NICHOLAA JOHNSON

NICHOLAA JOHNSON
Chapter 20


__ADS_3

Justin merapikan berkas-berkas yang ada di meja kerja kantornya. Perhatiannya benar-benar tidak terfokus disini, semua pikiran dan perasaanya tertuju hanya pada Nicholaa, juga keluarga Johnson.


"Aku tidak bisa berdiam diri dengan segala macam penyesalan ini," ucapnya merapikan tuxedo hitamnya, "aku harus melakukan sesuatu," lanjutnya beranjak pergi.


"Kemana, Bos?" tanya Lawrence yang tiba-tiba datang menghampiri.


"Urus segala macam kesibukan di kantor, aku akan pergi ke rumah sakit untuk menemui mamah."


"Jus, tunggu!" panggil Lawrence menghentikan langkahnya.


Justin menoleh.


"Aku sudah memerintahkan beberapa orang untuk mencari istrimu, kau tenanglah."


Justin tersenyum, "terimakasih," ucapnya dan berlalu pergi.


****


"Dulu kau belajar memasak dimana, Molly? Makananmu begitu lezat," puji Javier pada pelayan rumah sepupunya itu.


Molly yang membawa segelas Jus dan meletakkannya di meja, tersenyum, "saya belajar memasak dengan orang tua saya, Tuan. Tidak lebih."


"Javier?" panggil seseorang membuatnya menoleh.


"Lura? Kau kemari?"


"Maaf sudah masuk begitu saja. Tadi aku mengetuk pintu beberapa kali tapi kalian tidak membukanya."


"Oh, maaf, Nona. Kalau begitu kami yang salah," ucap Molly membungkukan tubuhnya.


Lura tersenyum, "tidak masalah, Molly."


"Molly, buatkan jus buat Allura," perintah Javier yang langsung dilaksanakan olehnya.


"Duduklah, Lura. Mari sarapan bersama."


Allura menarik kursi dan duduk di hadapan Javier, "terimakasih, tapi aku baru saja selesai sarapan. Justin dimana?"


Javier melanjutkan aktifitas sarapannya, "dia pergi ke kantor."


"Semalam aku bertemu dengannya di jalan. Dan kata diaaa....."


"Ya. Apa yang kau dengar adalah sebuah kebenaran."


"Aku benar-benar tidak menyangka, Jav!"


"Itulah hasil dari kecerobohannya di masa lalu. Tidak seharusnya dia dengan cepat memvonis siapa yang bersalah. Hingga kesalah pahamannya kini membawa dampak yang besar bagi kehidupannya, bahkan dalam hidup kami semua."


"Permisi, Nona," ucap Molly menghampiri, "ini jusnya," lanjutnya meletakkan segelas Jus segar untuk Allura.


Allura tersenyum, "terimakasih, Molly."


"Sama-sam-,"


Braaakkk!!


"Molly!!!!" teriak Javier dan Allura bersamaan saat Molly tiba-tiba terhuyung mundur terkena kursi dan pingsan.


"Kenapa dia, Jav?" cemas Lura saat Javier mencoba untuk menepuk-nepuk bahu Molly.


"Entahlah, sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit sekarang."


****


Megan menyuapkan sesendok bubur kepada mamahnya yang kondisinya melemah sebab kejadian kemarin. Dia tidak pergi ke kantor hari ini. Bagaimana mungkin dia bisa berkerja dengan tenang saat pahlawan hidupnya tengah terbaring lemah di rumah sakit?


Alodie yang kemarin mendapat kabar dari dokter bahwa Kayonna akan segera diperbolehkan pulang, pun, kini mendadak sedih sebab kenyataannya tidak demikian. Kejadian kemarin memperburuk kondisinya, terlebih kepada jantungnya.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Kayonna di sela-sela sarapannya.


Megan tersenyum, "sudah mah. Mamah makan yang banyak, ya."


"Petter?"


Alodie yang saat itu tengah mengganti baju Petter, tersenyum lembut, "sudah, Mah. Mamah tenang saja. Yang harus mamah pikirkan adalah kesembuhan mamah. Insyaallah kami semua baik-baik saja."


