NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 4


__ADS_3

# NICHOLAA POV



Aku mengernyit begitu sinar mentari berhasil menyorot mengenai wajahku. Aku mengerjap beberapa kali untuk mengatur cahaya yang masuk menembus kornea mataku.



Ku lihat ada seseorang yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya tengah membuka tirai kamarku. Lalu berjalan mendekatiku.



"Bangun dan mandilah, Nicholaa!" perintahnya membuka kasar selimutku.



"Ah, Tuan Megan...," decakku mencari-cari kembali selimut itu. Tapi buru-buru kak Megan menyingkirkan lebih jauh lagi sebelum aku mendapatkannya.



"Kau ini pemalas atau bagaimana? Kau tidak mengganti gaunmu sebelum tidur?"



Mendengar itu, mataku terbuka lebar seketika. Lalu kutatap sekujur tubuhku. Oh Ya Tuhan, aku belum mengganti pakaianku.



Aku menghela nafas, "aku ketiduran semalam."



Kak Megan duduk di sisi ranjangku, "kau terlalu kecapekan. Sudah kubilang, jangan pulang larut malam. Semeriah apakah party ulang tahun itu hingga membuatmu betah berlama-lama di sana?" omelnya.



"Huaaahh," aku kembali menguap, "aku tidak menghadiri party itu," lanjutku terkantuk-kantuk.



"Lalu?"



"Aku pergi kencan."



"Dengan siapa?"



Aku menyingkur membelakanginya, "Justin Clayton," jawabku kembali menutupkan mata.



"Whattt???!!"



Astaga! telingaku!!



Aku tergertak bangun seketika, "pelankan suaramu, Taun Megan. Kau sama saja dengan istrimu, selalu membuatku jantungan!"



"Kau kencan dengan Justin?"



"Ya," jawabku singkat dan beranjak bangun dari tempat tidur.



"Artinya? Kau menerima lamarannya?" tanyanya.



Aku terdiam, tidak menjawab pertanyaan itu. Pandangan kak Megan mengikutiku yang sedang mengitari tempat tidur menuju meja riasku, mengambil ikat rambut lalu mengikat rambutku asal.



"Nicholaa?" panggil kak Megan menanti jawabanku.



Aku mengambil pembersih wajah untuk menghapus sisa-sisa make up ku semalam, "ada apa?"



Kak Megan berdecak, "iiisshhh kau ini tuli atau bagaimana? Aku bertanya apakah kau menerima lamarannya?"



"Belum, Tuan Megan. Bersabarlah."



"Terimalah lamaran itu, Nicholaa. Please!"



"Hadiah apa yang akan kau berikan jika aku menerima lamaran itu?"



"Kau minta apa?"



"Satu buah mobil?"



Kak Megan berdecak.



"Aku berjanji akan belajar memanuver mobil dengan baik jika kau mau mengajariku, Tuan."



"Bukan begitu, Nona Johnson."



Aku meraih handukku di balik pintu kamar, "lalu?"



"Berfikirlah dengan benar, Nicholaa. Untuk apa kau meminta hadiah mobil kepadaku jika kau sudah menerima lamarannya?"



Aku menautkan kedua alisku. Kak Megan menghela nafasnya, merasakan sifat lolaku.



Kak Megan berjalan mendekatiku, "jika kau menikah dengan seorang Justin Clayton, maka kau akan punya puluhan mobil yang sudah berjajar rapi di garasi rumahnya. Lalu, untuk apa kau memintaku memberikan itu?"



Aku menggigit bibir bawahku, "kau benar, Tuan."



Kak Megan mendengus kesal, "mandilah. Lalu bantu kakak iparmu membersihkan rumah," ujarnya kemudian berlalu pergi.



Sedangkan aku masih berdiri dengan handuk di pundakku, memikirkan kado apa yang pantas kupinta dari Tuan Megan, kakak terhormatku itu.


****



"Tidak begitu, Nicholaa," ucap kak Alodie menghentikan pergerakan tanganku yang sedang mengaduk adonan roti di dapur.



"Kalau pelan seperti itu kapan selesainya?" ucapnya merebut mikser dariku, "lebih cepat. Seperti ini," lanjutnya memberi contoh.



Aku mengamati sebentar, lalu mengaguk perlahan.



"Baiklah, aku paham. Berikan padaku," ucapku meraih kembali mikser itu.



Ting tong...



