NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 17


__ADS_3

# AUTHOR POV



Alodie senang mendapat kabar dari dokter bahwa keadaan mamah Kayonna semakin hari semakin membaik. Dia rindu bisa kumpul bersama mertuanya ini dalam hangatnya ruang keluarga.



"Lalu, kapan mamah saya boleh pulang, Dok?"



"Tinggal menunggu kondisinya benar-benar pulih, setelah itu Nyonya Kayonna diperkenankan untuk pulang."



Alodie tersenyum, "terimakasih, Dokter."



"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu," Doker yang umurnya masih jauh lebih muda dari Alodie itu meninggalkan ruang rawat Kayonna setelah sebelumnya tersenyum lembut kepada mereka.



"Mah, Alodie bahagia mendengar kabar ini," ucap Alodie haru.



Kayonaa menghela nafasnya, "maafkan mamah, ya, sudah sering merepotkan kalian."



"Mamah ini bicara apa?"



"Berikan Petter padaku, Alodie. Aku sangat merindukannya."



Alodie tersenyum lalu memindahkan Petter pada gendongan mertuanya. Semakin hari Petter juga semakin tumbuh dan berkembang dengan baik. Saat usia Petter genap satu tahun nanti, Alodie ingin mengadakan pesta ulang tahun yang semeriah mungkin.



"Bagaimana kabar Nicholaa dan Justin, Nak?"



Mata Alodie melebar, "astaga, Mah. Aku melupakan sesuatu."



"Apa?"



"Nicholaa menitipkan salam untumu."



"Kau bertemu dengan Nicholaa?"



Lagi-lagi mata Alodie melebar. Dia gugup, Mamah Kayonna tidak boleh tahu bahwa beberapa hari terakhir ini Nicholaa tinggal di rumah Johnson, atau dia akan membuat jantung mertuanya ini kambuh kembali.



"Alodie?"



Alodie menghela nafas untuk mengatur ketenangannya, "iya, tadi Alodie tidak sengaja bertemu dengannya di jalan."



"Mau kemana dia? Sendiri?"



"Tidak, bersama Justin. Mungkin mau ke-,"



Braaakkkk!!!



"Mamah!!!"



Shit!


Alodie dan Kayonna seketika terkejut saat pintu dibuka dengan kasar oleh Nicholaa dari luar.



Dengan sigap Alodie merebut Petter dari pangkuan Kayonna dan berdiri tegak penuh kecewa, "Nicholaa, apa yang kau lakukan? Jantung mamah bisa kambuh karena ulahmu tadi!!" bentak Alodie tersulut emosi.



"Apa yang terjadi? Ada apa ini?" sambungnya lagi saat melihat Megan, Justin, pun Javier ternyata juga ada disini.



Nicholaa menyeka air matanya dan beringsut mendekati Kayonna, "kenapa mamah menyembunyikan semua ini dari kami! Kenapa, Mah?" ucapnya terisak.



Kayonna yang masih menahan keterkejutannya, mengernyit bingung dengan apa yang baru saja dikatakan Nicholaa, "apa maksudmu, Nicholaa?"



"Mamah tidak perlu pura-pura! Ingat-ingat saja dulu, apa yang mamah sembunyikan dari kami!!"



"Apa? Mamah tidak mengerti maksud kamu!!"



Nicholaa menyodorkan sebuah foto keluarga Justin di hadapan Kayonna, "jelaskan apa maksud dari semua ini! Jelaskan Mah!!"



Bibir Kayonna tersekat saat melihat foto suami dan sahabat hidupnya. Terlebih saat melihat wajah anak kecil yang selama ini selalu dicari dan dirindukannya. Air matanya jatuh bersamaan dengan hatinya yang meyakini bahwa anak kecil itu adalah Justin, menantunya sendiri.



Perlahan, Kayonna menatap haru mata Justin, "Jus, apa foto ini milikmu?" tanyanya penuh getar.



Justin menghela nafas, "ya."



"Dan apa anak kecil yang ada disini adalah kamu?"



"Ya, itu aku!"



Tangis Kayonna semakin pecah memenuhi ruang rawatnya beberapa bulan terakhir ini. Hatinya sesak pun bahagia dengan kejutan yang tak pernah dia sangka sebelumnya. Seseorang yang selama ini dicari ternyata ada di sampingnya, ada di dekatnya bahkan adalah menantunya sendiri.



Kayonna menyeka air matanya, "kemarilah, Justin. Kemarilah...." lirihnya lembut.



Perlahan, Justin berjalan mendekat dan seketika itu pula Kayonna dengan sigap memeluk Justin lalu memecah tangis rindunya di dalam sana. Tangis rindu kepada putranya tercinta.



