NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 7


__ADS_3

# NICHOLAA POV



Aku terbangun dengan kepala yang sangat berat. Lagi-lagi aku menangis hingga tertidur.



Tunggu dulu, ini bukan kamarku. Dan aku bukan menangis hingga tertidur. Tapi? Setelah kejadian semalam, aku sudah tidak ingat apapun lagi. Apa aku pingsan?



Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Terpampang besar foto Javier di dinding sebelah kanan. Astaga, pasti semalam Javier menggendongku ke kamarnya. Tapi, dimana dia sekarang? Jangan bilang dia tidur denganku semalaman. Oh, itu jelas tidak mungkin.



Ckleeek.



Aku beranjak bangun dan membuka pintu kamar Javier. Seketika aku terkesiap saat mendapati wanita itu tengah menuruni tangga dengan wajah yang penuh linangan airmata. Apa yang terjadi? Apa Justin menyakitinya?



Langkahnya terhenti begitu kakinya berada tepat dihadapanku.



"Semua ini gara-gara kau!! Lihat saja pembalasanku, Jalaang!!"



Plaakkk!!



Ancamnya menampar keras pipiku kemudian berlalu pergi.



Lagi-lagi air mataku jatuh. Hatiku sakit. Tubuhku rasanya perih luar dalam. Apa salahku pada wanita itu? Kenapa dia menampar dan menjanjikan suatu pembalasan untukku?



Buru-buru ku seka airmataku ketika kudengar suara langkah kaki yang sedang menuruni tangga. Aku berbalik dan mendapati Justin tengah berada di belakangku.



"Selamat pagi, Justin," ucapku tersenyum.



Bugggh!!!



Aku terkejut saat tiba-tiba Javier datang dan memukul habis wajah Justin.



Bughh!!!



Bughh!!!



"Hentikan, Javier!" teriakku lantang.



"Javier, hentikan!!"



Bugg!!



Javier sama sekali tidak mendengarkanku dan terus memukul habis tubuh Justin.



"Javier, stop!!"



"Untuk apa kau membelanya, Nicholaa! Dia sudah menyakitimu!"



"Dia suamiku, Javier! Jangan menyakitinya!"



Javier berlalu pergi dan meninggalkan tatapan kecewa padaku. Ada apa dengannya? Apa aku salah membela suamiku?



Aku membantu Justin untuk bangun. Lalu ku tuntun tangannya untuk duduk di sebuah sofa yang terletak di depan dinding kamar Javier.



"Tunggu disini, biar kuambilkan obat untuk lukamu."



"Nicholaa," panggil Justin menarik tanganku dan membuatku berhenti.



"Kenapa?"



"Kenapa kau membelaku?" tanyanya dingin.



Aku tersenyum, "sudah kewajiban seorang istri untuk menjaga kehormatan suaminya, Justin."



"Tapi aku sudah menyakitimu."



"Aku tidak peduli. Semengerikan apapun kamu mengasariku, itu tidak akan pernah membuatku membencimu."



"Kenapa?"



"Karena aku mencintaimu."



Justin tersenyum kecut, "tapi aku tidak peduli dengan perasaanmu itu," ucapnya kemudian berlalu pergi.



"Apa kamu tidak mencintaiku?" ucapku membuatnya terhenti.



"Menurutmu?"



Air mataku kembali jatuh, "kalau kamu tidak mencintaiku, lantas untuk apa kamu menikahiku dulu, Jus?"



"Untuk menyakitimu."



"Kenapa? Aku salah apa?"



Lagi-lagi Justin tersenyum kecut, "bertanyalah kepada masa lalumu, Nicholaa!" bentaknya kemudian berlalu meninggalkanku.



Aku tidak mengerti dengan semua ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Sampai kapanpun Justin akan tetap menjadi misterius bagiku. Aku tidak mampu mengetahui segala tentangnya. Bahkan semakin jauh, aku semakin tidak mengenalinya.



Namun anehnya, semakin kejam dia memperlakukanku, semakin bertambah pula rasa cintaku kepadanya.


****


# AUTHOR POV



Justin tengah menghampiri Javier yang sedang menikmati jusnya di tepi kolam.



"Apa maksudmu, Sialan?!" bentaknya tapi tidak membuat Javier terpancing.



"Sudah kuperingatkan, kau hanya perlu menyaksikan semuanya! Bukan ikut campur atas segalanya!!!"



Javier tersenyum, "aku hanya memberimu pelajaran atas apa yang sudah kau lakukan kepadanya, Bodoh!"



"Apa hakmu? Apa urusanmu membelanya?!"



"Apa yang akan kau lakukan jika kukatakan bahwa aku mencintainya?"



"Dia istriku! Jangan coba-coba merebutnya dariku, Javier!!!"



