Kak? Lelucon apa ini?"



"Ini bukan lelucon, Nicholaa. Terimalah atau kita akan mati kelaparan," sahut kak Alodie.



"Tidak, aku tidak mau. Aku hanya bermimpi untuk menikah dengan seseorang yang aku cintai dan mencintaiku."



Sudah kubilang, hari ini sangat penuh kejutan. Baru saja aku dibuat jatuh cinta tadi siang, sekarang aku harus melupakan laki-laki itu dan menikah dengan rekan bisnis kak Megan? Astaga.



"Nicholaa?"



"Tidak, kak Megan!"



"Baiklah jika kau ingin kita hidup gelandangan."



Mataku melebar, apa maksudnya? Seketika ingatanku melayang pada kejadian tadi siang.



"Jangan coba-coba dan jangan menolakku!"



"Aku menolakmu!"



"Maka aku bersumpah akan membuat hidupmu dan sekeluarga menderita!"



Oh astaga, apa CEO besar yang kak Megan maksud adalah rekan bisnis kak Megan yang selama ini mengejarku? Dan sekarang? Dia benar-benar membuktikan ucapannya. Ancaman apa yang sudah dia berikan kepada kakakku hingga membuatnya takluk seperti ini.



"Nicholaa?" panggil kak Megan menyadarkan lamunanku.



"Ah, iya?"



"Apa yang kau pikirkan?"



"Aku tidak mau menjadi istri keduanya! Sekalipun dia belum menikah, aku juga tidak akan pernah mau menikah dengannya!"



"Omong kosong apa itu, Nicholaa?"



"Itu bukan omong kosong, kak Megan. Itu penolakan."



"Nicholaa, ayolah...."



"Tenanglah, kak Megan. Kita tidak akan menjadi gelandangan sekalipun aku telah menolak lamarannya."



"Bagaimana mungkin kita tidak akan menjadi gelandangan, Nicholaa? Jika kau menolaknya, maka perusahaan kakak akan diambil alih kekuasaan olehnya."



"What??!!!"



"Ya, dan kau mendapat kejutan lagi sekarang," sahut kakak ipar.



"Tapi, bagaimana bisa itu terjadi?"



Kak Megan menghela nafasnya, "kita pernah memiliki satu perjanjian, Nicholaa."



"Perjanjian apa?"



"Kakak pernah meminjam uang kepada perusahaannya untuk menyelamatkan perusahaan kakak yang saat itu akan mengalami kebangkrutan. Dan kakak berjanji akan mengembalikan hutang itu dalam jangka waktu tiga tahun. Jika dengan waktu tiga tahun kakak tidak mampu mengembalikannya. Maka, kamu adalah gantinya."



Oh shit.


Air mataku jatuh mendengar itu.



"Atau, perusahaan kakak akan diambil alih kekuasaan olehnya. Kakak pun menyetujui perjanjian itu tanpa sepengetahuan kamu. Tiga tahun pun berlalu, Nicholaa. Kekalahan berpihak kepada kakak, dan-"



"Dan kau mengorbankan adikmu."



"Tidak seperti itu, Nicholaa."



"Lalu? Seperti apa? Nyatanya kau lebih menyayangkan perusahaanmu daripada adikmu sendiri, Tuan Megan!" bentakku lantang.



"Kau salah paham, Nicholaa," kak Alodie turut bicara, "kau tidak mengerti perasaan kakakmu. Dia sangat menyayangimu, dia menyayangi kita semua. Untuk itu dia tidak akan merelakan perusahaannya diambil alih kekuasaan oleh CEO besar itu."



Aku mengerutkan keningku, apa maksud kak Alodie?



Kak Alodie menyerahkan Petter kepada kak Megan, lalu berjalan mendekatiku, "Nicholaa, Listen to me. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika perusahaan itu tidak lagi menjadi milik kakakmu, lalu dimana Megan harus berkerja dan menafkahi kita semua?"



Oh God, sekarang aku paham kemana arah jalan fikiran kak Alodie.



"Lihatlah Petter, Nicholaa. Dia masih kecil, masa depan dia masih panjang. Apa kau tega jika Petter menjadi gelandangan di usianya yang masih sekecil itu?"



Aku memandang haru keponakan laki-lakiku itu. Melihatnya menangis saja aku sudah tidak tega, apalagi menjadi gelandangan.



Kak Alodie memelukku tiba-tiba, "belum lagi mamah yang sekarang sedang sakit-sakitan dan dirawat di rumah sakit, sayang."



Mataku melebar. Shit, kak Alodie benar.



Ini mengerikan sekali. Keputusan apa yang harus aku ambil sekarang? Aku tidak mungkin tega membiarkan keluargaku dalam kesengsaraan. Tapi, kenapa harus menjadi istri kedua? Kenapa harus laki-laki itu? Sikap dan perilakunya begitu kasar. Bagaimana mungkin dia akan menjadi suami yang baik untukku?



Pemuda misterius itu. Mungkin dia memang hadir dalam waktu sekejap, tetapi aku tidak bisa melupakannya begitu saja.



"Nicholaa?" suara kak Megan mengembalikan kesadaranku.



"Aku sudah jatuh cinta kepada orang lain, Kak."



"William?"



"Bukan."



"Lalu siapa?"



Mataku melebar. Ya Tuhan, bahkan aku tidak tahu siapa namanya. Bodoh sekali aku tidak menanyakan hal itu tadi siang.



"Nicholaa?"



"Hmmmmm?"



"Bagaimana?"



"Aku butuh waktu untuk menjawab itu semua. Permisi," pamitku kemudian beralalu pergi.



Ku hempaskan tubuhku di tempat tidur. Air mataku mengalir membanjiri pipiku. Menikah? Ah, itu bukan perkara main-main untuk kehidupan. Umurku baru 22 Tahun, haruskah aku menikah sekarang? Aku masih ingin bersenang-senang. Seorang sarjana tidak mungkin menganggur begitu saja setelah wisuda, bukan? Aku ingin mengejar cita-citaku menjadi seorang penulis terkenal, bukan menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal.



Semengerikan apa hidupku jika aku menerima lamaran CEO itu? Apakah aku akan terus disakiti oleh istri pertamanya nanti? Di perlakukan baik ketika suami di rumah, lalu dihabisi ketika suami pergi berkerja. Ya Tuhan, aku tidak mau hidup dalam dongeng mengenaskan itu.



Seketika, ingatanku melayang pada kejadian tadi siang. Dimana saat laki-laki misterius itu datang lalu menjanjikan sebuah ketenangan.



"Dan kau terganggu?"



"Tentu saja."



"Baik, kupastikan setelah ini dia tidak akan mengganggumu lagi."



Tuan, semoga kau mengingat janjimu itu. Lakukan sesuatu agar CEO itu tidak dapat lagi mengganggu keluargaku. Lepaskan aku dari keterpaksaan ini, Tuan. Kau hadir untuk melindungi dan menjagaku, bukan? Aku percaya kau merasakan deritaku sekarang. Siapapun namamu, dari manapun asalmu. Tolonglah, selamatkan takdirku. Selamatkan perasaanku kepadamu.

__ADS_1


****


__ADS_2