Entah apa yang Justin pikirkan, tapi hatinya benar-benar merasa tenang saat mamah Kayonna mendekapnya seerat ini, sekasih ini. Justin tidak mengerti, apa ini! Apa yang sebenarnya terjadi!!



"Lepaskan aku, Nyonya Kayonna!!" ronta Justin tiba-tiba.



"Seseorang yang sudah menyakiti mamah Denaya, tidak pantas memelukku!!" lanjutnya lantang.



Kayonna tercengang mendengar itu. Dia yakin Justin salah faham dengan kejadian di masa lalu. Dia yakin Justin tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.



Kayonna menghela nafasnya, "tidak, Justin. Tidak ada diantara kami yang saling menyakiti. Mamah sayang pada Denaya, pun Denaya juga sayang dengan Mamah!"



"Tidak!! Jika mamah sayang sama mamah Denaya, mamah tidak mungkin merebut Tuan Dalbert darinya!"



"Cukup, Justin!" sahut Megan lantang bersamaan dengan Kayonna yang memecah tangis pilunya.


__ADS_1


"Sudah kubilang berkali-kali, Tuan Dalbert adalah suami mamah Kayonna. Mamah Kayonna tidak pernah merebutnya darimu! Justru Ibumulah yang merebutnya dari kami!!"



"Tidak! Itu tidak benar! Mamah Denayalah yang terluka. Tuan Dalbert selingkuh dengan mamah Kayonna hingga membuatnya sakit-sakitan dan meninggal dunia!!!"



"Cukup!!" sahut Nicholaa tak kalah lantang, "cukup semuanyaa.... Mah, mamah yang tahu apa yang terjadi di masa lalu. Ceritakan kepada kami yang sebenarnya... yang sejujurnya...."



Kayonna menyeka air matanya dan menghela nafasnya dengan berat, "pada saat itu...," tuturnya, mulai bercerita.



*Flashback*



Malam semakin larut, dengan menahan kantuk yang teramat berat, Kayonna terjaga di ruang tamu menunggu suaminya yang belum pulang dari kantor. Walau tubuhnya begitu letih, Kayonna tetap berkomitmen untuk menjadi istri yang sopan dan baik untuk Dalbert, suaminya tercinta.



"Mah," suara anak laki-lakinya yang masih berumur 12 Tahun mengejutkannya.



"Megan, kenapa kau belum tidur?"



"Megan yang seharusnya bertanya, kenapa mamah belum tidur?"



Kayonna tersenyum, "mamah menunggu papahmu pulang, Sayang."



Megan duduk dan membelai perut Kayonna yang sudah membuncit besar, "tapi mamah sedang mengandung adik Megan, mamah tidak boleh capek-capek. Mamah tidurlah, biar Megan yang menunggu papah."



"Kamu ini," Kayonna tergelak.



"Mah?"



"Iya, Sayang."



"Aku ingin dedek bayi yang ada di kandungan mamah ini perempuan."



Kayonna tersenyum, "kenapa?"



"Biar keluarga kita lengkap. Yang laki-laki Papah sama Megan, yang perempuan Mamah sama adik megan."



"Haha.... Kamu ini ada-ada saja, Megan."



Ckleeekkk



Pintu di buka dari luar, dan seketika itu pula Dalbert terkejut melihat istri dan anaknya yang masih terjaga hingga dini hari.



"Kalian belum tidur?" ucapnya mencium lembut kening sang istri.



Jantung Kayonna berdetak cepat saat mencium aroma parfum wanita melekat pada tuxedo suaminya. Ingin sekali rasanya menanyakan hal itu, tapi Dalbert pasti sudah lelah bekerja seharian. Dan Kayonna tidak mau menanyakan hal itu sekarang.


****



"Megan, satu bulan lagi tahun ajaran baru. Siapkan dirimu untuk pergi ke London, kau akan belajar di sana," ucap Dalbert di tengah-tengah sarapan mereka.




Dalbert tersenyum, "kakakku beserta suaminya tinggal di sana. Kau jangan khawatir, Sayang. Mereka akan menjaga Megan dengan baik."



"Terimakasih sudah mementingkan pendidikanku, Pah."



"Itu sudah menjadi tugas kami sebagai orang tuamu, Nak."



Megan tersenyum, "kalau begitu Megan ke kamar dulu, ada beberapa buku yang harus Megan baca."



"Iya, manfaatkan waktu liburanmu ini sebaik mungkin," tutur Kayonna sebelum Megan berlalu pergi meninggalkan mereka.



Dalbert dan Kayonna melanjutkan aktifitas sarapan mereka yang belum selesai. Dalbert yang hari ini tidak masuk kantor pun terlihat begitu santai menikmati masakan istri tercintanya ini.



