NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 26


__ADS_3

# JUSTIN POV


Apa yang telah terjadi ini tidak akan pernah aku lupakan. Dari bagaimana caraku menyakiti Nicholaa, hingga bagaimana pengorbananku untuk membuktikan bahwa aku mencintainya.


Tidak pernah ku sangka, seorang Justin Clayton bisa skak matt atas misi gila yang dibuatnya sendiri. Tapi aku sadar, ternyata, tidak ada yang lebih Indah dari saling memaafkan dan mengikhlaskan. Semua luka dan dendam-dendam tak berperasaan itu kini meredam, mulai pulih, dan berbuah menjadi benih-benih cinta dalam satu keluarga.


Setelah puas berpesta ria merayakan ulang tahun Nicholaa seharian, malam ini, kami semua tengah berkumpul dalam ruang keluarga seraya menikmati hidangan-hidangan sedap yang telah disiapkan Molly sejak sore tadi.


Aku bahagia, sangat bahagia. Terlebih saat melihat Nicholaa tengah tertawa bersama Petter yang ada di pangkuanku. Terlihat indah sekali. Sunguh, aku jadi tidak bisa membayangkan bagaimana harmonisnya saat aku dan Nicholaa memiliki keturunan suatu saat.


Semoga.


"Em, terimakasih buat semuanya. Aku sama Alice harus segera pulang," ucap Richard mengalihkan perhatian kami semua.


Nicholaa yang tadinya sibuk dengan Petter, kini berdiri mendekati mereka, "kami yang berterimakasih padamu, terutama aku. Terimakasih buat kehadiran kalian, jangan sungkan-sungkan untuk mampir lain waktu."


Alice tersenyum dan memeluk Nicholaa, "tentu saja. Sekali lagi selamat ulang tahun, ya." Nicholaa tersenyum, kemudian mereka berlalu meninggalkan kami.


"Kalau begitu aku juga pamit, ya," susul Allura setelahnya.


"Biar aku yang mengantarkan," sahut William membuat kami semua terkejut.


"Ah, tidak perlu, Will. Terimakasih. Aku pulang bersama kak Tristan."


Tristan tersenyum dan mengedikkan matanya kepada William, "antarkan saja, aku mengizinkan."


Lalu kami semua tertawa.


"Kak Tristan!" bentak Allura malu.


"Kenapa, Lura? William cocok untukmu!!" sahutku membuat mereka tersipu malu.


William beranjak bangun dan menghampirinya, "yuk," ajaknya.


Allura berdiri dan membungkukan tubuhnya, "terimakasih buat kalian. Sampai ketemu di lain waktu," pamitnya kemudian berlalu.


"Allura, tunggu!" ucap Nicholaa menghentikannya.


Nicholaa mendekat dan memeluknya, "maafkan aku," ucapnya.


Allura membalas pelukan itu, "aku percaya kamu perempuan yang baik, Nicholaa."


"Dan semoga William segera menghalalimu," lanjut Nicholaa membuat Allura terkejut dan mendadak melepas pelukannya.


"Heeii... Dasar kamu!!!" rengeknya tersipu.


"Kenapa? Kau harus tau, Lura. William pemuda yang baik."


"Nicholaa, jangan membuatku malu!" sahut William tak terima.


Kami semua tertawa.


"Baiklah, kami pamit dulu. See you...," pamit William membawa Allura berlalu.


Sepeninggal itu, Tristan menghampiriku. Tangannya menepuk pelan pundakku, "cepet sembuh, Jus. Aku pamit dulu."


Aku tersenyum padanya.


"Selamat malam, Nyonya Kayonna. Semuaaa...." Dan Tristan pergi setelah kami semua tersenyum padanya.


"Javier?" panggil mamah Kayonna lembut.


Javier menatapnya, "iya, Nyonya?"


"Mulai sekarang, panggil aku mamah. Mamah Kayonna adalah mamah Javier, dan Javier adalah putra mamah. Kau mengerti?"


Mendadak, mata Javier sayu mendengar itu. Perlahan, dia berjalan mendekat dan berjongkok di depan mamah Kayonna. Seketika, tangan Javier terulur memeluk dan memecah tangis disana.


"Terimakasih, Mah," ucapnya turut membuat mamah Kayonna meneteskan air mata.