Bel rumah berbunyi, siapa yang datang bertamu pagi-pagi seperti ini? Mengganggu saja.



"Buka pintunya, Nicholaa. Berikan itu padaku."



"Tidak perlu. Mungkin saja Taun Megan kembali karena ada berkasnya yang ketinggalan."



Kak Alodie berkacak pinggang, "kalau itu kakakmu, untuk apa dia memencet bel hanya untuk masuk ke rumahnya sendiri?"



"Ishhhh iya baiklah," decakku kemudian berlalu pergi.



Aku berjalan menuju pintu utama seraya membersihkan sisa-sisa tepung di wajahku. Bajuku juga belepotan dengan segala macam bumbu-bumbu dapur. Aisshhh, seharusnya bukan seperti ini keadaan seseorang yang hendak menerima tamu, bukan?



Ckleek



"Siapa?" sapaku lalu dibuat terkejut setelahnya.



"Bagaimana bisa kau datang kemari tanpa menghubungiku terlebih dahulu, Justin?" protesku mendorongnya keluar lalu menutup pintu rumahku.



Justin tertawa, "kenapa?"



"Lihat! Wajahku penuh dengan adonan tepung, dan bajuku berbau bumbu-bumbu dapur. Seharusnya tidak dalam keadaan seperti ini aku bertemu denganmu!"



"Kamu malu?"



Aku cemberut. Dia ini bodoh atau bagaimana? Jelas saja aku malu. Bertemu dengan seseorang yang melamarku dalam keadaan seperti ini? Oh, itu jelas merusak harga diriku.



"Tenanglah, Nicholaa. Aku sudah memujimu cantik semalam. Jadi, bagaimana pun penampilanmu, kau tetap terlihat cantik di mataku. Seperti sekarang."



Damn.


Wajahku pasti memerah.



"Lalu? Ada apa kau kemari?"



Justin melipat kedua tangannya, "setidaknya suruhlah calon suamimu ini untuk masuk, Nicholaa."



"Aku belum menerima lamaranmu, Justin!"



Justin tertawa mendengar protesku itu, "baiklah, maafkan aku."



Aku membuka handle pintu rumahku, "masuklah," ucapku lalu Justin mengekor di belakangku.



"Secangkir kopi hitam," ucapnya seraya duduk di sofa.



Aku melebarkan mata, "hei, aku tidak sedang menawarkanmu minuman."



Justin tertawa, "kau itu lucu sekali, Nicholaa."



"Apa yang lucu?" tegurku berkacak pinggang.



"Tidak. Kau lebih cantik saja kalau sedang cemberut kesal seperti itu."



"Jangan menggodaku, Justin!"



"Itu bukan rayuan, Nicholaa."



"Siapa, Nicholaaaa?" teriak kak Alodie berjalan menuju ruang tamu.



"Selamat pagi," sapa Justin kepadanya setelah berdiri di sini.



"Astaga, Tuan Justin?" kejut kakak ipar, "ah iya, selamat pagi. Duduklah, biar aku buatkan minuman untuk anda," lanjutnya menunduk sopan sebelum berlalu pergi.

__ADS_1



Aku tercengang melihat itu. Sebegitu hormatkah semua orang kepada seorang Justin Clayton? Bahkan kakak iparku sendiri? Oh astaga, kepada adik iparnya saja dia suka berucap semuanya. Menyebalkan.



"Kau kenapa, Nicholaa?" tanya Justin menyadarkanku.



Aku berdeham pelan, "apa semua orang menghormati seperti itu, Tuan Justin?"



Dia tersenyum, "ya. Kenapa?"



"Sehebat apakah dirimu sampai semua orang tunduk padamu?"



Justin mengedikkan bahunya, "mungkin aku terlalu membahayakan bagi keluargamu, untuk itu mereka teramat sangat menghormatiku."



"Membahayakan?"



"Bagaimana tidak? Aku punya hak untuk mengambil alih kekuasaan perusahaan Tuan Megan, Nicholaa. Kau lupa itu?"



Aku mencibir, "aku tidak lupa, Tuan Justin."



"Silahkan diminum, Tuan. Maaf kalau ada yang kurang," ucap kak Alodie menghidangkan secangkir teh hangat di meja.



"Dia memesan kopi hitam, Nyonya Alodie. Bukan teh manis buatanmu itu," celotehku membuat kak Alodie gelagapan.