"Tidak ada seorang istri yang masih perawan di hari ketiga pernikahan, Justin!Dia hanya menjadi sarana balas dendammu, bukan?"



"Tapi kau tidak berhak merebutnya dariku. Camkan itu!!!"



"Kenapa? Kau berhak menikahinya karena ingin menyakitinya. Lantas, kenapa aku tidak berhak mencintainya untuk melindunginya darimu?"



Justin terdiam.



"Why? Akui saja, Sialan! Kau sudah mencintainya dari awal, bukan? Semua kemarahanmu padanya bukan karena misi dendammu itu. Tapi karena api kecemburuanmu yang masih berkobar sejak kejadian malam itu, kejadian dimana ada laki-laki lain yang mengantar Nicholaa pulang ke rumahmu!!"



"Hentikan omong kosong itu!"



Javier meneguk Jus lemonnya, "apa perlu kupanggil Nicholaa sekarang? Aku akan menciumnya di hadapanmu. Untuk sekadar membuktikan, kau benar cemburu atau tidak."



Justin terdiam. Entah kenapa hatinya marah mendengar tantangan itu. Tapi dia tidak bisa kalah begitu saja. Dia harus bisa membuktikan bahwa apa yang baru saja dikatakan Javier itu tidak benar. Dia tidak cemburu, dia tidak mencintai Nicholaa. Ya, begitulah yang dia pikirkan.



"Bagaimana? Aku rela merendah diri dan dicaci maki Nicholaa hanya untuk membuktikan perasanmu itu."



"Panggil saja, cium Nicholaa sepuasmu!"



"Kenapa kalian menyebut namaku?" sahut Nicholaa yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.



"Hai, Cantik. Sangat kebetulan kau ada disini," sapa Javier dengan senyum hangatnya.



"Ada perlu apa kau kesini?" tanya Justin dingin.



"Kenapa kau bertanya seperti itu, Sialan? Bukankah saat ini kita memang sedang memerlukannya?" sambar Javier yang seketika membuat rahang Justin mengeras, hatinya memanas.



"Lawrence mencarimu, Justin. Untuk itu aku kesini," jawab Nicholaa, "aku permisi dulu," lanjutnya beranjak pergi.



"Tunggu, Nicholaa!" ucap Javier menghentikannya.



"Ada apa, Jav?"



"Bisa kau lebih mendekat denganku? Sedikit saja."



"Kenapa?"



"Kemarilah, Nicholaa."



Nicholaa melangkah mendekati Javier yang sedang meneguk jus segarnya itu.



"Boleh aku menciumu?" tanya Javier yang seketika membuat Nicholaa terkesiap dan berjingkat menjauh.



"Jaga bicaramu, Javier! Lancang sekali kau berbicara seperti itu di depan suamiku! Kau pikir aku perempuan macam apa, Hah?" bentaknya tidak terima.



Javier menatap sekilas mata Justin, "sayangnya suamimu yang memerintahkanku untuk menciummu sepuasku, Nicholaa!!"



Nicholaa memandang tak percaya kepada Justin,



"Aku-," nafas Justin tersekat, dia tidak tahu harus berbicara apa kepada Nicholaa. Aiisshhhh, kenapa Justin mendadak kaku seperti ini.



"Boss!!" beruntunglah ada Lawrence yang tiba-tiba datang menghampiri.



Dengan seketika Justin, Nicholaa dan Javier mengalihkan pandangan mereka kepada Lawrence.



"Kenapa kau kemari? Apa kau mendadak bodoh dan tidak bisa menghandle semua urusan dikantor hingga harus menemuiku hari ini?" ucap Justin yang masih terbawa emosi mengingat akan tantangan yang diberikan oleh Javier tadi.



Lawrence tertawa, "bukan, aku hanya ingin berkunjung saja. Sudah lama aku tidak bertemu dengan Nicholaa," ucapnya lalu menatap sekilas Nicholaa.



Nicholaa tersenyum menanggapi ucapanya.



"Hai, Jav! Kapan kau pulang? Bagaimana liburanmu di Barcelona? Banyak mendapat objek menarik tentunya, bukan?" sapa Lawrence melangkah lebih dekat kepada Javier.



"Menarik, sangat menarik. Banyak potret wanita cantik di kameraku. Tapi sayang...," Javier menggantung ucapannya.



Lawrence merebut jus di tangan Javier, "why?" lalu meneguknya.



"Tidak ada yang semenarik Nicholaa."



Lawrence tersedak. Nicholaa hanya menggeleng kepalanya. Kemudian gelak tawa terdengar renyah dari kedua pemuda itu.



"Cukup!!" bentak Justin membuat gelak mereka terhenti.



"Hentikan lelucon sialan itu!" lanjutnya penuh amarah.