Mamah Kayonna menangkap wajah Javier dengan lembut, "dan mamah harap, kamu juga bersedia untuk tinggal di rumah keluarga Johnson, bersama kami."


Kami semua terkejut mendengar itu.


"Mamah serius?" sahut Javier tak percaya.


"Ya, sangat serius. Dan kau akan menjadi bagian dari keluarga Johnson."


Kak Megan berjalan menghampiri Javier yang masih berjongkok di depan mamah, "mamah benar, Javier. Kau tinggalah bersama kami. Kami akan sangat bahagia jika kau mau menerima tawaran ini."


"Lagipula, jika kau terus tinggal disini, kau akan mengganggu sepasang suami istri, Javier...." timpal kak Alodie membuat kami tergelak.


"Hei, Nyonya Johnson. Jangan membuatku tersipu malu!!!" rengek Nicholaa manja.


Javier menggeleng pelan kepalanya seraya tertawa, "baiklah, malam ini juga aku akan pindah ke rumah Johnson," putusnya membuat kami tersenyum bahagia.


"Eeeghhhm...!!" dehem Lawrence membuat kami terkesiap.


Nicholaa tergelak, "astaga, Lawrence.... Bukan begitu. Kau pasti mengira bahwa kami melupakanmu! Tidak... Bahkan kau sudah menjadi sebagian dari keluarga Johnson semenjak aku menikah dengan bosmu!"


Ucap Nicholaa membuat kami semua tertawa bersama.


Lawrence menghela nafasnya, "terimakasih, saya senang mendengarnya."


Kini, keluarga kami tumbuh menjadi keluarga yang sempurna, yang bahagia, yang sama-sama mengerti dan saling memahami.


Apa?


Apa yang lebih Indah dari ini semua? Bahkan aku tidak mampu membayangkan bagaimana jadinya jika rahasia ini tak juga kunjung terbongkar. Mungkin, sampai saat ini, aku masih bertahan dengan aksiku yang suka menjahati Nicholaa, mengasarinya, memberlakukannya dengan semena-mena.


Dan sumpah Demi Tuhan!


Hatiku akan terus sesak tatkala mengingat itu semua.


Setelah berpuas menukar cerita, keluarga Johnson berpamit pulang karena hari yang sudah semakin malam. Javier turut ikut dengan membawa dua koper besar di tangannya. Kami saling berjabat untuk mengakhiri perjumpaan kami pada pertemuan kali ini. Dan semoga ada waktu lagi untuk kami kembali berkumpul, disini.


"Jaga Nicholaa, baik-baik. Dan jangan mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya."


Pesan terakhir dari kak Megan itu terus terngiang jelas di telingaku. Mengendap kuat-kuat dalam memori otakku. Yang tak akan pernah kulupakan, yang tak akan pernah ku acuhkan.


Aku bersumpah kepada Tuhan atas pernikahan suci ini. Bahwa aku, akan menjaga Nicholaa seumur hidupku. Semampu dan sekuat tenagaku. Akan menyayanginya dalam cinta dan kasih yang tumbuh dengan luar biasa. Akan menghormatinya sebagai istriku yang mulia. Akan memperlakukannya dengan baik, dengan sikap yang penuh rasa kasih. Sebab aku, teramat sangat mencintainya.


"Ah, Jus... Bagaimana? Kursi rodamu tidak akan bisa melawati tangga ini," cemas Nicholaa yang mendadak berhenti mendorongku saat tiba di depan anak tangga menuju lantai dua.


Aku tersenyum jahil mendengar keluh kesahnya.


"Bagaimana kalau kita tidur dikamar bawah saja."


"Tidak mau!" jawabku manja.


"Lalu bagaimana? Aku tidak mungkin bisa menggendongmu keatas sana. Kau besar, Justin. Beraaat...."


Aku semakin menahan tawa mendengar rutuknya yang manja itu.


"Ya aku tidak mau tau, Sayang. Aku mau tidur dan istirahat di kamar kita!"


"Baiklah, aku akan menghubungi Lawrence untuk kuperintahkan kemari. Lalu membawamu keatas sana."


"Heii, tidak mau! Apa kata dunia kalau tau Lawrence akan menggendongku...."


"Justin, kau ini menyebalkan sekali. Lalu bagaimana caraku membawamu keatas sana?"


Aku tertawa. Sungguh, suatu kebahagiaan tersendiri saat mampu menggodanya seperti ini.