"Oh, kalau begitu biar saya ganti. Maaf, Tuan," ucapnya.



Oh God. Aku tercengang melihat sikap sopan kakak iparku ini.



"Tidak perlu, Nyonya Johnson. Teh hangat cocok untuk pagi hari," ucap Justin menghentikan pergerakan kak Alodie.



"Baiklah, kalau begitu selamat menikmati," ujar kak Alodie yang dibalas senyuman oleh Justin sebelum berlalu pergi.



"Kau mau mencoba, Nicholaa?" tawar Justin seraya meneguk tehnya.



"Tidak, terimakasih. Aku sudah bosan dengan teh manis buatannya itu."



"Teh manis?"



"Rasanya manis, bukan?"



"Entahlah. Rasa-rasanya aku merasa manis sebab ada kau di sini, bukan karena teh ini."



Oh, Jantung. Bersabarlah. Jangan kau berdetak kencang seperti itu.



"Kau merayuku?"



"Bukan, Nicholaa. Aku menjawab pertanyaanmu."



"Ishhh baiklah, Justin. Terserah kau saja."



"Kau lucu jika sedang tersipu malu seperti itu."



Mataku melebar, "aku tidak malu."



"Oh ya? Artinya kau semakin percaya diri setelah menerima pujianku?"



"Justiiin!!!"



Justin tertawa, "ada apa?"



"Berhenti menggodaku!"



"Iya iya, baiklah."



"Cepat habiskan tehmu dan pulang."



"Aisshhh kenapa?"



"Kau harus pergi berkerja, bukan? Kau bisa dipecat karena telat!"



Justin mengeraskan gelegak tawanya. Oh Ya Tuhan, dia tampan sekali.



"Hei, ada apa?"



"Kau berbicara seolah-olah aku ini OB kantor, Nicholaa. Kau lupa? Aku CEO perusahaan itu. Aku Owner dan pemilik perusahaan itu. So, siapa yang berhak memecatku, wahai mempelai wanita?" gelak tawanya kembali terdengar.



Oh astaga, aku benar-benar lupa siapa Justin di perusahaannya.




"Oh baiklah. Dan ini adalah hari terakhir untuk kau memikirkan semuanya, Nicholaa. Menikah denganku, atau menyerahkan perusahaan itu pada kekuasaanku."



"Oh ya? Kalau aku tidak mau menjawabnya hari ini?"



"Oh, kalau begitu kau mengingkari janjimu."



"Katamu, kau akan membuatku lebih bahagia hari ini, bukan?"



"Ya."



"Bagaimana?"



"Apa sekarang kau tidak bahagia dengan aku bertamu dirumahmu? Kau bahagia sejak awal membuka pintu, bukan?"



Mataku melebar, "jangan membuatku kesal Justin!"



"Oh ayolah, Nicholaa. Akui saja. Jangan tersipu-sipu seperti itu."



"Justin!!!!"



Gelegak tawanya memenuhi ruang tamu. Baiklah, aku akui dia mampu membuatku salah tingkah. Dan benar, aku sudah bahagia dari pertama membuka pintu untuknya. Justin benar-benar menyebalkan. Tapi aku suka, dia semakin terlihat unik dan membuatku tertarik pada caranya memperlakukanku. Begitu lembut dan menyenangkan.


****



Setelah puas bertamu di rumahku, kini Justin tengah fokus memanuver mobilnya, menuju rumah sakit mamah. Aku terkejut ketika dia mengajakku pergi menjenguk mamah hari ini, entah apa yang akan dia lakukan di sana. Karena rindu dengan mamah, jelas saja aku langsung menerima tawarannya dan bergegas mandi untuk bersiap-siap.



Justin menepikan mobilnya di area parkir rumah sakit. Aku pun bergegas membuka sabuk pengaman dan beranjak turun.



"Tunggu sebentar, Nicholaa," ucapnya menghentikan pergerakanku.



"Why?"



Tidak menjawab, justru Justin keluar dan mengitari mobilnya lalu membukakan pintu untukku.



Begitu mata kami bertemu, Justin tersenyum manis padaku, "silahkan, Tuan Putri." Oh Astaga, ini manis sekali.



Aku turun dan berucap terimakasih padanya, menyembunyikan perasaan bahagiaku sebab perlakuan lembutnya itu.