"Katakan saja dengan jelas, ada apa kau kemari, Bodoh!"



Lawrence menghela nafasnya, menyerahkan kembali gelas jus lemon tadi kepada Javier. Kemudian berjalan mendekati Justin.



Lawrence menatap sesaat mata Nicholaa, lalu beringsut dan membawa Justin selangkah lebih jauh dari posisi awalnya.



"Ttristan sudah kembali!" bisiknya.



Mendengar itu, gejolak api semakin membara di kedua mata Justin. Bibirnya tersenyum kecut. Tanganya mengepal, mengumpulkan segala ke emosian yang bergelut dalam kepalanya.



"Kita pergi sekarang!" ucapnya berlalu pergi membawa Lawrence.



Nicholaa berdiri dengan perasaannya yang penuh tanya. *Siapa yang sudah kembali?* batinya, tidak sengaja mendengar sedikit pembicaraan Lawrence kepada suaminya.



"Nicholaa?" panggil Javier membuatnya terkesiap.



"Jangan coba-coba, Javier!"



Javier tertawa, "kau percaya aku mau menciummu?"



Nicholaa mengernyit.



"Aku hanya membantumu, Nicholaa."



"Membantu apa?"



"Justin boleh saja bicara bahwa dia tidak mencintaimu. Tapi kau lihat bagaimana reaksinya ketika aku terus menggodamu tadi? Dia menyimpan sejuta amarah dalam rahangnya."



Nicholaa menghela nafasnya, "aku tidak mengerti, Jav. Semua ini begitu membingungkan untukku."


****


# JUSTIN POV



Aku terbangun dengan mata yang masih menahan kantuk. Setelah mendapat kabar bahwa Tristan kembali ke Indonesia, kemarin aku mencarinya seharian hingga pulang jam dua dini tadi, tanpa hasil memuaskan.



Mengingat tentang Tristan, membuat mataku terbuka seketika.



Aku menyandarkan punggungku diranjang, perlahan tanganku membuka laci nakas yang ada di sampingku. Seketika hatiku sesak melihat foto seseorang yang selama ini aku cari.

__ADS_1



"Allura, tinggal sedikit lagi. Aku pasti akan menemukanmu," lirihku pelan.



"Lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu, Tristan. Kau!!!" lanjutkku seakan tak sabar ingin segera membunuhnya.



Dengan semangat juang, aku beranjak bangun dan bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri lalu mengganti pakaianku dengan rapi.



Selesai melakukan itu semua, aku segera pergi.



Ckleek



Ku buka pintu kamarku dan seketika aku terkesiap melihat Nicholaa yang kini ada di hadapanku.



"Happy birthday to you... Happy birthday to you... Happy birthday Happy birthday... Happy birthday Justin...," ucapanya bernyanyi riang.



Nicholaa tengah berdiri dengan senyum anggunya, ditangannya terdapat nampan yang berisi kue ulang tahun dengan lilin berangka 26 tengah menyala sempurna.



Aku terkejut menyaksikan ini. Bahkan aku sendiri lupa bahwa sekarang hari ulang tahunku. Nicholaa? Dia melakukan semua ini untukku? Setelah apa yang aku perbuat padanya?



Aku menatap dingin matanya, "kenapa kau melakukan ini?"



Nicholaa tersenyum, "karena ini hari spesial suamiku. Sudah, ayo tiup lilinnya, Justin, sebelum angin membuatnya mati terlebih dahulu. Tapi sebelum itu kau harus make a wish dulu, ya," jawabnya penuh kasih.



Jantungku berdebar ketika Nicholaa terus menatapku dengan senyumnya itu. Bibirnya tersungging, tapi matanya bengkak. Aisshhh, mengerikan sekali hidupmu, Nona. Pasti semalaman kau menangis hingga tertidur, bukan? Setebal apapun kau memoles make up mu, kau tidak akan bisa menyembunyikan wajah sendumu itu dariku.



"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Jus?" ucap Nicholaa menyadarkanku.



Aku tergertak sadar, "pergilah, kau menyita waktuku saja. Aku sedang terburu-buru," ucapku dingin kemudian beranjak pergi.



"Tapi, Jus. Kau belum meniup lilinnya," protes Nicholaa menghentikanku.



Aku memutar bola mataku dengan malas, lalu bersiap meniupnya.



"Tunggu," Nicholaa menghentikanku.



"Kau ini kurang kerjaan atau bagaimana, Nicholaa? Tadi kau memintaku meniup lilin, ketika aku hendak meniupnya, kau menghentikanku. Buang-buang waktu!" bentakku mulai emosi.



"Maaf, Justin. Tapi tunggulah sebentar," ucapnya kemudian memejamkan mata.