"Mamah jangan terlalu sedih, supaya kondisi mamah cepat pulih," tambah Megan.


Kayonna meneguk air putih untuk mengakhiri sarapannya, "mamah selalu kepikiran Justin dan Nicholaa. Dimana mereka? Apa mereka membenci mamah?" ucapnya sendu.


Megan menggenggam erat tangan Kayonna, "tidak ada seorang anak yang membenci mamahnya tanpa sebuah alasan yang nyata, Mah."


"Tapi mereka memiliki alasan yang kuat untuk membenci mamah."


"Apa? Karena mamah telah memberikan hak asuh Justin kepada mamah Denaya? Atau karena mamah telah mengadopsi Nicholaa dari panti asuhan? Mah, bukankah semua itu demi suatu kebaikan tersendiri?"


"Iya, Megan. Tapi apakah mereka akan mengerti kebaikan dibalik semua itu?"


Alodie tersenyum, "Mah, bukankah mereka sudah sama-sama dewasa? Justin tidak akan menjadi CEO sukses seperti sekarang jika dia tidak mampu berfikir kritis dan rasional."


Kayonna tersenyum, "semoga saja."


Ckleekkk.

__ADS_1


Seseorang membuka pintu ruang rawat Kayonna dan mereka pun serentak menoleh.


"Justin?" panggil Kayonna terkejut.


Perlahan, Justin melangkah maju mendekati Kayonna. Dan seketika itupun Kayonna mampu membaca dengan jelas arti mata sembab di putra keduanya ini.


"Kamu kemari, Nak?" ucap Kayonna meraba pipi Justin dengan rasa tak percaya.


Justin menangkap lembut tangan Kayonna di wajahnya, "aku ingin meminta maaf sama mamah," ucapnya tulus.


Kayonna tersenyum, "mamah yang minta maaf padamu, Sayang."


"Tidak, Mah. Tidak. Justin yang sudah salah paham dengan semuanya. Andai saja dari awal Justin mau membuka dan membaca buku diary peninggalan almarhumah mamah Denaya, pasti kesalah pahaman ini tidak akan terjadi. Mamah mau kan memaafkan Justin?"


Kayonna tersenyum, "Justru mamah yang bertanya, Justin mau, kan, mengakui mamah Kayonna sebagai mamah kandung Justin?"


"Kenapa tidak? Mamah Kayonna memang mamah kandungku," Justin tersenyum, "dan aku sangat menyayangimu," lanjutnya memeluk erat tubuh Kayonna.


Air mata mengalir membasahi pipi mereka. Rasa tenang menjalar ke seluruh darah. Kayonna bahagia, sangat bahagia. Akhirnya seseorang yang selama ini dicarinya, kini nyata berada dalam dekapannya.


Megan dan Alodie pun turut lega melihatnya. Turut tentram merasakan kedamaian yang tercipta dalam keluarga kecil ini. Semoga semuanya menjadi hikmah bagi mereka masing-masing Semoga, luka pun dendam yang dahulu mendera hebat, perlahan mulai sembuh dengan sendirinya.


Semoga.


Justin melepas pelukannya. Matanya sayu menatap Megan yang juga tengah menatapnya. Sesuatu dalam hati membuatnya kembali sendu, dan tak tau harus berucap apa.


Megan tersenyum, "kenapa, Jus?"


Sejenak, Justin mengerjap pelan, "apa Tuan Megan bersedia menerimaku sebagai sosok adik?" tanyanya pelan.


Megan tersenyum haru, "apa yang ada dipikiranmu? Saat naluriku ingin memiliki adik perempuan, bukan berarti aku tidak menganggapmu setelah dilahirkan. Kau tetap adikku, Jus. Adikku. Bukan adik ipar, tapi adik kandungku!"


Justin melepas senyumnya dan menghampiri Megan. Tanganya dengan seketika merengkuh kuat kekar tubuh kakak kandungnya itu.


Megan meneteskan air matanya. Alodie dan Kayonna pun, turut haru melihatnya.


"Justin?" panggil Kayonna risau.


Justin melepas pelukannya pada Megan, "ya, Mah?" jawabnya menghampiri.