__ADS_1


"Kenapa kamu tertawa?"


Aku menghela nafas, "baiklah... Kamu mau tau bagaimana caranya supaya kamu bisa membawaku keatas sana?"


Nicholaa mengaguk.


"Sini... Berdiri di depanku...."


"Untuk apa? Menggendongmu? Justin, yang benar saja... Aku mana bisa?"


"Ayolah, Sayang.... Sini...."


Nicholaa mendengus kesal, "baiklah!" rajuknya kemudian berdiri memunggungiku.


Aku mulai tersenyum jahil. Sungguh, istriku ini lucu sekali.


"Justiiiiin!!!!!"


Teriaknya terkejut saat tiba-tiba aku menggendongnya dan membawanya keatas menuju kamar kami.


"Justin, kamu!!!" tanyanya tak percaya.


Aku tersenyum menatapnya, "yaaa... Kenapa? Aku tidak lumpuh, Nicholaa. Itu hanya pradugamu saja."


"Artinya?"


Aku tergelak, "yaa... Artinya aku sengaja memakai kursi roda itu untuk menjebakmu."


Nicholaa tercengang, "kamuuuuuuu," rengeknya memukul-mukul dada bidangku.


Aku tertawa seraya terus menggendongnya. Nicholaa benar-benar terlihat semakin lucu saat mampu kugoda seperti itu.


Ckleeek


Ku buka kamar kami dengan tendangan kecil dari kakiku. Sesampainya disana, ku baringkan tubuh Nicholaa dengan pelan.


Aku duduk dan membelai lembut rambutnya, "istirahatlah, Sayang...."


"Kamu yang seharusnya istirahat," ucapnya menangkap tanganku, "kepalamu masih luka," lanjutnya meraba wajahku.


Aku tersenyum, "biarlah, ini bukti bahwa aku mencintaimu."


Nicholaa bergerak duduk dan menyandarkan punggungnya diranjang, tangannya menggenggam erat tanganku.


"Jus?" panggilnya lembut.


"Hum?"


"Aku bersyukur mamah Kayonna pernah memberikan hak asuhmu kepada mamah Denaya. Dan aku juga bersyukur kamu pernah salah faham dengan semua yang terjadi di masa lalu."


Aku mengernyit mendengar itu, "kenapa?"


"Karena jika saja mamah Kayonna tidak memberikan hak asuhmu kepada mamah Denaya, mungkin, aku tidak akan pernah diadopsi oleh mereka. Dan jika saja kamu tidak salah faham dengan apa yang terjadi di masa lalu, mungkin kamu tidak akan mendendam pada keluarga Johnson. Kamu tidak akan mencariku, kamu tidak akan menikahiku, dan kita tidak akan bersama."


Aku membelai lembut pipi Nicholaa, "Tuhan benar-benar memiliki cara yang luar biasa untuk mempersatukan kita."


Nicholaa tertawa.


"Kenapa tertawa?"


"Aku yang seharusnya bertanya kepadamu, kamu kenapa?"


"Memangnya aku kenapa?"


"Kamu selalu saja membelai pipiku dari tadi, Justin...."


Aku tersenyum, "karena sudah bukan saatnya lagi aku menyiksa fisik dan batinmu. Dan aku ingin menyembuhkan luka-luka yang pernah ku berikan pada setiap jengkal lekuk tubuh pun hatimu itu, Sayang."


Nicholaa memandangku sendu.


Nicholaa meneteskan air matanya.


"Jangan menangis, Sayang...."


"Aku bahagia, Jus. Kini aku percaya, bahwa kekuatan cinta itu ada. Dulu, sangat mustahil bagiku kau bisa mencintaiku. Tapi, dengan kesabaran pun ketabahan yang aku punya, aku merasakan sendiri jawabannya."


Aku menghapus air matanya, "istirahatlah, Sayang...."


Nicholaa mengaguk dan kembali merebahkan tubuhnya. Ku usap lembut rambut juga wajah tulusnys itu.


Aku mendekatkan wajahku tepat pada telinganya, "aku berjanji akan menjagamu. Sebab kini, aku teramat sangat mencintaimu," bisikku merengkuh erat tubuh istriku.


****


# AUTHOR POV


# Tujuh Tahun Kemudian.


Ooweeekkkkk.... Oweekkkkk.... Oweeekkkkk!!!!