Aku mengernyit, "kenapa matamu terpejam?" tanyaku dingin.



Nicholaa tidak menjawab pertanyaanku dan masih memejamkan matanya begitu lama. Aku tidak mengerti dengan perempuan ini. Sudah berkali-kali aku menyakitinya tetapi kenapa dia masih berusaha setegar ini? Sungguh ini diluar rencana misiku. Seharusnya dia menangis darah dan memintaku menceraikannya. Tapi kenyataannya? Oh, Astaga.



"Karena kamu tidak mau make a wish. Jika kamu tidak mau berdoa untuk dirimu sendiri, biar istrimu saja yang mendoakannya untukmu," jawabnya setelah membuka mata.



"Sekarang, tiup lilinnya," lanjutnya girang.



Aku menghela nafas kemudian meniup lilin itu.



"Sudah? Buang waktu saja," ucapkan kemudian berlalu pergi.



"Em, Justin?"



"Apa lagi, Bodoh?!"



Nicholaa tersenyum, "semoga di usiamu yang ke dua puluh enam ini, kehidupanmu bertambah baik lagi. Dan kesuksesanmu semakin berjaya."



Aku menatapnya sejenak, kemudian berlalu pergi.


****


# NICHOLAA POV



Mendapat panggilan bodoh dari Justin, sungguh membuat tangisku ingin pecah saat ini juga. Tapi tidak, aku harus mampu menyembunyikan perasaan sakitku ini dari Justin. Biarlah sepuasnya dia menyakitiku, itu hak dia. Aku hanya butuh mencintainya setiap hari, itu saja.



Aku tersenyum,"semoga di usiamu yang ke dua puluh enam ini, kehidupanmu bertambah baik lagi. Dan kesuksesanmu semakin berjaya," doaku padanya.



Justin menatapku sejenak, kemudian berlalu pergi begitu saja.



Aku masih berdiri di depan kamarnya dengan kue ulang tahun ini. Seharusnya Justin memotong dan memberikan potongan pertama kepadaku.



Aku tersenyum pahit, "biarlah, dengan Justin tidak membuang kue ini, itu sudah cukup bagiku."



Sejenak aku mencuri pandang sekilas ke dalam kamar Justin, oh itu sangat berantakan sekali. Ku panggil Molly untuk membawa kue ulang tahun Justin ke bawah. Lalu aku bergegas masuk dan membereskan tempat tidurnya.



Aku terkesiap saat mendapati selembar foto yang tergeletak diranjang Justin. Ku raih foto itu. Terpampang jelas seorang perempuan dengan parasnya yang cantik. Rambutnya sebahu berwarna pirang. Siapa dia? Kenapa Justin menyimpan foto perempuan ini? Ini bukan wajah perempuan yang pernah Justin bawa satu malam yang lalu, kan?



"Allura?" kejutku lagi saat mendapati nama itu dibalik fotonya.



Seketika air mataku lolos dari pertahanan. Kenapa Justin menyimpan foto perempuan lain di kamarnya. Dengan rasa sakit yang masih bisa aku tahan, aku berlari menuruni tangga dan mengejar Justin.



"Justin!" teriakku menghentikan langkahnya yang sudah berada di teras rumah.



Justin berhenti, tumitnya bermutar lalu menatapku tajam, "Apa lagi, Nicholaa? Sudah kubilang aku sedang terburu-buru. Kau ini tuli atau bagaimana? Hah??!!!"



Aku menundukkan kepalaku, "kau sedang tidak mencintai orang lain, kan, Justin?" tanyaku penuh hati-hati.



Justin mengernyit, "apa maksudmu?" tanyanya dingin.



"Ss-ssiaapa-," aku gelagapan. Nyaliku tiba-tiba menciut.



"Apa? Bicaralah yang jelas!! Kau benar-benar membuang waktuku, Jalang!!" bentaknya keras dan berlalu pergi.



Aisshhh, kenapa aku tidak berani untuk menanyakan hal itu. Justin menyimpan foto perempuan lain, dan aku istrinya. Seharusnya aku berhak untuk menanyakan hal itu, bukan?



"Siapa Allura?!!" teriakku memberanikan diri.



Justin yang tadinya hendak membuka pintu mobil pun berhenti seketika.



Jantungku berdebar menahan takut saat langkah Justin kembali menghampiriku dengan rahangnya yang mengeras. Aku tahu Justin marah, tapi aku harus memberanikan diri untuk bertanya tentang semua ini kepadanya.



"Siapa perempuan ini, Justin!!" bentakku lagi seraya menghempas foto Allura di dadanya.



Justin menangkap foto itu, melihatnya sekilas lalu kembali menatap tajam mataku.



"Sejak kapan aku mengajarimu untuk lancang mengambil apa yang bukan milikmu, Nicholaa?" desisnya dingin.