Kayonna menghentikan pergerakannya saat teringat aroma parfum yang melekat pada tuxedo Dalbert semalam. Dalam benaknya, mungkin ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu kepada suaminya.



"Dal?" panggilnya hati-hati.



"Iya, Sayang?"



"Semalam, kamu pulang larut malam karena ada acara apa?"



Dengan gugup, Dalbert menatapnya, "aku lembur, masih ada beberapa tugas yang aku selesaikan di kantor. Kenapa?"



Kayonna tersenyum, "tidak, papa."



Sungguh, dia takut menanyakan hal ini pada Dalbert. Bagaimana kalau Dalbert akan marah dan berkata yang tidak-tidak. Kayonna tidak mau mereka bertengkar dan janin yang ada di kandungannya akan kena imbasnya.



"Sebaiknya aku menanyakan hal ini kepada Denaya saja. Dia bekerja di kantor Dalbert, aku yakin dia tahu sesuatu. Dia juga sahabatku, dia tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dariku," gumam Kayonna dalam hati.



"Sayang, kau kenapa?" tanya Dalbert membuyarkan lamunannya.



"Ah, tidak. Aku baik-baik saja."



Dalbert tersenyum, "aku sudah selesai. Aku ke atas dulu ya, aku mau lihat Megan, baca buku apa dia."



"Iya, Sayang, pergilah. Aku akan membereskan sarapannya."



Setelah Dalbert beralu, Kayonna lagi-lagi termenung memikirkan keganjalan yang dari semalam mampu membuat pening pikirannya. Semoga praduganya salah, Dalbert tidak mungkin tega menduakannya, tidak mungkin.



"Selamat pagi...," sapa seseorang membuatnya tergertak sadar.



"Denaya?"



"Hai," sapa Denaya duduk disampingnya.



"Tumben sekali pagi-pagi. Kau mau sarapan?"

__ADS_1



"Tidak perlu, aku baru saja selesai sarapan dari rumah. Aku kesini ingin bertemu suamimu. Ada beberapa urusan kantor yang ingin aku pertanyaan."



Kayonna tersenyum, "sebenarnya aku membutuhkanmu hari ini. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."



Denaya mengernyit, "apa?"



"Kau bekerja di kantor suamiku. Aku yakin, sedikit banyak kau pasti tau sesuatu tentangnya."



"Bicaralah yang jelas, Kayonna. Aku tidak mengerti apa maksudmu."



Kayonna menghela nafas beratnya, "semalam Dalbert pulang larut malam. Dan aku mencium aroma parfum wanita melekat di tuxedonya. Apa dia ada wanita lain di kantor?"



Bibir Denaya tersekat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabat hidupnya ini. Sesuatu membuat sesak dadanya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.



"Dena? Kenapa kau diam?"



Denaya mengusap kasar rambutnya, "ti-tidak. Emm, maksudku..., aku tidak pernah melihat Dalbert dengan perempuan lain di kantor. Percayalah, Kay. Dalbert mencintaimu, dia tidak mungkin menduakanmu."



"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"



"Karena..., karena aku yakin Dalbert mencintaimu begitu besar."



Kayonna terdiam. Dia menyadari, sikap Dalbert memang tidak pernah berubah. Suaminya masih terlihat sangat menyayanginya dan Megan. Perhatiannya pun tidak pernah berkurang. Tapi entah kenapa perasaannya berkata lain. Seperti ada sesuatu yang tidak dia ketahui selama ini.



"Denaya?" ucap Dalbert yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.



"Hai, Dal. Aku ada perlu denganmu, bisa kita bicara sebentar?"



"Oh, tentu," Dalbert duduk di hadapan Denaya.



"Kalau begitu kalian bicaralah dulu, biar aku buatkan kopi untuk kalian," ucap Kayonna berlalu meninggalkan mereka.



"Ada apa, Dena?"



Denaya menghela nafas beratnya, "tadinya aku kemari karena ingin menanyakan tentang proyek baru kita. Tapi apa yang baru saja Kayonna tanyakan padaku, membuatku ingin membicarakan sesuatu yang lebih penting lagi dari itu."



Dalbert mengernyit, "Kayonna menanyakan hal apa padamu?"



"Dia curiga kau memiliki hubungan dengan perempuan lain, Dal. Jadi aku mohon sama kamu, hentikan hubungan kita. Sudahi semuanya, aku tidak mau menyakiti Kayonna. Dia sahabatku, Dal. Kau tahu itu, kan?"



"Aku tau, Dena. Tapi aku mencintaimu, aku tidak bisa meninggalkanmu! Aku mencintai kalian berdua!"



"Kamu tidak boleh egois, Dal. Istrimu sedang mengandung."