"Bagaimana Nicholaa? Dimana dia?"


Justin menunduk dan mencium lembut punggung telapak tangan Kayonna, "mamah yang tenang ya. Lawrence sudah memerintahkan beberapa orang untuk mencari keberadaannya," ucapnya menenangkan, meskipun dirinya sendiri tidak setenang yang terlihat sekarang.


Justin meneteskan bulir-bulir air matanya seiring dengan semakin eratnya dia mencium tangan Kayonna. Hatinya rapuh tatkala mengingat betapa malangnya nasib Nicholaa. Batinnya perih memikirkan bagaimana kondisi istrinya itu. Dimana dan sedang apa istrinya sekarang.


****


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Javier cemas begitu Dokter keluar dari ruang UGD rumah sakit.


Allura melepas kelegaannya, "syukurlah. Terimakasih, Dokter."


Dokter yang usianya sudah berkepala tiga itu berlalu pergi setelah sebelumnya tersenyum lembut kepada Javier dan Nicholaa.


"Ayo...," seru Javier menarik lengan Allura dan membawanya masuk untuk melihat bagaimana kondisi Molly.


Perempuan muda yang masih single di usianya yang ke 20 Tahun itu, tak kunjung membuka kedua matanya. Tubuhnya yang kurus terbaring lemah dengan peluh-peluh yang memenuhi dahinya.


Javier menghela nafas beratnya, "beberapa pelayan di rumah Justin memang ada yang pulang kampung, itu sebabnya Molly harus mengambil alih pekerjaan mereka hingga membuatnya kelelahan seperti ini. Di tambah lagi tidak ada Nicholaa yang sering membantunya bersih-bersih rumah."


"Selain itu mungkin Molly juga turut sedih merasakan rumah tangga majikannya yang tengah dilanda prahara," jawab Allura.


"Lura?"


"Hmm?"


"Ruang rawat Nyonya Kayonna tidak jauh dari sini, aku ingin menjenguknya sebentar."


Lura tersenyum, "pergilah, aku akan menjaga Molly di sini."


****


Kayonna masih setia membelai rambut Justin yang tengah menumpah tangis di pangkuannya. Pemuda itu mengingatkannya pada Dalbert dan juga Denaya. Terlebih, wajah Justin yang sangat mirip dengan suaminya itu, membuat Kayonna benar-benar dilanda rasa rindu.


Kepala Justin terangkat saat matanya menangkap pemandangan romantis di hadapannya. Megan tengah tertawa-tawa kecil dengan Petter yang ada di gendongan Alodie. Justin terenyuh melihat itu, naluri laki-lakinya seketika berbicara. Entah kenapa, tiba-tiba, dia menginginkan seorang anak dari Nicholaa. Andai saja, andai dia memperlakukan Nicholaa sebagai istri dengan sebagaimana mestinya, mungkin sekarang keluarganya akan tumbuh harmonis dan bahagia. Mungkin saja, saat ini perut Nicholaa sudah membuncit bersama buah hatinya. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Dendam tak berperikemanusiaan itu membabi butakan pikirannya. Membuatnya memperlakukan Nicholaa dengan semena-mena. Bahkan, meracuni pikirannya untuk tidak sudi menyentuh istrinya sendiri.


Dan Justin, menyesali hal itu.


"Kamu kenapa, Nak?" suara Kayonna membuyarkan lamunannya. Membuat Alodie dan juga Megan turut memperhatikannya seketika.


Bergegas, Justin mengusap air matanya, "tidak, aku hanya bahagia melihat kak Megan dan Kak Alodie hidup harmonis seperti tadi. Petter pasti bahagia memiliki orang tua seromantis kalian."


Megan tersenyum, "berdo'alah, Justin. Aku yakin Nicholaa akan kembali bersamamu. Dan setelah itu, berjanjilah untuk merubah dan memperbaiki semuanya."


Justin tersenyum. Setidaknya harapan yang baru saja Megan katakan membuatnya sedikit lebih tenang. Ya, dia juga percaya, Nicholaa pasti bersedia memaafkan dan kembali lagi bersamanya.


"Ckleek...," seseorang membuka pintu rawat Kayonna dan mengalihkan perhatian mereka seketika.