"Jelaskan padaku, Justin! Jelaskan siapa perempuan itu!! Perempuan yang kamu bawa pulang kemarin mengaku bahwa kamu pacarannya. Tapi kenapa kamu malah menyimpan foto perempuan yang berbeda? Siapa Allura dan siapa perempuan kemarin, Justin? Sebenarnya siapa yang kau cintai?!!!" ucapku terisak.



"Kejutan apa lagi yang akan aku dapat setelah ini? Kamu terlalu misterius, Justin! Banyak yang kamu sembunyikan dariku!! Bahkan kamu menikahiku tanpa rasa cinta dihatimu!! Apa sebenarnya maksudmu!! Apa tujuanmu, Justin! Tega kamu menyakiti perempuan sepertiku! Tega kamu, Justin!!" bentakku memukul-mukul dadanya yang bidang.



"Aku mencintaimu, Jus. Dan akulah istrimu!! Tapi ke-,"




Aku bersimpuh memecah tangisku.



"Kau memang istriku, tapi aku tidak mencintaimu!! Aku berhak mencintai siapapun selain dirimu!! Apa hakmu mengatur hidupku!!"



Aku berdiri dan menyeka air mataku, "karena kamu suamiku, Justin. Dan tidak seha-,"



Dooorrrr!!!



Prriiaaangggg!!!!



Aku terlonjak kaget dan seketika memeluk Justin ketika suara tembakan itu terdengar keras ditelingaku.



Tubuhku gemetar ketakutan setengah mati melihat peluru melesat dan memecahkan kaca dinding rumah Justin.



"Hei, siapa kau!!" teriak Justin yang menangkap bayangan seorang laki-laki berpakaian serba hitam mendadak berlari meninggalkan perkarangan rumah.



"Ada apa ini?" kejut Javier yang datang tiba-tiba.



"Kejar bajingan itu!!!" ucap Justin memerintahkan.



Dengan sigap Javier langsung menancap gas mobil Justin dan berlalu gesit meninggalkan rumah ini.



Aku masih terdiam dalam sandaran dada Justin. Bisa kudengar detak jantung Justin berdebar hebat turut terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.



Nafasku tersekat, bibirku mengering, mataku masih terpaku menatap kaca rumah yang pecah berserakan dimana-mana.



"Nicholaa, kau tidak papa?" tanya Justin dingin.



Aku tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Jantungku masih memompa darah dengan cepatnya. Nafasku tersengal-sengal tak karuan. Tubuhku gemetar masih menahan rasa takut.



Memahami keadaanku, Justin menuntunku masuk dan mendudukanku di sofa.



"Nicholaa, kau baik-baik saja? Peluru itu tidak mengenai tubuhmu, bukan?"



Aku hanya mampu menggeleng kepalaku pelan.



"Apa yang sudah kau lakukan? Siapa musuhmu?"



Aku menatap Justin cemas, "aku..., aku tidak memiliki musuh siapapun," jelasku mengatur nafas.



"Kalau kau tidak memilki musuh. Lantas, untuk apa bajingan itu melakukan percobaan pembunuhan kepadamu pagi-pagi seperti ini?!" bentaknya.



Aku kembali terisak, "tapi aku tidak sedang punya masalah dengan siapa pun, Justin."



"Permisi, Tuan, Nyonya," ucap Molly yang hendak membersihkan pecahan kaca.



"Molly!!" panggil Justin menghentikan langkahnya.



"Ya, Tuan?"



"Panggil seseorang untuk memperbaiki rumahku!" perintahnya.



"Dan kau! Stay di rumah! Jangan kemana-mana dan jangan membangkang!!" lanjutnya padaku kemudian berlalu pergi.


****


# AUTHOR POV



Semenjak kejadian tadi pagi dan mendapat kabar bahwa Javier tidak mampu menangkap pelaku penembakan yang hampir mencelakai Nicholaa, Justin memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menyelidiki siapa dan apa penyebab orang tersebut mengincar Nicholaa. Tapi semua nihil, sampai langit gelap pun orang tersebut tidak juga mampu mereka temukan.



Justin memijat pelipisnya kuat-kuat. Entah kenapa pikirannya acuh saat mengetahui bahwa Nicholaa dalam bahaya. Seharusnya jika ada yang berniat membunuh Nicholaa, itu kabar baik untuk Justin, bukan? Tapi hatinya bergemuruh lain. Sisi terdalamnya marah memberontak ingin segera melenyapkan bajingan itu sekarang juga.



Justin meluruskan kakinya di atas sofa yang ada dalam ruang kerjanya, "Lebih baik kau gunakan jari-jari tanganmu untuk memijat kakiku daripada android sialanmu itu," perintahnya menganggu Lawrence yang sedang seru bermain game di sampingnya.