Dalbert menggenggam kedua tangan Denaya, "cukup, Dena. Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan Kayonna. Aku akan tetap mencintai dan menjaganya, meskipun di sisi lain aku juga mencintai dan ingin menikahimu!"



Priaaanggg!!!!



Shit!


Mereka dikejutkan dengan adanya suara pecahan cangkir yang menggema dibelakang mereka. Membuat bibir mereka seketika mengering dan tersekat.



"Kayonna?" panggil Dalbert penuh getar.



Denaya memecah tangisnya disana, sedangkan Dalbert menghampiri Kayonna yang sudah bersimpuh dengan penuh luka yang merajahi hatinya.



"Kay, maafkan aku...," ucap Dalbert memeluknya.



"Kalian jahat! Kenapa kalian melakukan ini dibelakangku!!!"



"Ini salahku, Sayang. Aku tidak bisa menahan perasaan ini. Aku mencintaimu dan dia. Aku mencintai kalian berdua. Maafkan aku...."



Kayonna menggeleng kepalanya tak percaya. Matanya menatap penuh luka keberadaan Denaya yang tak berani menghadapnya. Pundak sahabatnya terguncang hebat, Kayonna tahu, Denaya pasti juga tengah memecah tangisnya disana.



"Kau pembohong, Dena. Kau bilang bahwa Dalbert sangat mencintaiku dan tidak mungkin menduakanku! Kau meyakinkanku bahwa Dalbert tidak memiliki hubungan dengan perempuan manapun selain diriku!! Tapi pada kenyataannya apa? Kau sendirilah perempuan yang disembunyikannya!! Kau pembohong, Dena!! Kau pembohong!!"



Denaya hanya bisa terdiam. Dia malu dengan sikapnya sendiri. Kayonna benar, dia pembohong besar. Dia telah tega melakukan semua ini dibelakang Kayonna, sahabatnya sendiri.



"Jadi ini alasanmu tidak ingin menikah?! Hah? Karena kamu mencintai suamiku? Iyaa!! Jawab, Dena!!"



"Sayang...," Dalbert kembali memeluk istrinya untuk meredam emosi yang mungkin mampu membuat Kayonna tak terkendali.



"Kenapa kalian tidak jujur saja padaku dari awal?!! Aku mencintaimu, Dal! Aku pun menyayangimu, Dena! Tapi kalian anggap apa aku selama ini? Hah???!!



"Aku pun menyayangimu, Kay. Hatiku kerap kali merasa sesak ketika mengingat bahwa aku sudah salah mencintai suami sahabatku sendiri! Ingin rasanya aku menyudahi semuanya, tapi susah! Aku tidak memiliki banyak kekuatan untuk melupakan Dalbert dalam hidupku!!" ucap Denaya yang bahkan tak sanggup menatap mata Kayonna.



"Kamu tega, Dena. Kalian semua tegaa...."



"Ampuni pengkhianatanku ini, Sayang. Ampuni, aku minta maaf padamu! Tolong jangan tinggalkan aku...." pinta Dalbert penuh luka.



"Hukum saja aku, Kay. Aku memang salah! Aku sahabat yang tidak tahu diri! Tidak seharusnya aku mencintai suamimu! Pun tidak seharusnya suamimu mencintaiku! Aku minta maaf padamu, Kay. Aku minta maaf!!!"



"Aku pikir selama ini hanyalah aku satu-satunya manusia yang kau cintai, Dal! Dan kalian berdua adalah seseorang yang paling aku percaya di dunia. Tapi kenapa? Kenapa kalian melakukan penghianatan sebesar ini padaku? Kenapa!!"



"Kami tidak mampu memungkiri perasaan yang ada, Sayang. Maafkan kami. Kami sudah berusaha menepis rasa cinta yang hadir secara berkala! Tapi semakin kami menjaga jarak, perasaan itu semakin menggebu-gebu. Kami tidak sanggup lagi menahannya. Maafkan kami!!" sambung Dalbert memeluk erat tubuh istrinya.



Tangis Kayonna semakin pecah tak terkendali. Sesuatu menusuk ulu hatinya teramat dalam. Dia mencintai Dalbert namun dia juga sayang dengan Denaya. Dia ingin melihat sahabatnya bahagia, dia tidak mau ada yang tersakiti diantara mereka.



Kenyataan ini menjadi kejutan terbesar yang pernah dia alami seumur hidup. Dadanya sesak berlipat-lipat. Keputusan apa yang harus dia ambil sekarang? Dia tidak ingin kehilangan Dalbert, pun dia juga tidak ingin kehilangan sahabatnya.



Kayonna menghela nafas beratnya, "menikahlah kalian, aku ikhlas dimadu," ucapnya membuat Dalbert dan Denaya terkejut seketika.



*flashback end*

__ADS_1


__ADS_2