Justin mengikutiku yang terus berjalan menuju ruangan mamah. Begitu sampai di depan pintu, langkah Justin berhenti. Aku memutar tumit kakiku lalu menghadapnya. Sekilas aku melihat ada api di dalam matanya, dan juga rahangnya yang mengeras seperti menahan amarah.



"Justin, ke-kenapa?" tanyaku pelan-pelan.



Justin tergerak sadar lalu menghela nafasnya, "oh tidak. Kau masuklah dulu, nanti aku menyusul," ucapnya.



Dengan meninggalkan sejuta pertanyaan, aku kembali memutar tumitku dan beranjak masuk. Senyumku seketika mengembangkan ketika kudapati mamah sedang duduk bersandar seraya memegang, oh apa itu? Selembar foto?



Ku langkahkan kakiku menghampiri mamah, lalu beringsut mendekat turut melihat foto itu. Tunggu, foto siapa itu? Laki-laki kecil dengan senyumannya yang teramat manis. Apa itu foto masa kecil kak Megan? Oh tidak-tidak, bukan seperti itu wajah kak Megan dulu. Foto siapa yang sedang mamah nikmati hingga tidak menyadari kehadiranku saat ini?



"Mamah?" panggilku pelan agar tidak membuatnya terkejut, takut-takut jantungnya kambuh.



"Ah, Nicholaa?" sadarnya dengan segera menyembunyikan foto itu di saku baju rumah sakitnya itu.



"Mamah sedang apa?" tanyaku berlagak tidak tau.



"Tidak, hanya sedang bersandar saja."



"Permisi," suara Justin membuka handle pintu.



Aku tersenyum, "Mah, perkenalkan dia Justin. Dan Justin, perkenalkan ini mamah Kayonna, Ibuku."



"Selamat siang, Nyona," sapa Justin tunduk. Oh lihatlah, di balik banyaknya orang-orang yang menghormatinya, dia tetap hormat kepada orang yang lebih tua.



"Selamat siang, Nak. Apakah kau Justin Clayton yang kata Megan tengah melamar Putriku?"



Justin tersenyum, "benar, Nyonya Kayonna. Saya orangnya. Apakah anda setuju jika saya menikahi Putri anda?"



Oh God, Justin tengah meminta restu kepada Mamah di depanku. Astaga, dia romantis sekali.



"Semua saya serahkan kepada, Nicholaa."



Aku beringsut mendekati Justin, "mamah tidak tahu kalau kau melamarku karena perjanjianmu dengan Tuan Megan itu. Jadi jangan sekali-kali kamu mengancamnya, atau kau akan membuat jantungnya kambuh. Mengerti?" bisikku pelan.


__ADS_1


Justin tersenyum, "terimakasih, Nyonya. Saya akan meminta Nicholaa untuk menjawabnya segera.



Mamah tersenyum lembut, "semoga kalian bahagia.



"Jika Nicholaa tidak bersedia menikah dengan saya, maka-"



"Justin, stop!!" ucapku memotong pembicaraannya. Apa maksudnya? Sudah kubilang jangan mengancam Mamah.



"Maka saya akan tetap menunggunya," lanjutnya membuatku bernafas lega.



"Kenapa, Nicholaa?" tanya mamah padaku.



"Ah, ti-tidak, Mah. I'm fine," jawabku gelagapan.


****



Setelah berkunjung ke rumah sakit mamah dan menghabiskan waktu seharian di sebuah taman. Kini Justin tengah membuatku terbuai dalam pergerakannya yang menuntunku berdansa. Lihatlah matanya yang hitam pekat itu, senyumnya yang menunjukan lesung di kedua pipinya, juga kekar tubuhnya yang mendekapku erat dalam dinginnya angin malam di bibir pantai ini.



Ya. Entalah, Justin begitu suka mengajakku pergi menikmati pantai malam hari. Menyaksikan semburat rembulan di atas sana dalam sepinya hamparan pasir. Desiran ombak mengiringi setiap gerakanku dengan Justin. Tanpa alunan musik pun, Justin mampu membawaku berdansa dengan lihainya. Benar-benar membuatku gila.



"Kau itu tengah menatapku atau mengajakku adu mata, Justin? Berkediplah, kau membuatku...."



"Apa?"



Aku menunduk, "salah tingkah."



Justin melebarkan senyumnya, "tatap mataku, Nicholaa."



"No," jawabku memandang lurus dadanya yang bidang itu.



"Why?"



"Nothing."



"Kau takut tergila-gila?"