Senyum lembut khas dari seorang Javier Anderson membuat mereka turut senyum membalasnya.


"Maaf kalau aku menggangu," ucap Javier mendekati Kayonna.


"Tidak. Kenapa kau bicara seperti itu. Kau juga keluarga kami, Jav," jawab Kayonna lembut.

__ADS_1


Javier tersenyum, "terimakasih. Molly dibawa kesini tadi, untuk itu aku sekalian mampir."


Justin terkejut mendengar itu, "Molly? Kenapa dia?"


"Tiba-tiba saja tadi dia pingsan saat menyiapkan sarapan untukku. Kata Dokter, dia hanya kelelahan dan butuh istirahat. Tidak perlu dirawat juga. Nanti kalau kondisinya sudah stabil, dia diperkenankan untuk pulang."


"Jav?" panggil Justin lembut.


"Kau jangan berubah. Apapun yang terjadi, kita tetap saudara yang tumbuh dari kecil hingga tua bersama-sama."


Javier tersenyum, "jangan berfikir yang tidak-tidak, aku tetap Javier sepupumu, tidak berubah."


****


Malam menghapus kemuning senja. Matahari surut, meninggalkan jejak-jejak cahaya mega jingga di ufuk barat sana. Tapi tidak demikian dengan kecemasan yang ada dalam hati Justin. Rasa itu tidak turut surut, justru kian malam kian menggebu hebat. Membuat sesak di dadanya semakin memuncak.


Punggung tangannya mengusap peluh yang melinang pelan di dahi. Langkahnya mondar-mandir tidak jelas di balik tirai jendela rumahnya. Detik jarum jam yang berbunyi senada dengan detak jantungnya, seakan turut memahami betapa gundahnya CEO tampan itu pada lengang malam hari ini.


Berkali-kali dirinya menghubungi seseorang, tapi tak juga ada jawaban. Membuatnya geram dan kesal tak karu-karuan.


"Angkat, Bodoh! Beri aku sedikit kabar tentang perkembangan kalian dalam mencari Nicholaa!!!" gerutunya memasang ponsel androidnya itu tepat ditelinga kirinya.


Tuuutt... Tuuuttt... Tuuuttt....


Tak juga ada jawaban.


"Sekali lagi!" lanjutnya menghubungi kembali.


Jemarinya sibuk mengetuk ngetuk kaca jendela di sampingnya, mengajak benda mati itu berunding dan berdo'a supaya Lawrence dengan segera mengangkat teleponnya.


Tapi tidak demikian pada kenyataannya.


Tuuttt... Tuuut... Tuutt..


"Aaaghhhhrrrrr!!!" hingga membuat marahnya kembali bicara!


"Maaf, Tuan? Jika perlu, saya akan buatkan kopi untuk menemani Tuan malam ini," ucap Molly menghampirinya dengan sopan.


Justin menghempaskan ponselnya di sofa, "kau baru pulang dari rumah sakit sore tadi, Molly. Istirahatlah atau kau akan kupecat jika terus berkerja malam ini!!"


Molly menduduk, "baik, Tuan. Saya permisi," ucapnya kemudian berlalu pergi.


Justin menyambar jaket kulitnya di sofa, "aku tidak bisa berdiam diri terus di rumah seperti ini," ucapnya memakai dan berlalu pergi dengan segera.


Nicholaa menghilang. Sedangkan Lawrence dan beberapa orang suruhannya tak juga kunjung memberi kabar hingga malam hari ini. Itu membuat Justin tidak bisa tinggal diam di rumah menunggu ketidakpastian. Dia harus mencari Nicholaa, dia harus menemukan istrinya malam ini juga.


Sebab jika tidak, hatinya akan terus dilanda keresahan, kecemasan, dan juga rasa penyesalan yang tak akan pernah berakhir.


"Ckleeek...," Justin dikejutkan dengan terbukanya pintu utama bahkan sebelum dia menari handle nya.


"Lawrence?" panggilnya sontak.


"Kau mau pergi kemana, Bos?"