"Kalau kau bisa menaikkan gajiku dua kali lipat, aku turuti perintahmu," jawab Lawrence tanpa mengalihkan pandangannya sekalipun.



"Damn! Berhenti memerasku, Lawrence!!"



"Bukankah uangmu tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan?"



"Tapi ini di luar jam kerja, Bodoh. Kau tidak bisa berlaku seenaknya seperti itu. Setidaknya lakukanlah ini sebagai kawan, bukan antara bos dan bawahan."



Lawrence meletakkan androidnya, "kau ini lucu sekali."



"Apa maksudmu?"



"Ya, kau kelelahan karena berusaha untuk melindungi musuhmu sendiri."


****



Nicholaa menyisir rambut panjangnya dengan tenang. Matanya bengkak akibat kebiasaan menangisnya setiap malam sampai ketiduran, lalu paginya dia harus tetap menyuguhkan senyuman supaya tidak terlihat lemah di mata Justin. Melihat bayangan dirinya yang seperti itu, membuatnya bergidik ngeri sendirian.



Setelah merias diri di depan cermin, Nicholaa beranjak turun dan menuju ruang dapur. Malam ini ulang tahun Justin belum selesai, dan Nicholaa belum memberi kado apapun untuk suaminya. Hanya kue dan kejutan kecil yang ia lakukan tadi pagi, itupun belum bisa membuat Justin luluh akan dirinya.



"Aku harus memasak untuk Justin, dan aku yakin dia pasti menyukainya. Setelah itu dia akan memuji masakanku," gumamnya riang sambil memotong-motong bahan masakan.



Sebenarnya Nicholaa sangat rindu dengan segala macam perlatan dapur. Dulu dia selalu bertengkar dengan Alodie hanya karena beradu pendapat tentang bumbu-bumbu dapur. Sekarang? Bahkan menyentuh tepung saja tidak pernah. Semua pekerjaan di rumah Justin sudah ada yang menanggung jawabi masing-masing.



"Bergulat dengan peralatan dapur seperti ini membuatku merindukan kak Alodie dan Petter. Mereka apa kabar, ya?" ucapnya mulai memasak masakannya.



"Nyonya?!"



Suara itu mengejutkan Nicholaa tiba-tiba.



"Ah, Molly. Kau mengejutkanku."



"Apa yang Nyonya lakukan di sini?" lanjutnya merebut spatula dari tangan Nicholaa.



"Apa yang kau lakukan, Molly? Kembalikan padaku."



"Tidak, Nyonya."



"Kenapa?"



"Kalau Tuan tahu bisa marah."



Nicholaa memutar bola matanya, "Justin tidak di rumah, Molly. Kau tenang saja."


__ADS_1


"Tapi, Nyonya."



"Kau ini panik sekali. Sudahlah, tidak akan terjadi apapun. Aku yang akan bertanggung jawab, percaya padaku."



"Ta-"



"Cukup, Molly. Lagipula Justin tidak mengetahui ini."



"Aku mengetahuinya!!"



Suara itu membuat Nicholaa dan Molly berjingkat terkesiap.



"Tuan. Maafkan saya, Tuan. Saya sudah memberitahu Nyonya sebelum ini," ucap Molly beringsut mendekat.



"Kalau Tuan marah, Tuan berhak untuk menghukum sa-"



"Diam, Molly!" bentak Justin membuat Molly mengerjap.



"Kau!" Justin berjalan mendekati Nicholaa yang sudah menunduk dengan rasa takutnya.



"Kau tahu aku tidak suka ada seseorang yang melanggar peraturan di rumahku!!" lanjutnya tak kalah tajam.



"Melanggar peraturan apa, Justin? Aku hanya ingin memasak makanan untukmu," jawab Nicholaa membela dirinya sendiri.



Justin meletakkan tas kerjanya di atas meja, "Aku membayar Molly dan pelayan lainnya untuk mengerjakan semua pekerjaan rumahku! Oh, atau kau ingin menggantikan mereka semua?"



"Ti-tidak, Jus," Nicholaa semakin melangkah mundur ketika Justin terus berjalan maju mendekatinya.



"Sudah kubilang jangan membangkang, Nicholaa. Kenapa kau keras kepala sekali!!!"



"A-aku hanya-,"



"Sini kau!!!" bentak Justin memotong pembicaraan Nicholaa dan menariknya kasar.



Molly mengikuti Justin yang terus menyeret istrinya menuju tepi kolam. Ada perasaan khawatir dalam hatinya melihat Nicholaa ditarik kasar seperti itu.



"Lepas, Justin. Sakit," rintih Nicholaa mulai terisak.



Justin melepas kasar tangan Nicholaa, "keras kepala!!" bentaknya.