Mataku melebar, "jangan terus membuatku malu, Justin."



"Tatap mataku, Nicholaa."



"No, Justin!"



Ah, Justin benar-benar tidak mengerti. Dia itu sedang pura-pura bodoh atau bagaimana? Jelas saja aku tidak akan sanggup menatap matanya terlalu lama. Bagaimana jika dengan tidak sadar aku terbuai lalu menciumnya? Itu sungguh membahayakan, bukan?



"Nicholaa?" panggil Justin pelan.



"Ya?"



"Angin laut, desiran ombak, langit gelap, gemerlap bintang, dan gemilang rembulan. Semua itu terasa indah. Dan kamu tahu? Dengan bersamamu di sini, keindahan itu lebih menyempurna."



Jantungku berdebar mendengar itu, perlahan aku mendongak menatap matanya.



"Dan sekarang, lebih sempurna lagi," lanjutnya semakin membuatku terbang tinggi.



Aku tersenyum, "terimakasih, Justin."



Justin mempererat kaitan kedua tangannya yang melingkar di pinggangku. Tubuhku semakin erat di dadanya.



"Jika semua di dunia ini mampu aku lakukan, maka hanya satu yang tidak bisa kuperbuat."



Aku menautkan alisku, "apa?"



"Melupakanmu."



Aku tersenyum.


Justin berhenti dan melepasku dari dekapannya.



"Tutup matamu."



Aku mengernyit, "untuk apa? Jangan mengerjaiku, Justin. Apa kau mau pergi dan meninggalkanku di sini sendiri?"



Justin tertawa, "kau itu cerewet sekali, Sayang. Sudahlah, tutup matamu."



"Isshhh baiklah." Lalu kututup mataku.



Huh, kejutan apa lagi yang akan kudapatkan kali ini? Justin ada-ada saja. Sikap lembutnya hari ini semakin membuatku yakin untuk menerima lamarannya, untuk bersedia menjadi mempelai wanitanya.



"Justin?" panggilku yang merasa mulai hening, "kau sedang apa?"



Tidak ada jawaban. Apa dia sedang mempersiapkan sesuatu untukku?



"Justin?"



"Justin, jawablah atau aku akan membuka mataku sekarang juga!"



Hening.



"Justin?"



"Justin jangan bercanda, kau tahu aku takut kesendirian!"



Hening



"Justin, aku buka mata sekarang juga!!"



Masih tidak ada jawaban. Apa dia benar-benar meningalkanku sendirian? Sama sekali tidak kudengar suaranya bahkan kehadirannya. Hanya desiran ombak yang terdengar di telingaku.



"Justin?" panggilku menahan takut.



"Justin, bicaralah."



"Jus-"



Ucapku terhenti ketika kurasakan sebuah tangan kekar memelukku dari belakang.



"Justin, apa ini kau?"



"Tenanglah, Nicholaa. Aku tidak pergi kemana-mana. Aku hanya sedang menikmati wajahmu saja."



Whaat???


Apa maksudnya? Jadi dari tadi dia hanya diam seraya menikmati wajahku begitu? Sedangkan calon istrinya mati-matian menahan rasa takut.



Aku membuka mataku lebar-lebar. Lalu ku putar tumitku menghadapnya tanpa melepas tangannya yang melingkar di tubuhku.



"Jadi dari tadi kau hanya diam menikmati wajahku? Aku pikir kau sedang menyiapkan sebuah kejutan, Tuan!" protesku tidak terima.



Justin tersenyum, "sudah kuduga, kau akan terlihat lebih cantik dengan wajahmu yang cemberut kesal seperti itu."



Aku merona, "dasaar!"



"Nicholaa?"



"Ya?"



"Waktumu sudah habis."



"Lalu?"



"Aku tidak akan memberimu waktu lagi untuk memikirkan jawabnya."



"Aku juga tidak meminta itu."



"Jadi?"



Aku mengaguk.



"Hei, apa itu?"



Aku berdecak, "jawaban, Justin."



"Jawablah dengan jelas. Apa kau bersedia menikah denganku, Nicholaa Johnson?"



"Ya. Aku bersedia menikah denganmu, Justin Clayton."



Justin tersenyum, "kita akan menikah besok!"



Mataku terbuka lebar-lebar, "Justin, kau bercanda?"



"Tidak."


__ADS_1


Sudah kubilang, hidupku sungguh penuh kejutan.


****


__ADS_2