Suarat tangisan dua bayi kembar itu berhasil menembus gendang telinga Nicholaa dan membuatnya terbangun. Saat kesadarannya sudah benar-benar terkumpul, Nicholaa baru menyadari bahwa kini bayi kembar laki-lakinya tengah menangis memanggilnya.


Perlahan, Nicholaa memindahkan tangan Justin yang masih terlelap dan melingkar posesif di pinggangnya. Saat tak merasa pergerakannya mengganggu Justin, Nicholaa beranjak turun dan menghampiri kedua bayinya yang masih menangis cetar di dalam Box tidurnya.


"Usss... Usss.... Sayaaang," ucap Nicholaa menggendong salah satu dari mereka dan menenangkan.


"Iyaaa, mamah di sini.... Husss... Sudah yaaa," lanjutnya membelai lembut bayinya yang satu lagi.


Setelah di rasa kedua bayinya sudah tenang, Nicholaa berjalan membuka gorden jendela dan seketika itu pun sinar matahari berhasil menembus masuk ke dalam kamarnya.


Sesaat, dia memandang Justin lalu mendengus kesal, "bagaimana bisa seorang Justin Clayton tertidur sepulas itu saat kedua bayi kembarnya tengah menangis histeris? Bahkan setelah sinar matahari menyorot dan membuat silau matanya, dia tak juga lekas bangun," ucapnya menggeleng kepala tak percaya.


Nicholaa tersenyum saat bayinya benar-benar sudah tenang. Perlahan, dia memindahnya ke dalam Box tidurnya kembali.


Ckleeek...!


Nicholaa keluar dan berjalan menuju kamar lain di lantai dua ini. Sesampainya di pintu,


Tok...!! Tok!! Tok...!!!


"Shireen, banguun!! Ini sudah bagi, lekas mandi dan siap-siap bersekolah!"


"Tenang, Mom! Aku sudah memakai seragamku!!" teriak Shireen, anak pertama mereka yang sudah berumur enam tahun itu.


"Oke, good!"


Nicholaa kembali berjalan menuju kamar lain di lantai dua ini. Namun saat langkah kakinya belum tiba tepat pada tujuan, tiba-tiba saja, Ibelle, anaknya yang ketiga menghampirinya merengek meminta sesuatu.


Nicholaa menepuk pelan jidatnya, "Ibelle, ini masih pagi dan kau sudah meminta ice cream?"


Nicholaa menghela nafas panjangnya, lalu menggendong Ibelle dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.


Nicholaa menurunkan Ibelle di sofa, "duduk di sini sebentar," perintahnya yang kemudian membuat Ibelle menyengir lebar.


Nicholaa menggeleng kepalanya lalu berjalan menuju tempat tidur,


"Justin, banguuuun!!!" ucapnya berkacak pinggang.


"Heeiiii!!!" serunya lagi menepuk-nepuk pipi suaminya.


Tapi Justin, tak juga membuka matanya.


"Justin, bangun, Sayaaaaang," rengek Nicholaa lagi memanggilnya.

__ADS_1


"Hmmmmmmmm...." racau Justin tak jelas.


"Justin, Ayolaah...."


Oweeekkkkk.... Owekkkkkk....


Dan Shit.


Nicholaa menghela nafasnya begitu mendengar tangisan dari Box lagi.


Nicholaa berjalan pelan dan menggendong salah satu bayinya yang mungkin minta segera diberi asi.


"Husss... Sayang.... Sebentar, ya. Mamah harus membangunkan papahmu dulu...," ucap Nicholaa menenangkan.


"Justin, bangun! Kau ini berpura-pura mati atau bagaimana?"


"Jangan coba-coba mengulangi kejadian tujuh tahun yang lalu, Justin. Atau kau akan mati sungguhan!!"


Mata Nicholaa melebar menyadari ucapannya, "oh tidak-tidak. Aku tidak ingin menjadi janda beranak lima!"


Justin menggeliat, "aaah, Sayaaang.... Kau ini cerewet sekali...."


"Bangun dan bantu aku mengurus anak-anakmu!"


Justin bengun dan mencium singkat pipi Nicholaa, "siaaap, Sayaaang...."


"Dasar cerewet!!" lanjutnya pelan seraya berjalan menghampiri satu bayi kembarnya yang masih menangis.


"Justin.... Kau bicara apa tadi?"