"Aku hanya ingin memasak untukmu, Justin. Bukan melanggar peraturan di rumahmu."



"Aku tidak menerima alasan, Nicholaa!!"



"Itu bukan alas-"



"Jangan membantah!!" bentak Justin keras membuat Nicholaa terkejut dan mengerjap rapat-rapat.



"Mmm-maaf, Justin...."



Justin tersenyum miring, "kau bilang akan bertanggung jawab, bukan?" desisnya pelan seraya melangkah maju mendekati Nicholaa.



Nicholaa beringsut mundur, "Justin, kau mau apa?" ucapnya takut.



"Menghukumu."



Nicholaa terus melangkah mundur begitu Langkah Justin semakin dekat dengannya. Tatapan Justin seolah memberikan sinyal pada firasatnya bahwa kejadian buruk akan menimpa dirinya sekarang juga.



"Justin, maafkan aku...," ucapnya takut seraya terus melangkah mundur.



Molly ******* kedua tangannya kuat-kuat. Ada perasaan bersalah yang menggelayuti hatinya. Jika saja dia bisa membujuk Nicholaa untuk tidak memasak di dapur tadi, Nyonya besarnya itu tidak akan dalam bahaya seperti ini.



"Kau selalu memancing emosiku, Jalang!!"



"Darimana ada sebuah kesalahan dari seorang istri yang ingin memasak untuk suaminya, Justin?"



"Kesalahanmu adalah meringankan tugas pelayanku!"



"Tapi aku tidak bermaksud seperti itu."



"Aku membayar mereka untuk berkerja, bukan duduk manis menyaksikanmu mengemban tugasnya!"



"Tidak seperti itu, Justin. Ak-"



"Seperti apa?!"



"Selama ini kamu belum pernah memakan masakanku, aku hanya ingin kamu menyicipinya. Itu sa-, aaaaaaaaa!!!"



Nyonyaaaa!!!"



Molly menjerit histeris begitu kaki Nicholaa terpleset dan tubuhnya terhuyung kebelakang. Tapi dengan sigap Justin menahan pergelangan tangannya.



Nicholaa menatap ngeri kebawah, "jangan lepaskan tanganku, Justin. Aku mohon," pintanya kuat-kuat. Karena jika saja Justin melepas tangannya, maka seketika tubuh Nicholaa akan terhempas ke atas permukaan air.



Justin tersenyum miring, "bukankah kau bilang akan bertanggung jawab? Ini hukumanmu, Jalang!!"



"Aku bisa kedinginan jika kamu membiarkanku terhempas ke dalam sana, Jus," ucapnya terisak.



"Kau pikir aku peduli?"



"Aku istrimu, seharusnya kamu tidak melakukan ini padaku."



"Kau kira aku menikahimu karena apa? Cinta?"



"Aku mohon, Justin. Tarik tanganku sekarang...."



"Berani kau memerintahku?"



"Aku hanya meminta tolong."



"Baik. Katakan kalau kau membenciku maka akan aku tarik tanganmu!!"



Nicholaa menggeleng, "tapi aku tidak membencimu, Jus."



"Katakan, Nicholaa!!"



"Ti-tidak, Jus."



"Katakan sekarang juga!!"



"Aku tidak akan pernah mengatakan itu...."



"Kau!! Pembangkang!!!"



Bluuuuurrrrr!!!!



"Nyonya!!" Molly berlari mendekat begitu Justin melepas dan membuat tubuh Nicholaa terhempas ke atas permukaan air kolam.



"Jangan lakukan apapun, Molly!!" cegah Justin menghentikan Molly yang hendak menceburkan dirinya sendiri.



"Tapi, Tuan. Nyonya bisa kedinginan...," ucap Molly penuh cemas ketika melihat Nicholaa yang kesusahan mengambil nafas.



"Dia bisa melakukannya sendiri!"



"Justin, tol-!!!" teriak Nicholaa terhenti ketika lagi-lagi tubuhnya tenggelam ke dalam air.



"Tuan, liha-,"



"Diam, Molly!!" bentak Justin membuat Molly mengerjap kaget.



"Jangan menceburkan dirimu dan jangan melakukan apapun! Dia harus menerima hukuman ini. Kau menger-"



Bluuuurrrrr!!!!



Ucap Justin terhenti dan seketika mereka dikejutkan dengan adanya Javier yang meluncur turun lalu berenang menghampiri Nicholaa.



Justin mengepalkan kedua tangannya, "apa yang kau lakukan, Bodoh!!!" teriaknya yang melihat Javier menggendong Nicholaa.



"Astaga, Tuan. Nyonya sudah tidak sadarkan diri," ucap Molly cemas.