"Hei, kau pikir seorang suami bisa duduk manis dan tenang begitu saja sedangkan istrinya hingga sekarang belum juga ditemukan? Bahkan saat orang-orang suruhanya, termasuk Tuan Lawrence, tak juga kunjung menjawab teleponnya. Kau Mengerti?" celoteh Justin memberikan penekanan pada kata-katanya yang terkahir.


Lawrence melangkahkan kakinya masuk seraya tergelak, "ini kali pertama aku melihat seorang Justin Clayton mencemaskan Nicholaa sedemikian besarnya. Bahkan ini kali pertama pula aku melihat kau sedemikian cerewetnya, wkwkwkk....."


"Tutup mulut sialanmu itu, Lawrence. Beritahu aku sekarang, dimana Nicholaa?!!" bentak Justin mengekori langkah Lawrence di dalam rumahnya.


Lawrence membaringkan tubuhnya di atas sofa, "maafkan kami. Nicholaa sulit ditemukan. Entah dimana persembunyiannya. Kami benar-benar tidak mampu menerka-nerka."


Justin menggeleng tak percaya. Ini kali pertama Lawrence dan beberapa anak buahnya gagal melakukan sebuah misi atau rencana. Ini tidak menjadi kebiasaan mereka dalam menjalankan tugas dan amanat yang diberikan Justin.


"Kau bercanda?" tanya Justin seolah tak terima dengan kabar yang dipaparkan Lawrence padanya.


Lawrence membenarkan posisinya, "tidak."


"Bagaimana kalian bisa selemah ini? Hah?!!!" emosinya mulai bertaruh.


"Saat Nicholaa tidak berhasil ditemukan, tidak ada yang pantas kau salahkan, Jus. Bahkan tidak ada yang patut kau maki-maki seperti itu. Kembali pada dirimu sendiri. Pertanyakan, seberapa besar dan seberapa banyakkah kesalahanmu padanya hingga dia kini menghilang tanpa pasti."


Justin menyandarkan punggungnya di dinding. Kemudian tubuhnya luruh bersimpuh. Lagi-lagi air matanya berbicara. Turut mewakili rasa sesak yang menyerang di dada.


Kekar tangannya memukul-mukul kepalanya dengan sengaja, "bodoh!! Bodoh!! Kau bodoh, Jus!!!" teriaknya lantang.


Suara tangis memenuhi ruang tamu rumahnya ini. Seakan dia tak lagi punyai kekuatan untuk menyimpan rapat-rapat luka nyeri di jantungnya. Tak tau apa yang harus dia perbuat, pikirannya kacau. Sangat kacau.


"Kau dimana, Sayang? Kami semua mencemaskanmu. Apa kau kini tengah meringkuk kesakitan menumpah tangis sendumu? Aku kerap kali merasa hina saat mengingat perlakuanku padamu!" ucapnya terisak.


"Cukup untuk air matamu, Nicholaa! Aku tidak bisa membayangkan betapa buruknya malammu sekarang. Di dada siapa kau kini menumpah sedu sedan mu?!Rengkuhan tangan siapa yang kini memeluk dan menenangkanmu?!" lanjutnya sendu.


Penyesalan memang selalu datang di akhir. Justin menyadari itu, tapi penyesalannya kali ini, merupakan penyesalan terbesar sekaligus termenyakitkan baginya. Seolah dia memaki-maki dirinya sendiri. Menghinakan dirinya sendiri. Membodoh-bodohkan dirinya sendiri.


Batinnya perih tatkala ingatannya melayang pada peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam dinamika rumah tangganya. Terlebih saat mengingat betapa keras dan kasarnya perlakukan dia kepada Nicholaa. Bahkan saat dia dengan tanpa perasaan menyakiti Nicholaa sesadis demikian, Nicholaa tetap memuliakannya.


Manusia memiliki titik lelah untuknya bertahan sakit. Tapi, apa Nicholaa juga demikian? Akankah dia memaafkan Justin atau justru memilih pergi menjauh selama-lamanya?


Braaak!!!


Justin menendang lemari kecil yang ada di hadapannya.


"Aku berjanji akan menemukanmu, Sayang. Dan aku bersumpah akan mencium kakimu itu!"

__ADS_1


****


__ADS_2