Justin menimang bayinya dengan lihai, "tidak, aku memujimu cantik tadi...."


"Mamaaa...." panggil Monica, anak keduanya itu, yang tiba-tiba datang dan berdiri di ambang pintu.


Nicholaa terkejut melihatnya, "Monic, kenapa kau belum memakai seragammu?"


"Pakaikaaaaannnn," rengeknya manja.


"Kau ini sudah berumur empat tahun dan masih manjaaa? Sama seperti papahmu!"


Justin mencibir, "Heii... Shireen juga keras kepala! Sama sepertimu, Sayaaaaang!"


"Berisiiiikkk!!" teriak Shireen yang tiba-tiba datang, sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Shireen, mandikan Ibelle!" perintah Nicholaa.


"What? Mamaa... aku sudah berseragam rapi. Sangat tidak mungkin kalau aku main air. Seragamku bisa basah, bu-,"


"Jangan membantah, Shireen!"


"Ibelle tidak mau mandi... Ibelle maunya es cliiimm...," sahut Ibelle merengek manja.


"Pagi-pagi itu minum susu, Ibelle, bukan ice cream," celoteh Monica.


"Lihatlah, Nicholaa, sebagian dari dirimu melekat di jiwa Ibelle. Selalu saja ice cream yang dipikirkannya," timpal Justin.


"Yaa, dan kerewelannya menurun darimu!" balas Nicholaa tak terima.


"Kalau mama kerepotan mengurus kita, kenapa tidak mencari baby sitter saja?" ucap Shireen menggeleng pelan kepalanya.


"Tidak! Mama hanya ingin mengurus kalian dengan perjuangan mama dan papa sendiri! Mengerti?"


"Paaa... lihatlah, mama itu keras kepala!"


"Yaaa! Dan itu sama sepertimu, Shireen!!"


"Isshhhh, papaaa!!!" rutuk Shireen tak terima.


"Ya memang itu pada kenyataannya...."


"Cukuupp!!" teriak Nicholaa pening, "Shireen, mandikan Ibelle! Justin, pakaikan seragam Monica! Biar aku yang memandikan si kem-, Uweegghhh....!!!"


Belum selesai bicara, tiba-tiba saja Nicholaa merasa mual diperutnya.


"Sayang, Kenapa?" tanya Justin mencemaskannya.


Dengan segera Nicholaa memindahkan kembali bayi kembarnya di dalam Box, lalu berhambur lari ke kamar mandi. Shireen, Monic dan juga Ibelle, berlari mengikuti.


Justin pun demikian. Saat di rasa bayinya sudah tenang. Dia mengecup dan memindahkannya kembali di Box, lalu bergegas mengejar Nicholaa.


"Oweeggghh....!!!" mual Nicholaa di depan wastafel.


Justin mengurut pelan leher istrinya, "Sayang, kau ini kenapa?"


Nicholaa menggeleng kepalanya, "Oweeegghh!!"


"Lihat, mama mual melihat ocehan kalian semua...!!" celoteh Justin yang masih terus memijat punggung Nicholaa.


"Heii, Pa! Mama mual karena pusing memikirkan ocehan papaa!!" timpal Shireen tak terima.


"Atau memikirkan keributan setiap pagi!!" sahut Monica.


Oweeegghh!!


"Kau yang membuat keributkan!!" geram Shareen.


"Kauu!!" balas Monic tak terima


Oweeegghh!!


"Kauu!!!"


Oweeegghh!!!


"Kaauuuu!!"


"Kauu, Monic!!"


"Ibellee...!!" ucap Monic menyalahkan Ibelle yang seketika malah membuat anak kecil itu menangis histeris.


"Lihat, Ibelle menangis karena ulahmu!" celoteh Shareen.


"Kenapa kau menyalahkanku? Kau yang me-,"


"Cukuuupp!!" teriak Nicholaa membuat hening seketika.


Nicholaa berbalik dan *** pelan tangan Justin.


"Kenapa, Sayang?" tanya Justin yang cemas melihat Nicholaa menghela nafas panjangnya.


"Dua bulan, Justin...."


"Apa yang dua bulan?"


"Telat datang bulaan...."


"Whaaat???" teriak Shireen tak percaya.


"Hamil lagi?" tebak Justin pelan.


Nicholaa meringis menahan malu.


"Astaga!!!" Justin menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


End_


__ADS_2