Javier mengangkat tubuh Nicholaa lalu membawanya ke tepi kolam. Berkali-kali Javier menepuk pipinya, tapi Nicholaa tak juga sadarkan diri.



"Tuan Javier, bagaimana?" ucap Molly menghampiri.



Justin mengutuki dirinya sendiri. Bukan seperti ini rencananya. Seharusnya Nicholaa berenang lalu menepi tanpa bantuan siapapun. Begitu pikirnya tadi.



Javier mengangkat tubuh Nicholaa dan beranjak membawanya pergi. Molly mengikuti.



"Kau, keterlaluan!!!" umpat Javier begitu langkahnya melewati Justin yang masih berdiri dengan tatapan angkuhnya itu.



Perasaan cemas dan khawatir terus menerus memenuhi pikiran Javier dan Molly. Juga Justin, mungkin.



"Ikut denganku, Molly!" perintah Javier kemudian berlalu pergi.



Ada rasa sakit yang menusuk tajam hati Justin. Entah mengapa sisi terdalamnya hancur lebur melihat Javier melakukan semua itu kepada Nicholaa. Dia merasa tidak terima jika ada orang lain yang menyentuh tubuh istrinya, dia tidak terima jika ada orang lain yang sebegitu perhatian kepada istrinya. Sekalipun egonya sendiri justru tidak sudi melakukan itu semua.



Entah apa yang dirinya mau, Justin sendiri tidak mengerti. Dia ingin terus menyakiti Nicholaa. Dan seharusnya dia puas. Tapi begitu dia berhasil melakukannya, perasaannya berkata lain. Tiba-tiba saja sisi terdalamnya hancur berantakan setelahnya.



"Aaaaaaggggghhhh!!!" teriaknya jengah.



"Molly!!!!!!" panggilnya tak kalah lantang.



Tidak lama kemudian, pelayan setianya itu datang dengan raut wajahnya yang masih ketakutan.



"Ya, Tuan?"



"Dimana Nicholaa?!"



"Nyonya berada di kamar Tuan Javier, Tuan."



Mendengar itu, seketika Justin berlalu pergi dengan kedua tangannya yang mengepal kuat. Rahangnya masih mengeras menyimpan amarah. Sorot tajam di matanya tak juga lekas menghilang. Membuat Molly bernafas lega ketika Tuannya berlalu meninggalkannya.



Dengan derap langkah yang penuh amarah. Justin menarik handle pintu kamar Javier dan membukanya kasar.



"Jangan sentuh istriku!!" bentaknya keras saat melihat Javier tengah menghapus air mata Nicholaa.



Nicholaa beringsut dan memejamkan matanya begitu Justin melangkah mendekatinya.



"Jangan mendekatinya!!" cegah Javier membuat langkah Justin terhenti.



"Apa hakmu melarangku!! Dia istriku!!"



"Tidak ada seorang suami yang mencelakai istrinya sendiri!!"



"Sudah kubilang jangan mencampuri urusanku!!" Justin mendorong tubuh Javier hingga membuat sepupunya itu terhuyung mundur.



"Justin, apa yang kau lakukan?" ucap Nicholaa terkejut ketika Justin mengangkat tubuhnya tiba-tiba.



"Kau tidak akan menghempaskanku kembali ke air kan, Jus?" lanjut Nicholaa hati-hati. Takut Justin mencelakainya lagi.



"Kamarmu diatas, Nicholaa. Bukan diruang terkutuk ini," jawabnya mulai menapaki tangga.



Nicholaa menghela nafas lega ketika langkah Justin tidak mengarah ke kolam.



Justin membaringkan tubuh Nicholaa ke atas kasur king size nya itu, "mulai sekarang tidur disini! Jangan kembali ke kamar bawahmu atau Javier akan dengan mudah mendekatimu lagi dan lagi. Kau mengerti?!!"



Nicholaa mengaguk pelan.



"Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau berenang dan menepikan dirimu sendiri!! Oh, atau kau sengaja menunggu sialan itu datang lalu menolongmu, begitu?!!"



"Ti-tidak, Justin. Airnya terlalu dingin. Kakiku tiba-tiba kram dan aku tidak bisa bergerak, maaf...," jawabnya tertunduk.



"Siapa yang mengganti pakaianmu?!"



"Tenang saja, Molly yang menggantikannya...."



"Sudahlah, kau istirahat disini!!"



"Iya, Jus."



"Jangan keluar dan jangan membangkang!!"



Braaaakk!!



Justin membanting pintu dengan keras membuat Nicholaa mengerjap terkejut.



Nicholaa tersenyum pahit. Dia pikir Justin akan menemaninya tidur di sini. Ternyata percuma saja dia berpindah ke kamar Justin, dia tetap akan tidur sendirian, tanpa suaminya.

__ADS_1


****


__ADS_2